Mona*Lisa

Mona*Lisa
PILLOW TALK



Perjalanan dari ibukota menuju panti membutuhkan waktu sekitar tiga jam jika melalui perjalanan darat, itu berarti total perjalanan yang akan ditempuh Dean sekitar enam jam.


Dean berencana berangkat menjemput Erika setelah petang karena bagaimanapun juga dia hanya manusia biasa yang butuh istirahat jadi dia memutuskan untuk pulang kerumahnya agar dia bisa makan, mandi dan berganti pakaian terlebih dulu.


"Oh ya aku belum menelpon Erika, kalau dia ga ada disana pas aku datang gimana? eh tapi ga mungkin dia ga ada disana, yang jadi masalah itu kalau dia menolak bagaimana?" Dean bermonolog sambil memegang stir mobil, untungnya dia teringat untuk menelpon Erika terlebih dulu sebelum menyalakan mesin.


Dean mengambil ponselnya dari saku celana, dia menyalakan ponselnya dengan menempelkan jempolnya dilayar ponsel dan kemudian menekan tombol panggil menguhubungi Erika.


"Halo" Jawab seorang wanita dibalik telepon.


"Nona Erika, ini saya Dean" Ucap Dean.


"Iya saya tahu, ada perlu apa anda menelpon?" Tanya Erika penasaran dengan tujuan Dean menelpon.


"Bagaimana kabar anda? anda sehat sehat saja bukan?" Bukannya menjawab pertanyaan Erika, Dean memilih untuk basa basi terlebih dulu agar Erika tidak kaget dengan pesan majikannya yang akan dia sampaikan.


"Wal'afiat, tumben anda basa basi, biasanya saya baru bilang halo anda sudah langsung ke pokok masalah" Bukan kali ini saja Dean menelpon Erika, sebelumnya mereka sudah sering saling teleponan tapi bahasannya selalu tidak jauh dari masalah panti, belum pernah ada basa basi seperti menanyakan kabar masing masing.


"Kan kita sudah lama tidak ketemu, ya wajar kalau saya bertanya kabar anda, siapa tahu anda sakit, kan saya tidak tahu" Ucap Dean lurus dan apa adanya.


"Anda berharap saya sakit?" Erika salah mengartikan perhatian Dean, tentu saja, siapapun yang mendengar ucapan Dean pasti akan berpikiran sama seperti Erika.


"Bukan itu maksud saya, saya hanya bertanya apa sekarang anda sedang sehat atau sedang sakit? karena saya akan mengunjungi anda sebentar lagi" Perlahan Dean mulai mengarah ke pokok pembicaraan.


"Hah, maksudnya anda mau ke panti? hari ini?" Erika tampak tidak percaya dengan apa yang diucapkan Dean.


"Iya nona, sebentar lagi saya berangkat kesana, ada yang perlu saya sampaikan pada anda" Dean masih memainkan stir mobilnya tanpa menyalakan mesin.


"Apa ada masalah? setahu saya panti baik baik saja, bu Marta juga tidak mengatakan apa apa" Tanya Erika penasaran dengan maksud kedatangan Dean.


"Ini bukan masalah panti nona, ini tentang nona muda, pa Armand ingin anda menjadi asistennya nona Lisa" Akhirnya Dean mengatakan maksud dan tujuannya.


"APA? Asisten Siapa?" Erika masih mencerna apa yang dia dengar, takut kalau ternyata dia salah dengar.


"Untuk selengkapnya nanti saya sampaikan disana, sebaiknya anda sekarang bersiap, karena saya kesana untuk langsung menjemput anda bukan untuk bernegosiasi lagi" Ucap Dean yang sudah mulai ketularan sifat rusuh nya Armand.


"Pa otak saya saja masih mencerna, masa saya harus langsung berkemas dan pergi dengan anda begitu saja, bagaimana dengan panti? bagaimana denga bu Marta juga?"


Ini tidak akan mudah. Batin Dean, tentu saja dia tahu Erika termasuk orang yang kritis, tidak mungkin dia akan menurut begitu saja sebelum semuanya jelas.


"Oke gini aja, untuk menghemat waktu saya akan menceritakan semuanya sambil jalan" Dean menyalakan bluetooth ponsel nya dan mulai berbicara melalui headset, sedangkan ponselnya dia letakkan di holder yang ada d dashboard mobilnya, kemudian Dean mulai menyalakan mesin mobil dan memulai perjalanan panjangnya.


