Mona*Lisa

Mona*Lisa
KAWAN LAMA



Setelah mengklik tombol send, sekarang Lisa duduk gelisah menunggu balasan, tanpa sadar kakinya mulai bergerak keatas kebawah, dan jari telunjuknya mengetuk ngetuk meja, dan itu semua tidak luput dari perhatian Jeremi, meskipun dia berada disebrang Lisa bahkan sambil membaca novel romantis jika dilihat dari judulnya.


"Anda baik baik saja nona? kenapa kaki anda gemetar?" Tanya Jeremi yang hanya terlihat matanya saja yang mengintip dari balik buku.


"Eh, mungkin aku cuma pegal, abis aku duduk lumayan lama" Lisa mulai meregangkan tangan dan kakinya, pura pura melakukan scretching agar Jeremi tidak curiga.


"Emm baiklah kalau begitu" Jeremi kembali fokus pada buku bacaannya.


FIIUUHHH, Lisa menarik nafas lega didalam hatinya, sambil merutuki seseorang nun jauh disana yang masih belum membalas pesannya.


Ck,dia lagi ngapain sih, lama bener balasnya.


TRING...,akhirnya sebuah pesan balasan yang ditunggu Lisa pun tiba, sebenarnya dia hanya menunggu lima menit, tapi rasanya sudah seperti lima jam.


"SPEAK"


"Princess is that you? Why you just show up?" (Putri kau kah itu? Kenapa kau baru muncul?)


tidak seperti biasa, balasannya cukup panjang,karena itu adalah sebuah kode yang biasa mereka gunakan sebelum memulai percakapan rahasia, dan hanya Lisa dan sipembalas saja yang mengetahui kata sandi tersebut.


Lisa mulai mengetik balasannya, atau lebih tepatnya tujuannya menghubungi orang tersebut.


"Yes it's me Hendrick, let's skip the greeting, i need something from you, and this is emergency" (Ya ini aku Hendrick, mari lewatkan saling sapanya, aku butuh sesuatu darimu, dan ini mendesak)


Lisa menatap fokus layar komputernya, dari luar dia memang terlihat seperti sedang serius berfikir, dan itu membuat Jeremi yakin bahwa nonanya sedang membuat sesuatu yang cukup menguras pikirannya, jadi dia putuskan untuk tidak mengganggu.


(Selanjutnya di translet aja ya, anggap mereka lagi ngoceh pake bahasa Inggris 🤭)


"Oohh putri, kau kejam sekali, kau baru menghubungiku setelah bertahun tahun, dan itu pun karena kau hanya membutuhkan sesuatu dariku, hiks dasar jahat, tapi tak apalah, kau masih hidup pun aku sudah senang, apa yang kau butuhkan sayang?"


"Aku butuh alat alat yang biasa aku pakai saat terjun dilapangan, dan tambahkan obat bius paling bagus tapi dosisnya aman untuk nyawa orang"


"Wow, bahkan disana pun pekerjaanmu masih beruhubungan dengan nyawa orang rupanya, siapa yang mau kau buat tidur sweetie?"


Bukannya segera mengiyakan permintaan Lisa, orang tersebut yang kini kita tau namanya adalah Hendrik malah terus mengocehkan hal lain, dia masih penasaran dengan Lisa yang sekarang, karena mereka sudah hilang kontak selama hampir tiga tahun.


"Tidak, kali ini aku hanya akan memberi hukuman paling berat untuk seseorang, meskipun hutang nyawa seharusnya memang dibayar nyawa"


Tapi Lisa ikut menimpali dan menjawab pertanyaannya, dia juga rindu sekaligus senang bisa bercakap cakap lagi dengan salah satu kawan baiknya di Belanda dulu.


"Kurasa membuatnya tidur bukanlah hukuman yang berat, apa gunanya alat alat tempurmu kalau kau membuatnya tidur nanti?"


"Obat tidurnya bukan untuk si penjahat Hend, itu untuk suamiku"


Tanpa sadar Lisa mengetikkan kata suami dan sudah terlanjur dia kirim, sudah terbayang balasan apa yang akan dia terima.


