Mona*Lisa

Mona*Lisa
FLASH BACK



FLASH BACK....


Hari itu merupakan hari terakhir Lisa ujian akhir semester di sekolah menengah atas, dia berangkat ke sekolah seperti biasa, dan sebelum pergi dia juga selalu berpamitan terlebih dulu pada kedua orangtuanya.


"Mom, aku berangkat sekarang ya" Ucap Lisa seraya mengecup kedua pipi ibunya yang tengah duduk sambil menggendong seekor anak kucing persia.


"Ok bye honey, jangan lupa selesai sekolah langsung pulang, kita makan malam diluar nanti" Ucap Anita,ibu Lisa sambil mengelus ngelus kucing yang duduk dipangkuannya.


"Siap mom, sepertinya Kitty sudah sembuh ya?" Lisa ikut mengelus kucing dipangkuan ibunya yang menggemaskan itu meskipun kucing lucu itu bukanlah milik mereka, ibu Lisa merupakan seorang dokter hewan, dia membuka praktek sekaligus pet shop yang menyatu dengan rumahnya, dan ayah Lisa yang bertanggung jawab mengurus pet shop nya.


"Iya, sebentar lagi Kitty bisa pulang kerumahnya"


"Pemiliknya pasti senang melihat Kitty bisa lari lari lagi"


Lisa yang sudah mau berangkat malah duduk berjongkok memperhatikan si kucing yang tampak begitu mungil dan lucu itu, sekitar seminggu yang lalu kucing mungil itu tampak lemah karena tidak bisa jalan gara gara kakinya terlindas sepeda, tapi sekarang kucing kecil itu sudah bisa menggeliat geliat tidak sabar ingin berlari.


"Sudah sana nanti kamu kesiangan, daddy kamu udah nungguin di mobil tuh" Tunjuk Anita ke arah mobil putih di depan gerbang rumahnya yang sudah mulai membunyikan klaksonnya.


"Iya iya aku berangkat sekarang, bye lagi mom" Lisa setengah berlari menuju mobil sambil melambai lambaikan tangannya kearah ibunya, hari itu dia merasa ibunya terlihat lebih cantik dari biasanya,padahal ibunya berdandan seperti biasa dan pakaiannya pun seperti yang biasa dia kenakan sehari hari, tapi entah kenapa hari itu Lisa tidak mau melelas pandangannya dari ibunya.


"Ready?" Tanya William ayah Lisa pada anaknya yang kini sudah masuk ke dalam mobil dan duduk disampingnya.


"Go.!!" Jawab Lisa sambil menjentikkan jarinya kemudian menunjukkan jari telunjuknya kedepan.


"Hahaha, yes maamm"


Begitulah mereka biasa bercanda dan William mulai melajukan mobilnya menuju sekolah Lisa.


Lima belas menit kemudian Lisa sudah sampai dipintu gerbang sekolah, dia melepaskan sabuk pengamannya dan memakai kembali tas punggungnya, setengah terburu buru Lisa mengecup pipi ayahnya dan pamit sambil melangkahkan kakinya keluar mobil.


"Bye Dad, nanti tidak usah jemput, aku langsung pulang sendiri saja naik bus"


Belum sempat ayahnya membalas ucapan Lisa, dia sudah berlari dan menghilang memasuki gerbang sekolahnya yang hampir tertutup sempurna itu, William tahu kenapa Lisa tidak mau dijemput, karena dia selalu kelupaan dan ujung ujungnya telat menjemput.


Hari ini mereka berencana makan malam bertiga diluar untuk merayakan hari terakhir ujian Lisa, agar anaknya itu bisa melepaskan tekanan semasa ujian, jadi sepertinya Lisa ingin lebih cepat pulang untuk bersiap daripada harus menunggu jemputan ayahnya yang tukang ngaret, padahal hari ini William sudah bertekad untuk menjemput tepat waktu,dia hanya bisa membuang nafas berat kemudian melajukan kembali mobilnya kerumah.


***


Apa yang dilihat Lisa dirumahnya hari itu sungguh mengoyak hati nya, dia yang tadinya pulang dari sekolah dengan wajah ceria, kini hanya membatu didepan pintu dengan air mata yang mengalir melihat ibunya yang terkulai lemah dilantai bersimbah darah.


Dia mulai sedikit kembali ke alam sadarnya saat mendengar teriakan ayahnya dari arah pet shop yang berada disamping rumahnya.


