
Nasib miris Dean tidak hanya sampai disana, dia yang bermaksud memesan makanan melalui aplikasi online harus kembali menelan kenyataan pahit saat ponsel nya ternyata kehabisan daya.
"Ya Tuhaannn, cobaan apalagi ini?" Rintih Dean yang sudah jatuh terkulai dilantai dapur sambil memegangi kepalanya.
Dari ruang tengah Dean mendengar samar samar suara dering telepon rumahnya, sudah terbayang oleh Dean siapa yang dengan rajin menelpon kerumahnya saat ponselnya tidak dapat dihubungi.
"Harus ya dia langsung menghubungiku sesampainya dirumah? apanya yang libur kalau begini" Dean bangkit dan berjalan ke asal suara sambil mengoceh, mengutuki atasan kesayangannya itu.
"Halo kediaman Dean Sinatra disini" Ucap Dean dengan nada sok tegas saat mengangkat telepon rumahnya.
"Kau masih hidup rupanya? kenapa ponselmu tidak aktif? kau sengaja ingin dipecat ya?" Oceh Armand di balik telepon.
"Ponsel saya lowbat Pak, alhamdulillah sekarang saya masih hidup, tapi kalau dibiarkan beberapa jam lagi mungkin saya bisa mati, dan kalau saya sampai mati Bapaklah yang sudah membunuh saya"
Dean menyalahkan Armand atas segala kemalangannya, dia berani berkata begitu karena mereka bicara lewat telepon tidak berhadapan langsung, paling Armand cuma bakal berteriak tidak akan melayangkan benda kearahnya.
"Sialan kau, jangan dulu mati, bertahanlah sebentar lagi, masih banyak tugas yang harus kau kerjakan"
Diluar prediksi Dean, tidak ada teriakan yang memekakkan telinga dari balik telepon, justru perkataan sinis yang seolah menghujam jantung Dean yang keluar dari mulut bos terbaiknya itu.
"Pak, bukannya anda menyuruh saya libur?" Tanya Dean dengan nada memelas.
"Memang siapa yang mau menyuruhmu ke kantor, aku hanya mau memintamu mengambil pesananku ditoko elektronik Z, aku lupa kemarin aku memesan laptop tercanggih untuk Lisa, tadi mereka menelpon kalau pesananku sudah ada" Jelas Armand tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Itu sama saja anda menyuruh saya kerja tambahan Pak"
"Ya sudah kalau kau tidak mau, tadinya aku mau memberimu bonus lembur, tapi sepertinya kau lebih membutuhkan libur daripada uang tambahan, selamat menikmati liburamu kalau beg.."
"Tu tunggu Pak, berapa bonus lembur nya?" Dean langsung memotong ucapan Armand sebelum dia menutup teleponnya.
"Dua kali lipat dari bonus lemburmu yang biasa" Jawab Armand sambil menyungginggkan senyum miring yang tidak akan terlihat Dean.
"Siap Pak, saya akan segera meluncur" Mendengar kata dua kali lipat langsung menghilangkan lapar dan lelah Dean seketika.
"Antarkan langsung pada Lisa, dia pasti sudah sangat menunggu hadiahnya" Ucap Armand sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.
Sudah terbayangkan oleh Armand wajah sumringah istrinya saat menerima hadiah istimewanya itu, sayang dia masih sibuk jadi tidak bisa memberikannya secara langsung.
Dean segera mandi dan mengganti pakaiannya bersiap melaksanakan tugas tambahan dengan bonus dua kali lipat, untungnya di kulkas masih ada susu kotak rasa coklat berukuran 250ml, Dean pun menyambarnya sambil berlari kearah pintu.
Beberapa waktu kemudian Dean sampai ditempat tujuan dan pesanan bos nya itu sudah disiapkan oleh pihak toko, jadi dia hanya perlu langsung mengambilnya dan kemudian kembali melajukan mobilnya menuju rumah Armand.
Tingtong..Tingtong..Dean membunyikan bel pintu dan menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.
Ceklek
"Oh kau rupanya, ada apa kemari?" Tanya Jeremi yang sudah membukakan pintu untuk Armand.
