Mona*Lisa

Mona*Lisa
ROMEO DAN JULIET



Di pagi hari yang sudah hampir siang itu Lisa berangkat menuju rumah barunya diantar pak Eman, sedangkan Armand sudah pergi ke kantor pagi sekali sebelum Lisa bangun.


Lisa duduk dikursi belakang mobil sambil menatap keluar jendela, dia teringat kata kata suaminya tadi malam diatas ranjang setelah mereka menyelesaikan pergulatan beberapa ronde.


"ERIKA??" Tanya Lisa setengah kaget.


"Iya Erika, kalian dekat bukan? jadi kau tidak akan merasa canggung pada orang yang akan mengikutimu kemana mana dan memperhatikan semua kebutuhanmu" Jawab Armand.


Dan kemudian melaporkan semuanya padamu kan? Batin Lisa.


"Kenapa kau sangat ingin menempatkan orang disekitarku? apakah masih belum ada rasa percaya dihatimu? aku bahkan sudah memberikan hati dan tubuhku, tidak bisakah kau setidaknya memberikan kepercayaanmu?"


Lisa tampak kecewa, wajahnya terlihat sendu, bagaimana tidak, dia yang kini sudah menemukan seseorang untuk dia jadikan sandaran, tapi orang tersebut masih belum bisa mempercayainya sepenuhnya, meskipun itu memang bukan sepenuhnya salah Armand.


"Aku percaya kalau dihatimu sudah terukir namaku, dan aku yakin kau juga tidak akan mungkin memberikan tubuhmu pada pria lain, aku hanya ingin memastikan kau tetap berada dalam jangkauanku, aku masih belum bisa menjamin jika suatu saat nanti kau tidak akan menghilang begitu saja"


Kini wajah Armand yang terlihat sendu, jujur saat ini dia juga mencintai wanita yang tidur disampingnya itu, Armand sudah tidak peduli dengan latar belakang Lisa yang dulu membuatnya sampai memikirkan berbagai cara untuk membongkar identitasnya, rasa khawatir jika Lisa memiliki niatan buruk padanya atau pada perusahaannya pun sudah tidak ada lagi.


Tapi ada satu hal yang masih mengganjal dihati Armand, dia masih merasa takut jika suatu hari Lisa akan pergi meninggalkannya dan menghilang tanpa jejak.


"Kau takut jika aku akan pergi meninggalkanmu? bukannya kau sudah sangat sering mengancamku jika aku berani kabur, memangnya kau pikir aku masih berani lari darimu? lagipula kenapa aku harus lari?" Lisa malah mencecar Armand dengan banyak pertanyaan.


"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dimasa depan, aku hanya jaga jaga, lagipula kau masih belum memberitahuku tentang dirimu, asal usulmu, juga keluargamu, jangan salahkan aku jika aku masih belum bisa sepenuhnya mempercayaimu" Jawab Armand, tepat seperti apa yang dipikirkannya selama ini.


"Aku sudah bilang nanti aku akan memberitahukanmu, percayalah aku tidak akan pergi kemana mana sampai saat itu tiba" Lisa menempelkan kedua telapak tangannya dipipi Armand dan menangkup rahang kokohnya.


"Hanya sampai saat itu? setelahnya kau akan pergi begitu?" Tanya Armand bingung tanpa melepas tangan Lisa.


"Jika saat itu tiba kau lah yang harus memutuskan, apakah aku masih layak berada disisimu, atau tidak" Lisa menatap wajah Armand lekat seperti sedang menghafalkan setiap detilnya, jika suatu saat nanti dia memang harus pergi, setidaknya dia akan tetap mengingat wajah tampan itu.


"Memangnya seburuk apa asal usulmu itu hm? apa kau pernah membunuh orang? hahaha" Canda Armand untuk mencairkan suasana tegang yang kini menyelimuti mereka, namun sayangnya bagi Lisa itu tidak terdengar seperti sebuah guyonan.


IYA dan ada banyak nyawa yang sudah aku ambil. Batin Lisa,dia melepas tangannya dari wajah Armand, dan kemudian menarik selimut sampai menutupi pundaknya.