"APAAAA, kau sudah menikah dan mau meracuni suamimu sendiri? sepertinya pulang ketempat kelahiran ibumu tidak membuatmu lebih baik, sudahlah kau kembali saja kesini, bos besar sangat merindukanmu, tapi dia tidak berani mencarimu"


"Aku hanya membuatnya tidur lebih lama, bukannya meracuni, jangan seenaknya menafsirkan sendiri, dan sampai kapanpun aku tidak akan kembali kesana, biar saja tua bangka itu merasakan seperti apa kehilangan keluarga"


"Dia masih kakekmu, dan kau masih putri kecilnya yang sangat dia sayangi, aku tahu dia memang sudah sangat berdosa padamu, tapi ikatan darah tidak akan mudah putus begitu saja honey"


"Ya, dan aku sangat menyesali karena darahnya mengalir didalam tubuhku, dan itu tidak akan hilang meskipun aku berulangkali mendonorkan darahku bukan? jadi terima saja kenyataan bahwa aku tidak akan pernah menginjakkan kaki disana lagi, kecuali jika aku mati, dia baru boleh membawa jasadku, dan kuburkan aku disamping kuburan orangtuaku"


Tampak mata Lisa sudah mulai berkaca kaca, kenangan kenangan pahit mulai kembali dari dalam memorinya, dia memejamkan matanya mencoba untuk mematikan rekaman video yang mulai berputar di otaknya, dia mulai mengambil nafas dan membuangnya perlahan, tentu Jeremi kembali melihat apa yang dilakukan oleh majikannya itu.


"Nona sepertinya anda sudah benar benar lelah, istirahatlah dan lanjutkan pekerjaan anda nanti, jangan terlalu memaksakan diri" Ucap Jeremi, kini dia meletakkan bukunya dimeja, terlihat raut khawatir dari wajahnya.


"Aku tidak apa apa, aku hanya aga pusing, sekarang sudah hilang kok, Jeremi bisa tolong bawakan aku jus, sepertinya aku butuh sesuatu yang segar" Lisa menyunggingkan senyum dibibirnya, wajahnya yang sendu sudah kembali terlihat biasa, meyakinkan Jeremi agar dia tidak perlu mengkhawatirkannya.


"Baik nona, saya akan bawakan jus mangga untuk anda" Seraya bangkit daru duduknya, Jeremi melangkah keluar ruang kerja menuju dapur.


Gara gara Lisa kembali mengingat insiden berdarah itu, membuat perutnya terasa mual dan keringat dingin mulai keluar dari tengkuknya, trauma itu memang tidaklah mudah hilang, dan kakeknya justru membuatnya terjun kedunia dimana nyawa adalah hal yang lumrah untuk diambil, itu merupakan sistem terapi yang dibuat kakeknya.


Luapkan amarahmu pada mereka, alirkan kesedihanmu pada orang orang yang sudah merenggut kebahagianmu, nyawa dibalas dengan nyawa.


Itulah motivasi yang diberikan kakeknya untuk Lisa menjalani hidupnya, hidup yang hanya dipenuhi balas dendam, sampai akhirnya dia tahu alasan sebenarnya kenapa orangtuanya sampai terbunuh.


TRING..Hendrik kembali membalas pesannya.


"Ok, lakukan saja apa yang kau inginkan jika itu membuatmu bahagia, tapi kenapa hidupmu disana masih berhubungan dengan nyawa? kau bilang kau sudah punya suami bukan? kalaubegitu apa bedanya dengan hidupmu saat masih disini?"


Hendrik benar benar dibuat penasaran, yang dia tahu hanyalah Lisa pergi ke negara tempat kelahiran ibunya, tentu dia tidak tahu bahwa Lisa sekarang merupakan seorang agen rahasia, dan hidupnya memanglah masih bersinggungan dengan nyawa seseorang bahkan nyawanya pun menjadi taruhan, tapi bedanya, kini targetnya adalah orang yang menjadi musuh negara, bukan hanya musuhnya saja.


"Jangan banyak tanya lagi, kau hanya perlu mengirimkan apa yang aku pinta tadi, hidupku disini juga tidak mudah tau, itu semua aku lakukan untuk mempertahankan rumah tanggaku juga"


"Ok ok, slowdown baby, aku akan segera mengirimkan paket istimewa untukmu, tapi sepertinya akan butuh waktu jika ingin semuanya mendarat aman ketempat tujuannmu, kirimkan saja aku alamatmu"


Lisa tidak mengirimkan alamat rumah baru Armand, dia justru mengirimkan alamat apartemen yang sebelumnya dia tempati, bagaimanapun juga Hendrik sama handalnya dalam bidang hacker, dia akan tahu itu rumah sipa jika dia memberikan alamatnya yang sekarang, dan tua bangka itu akan dengan mudah menemukannya.