
***
"Welcome home anak-anakku sayang" Teriak Bu Nadia didepan pintu sambil merentangkan kedua tanganya menyambut kedatangan Armand dan Lisa.
"Halo ma" Lisa balik menyambut dan merangkul ibu mertuanya itu.
"Papa mana ma?" Tanya Armand yang tidak melihat ayahnya ikut menyambut didepan pintu.
"Ada lagi di ruang kerja, dia sibuk gantiin kamu, hahaha" Bu Nadia tampak senang melihat suaminya yang berencana pensiun itu kembali disibukkan dengan pekerjaan di perusahaannya.
"Oh ya udah kalo gitu aku langsung keruangan papa aja" Armand hendak melangkah memasuki pintu depan rumahnya sebelum tangannya ditarik sang ibu.
"Eits, kamu mau kemana?" Ucap Bu Nadia masih memegang tangan Armand "Penganten baru jangan dulu kerja, fokus buatin mama cucu dulu aja" Sambil mengedipkan matanya ke arah Lisa.
Wajah Lisa sudah mulai memerah karena ucapan ibu mertuanya itu.
Ibu sama anak sama anehnya
"Cucu mama masih dalam tahap proses, tinggal nunggu acc aja, Armand bantuin papa dulu aja ya, kasian entar tangan kesemutan papa kambuh lagi"
Jika para kalangan ningrat biasanya punya penyakit berat semacam jantung atau stroke, lain hal nya dengan Pa Eddie ayah Armand, saat kelelahan tangannya akan terasa kesemutan, entah itu fakta atau hanya karangan belaka agar terhindar dari tugasnya.
"Iya ma kasian papa pasti capek, biar Armand yang ambil alih lagi aja" Lisa ikut menimpali, lebih baik suaminya itu bekerja untuk perusahaan daripada bekerja membuat cucu, yang ada nanti dia yang akan kecapekan, secara Armand kan tidak cukup dengan hanya satu ronde.
"Kalian ini disuruh enak enak malah pada ga mau, yaudah gih sana bantuin papa kamu" Ucap Bu Nadia sambil menunjuk Armand dengan dagunya "Lisa kamu ikut mama ya, mama pengen denger cerita heneymoon kalian"
What? sepertinya aku tidak akan punya privasi dirumah ini.
Sudah terbayang cerita apa yang diinginkan mama mertuanya, Tangannya hanya digaet oleh sang mama tapi Lisa merasa seperti diseret memasuki rumahnya, dia menatap Armand dengan wajah memohon minta diselamatkan, tapi Armand hanya mengepalkan tangannya didepan dada dan bibirnya bergerak membuat kata "SEMANGAT".
Sepertinya aku salah membuat pilihan, mending aku melakukannya saja dengan suamiku daripada harus menceritakan detailnya pada ibu mertuaku, sungguh memalukan.
Lisa hanya pasrah digiring ke penjagalan oleh sang ibu mertua yang kebaikannya melebihi batas wajar itu.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa pa, ada yang salah sama laporannya?" Tanya Armand pada papa nya yang tiba tiba berhenti di salah satu map.
"Kenapa ini ada disini" Armand mengambil map yang sempat diberikan Bram padanya itu dari tangan ayahnya "Aku ga invest soalnya proyek nya terlihat bodong pa, yang investnya aja kebanyakan para pejabat negara, kelihatan banget tujuan money laundry mereka"
"Ohh begitu ya" Ucap Pa Eddie simpel.
"Ko papa ga kaget sih, atau jangan jangan papa udah tau Mandala itu perusahaan apa?" Melihat ekspresi ayahnya yang biasa saja itu membuat Armand yakin kalau ayahnya itu memang mengetahui sesuatu.
"Yaaa bisa dibilang begitu, Baskoro dan papa dulu juga teman dekat seperti kau dan Bram sekarang, tapi kami putus hubungan gara gara beda keyakinan" Jelas Pa Eddie singkat.