Sambil melaju Dean mulai berbicara lagi pada Erika yang masih ada dibalik telepon "Pa Armand memberi saya perintah untuk mencari asisten bagi nona Lisa, dan kandidat utmanya adalah anda.."


Dean menceritakan semua proses rangkaian saat dia mencari kandidat sampai akhirnya terpilihlah Erika, termasuk alasan kenapa Armand ingin mencarikan asisten untuk istrinya itu "Bagaimana sekarang anda paham?"


"Oh begitu ya, iya saya mengerti, kalau begitu saya akan segera bersiap" Akhirnya Erika bisa mencerna apa yang dimksud Dean, dan jika ini menyangkut Lisa, tentu saja dia akan sukarela membantunya.


"Ok kalau begitu sampai jumpa disana" Dean mengakihiri panggilannya, dan sekarang hanya fokus pada jala raya.


Berbeda dengan Dean yang tengah sibuk menjalankan tugas suci dari atasannya, Armand kini justru tengah sibuk merajut cinta bersama sang istri.


"Sekali lagi ya" Sambil mengecup pundak Lisa


"Istirahat dulu dong honey, malam masih panjang" Ucap Lisa sambil membalikkan badannya mengahadap kearah suaminya.


"Nanti kamu malah ketiduran" Armand masih gencar melancarkan serangan dengan menciumi wajah istrinya bertubi tubi.


Lisa terkekeh kecil dengan kelakuan Armand "Kita ngobrol apa gitu biar aku ga ngantuk" Sambil membuat lingkaran kecil didada suaminya menggunakan jari telunjuknya.


"Hemm" Armand mencoba mencari topik," Oh iya ada yang mau aku sampaikan"


"Apa?" Tanya Lisa sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


"Besok kita mulai tinggal dirumah baru, dan aku sudah menyiapkan asisten pribadi untukmu" Ucap Armand sambil memainkan rambut panjang Lisa.


"Ah iya asisten" CCTV


Lisa hampir lupa dengan cctv yang akan dipasang Armand untuk memantau setiap pergerakannya "Perempuan atau laki laki?"


"Perempuan, dan kau juga mengenalnya" Kali ini Armand memilih menyusuri punggung mulus istrinya menggunakan jarinya.


"Aku kenal? Siapa?" Lisa mencoba mengingat ngingat siapa kira kira asisten yang kata Armand dia juga kenal.


"Kasih tau ga yaaa?" Melihat wajah serius Lisa saat mencoba berfikir membuat Armand malah ingin menjahilinya.


"Emm, ok ga masalah aku ga dikasih tahu juga, berarti ga akan ada ronde dua" Ancaman Lisa langsung membuat pergerakan Armand yang masih anteng mengelus ngelus punggung halus Lisa seketika terhenti.


"Ga bisa gitu dong, kamu kan udah janji ronde dua nya habis istirahat" Sambil menarik tubuh Lisa kedalam dekapannya.


"Ih, kapan aku bilang janji, coba kamu ingat ingat lagi, dari perkataanku tadi ada terselip kata 'janji' ga?" Lisa mencoba melepaskan diri dari dekapan sang suami, meskipun sia sia karena tentu saja dia kalah tenaga.


"Tapi maknanya sama saja seperti kau berjanji, jadi jangan coba coba ingkar atau kau akan mendapatkan hukuman" Armand membalikkan tubuh Lisa membuatnya tidur telentang dan menindihnya dari atas.


"Mari kita lihat, sekejam apa hukumanmu" Bukannya merasa takut Lisa justru malah terlihat menantang, matanya menatap lurus mata Armand yang kini berada diatasnya.


"Kau akan menyesal" Armand mengangkat kedua tangan Lisa keatas kepalanya, dan memegangnya dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain mulai berkeliaran ditubuh molek Lisa.


"Buat aku menyesal"


Bibir mereka mulai bertaut dan ronde kedua yang tadi sempat menjadi perdebatan pun ujung ujung nya tetap terlaksana, bahkan lebih bergairah dari sebelumnya.


Malam masih panjang dan mereka masih sibuk dengan pergulatan di atas kasur dengan diselingi percakapan kecil tentang keseharian mereka, yang tanpa disadari semakin mengeratkan hubungan mereka.


Memang benar kata orang, tempat yang bagus untuk pasangan berkomunikasi adalah diatas ranjang, atau istilah lainnya pillow talk.