Mona*Lisa

Mona*Lisa
PINDAH RUMAH



"Pokoknya mama ga mau kalian pindah rumah, TITIK"


Bu Nadia yang tak sengaja mendengar obrolan Armand kini sedang merajuk, bagaimana tidak, dirumah itu hanya ada mereka bertiga, baru juga anggota keluarga mereka bertambah, sekarang Anaknya itu malah berencana pisah rumah membawa istrinya.


"Tapi kan aku udah nikah mah, masa mau tinggal serumah terus sama orang tua"


Armand yang tadinya mau langsung berangkat ke kantor, sekarang malah terjebak diruang tamu bersama mamanya dan Lisa, dia masih berusaha membujuk mama nya agar mau mengizinkannya pisah rumah.


"Iya ma, kita juga pindahnya ga jauh, ya kan Ar? nanti aku bakal sering sering ngunjungi mama ko" Lisa mencoba ikut membujuk mama mertuanya itu, karena tentu saja dia yang paling ingin pisah rumah agar bisa bergerak lebih bebas.


"He em, deket ko ma, cuma beda Kelurahan aja" Ucap Armand.


"Kalian itu ko tega sih mau ninggalin mama sama papa sendirian, ini rumah diisi dua puluh orang aja masih muat, kenapa harus pisah rumah coba" Bu Nadia masih kekeh dengan keputusannya yang tak ingin pisah dengan anak dan menantunya.


"Biar lebih berasa punya keluarga baru ma, aku juga pengen ngerasain yang namanya membina rumah tangga, status baru, suasana baru" Armand mencoba menjelaskan kenapa dia ingin pisah rumah, meskipun memang alasannya tidak sepenuhnya benar.


Layaknya Lisa yang ingin bergerak bebas, Armand juga ingin lebih leluasa mengeksplore lebih dalam lagi tentang istrinya tanpa melibatkan orang tuanya, untuk menjauhi hal hal yang tidak diinginkan.


"Hemm, mau gimana lagi, kamu kalo udah bikin keputusan suka susah diganggu gugat" Bu Nadia kini tampak pasrah dengan keinginan anaknya.


"Jadi mama ngizinin kan?" Ucap Armand meminta jawaban pasti dari mamanya.


"Iya udah kalo emang itu alasannya, mama ga bisa maksa kamu juga kan, tapi inget, tiap weekend kalian harus main kesini" Akhirnya dengan berat hati bu Nadia mengizinkan anak dan menantunya itu pisah rumah.


"Iya dong ma, kita pasti main kesini tiap minggu" Armand kembali menimpali obrolan ibunya.


"Iya ma, aku juga bakal sering kesini kalau ada waktu luang" Lisa juga ikut menimpali.


"Memangnya sekarang kamu sudah punya kesibukan Sa?" Tanya bu Nadia yang merasa heran dengan jawaban Lisa, pasalnya menantunya itu kan tidak bekerja, harusnya stiap hari adalah waktu luang.


"Aku mau coba cari kesibukan ma, aku kan suka edit edit gambar atau video gitu, dulu aku buka jasa bikin cover buku atau logo perusahaan, kecil kecilan sih secara online gitu, jadi aku bermaksud buat bikin lagi" Jelas Lisa, dia memang biasa bermain dengan komputer, dia akan menjadikan hobinya itu sebagai alasannya untuk dapat menyentuh benda keramat itu lagi.


"Jadi kamu mau aku beliin laptop cuma buat dagang online gitu? kamu lupa siapa suami kamu ini?" Armand yang tidak mengira bahwa hobi Lisa itu akan dia jadikan sebagai pekerjaan kini merasa kesal, dia merupakan seorang CEO perusahan besar di seantero negeri sedangkan istrinya berjualan online, sungguh tidak masuk akal bukan.


"Ga honey, itu kan cuma hobi, cuma buat ngisi waktu luang aja beneran, ya kalo misalkan ada yang order baru aku jual, hehe" Lisa bergelayut manja ditangan Armand mencoba merayu suaminya itu agar tidak membatalkan janjinya untuk membelikannya laptop canggih.


