Mona*Lisa

Mona*Lisa
ISTRI TELADAN



Waktu akhirnya menunjukkan pukul lima sore hari, waktunya Armand pulang kerumah, seharian mengerjakan pekerjaan kantor sendirian benar benar menguras energinya, sebenarnya masih banyak tugas yang belum dia selesaikan, sengaja dia sisakan untuk Dean sebagai bentuk perhatian dan rasa sayangnya terhadap sekretaris teladannya itu.


"Aahhh, leherku pegal sekali" Armand berdiri dari duduknya sambil memijit mijit tengkuk lehernya nya yang kaku, karena terus menunduk menatap dokumen dan layar komputer.


"Ugh, aku harus bawa mobil sendiri pula, lain kali aku tidak akan memberinya libur dihari kerja" Armand komat kamit sendiri sambil berjalan gontai menuju lift.


Lift yang dia masuki berhenti di lantai basement tempat parkir perusahaannya, Armand menuju ketempat dimana Dean memarkirkan mobilnya tadi pagi, dan tampak sebuah mobil sedan yang diam seorang diri ditempat parkir vip, kemudian dia menyalakan mesin nya dan melajukannya menuju ketempat seseorang yang dia rindukan seharian ini.


"Apa aku coba beli itu ya?" Armand melihat ada sebuah toko bunga didepannya, "Beli sajalah, semua wanita pasti suka bunga kan?" Dia kemudian menepi dan mampir untuk membeli satu buket kecil bunga lily, setiap hari dia melewati jalan itu tapi kenapa baru sekarang dia melihat ada toko bunga disana, sepertinya mulai hari ini dia akan sering mampir ke toko tersebut.


"Ini kembaliannya den"


Ibu penjual bunga memberikan kembalian yang jumlahnya bisa untuk membeli tiga porsi bakso itu kepada Armand, tapi sang CEO muda itu tentu saja menolaknya, dia tidak perlu uang receh yang hanya akan menambah beban dompetnya.


"Ambil saja buat ibu kembaliannya"


"Terimakasih aden,sering sering belanja kesini ya" Lumayanlah buat jajan, sambil memasukkan kembalian yang tidak jadi dikembalikan itu kedalam saku celananya.


Armand pun pergi dari toko bunga dan kembali melajukan mobilnya, tidak lama kemudian dia sudah sampai dirumah yang mulai hari ini dan seterusnya akan dia tempati bersama istri dan anak anaknya kelak, anak? Pikiran Armand sudah berkelana jauh, seperti apa rupa anak anaknya dan Lisa nanti? Pasti mereka cantik dan tampan seperti orangtuanya bukan?.


Dengan hati riang gembira Armand memasuki rumahnya, tanpa mengetuk pintu dan tanpa harus disambut terlebih dulu Armand langsung melangkahkan kakinya kedalam rumah, namun susana rumah tampak hening kala itu.


"Kemana para penghuni rumah ini?" Armand tahu Lisa seharusnya sudah ada dirumah itu dari siang, sedangkan Jeremi dari pagi hari tentu saja, ditambah Erika yang juga seharusnya sudah menjadi salah satu penghuni rumah itu.


"LISAAA...." Armand berteriak mencari keberadaan istrinya, tapi yang muncul justru malah Jeremi dari arah dapur dengan penampilan yang lumayan berantakan.


"Kau habis mandi tepung? Mana Lisa?" Tanya Armand pada Jeremi yang hampir sebagian bajunya tertutup tepung.


"Nona sedang di dapur, dan saya sedang mencoba meminimalisir kekacauan yang dibuat nona" Terlihat raut wajah Jeremi yang seperti sedang menahan hawa nafsu, jika bukan majikannya mungkin dia sudah menjewer kuping Lisa dan menyeretnya keluar dari dapur.


"Kekacauan? Apa yang sedang dia perbuat didapur?" Raut wajah Armand menunjukkan perasaan herannya, jangan bilang dia sedang memasak?


"Nona sedang uji nyali" Jawab Jeremi dengan nafas yang masih memburu menahan amarah.


Armand yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya mulai melangkah menuju dapur dengan buket bunga ditangannya, dan benar kata jeremi, saat dia melihat dapur yang sudah dia design sedemikian rupa agar terlihat elegan kini berubah menjadi arena tempur.


"Apa yang kalian lakukan disini? Apa yang terjadi dengan perabot dapur? Jangan bilang kalian sedang menguji ketahanan panci dan kuali?"


Mendengar suara bas yang sudah tidak asing lagi membuat kedua wanita yang juga bermandikan tepung seperti Jeremi tadi mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara.


"Ar kau sudah pulang?" Lisa


"..." Tidak bisa berkata kata. Erika


"Ya aku sudah pulang, dan bisa tolong kalian jelaskan kekacauan ini?" Ucap Armand yang masih berdiri di depan pintu dapur dengan tangan tersilang didepan dada, dan masih memegang buket bunga.


