
Sore itu Lisa sedang bermalas malasan diruang tengah bersama mama mertuanya sambil menonton drama korea favorit sang mama.
"Nona, jasa angkut barangnya sudah datang" Tiba tiba Jeremy datang menghampiri dua wantia yang tengah khusyuk itu.
"Udah datang ya, kamu urus dulu ya, tanggung bentar lagi adegan kiss" Entah sejak kapan Lisa jadi ikut menghayati drama yang dibintangi Hyun Bin itu, dia bahkan menjawab Jeremy tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tv.
"Iya kamu ganggu aja, udah gih sana urus sendiri dulu" Bu Nadia ikut sewot karena fokus nya jadi ikut terganggu.
"Baiklah saya permisi, maaf sudah mengganggu acara menonton nona dan nyo-"
"SSSUUUUTTT" Ibu dan menantu itu kompak memotong ucapan Jeremy sambil menempelkan jari telunjuk di bibir mereka masing masing.
Tanpa berkata apa apa lagi, Jeremy langsung meninggalkan ruang tengah yang kini sedang dijadikan bioskop itu,daripada kena semprot lagi lebih baik dia mengurus barang barang yang mau dibawa pindah saja pikirnya.
"Yaahh nanggung banget ending nya"
Berbarengan dengan kepergian Jeremy, drama korea yang mereka tonton ikut ikutan bersambung, apalagi ending nya pas kedua pemeran utama sudah saling mendekatkan wajah dan hampir mempertemukan bibir mereka, benar benar bikin kesal para pemirsa.
Lisa berdiri dari duduknya, dia meregangkan ototnya yang kaku karena kelamaan duduk, "Aku nemenin Jery dulu ya ma, sekalian mau sortir barangnya lagi"
"He em gih, mama mau lanjut nonton, abis ini ada favorit mama yang lain, itu loh yang pelakor" Bu Nadia masih asyik duduk di sofa dengan snack dipangkuannya.
"Selamat nonton ma, Aku pergi ya" Lisa pergi menyusul Jeremy yang baru pergi sekitar lima menit yang lalu.
"Oke, kalo udah beres balik lagi, jangan langsung ikut pindah"
Lisa tidak menimpali ucapan bu Nadia, dia hanya terkekeh sambil berjalan menuju pintu utama.
Sesampainya di pintu, Lisa melihat Jeremy sudah ada disana sambil menunjuk nunjuk kotak dus yang ada disana, sepertinya dia sedang memberi arahan pada petugas jasa angkut, dus mana yang berisi barang yang rentan tidak boleh ditumpuk dan mana yang bukan.
"Jery barangnya sudah dikeluarkan semua?" Tanya Lisa setelah dia berada tepat disamping Jeremy.
"Sudah nona, lagipula barang yang akan dibawa tidak banyak" Jawab Jeremy.
Barang yang akan dibawa pindah majikannya itu memang tidak banyak, Armand hanya membawa dokumen dan buku buku diruang kerjanya, begitu juga Lisa, dia hanya membawa beberapa pakaian yang menurut dia nyaman dipakai, karena semua perabot dan kebutuhan sandang yang lainnya sudah tersaji komplit dirumah baru mereka.
Lisa ikut memperhatikan para petugas mengangkut satu persatu barangnya, tanpa dia sadari bahwa dia sendiri sedang diperhatikan oleh dua mahluk tak kasat mata didepan pintu gerbang rumahnya.
"Heemm, bedanya kalo yang disketsa itu hitam putih, kalo yang disana berwarna" Balas Sam sambil menunjuk ketempat Lisa berdiri dengan dagunya.
"Coba kita berhasil menemukan dia sebelum dia menikah dengan Armand" Keluh Jay.
"Emang kalo kita ketemu dia duluan mau kau apakan dia? palingan juga diembat duluan sama bos" Sudah pasti Bram tidak akan menyia nyiakan wanita secantik Lisa meskipun dia musuhnya, atau bahkan mungkin bos nya itu akan melakukannya sebagai bentuk penyiksaan.