"Saya mau mengantarkan barang untuk nona" Jawab Dean sambil mengacungkan papper bag hitam ukuran jumbo kearah Jeremi.
"Masuklah, nona sedang ada dimeja makan dengan Erika"
Aromanya masih melekat karena Jeremi baru saja selesai menghidangkan makanan untuk Erika, ya dia sendiri yang memasak karena Armand belum mempekerjakan koki dirumah barunya.
"Kau baik baik saja?" Tanya Jeremi yang melihat Dean seperti sedang kesakitan sambil memegang perutnya.
"Aku...kelaparan Jer" Jawab Dean sedikit malu.
"D (dibaca Di), kau juga melewatkan makan seperti Erika ya, ckckck" Jeremi meneruskan langkahnya kearah meja makan, "Duduklah, biar aku siapkan makanan untukmu"
Untung saja Jeremi membuat cukup banyak menu, barangkali nona nya juga mau ikut makan, tapi justru tamu tak diundang yang akan menikmatinya.
Di meja makan ada Erika dan Lisa yang duduk bersebelahan, mereka tampak asik mengobrol dengan satu piring kosong dihadapan Erika karena Lisa hanya menemani tidak ikut makan.
"Siang Nona" Sapa Dean pada Lisa.
"Hai Dean, ada apa kemari, kata Erika bukannya kau disuruh libur hari ini?" Tanya Lisa yang dibarengi anggukan kepala Erika.
Dean duduk dikursi yang berada disebrang Erika, dan meletakkan papper bag yang sedari tadi dipegannya.
"Apa itu?" Tanya Lisa kembali.
"Saya harusnya memang libur nona, tapi Pak Armand menyuruh saya mengantarkan ini untuk anda" sambil menyodorkan barang bawaannya itu kehadapan Lisa.
"Apa Ini?" Sambil membuka bungkusannya, "Oh My God" Lisa terkejut sambil menutup mulutnya saat melihat apa yang ada didalam papper bag jumbo itu.
"Semuanya sudah disetting, anda bisa langsung memakainya" Ucap Dean sambil menyendok nasi dan lauk pauk keatas piring yang sudah disiapkn Jeremi.
Lisa membuka dus berisikan komputer lipat yang bergambar buah itu dengan antusias, dia menyalakannya dan mulai berseluncur melupakan kehadiran orang disekitarnya.
"Lisa, kau mau terus dimeja makan?" Suara Erika menyadarkan Lisa bahwa dia sudah duduk lama di meja makan, bahkan Dean sudah selesai makan, dan kini mereka sedang membereskan meja.
"Oh, aku pindah ke kamar saja ya, kau lakukan saja apa yang kau suka Erika anggap rumah sendiri ya" Ucap Lisa sambil bangun dari duduknya dengan tangan masih memegangi laptop.
"Tidak, aku harus terus berada disisimu saat tuan Armand tidak ada, itu perintah beliau"
"Ya ampun, apa kau juga mau mengikutiku di kamar mandi?" Tanya Lisa yang mulai jengah.
"Kalau memang diharuskan aku akan menemanimu dimanapun itu"
Dean yang mendengarkan percakapan mereka jadi merasa merinding, dia mengerti apa yang dirasakan Lisa, kalau sampai seperti itu rasanya memang seperti dikuntit bukannya dijaga.
Lisa memijit kepalanya yang mulai terasa berdenyut, "Ok gini aja, aku lanjutin di ruang kerja, rasanya tidak nyaman kalau harus berduaan dikamar denganmu"
"Ok,!" Ucap Erika sambil nyengir, "Katakan saja kalau ada yang bisa aku bantu"
"Tidak usah, kau diam saja dipojokan, pandangi saja aku sampai matamu itu terasa mau copot" Ucap Lisa dengan nada sarkastis sambil melenggang menuju ruang kerja diikuti Erika.
"Siap, aku akan memandangimu sampai mau muntah" Balas Erika tidak kalah sarkas.
Kembali Dean yang hanya jadi pendengar hanya bisa melongo mengamati percakapan dua sahabat itu, tidak salah memang dia memilih Erika untuk jadi penguntit Lisa, orang lain belum tentu bisa bersikap seperti itu pada atasannya.