"Begini Ar, aku.."


"Stop!!" Armand memotong ucapan Lisa, dan kini pandangannya terarah pada Erika, "Tinggalkan kami berdua!"


"I,iya tuan, saya permisi" Erika berjalan keluar tapi langkahnya sempat terhenti saat dia berada didepan pintu yang terhalang tubuh Armand, "Bisa tolong geser tuan, saya mau lewat." Erika memandang Armand sambil menyunggingkan cengirannya, dan itu membuat Armand berdecak tapi tetap menggeserkan tubuhnya agar Erika bisa lewat.


"Lanjutkan penjelasanmu" Armand kembali bertanya pada Lisa sambil berjalan menghampirinya, dan kini mereka sudah berdiri berhadapan.


"Mmm, aku hanya bosan dirumah terus, kata Erika kau melarangku keluar rumah jadi aku menyuruh Erika membelikanku sesuatu yang bisa aku kerjakan dirumah agar tidak bosan" Lisa menjeda kalimatnya dan mencoba mengobserfasi raut wajah Armand, belum ada tanda tanda kekesalan diwajahnya.


"Lalu?" Tanya Armand, dan Lisa pun melanjutkan kembali pembelaannya.


"Aku menyuruh Erika membeli alat lukis, buku buku, dan beberapa alat masak, alat lukis dan bukunya aku simpan tapi bahan masakannya mau aku coba olah, jadi aku bermaksud untuk memasak" Sejauh ini sepertinya Armand sudah mulai paham.


"Kau bisa menyuruh Jeremi, kenapa harus kau yang memasak?" Lisa nyonya rumah disana, dan sudah menjadi tugas bawahannya untuk melakukan hal semacam itu.


"Kan aku sudah bilang kalau aku sedang menambah kegiatan agar tidak bosan"


"Dengan menghancurkan dapur begitu?" Armand tidak marah sebenarnya,justru dia merasa gemas dengan kelakuan Lisa apalagi melihat penampilannya yang sekarang, rambut yang diikat seadanya, wajah dan baju yang belepotan tepung, membuat Armand ingin memakannya saat itu juga.


"Aku lihat tutorialnya di yutub sepertinya mudah jadi aku coba praktekan, tapi sepertinya gagal, dan aku meminta Erika dan Jeremi untuk tidak ikut campur dalam masakanku, jadi aku menyuruh mereka untuk jadi asisten saja"


Kini Armand mengerti apa penyebab dapur nya porak poranda, Jeremi dan Erika tidak bisa berbuat apa apa selain menjadi pengamat, tapi kenapa mereka ikut belepotan begitu?


"Apa memangnya yang sedang kau coba buat?"


"Ramen, tapi aku mau membuat mi nya sendiri dan sedikit memodifikasinya agar tidak biasa"


"Kau memodifikasi ramen? Caranya?" Kening Armand kembali berkerut, Sebuah masakan yang dimodifikasi?


"Aku mau mencampurkan beberapa jenis tepung, dan aku salah membuka kemasannya jadi tepungnya muncrat dan mengotori semuanya"


Lisa manautkan jari jarinya, dia merasa malu sendiri sebenarnya, bagaimana bisa seorang wanita tidak bisa memasak, "Maaf, aku hanya mau memasak untuk suaminya yang pulang bekerja seperti istri pada umumnya"


"Kenapa juga kau harus memasak? kau tidak perlu manjadi istri biasa pada umumnya karena kau bukanlah istri dari pria biasa, lebih baik kau habiskan energimu untuk hal yang lebih berguna" Armand mulai menyunggingkan senyum miringnya.


Lisa sudah bisa menangkap maksud dari perkataan Armand, "Ini masih sore, memangnya kau tidak lelah baru pulang kerja?"


"Tidak, dan harusnya kau bangga dengan stamina yang dimiliki suamimu ini, ini ambilah" Armand menyerahkan buket bunga yang sedari tadi dipegangnya itu.


"Oh ini benar untukku rupanya, cantik sekali, aku pikir kau bawa bawa bunga untuk ditanam dikebun, soalnya kau tidak juga memberikannya padaku dari tadi" Lisa menghirup aroma bunga lily yang segar itu sambil memejamkan matanya, dan itu membuat Armand sudah tidak bisa menahan laparnya.


Dalam hitungan detik tubuh Lisa sudah berada dalam dekapan Armand, dan langsung dibawanya menuju ruangan privasi milik mereka berdua, Lisa hanya tertawa terkekeh melihat kelakuan Armand, dia dengan sukarela mengalungkan kedua tangannya dileher Armand sambil menempelkan bibirnya, pertunjukkan yang menyilaukan mata bagi kedua penghuni lain dirumah itu.