
***
Makan malam mereka dijalani dalam keheningan, Armand hanya fokus mengunyah seolah dia makan seorang diri, Lisa melirik kearah Armand, ingin sekali dia memukul kepala Armand dengan sendok agar dia bersuara.
Beda hal nya dengan Armand, Lisa jelas tidak bisa fokus dengan makanannya, dia tidak memperhatikan apa yang dimakannya, apa yang ada dipiring dia masukkan kemulutnya, saat tiba tiba dia meresa kepedasan barulah dia sadar kalau yang dia makan adalah cabai.
"Uhuk uhuk.." Lisa terbatuk batuk menahan pedas dan tangannya mencoba meraih gelas, tapi tangan Armand lebih cepat, dia berdiri dari duduknya dan memberi minum Lisa dengan tangannya sendiri.
Hmm, dia tidak sepenuhnya bisa acuh ternyata.
"Terimakasih" Ucap Lisa setelah menghabiskan satu gelas air putih.
"Apa yang sedang kau pikirkan sampai salah makan begitu?" Tanya Armand dengan raut yang dia buat sedatar mungkin, sambil kembali ketempat duduknya semula.
"Kamu!" Jawab Lisa singkat, dan memang sesuai fakta bukan.
"Hmm? Aku berada tepat didepanmu jadi untuk apa kau memikirkanku?" Armand sebenarnya tahu alasan Lisa, karena dia memang sengaja bersikap acuh sebagai bentuk protesnya terhadap Lisa yang masih belum mau menceritakan masa lalu nya.
"Kenapa kau tiba tiba jadi bersikap dingin begini? belum juga satu jam kau mengucapkan kata kata mutiara untukku, kenapa sekarang kau malah terkesan menjaga jarak denganku?" Akhirnya unek unek Lisa yang dia tahan dari saat mereka selesai drama dikamar sampai waktunya makan pun terluapkan.
"Masa? perasaanmu saja mungkin, aku bersikap biasa, memangnya kau mau aku seperti apa? kau belum pernah mengatakan apa yang kau suka dan tidak suka jadi bagaimana aku bisa mengerti apa yang kau mau" Lagi lagi Armand menyerang Lisa dengan perkataan sarkastiknya.
"Ok, aku paham sekarang, kau marah karena aku masih belum seratus persen mau terbuka padamu kan? Dengar sayang, tidak bisakah kita melewatkan part dari masa laluku, aku benar benar ingin melupakannya" Berapa kali pun Lisa mencoba meyakinkan dirinya, dia tetap tidak yakin kalau Armand masih mau menerimanya kelak.
"Marah? kenapa aku harus marah? itu hak mu sebagai warga negara sipil, aku juga hanya rakyat biasa, apa hak ku untuk menginterogasimu?" Lagi, perkataan Armand yang terdengar biasa saja itu justru terdengar seperti sindirian mode keras ditelinga Lisa.
"Sayang please, masa laluku itu benar benar tidak enak didengar, aku tidak mau kau nanti malah benci bahkan tidak sudi bersamaku lagi"
Kini Lisa sudah tidak bisa menahan airmata nya, tentu saja dia juga ingin menceritakan tentang dirinya, seperti apa keluarganya, bagaimana kehidupan sekolahnya dan lain lain layaknya pasangan biasa, seandainya dirinya memanglah orang biasa. Namun sayangnya kisahnya justru akan terdengar seperti cerita film thriller bahkan horor.
"Lihat aku" Armand membungkukkan badannya dan mengangkat dagu Lisa agar wajah mereka berhadapan.
"Kau pikir aku sama seperti pria pria biasa diluaran sana? Kau pikir aku menikahimu tanpa mempertimbangkan kemungkinan siapa sebenarnya dirimu? Kau tentunya sudah tahu alasan aku melamarmu diawal pertemuan kita? Haruskah aku bilang kalau sebenarnya aku berniat untuk menjebloskanmu dengan tanganku sendiri kalau kau memang akan membahayakanku dan keluargaku?"
Lisa tertegun mendengar perkataan Armand, dia teringat bagaimana dia ketakutan dan gugup saat Armand memanggilnya ke cafe dan melamarnya dengan nada penuh ancaman. Bagaimana dengan sekarang? Rasa takut itu benar benar sudah hilang, dia justru tidak mau jauh dari Armand.