"Ok, tapi jangan sampai hobi kamu itu bikin kamu lupa sama kewajiban kamu, aku tetap harus ada di urutan nomor satu" Armand mengacungkan jari telunjuknya keatas.


"Iya dong, aku mainnya kalo lagi boring aja ko sumpah" Ucap Lisa sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Seneng deh liat kalian romantis begini" Bu Nadia senyam senyum melihat kedekatan anak dan menantunya itu, sejak pacar waktu SMA itu Armand belum pernah lagi membawa satu perempuanpun kerumahnya, ini kali pertama bu Nadia melihat Armand bercengkrama dengan wanita.


"Romantisnya sebelah mana ma?" Lisa bingung dengan makna romantis mamanya, bukannya mereka hanya bicara biasa tanpa kata kata rayuan atau gombalan.


"Yaaa romantis aja liat kalian seperti pasangan pada umumnya" Penjelasan bu Nadia hanya menambah kebingungan di kepala sepasang suami istri itu.


Bukannya kita emang pasangan? Batin Armand dan Lisa kompak.


"Aku berangkat sekarang ya"


"Hati hati dijalan sayang" Ucap bu Nadia.


"See you soon honey" Balas Lisa.


.


.


.


.


.


"Pagi tuan" Sapa Jeremy yang kebetulan bertemu Armand didepan pintu keluar.


"Pagi Jery" Balas Armand sambil tetap melanjutkan langkahnya tapi kemudian berbalik lagi, "Oh ya Jer, nanti bantu Lisa memilih barang yang mau di packing buat pindah, jangan sampai dia membawa semua yang ada dilemari"


"Anda jadi pindah rupanya" Ucap Jeremy sedikit kecewa " Baik nanti saya bantu nona, tuan"


"Kau juga ikut pindah denganku, aku butuh seseorang yang dipercaya untuk mengurus rumah baruku nanti"


"Saya tuan?" Ucap Jeremy tidak percaya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kau, kamu, dirimu" Armand memperjelas ucapannya, bahkan sangat jelas.


"Tapi bagaimana tuan dan nyonya besar? mereka tidak akan keberatan bukan kalau saya juga pindah dari rumah ini?" Jeremy bukannya tidak mau ikut pindah bersama Armand, hanya saja tuan dan nyonya besar nya kini sudah mulai memasuki usia senja, dan membutuhkan perhatian lebih.


"Jangan khawatir, biar mba Mirna yang gantiin posisi kamu disini"


Mirna merupakan salah satu orang terlama yang bekerja dirumah itu selain Jeremy, usianya bahkan hanya terpaut beberapa tahun dari mama Armand, dan mereka berdua sudah seperti best friend forever kalau sudah ngegosipin artis.


"Mba Mir udah sepuh tuan, apa gak masalah menyerahkan semua tugas rumah padanya?" Jeremy malah khawatir kalau seniornya itu akan keberatan jika diberi tanggung jawab yang lebih, karena selama ini Mba Mirna lebih nyaman hanya menjadi wakil asisten Jeremy meskipun dia lebih senior.


"Cuma tinggal tunjuk aja apa susahnya, mba Mir ga usah ikut kerja lah, tugasnya cuma nemenin mama sama nyuruh asisten rumah tangga yang lain buat ngerjain pekerjaan rumah" Armand menjelaskan tugas mba Mirna sebagai pengganti Jeremy sangatlah mudah ketimbang apa yang biasa dilakukannya, Jeremy yang terlalu perfeksionis membuatnya terjebak dengan pekerjaannya sendiri.


"Baiklah kalau begitu, sekarang hati saya sudah terasa lebih ringan untuk meninggalkan rumah ini" Rumah Armand memang sudah seperti rumah Jeremy sendiri, dia yang mengatur dan menata setiap sudut rumah itu, jadi rasanya cukup berat untuk beralih.


"Sudah kalau begitu kau juga siap siap sana, dan suruh orang lain saja untuk bantu Lisa, setelah dipikir aku ga mau kalian hanya berduaan didalam kamar"


Jeremy sama sekali tidak mengerti maksud Armand, memang apa yang akan dilakukannya saat berdua dikamar Lisa, mengepak barang bukan?