"Aku sama Bram juga udah putus hubungan pa, ga bener dia lama lama, masa dia tega manfaatin sahabatnya sendiri demi keuntungannya"
"Memangnya selama bersahabat kalian tidak saling mengerti satu sama lain? papa pikir kamu sudah tahu Bram itu orang macam apa" Kali ini Pa Eddie yang heran dengan anaknya, bisa bisanya mereka bersahabat tapi tidak saling mengetahui karakter asli masing masing.
"Yang aku tau Bram memang bukan orang yang baik dimata orang lain, tapi selama dia baik sama aku ya aku sih fine fine aja" Jelas Armand singkat.
"Kamu tau dia terkenal tidak baik karena apa?" Pa Eddie kembali bertanya, kali ini dengan nada yang lebih serius.
"Mmmm" Armand tampak berfikir sejenak, "Kelakuannya emang nyebelin sih, suka seenaknya kalo sama orang"
"Nah itu tau, sifat Bram itu turunan dari ayahnya, Baskoro juga suka bertindak semena mena, apalagi pada orang yang derajatnya lebih rendah dari dia, dulu juga papa sama kaya kamu, ga peduli sama orang lain"
Armand membenarkan posisi duduknya,"Terus putus karena beda keyakinan nya dimana?" Armand menghadapkan badannya ke arah ayahnya dan siap siap mendengar kelanjutan cerita.
"Jadi waktu itu, ayah sama om Baskoro baru disuruh megang perusahaan oleh ayah kami masing masing, dan semakin lama ayah melihat kelakuan Baskoro malah terlihat seperti mafia, dia mencari kelemahan dari perusahaan perusahaan saingannya, dan mengancam mereka dengan itu, agar mereka mau menanamkan saham diperusahaannya, sampai akhirnya Mandala Grup menjadi sebesar sekarang" Jelas pa Eddie panjang lebar.
"Terus karena papa sama om baskoro berbeda prinsip makanya papa putus hubungan gitu?" Tanya Armand yang makin penasaran.
"Awalnya papa ga terlalu peduli seperti biasanya, karena perusahaan kita tidak mempunyai kelemahan dalam bentuk kecurangan yang biasa dimanfaatkan Baskoro, tapi semua terjadi karena mama kamu"
"HAH!!, mama juga terlibat?" Armand kaget mendengar ibunya disebut dalam kandasnya hubungan pertemanan ayahnya.
"Iya, kakek dari mama kamu itu seorang pimpinan perusahaan kecil, dan dia bermaksud meminta bantuan kepada Mandala Grup untuk memajukan usahanya, tapi Baskoro memberi syarat yang tidak dapat diterima seorang ayah dimana pun, dia meminta anak perempuan satu satunya kakekmu sebagai imbalan, bukan dijadikan istri, tapi hanya simpanan karena Baskoro sudah dijodohkan dengan anak seorang pemilik perusahaan besar lain"
Pa Eddie menjeda ceritanya karena merasa tenggorokannya mulai kering, dan Armand dengan sigap menyodorkan segelas air putih kepada papanya.
"Lanjut pa" Pinta Armand setelah papanya menghabiskan satu gelas air.
"Mama kamu itu teman kuliah kami dulu, dia cantik, humoris, dan baik, sepertinya Baskoro menaruh hati sama mama kamu, tapi tidak dia sampaikan karena sudah pasti akan terhalang restu, sampai saat kakek kamu datang minta bantuannya, dia anggap itu sebagai kesempatan untuk memiliki ibumu"
"Terus hubungannya sama pertemanan papa dan om Baskoro apa?"
"Tunggu dulu, belum klimaks nya ini" Pa Eddie menghirup udara dalam dalam kemudian melanjutkan ceritanya, "Jadi kakek kamu menolak permintaan Baskoro, dan Baskoro jelas tidak terima dia ditolak mentah mentah begitu, sehingga dia nyaris menghancurkan bisnis kakek kamu"
Armand mencengkram lengan kursi menahan emosi yang mulai menjalar ditubuhnya, mendengar perlakuan ayah Bram terhadap kakek dan ibunya membuat Armand ingun sekali melayangkan tinjunya pada Baskoro saat itu juga, namun sayangnya, Baskoro Wiryawan sudah mati, dan dia belum tau istrinya ada dibalik kematiannya.