Armand menghentikan tawanya karena dia tidak mendengar suara tawa dari lawan bicaranya, dia menatap wajah Lisa dan memandang lurus kearah matanya


"Ga lucu ya?"


"Kau tadi ngelawak?" Lisa malah balik bertanya.


Lisa mendekatkan tubuhnya dengan Armand dan menyelusup kedalam dekapan suaminya, "Kalau iya aku seorang pembunuh bagaimana?"


Tanya Lisa setengah gugup, dia bahkan menyembunyikan wajahnya didada bidang Armand, tidak siap melihat ekspresi apa yang akan dikeluarkan Armand.


"Maka itu berarti orang yang kau bunuh itu memanglah orang yang pantas dilenyapkan dari muka bumi" Sebenarnya Armand cukup terkejut dengan pertanyaan Lisa, tapi dia mencoba menjawabnya setenang dan seyakin mungkin, karena hati kecilnya meyakinkannya bahwa perempuan seperti Lisa pasti punya alasan jika harus sampai membunuh orang.


Serumit apa kisah hidupmu? Batin Armand, dia membalas pelukan Lisa, didekapnya erat tubuh semampai istrinya itu.


Kegugupannya hilang saat mendengar jawaban Armand, Lisa bahkan terkekeh kecil, dia mengangkat kepalanya kemudian berkata,"Kau tidak takut? aku bisa membunuhmu kapan saja" tawa kecilnya berubah menjadi seringaian seperti tokoh tokoh antagonis di film bergenre thriller dan seketika aura Lisa berubah bak pembunuh berdarah dingin.


"Jika kau berhasil membunuhku maka Dean akan membalaskan dendamku, kemudian kau juga akan menyusulku dan kisah kita pun akan berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet yang mati bersama" Armand membalas seringaian Lisa dengan senyuman yang manis semanis madu.


Lisa tertawa terbahak mendengar jawaban Armand, begitupula dengan Armand, suasana suram kini berubah ceria kembali berkat guyonan mengandung fakta yang dilontarkan Armand, ya fakta, setidaknya itulah yang mungkin terjadi jika Lisa benar benar sampai membunuh Armand.


"Jadi kisah Romeo dan Juliet itu sebenarnya happy ending atau sad ending?" Tanya Lisa disela tawanya.


"Sad ending menurut penonton, happy ending menurut pemeran utama" Jawab Armand sambil mengubah posisi tubuhnya jadi menghadap kearah langit langit kamar dan bersiap untuk tidur.


"Iya juga ya,kau sudah mau tidur?" Tanya Lisa lagi yang masih menghadap ke arah Armand.


"Hmm, besok aku harus kerja kan, dan kau juga jangan lupa bersiap pindah kerumah baru kita" Armand sudah mulai memejamkan matanya, lelah fisik dan pikiran membuatnya hampir terlelap begitu saja.


"Lalu Erika? kapan dia akan mulai bertugas?"


"Bwesyuok" Jawab Armand setengah menguap.


"Kau sudah setengah sadar rupanya, yasudah kalau begitu selamat tidur" Ucap Lisa sambil mengecup singkat bibir Armand kemudian mengubah posisi tidurnya seperti Armand, "Semoga kisah kita happy ending menurut pemeran utama dan juga penonton"


"Hmmm" Armand masih bisa mendengar ucapan Lisa tapi sudah tidak sanggup menjawab, jadi hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Kembali pada Lisa yang tengah duduk dikursi belakang mobil, setelah semua reka adegan tadi malam dia ulang kembali dalam benaknya, ada rasa senang juga haru yang terselip dihati Lisa.


Dari cara Armand menjawab semua pertanyaannya, dan dari ekspresi yang dia berikan, Lisa merasa cukup yakin jika Armand akan menerima dirinya apa adanya meskipun dia nanti mengetahui latar belakangnya juga keluarganya, membayangkannya saja sudah sangat membahagiakan bagi Lisa.


"Baiklah, aku harus fokus pada misi utamaku sekarang, menjatuhkan Mandala Grup" Lisa bermonolog dalam hati karena takut pak Eman mendengar perkataannya, "Alex tolong bantu aku darisana" .