Ada rasa syok sekaligus senang yang dirasa Lisa saat mendengar ucapan Armand, benarkah dia rela melakukan semua itu untuknya?
"Bahkan jika aku seorang pembunuh?" Ucap Lisa dengan suara sedikit bergetar.
Ini terasa seperti dejavu, Armand pernah mendengar perkataan Lisa yang satu itu.
"Selama bukan aku atau orang terdekatku yang kau bunuh, maka tidak masalah" Jawab Armand enteng, sepertinya dia jadi ikut tidak waras karena dihadapkan dengan semua kegilaan ini. Bagaimana bisa dia membenarkan tindak pembunuhan, dia menanyakan hati nuraninya sendiri, tapi melihat mata olive yang begitu jernih itu membuatnya hilang akal.
Ya, tidak masalah jika itu hanya masa lalu, di masa depan aku tidak akan membiarkannya melakukan hal serupa.
"Oke, aku akan menceritakan masa laluku, tapi berjanjilah kau tidak akan berubah pikiran setelah mendengarnya? Aku akan menuntut setengah saham mu kalau kau berubah pikiran!" Semoga dengan seidikit ancaman akan membuat Armand tidak merubah pendiriannya dengan mudah, itu pikir Lisa.
"Hahaha, tenang saja, aku akan memberikannya padamu jika kau memang menginginkannya, kalaupun kita harus bercerai anggap itu sebagai harta gono gini dariku"
Armand malah tertawa terbahak, apa dia takut kehilangan setengah sahamnya? tentu tidak, toh rekening Lisa dia yang buat, dia bisa dengan leluasa mengaktifkan dan membekukan aliran dananya, jika Lisa memakainya untuk hal yang dia anggap membahayakan.
Dan sebuah capitan pun mendarat dipinggang Armand, "Aww, kenapa kau malah mencubitku?"
"Berani kau menyebut kata cerai, akan kupastikan kau tidak akan bisa menikah lagi, kau ini benar benar tidak konsisten ya, tadi kau bilang panjang lebar 'selama kau berada disisiku', sekarang kau malah bilang 'anggap harta gono gini dariku', bagaimana aku bisa yakin kau tidak akan berubah pikiran setelah mendengar ceritaku coba?"
"Iya maaf, aku hanya ingin sedikit mencairkan suasana sebelum kau mulai bercerita, agar kau bisa sedikit rileks, anggap saja kau sedang menceritakan kisah orang lain"
Armand mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Lisa dengan wajah bingung, "Bagaimana kalau sambil jalan jalan dihalaman belakang?"
"Oh oke, ayo kita cerita sambil jalan jalan, tapi kalau menanggapnya sebagai cerita orang lain...entahlah, karena reka adegnnya akan terulang kembali dikepalaku, dan semua wajah wajah yang ingin kulupakan itu..ouh" Lisa menutup wajahnya dengan sebelah tangannya yang bebas, baru sedikit saja dia bicara, ingatan itu sudah kembali menghampirinya.
"Oke mari kita sebut si pemeran utamanya sebagai Bunga, dia memiliki rambut hitam, wajah kotak, dan berkulit sawo matang, jadi apa yang terjadi terhadap si Bunga ini? mari kita dengar kisahnya dari sang penulis naskah, Nyonya Rahardja"
Armand membuat Lisa menceritakan kisahnya sebagai kisah orang lain, dia sengaja memberi ciri ciri fisik yang bertolak belakang dengan Lisa agar dia bisa membayangkan dirinya sebagai orang lain,dan dirinya tidak lah lebih dari seorang penulis skenario saja.
Cara itu ternyata manjur, Lisa perlahan mulai menceritakan kisah si Bunga sambil berjalan menuju taman belakang, dan mereka pun duduk di sebuah gazebo dengan Lisa yang masih terus bercerita, mendengar kisah si Bunga yang tidak lain adalah Lisa sendiri membuat hati Armand berdenyut sakit, bagaimana bisa gadis semuda itu melakukan semuanya.
Penasaran kan guys dengan kisah yang diceritakan Lisa, chapter berikutnya kita akan flashback ke masa lalu Lisa, so stay tune oke 😉😉