(Mode translet ON 🀭)


"LISA LARRRIIII"


Lisa menoleh kearah suara dan kembali dikagetkan dengan penampilan ayahnya yang lebih terlihat seperti zombi yang sedang berjalan terhuyung dengan wajah babak belur dan beberapa luka ditubuhnya.


Dibelakang ayahnya ada dua orang laki laki bersetelan hitam hitam keluar dari dalam pet shop, mereka melihat kearah Lisa dan menyeringai.


"Itu anakmu? dia cantik juga, kita bawa dia hidup hidup bro" Ucap salah seorang pria itu kepada temannya.


Teriakkan William juga membuat kedua pria dibelakangnya mengarahkan pandangan padanya.


"Kau masih punya tenaga rupanya"


JLEB, sebuah pisau ditikamkan ke dada William, Lisa berteriak histeris masih berada ditempatnya berdiri, William mengerahkan semua sisa tenaganya untuk mengarahkan pandanganya kepada Lisa, dia menatap anak tercintanya itu dengan air mata yang mengalir dan dengan lirih mengucapkan kata "Please...run..."


Itu perkataan terakhir yang keluar dari mulut ayahnya, sedetik kemudian badan William sudah ambruk di tanah karena dihempaskan oleh si penusuk.


"Jangan dengarkan perkataan ayahmu, tunggu kami disana manis, hahaha" Mereka berdua tertawa dan mulai melangkahkan kaki menuju tempat Lisa berdiri dengan wajah syok dan air mata yang tidak berhenti mengalir.


Jarak dari pet shop kerumahnya hanya sekitar dua puluh meter namun masih terhalang pintu pagar besi yang menjadi penghubung, saat mereka mulai mendekat Lisa baru tersadar dari tempatnya mematung dan mulai menggerakkan kakinya.


Lisa baru beberapa langkah lari manuju arah gerbang rumahnya, dan itu membuat kedua penjahat itu mengumpat kepadanya.


"SHIT.." Mereka yang tadinya berjalan santai kini ikut lari saat melihat Lisa mencoba lari, untungnya pintu besi penghubungnya masih terkunci membuat mereka tidak bisa membukanya dan harus mengambil jalan memutar kedalam pet shop melewati jalur pengunjung.


"DAMN IT,mana kuncinya?" Salah satu penjahat itu bertanya pada William yang sudah terkulai di tanah.


"Dia sudah mati bodoh, kita ambil jalan memutar saja, ayo cepat nanti gadis itu keburu jauh" Jawab teman si penjahat.


Tampa buang waktu lagi mereka mulai berlari memutar,dan tidak lama sudah sampai di pintu depan petshop yang dekat dengan jalan raya, mereka melirik ke arah gerbang rumah Lisa juga kearah jalan raya,mereka mulai celingukan mencari keberadaan Lisa.


"Mana gadis itu? dia terbang atau apa kenapa sudah hilang?"


"Sial, kita bisa dimarahi bos kalau menyisakan target, ayo kita terus lari saja, paling juga belum jauh"


Mereka mulai lari lagi, dan berpencar saat melewati jalur bercabang, sudah cukup lama mereka mencari tapi Lisa masih belum mereka temukan.


"Bagaimana,apa kau sudah menemukannya?"


Karena berpencar, mereka berkomunikasi melalui telepon selular.


"Aku pikir kau yang sudah menemukannya, brengsek, sepertinya dia berhasil kabur"


"Haaa...Bagaimana kita laporan nanti?"


"Kita bilang saja pada Bos kalau kita sudah membunuh semua anggota keluarga anaknya Robin"


"Bagaimana kalau Bos minta bukti?"


"Kita ambil pakaiannya saja dan lumuri darah ibunya"


"Oke, ayo kita kembali dulu ke markas"


Kedua penjahat itu akhirnya menyerah dan memilih untuk memalsukan bukti kematian Lisa, lalu dimana Lisa sekarang? Bagaimana caranya melarikan diri dalam sekejap mata dari mereka?.


PEMBACA YANG BUDIMAN,MOHON MAAF OTHOR UP NYA NGAREEETTT...πŸ™πŸ™


KEMARIN KEMARIN OTAK SAMA HATI OTHOR LAGI GA SINKRON JADI SUSAH MU UP 😁MOHON TETAP SETIA MEMBACA KARYA RECEH OTHOR YA...πŸ™πŸ™πŸ™