"Biar si bos nyicip duluan, gue ga masalah dapet bekasnya juga"
"Lah sama aja oon, kalo kita tangkep sekarang juga dia udah jadi bekas orang" Sam kembali mengingatkan Jay jika targetnya itu kini berstatus istri orang.
"Bodo amat, yang penting gue bisa nyicipin dia, liat bentukannya bro, jarang jarang gue nemu modelan begitu" Otak mesum Jay sudah mulai membayangkan dirinya bisa menjamah gadis cantik diujung teropongnya itu, dia sudah membulatkan tekadnya bahwa misinya menculik Lisa harus berhasil bagaimanapun juga.
"Sebelumnya kita harus laporin dulu semuanya ke bos, kita harus mencari tahu juga apa yang Armand dan wanita itu rencanakan" Berbeda dengan Jay yang dipenuhi otak mesum, otak Sam masih bisa berpikir rasional, pada dasarnya dia memang tidak mudah tergoda oleh wanita, traumanya dimasa lalu terhadap wanita membuatnya tidak mudah lagi terperdaya oleh mahluk berwujud cantik itu dengan mudahnya.
"Ok kalo gitu kita cabut sekarang aja bro" Ucap Jay sambil meletakkan teropongnya dan hendak menyalakan mesin mobil sebelum pergerakannya dihentikan oleh Sam.
"Tunggu bentar lagi, kita ikutin dulu mobil angkutan itu, kayanya dia mau pindahan" Lagi lagi otak Sam berjalan dengan baik, apa tujuan mobil jasa angkutan kalau bukan untuk membantu orang yang mau pindahan tentu saja.
"Bro, otak lu ko bisa encer, lu rajin minum susu ya?" Inilah sebabnya Jay ingin misi pengintaiannya ditemani oleh Sam, karena temannya itu memang memiliki ukuran otak yang lebih besar dari miliknya.
"Iyalah, gue dari orok minum susu dari sumbernya, ga kaya lu yang anak sapi" Jay ditinggalkan ibunya dari bayi, dia dibesarkan oleh bibinya jadi dia hanya minum susu formula tanpa pernah mencicipi asi.
"Lu ngeledek gue yang ga punya nyokap?" Jay memang selalu iri pada Sam yang begitu dekat dengan ibunya, tidak seperti dirinya yang belum pernah merasakan hangatnya pelukan seorang ibu, kurangnya kasih sayang orangtua dan kurangnya pendidikan dini membuat Jay terjerumus ke dunia hitam.
"Kan gue udah pernah bilang, anggep nyokap gue sebagai nyokap lu juga, jadi lu ga usah sok sokan ngedrama jadi anak piatu yang harus dikasihani, ga cocok sama tampang preman lu"
Mereka berdua sudah saling mengenal dari awal mereka terjerumus keranah kriminal, Baskoro yang pertama kali mempertemukan mereka sebagai rekan tim, darisana mereka saling mengenal dan saling bergantung.
Meskipun kurang perhatian dan kasih sayang setidaknya Jay berasal dari keluarga mapan, berbeda dengan Sam yang berasal dari keluarga miskin, dia yang menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi ketiga adiknya, belum lagi ibunya yang sakit parah memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk berobat, membuatnya rela melakukan apa saja demi kelangsungan hidup keluarganya.
Takdir yang kejam mempertemukan mereka di dunia yang tak kalah kejam, mereka bertahan hidup dengan mempertaruhkan kehidupan orang lain, sehingga perlahan hati dan rasa manusiawi mereka ikut menghilang.
"Terimakasih pa, barang barangnya langsung saja antar kealamat ini, disana sudah ada seseorang yang menunggu"
Ucap Lisa pada salah satu petugas jasa angkut sambil menyerahkan secarik kertas berisi alamat barunya, dia tidak perlu ikut untuk membereskan barangnya disana karena Dean si sekretaris handal sudah siap siaga dirumah baru mereka.