Mona*Lisa

Mona*Lisa
MEMULAI TUGAS



Erika menyerah, bagaimanpun dia tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang dia inginkan dari Dean, jadi dia putuskan untuk mencari sendiri jawabannya.


Biar waktu yang menjawab. Batin Erika


Erika yakin dengan seiringnya waktu, dia akan mengetahui, atau setidaknya mengerti mengenai kehidupan pernikahan yang dijalani Lisa dan Armand. Apalagi dia akan berada terus disisi Lisa mulai dari sekarang.


"Baiklah tuan Dean, anggap saja aku sudah mengerti dan aku akan menjalankan tugasku dengan sebaik mungkin" Jawab Erika dengan raut wajah murung.


"Bagus kalau begitu, jangan sampai kau mengecewakan Pak Armand, dan tolong jangan berpikiran macam macam mengenai hubungan mereka, pernikahan mereka asli bukanlah rekayasa, itu semua dilakukan Pak Armand karena dia terlalu menyayangi istrinya, dia hanya takut kehilangan"


Dean sengaja mengungkap sedikit kehidupan pribadi atasannya itu karena dia bisa membaca apa yang ada dipikiran Erika, masih ada rasa ragu sekaligus kekhawatiran yang terpancar dari wajah Erika, setidaknya Dean berharap apa yang diucapkannya dapat sedikit mengurangi rasa khawatir Erika jadi dia bisa bekerja dengan profesional.


Dan benar saja, raut wajah Erika seketika berubah cerah setelah mendengar penjelasan kedua Dean, tapi tentu masih belum bisa meredam rasa penasarannya.


"Sungguh?"


"Tentu saja"Jawab Dean singkat.


Erika kini bisa menarik nafas lega, walaupun dia masih belum yakin seratus persen, dan dia masih akan tetap mencari jawabannya sendiri.


"Ah syukurlah, Lisa sungguh beruntung, benar apa yang dikatakannya, Tuan Armand memang seperti pangeran berkuda putih, hehe"


Erika teringat kembali perkataan Lisa sebelum dia pergi meninggalkan panti, dan berharap dalam hati semoga suatu hari dia juga menemukan pangerannya.


"Pangeran?" Ucap Dean tak percaya sambil mencoba menahan tawanya.


"Iya, bukannya kisah mereka itu seperti Cinderella?" Ucap Erika dengan mata yang berbinar.


Yang benar saja, kisah mereka itu seperti Beauty And The Beast, nona Lisa terpaksa menikahi Pak Armand agar selamat dunia akhirat. Batin Dean.


"Hemmm" Dean tidak sanggup menjawab, jika dia membuka mulutnya sekarang maka yang akan keluar adalah suara tawanya.


Pembicaraan mereka kembali berlangsung, Erika menanyakan hal hal yang boleh dan tidak boleh dia lakukan selama menjadi asisten pribadi Lisa, Dean menjawab semua pertanyaan Erika dengan singkat padat dan jelas, sehingga Erika dapat mencernanya dengan mudah.


Benar benar tidak ada percakapan yang keluar dari jalur pekerjaan, ya seperti itulah hubungan mereka, hanya sebatas rekan kerja, tapi siapa yang tahu dengan takdir manusia, bisa saja suatu saat nanti akan muncul rasa yang lain dari dalam diri mereka masing masing.


.


.


.


.


.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Erika sudah sampai beberapa jam yang lalu di rumah baru atasannya itu, dia bahkan sudah menempati ruangannya yang ditunjukkan oleh Jeremi, dia baru bangun setelah beristirahat sebentar, perjalanan dari panti ke ibu kota saja sudah melelahkan, ditambah percakapan bersama Armand juga Dean yang cukup menguras pikirannya, membuat Erika langsung ambruk ditempat tidur


Tok..Tok..Tok.. terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Erika.


"Siapa?" Tanya Erika dari dalam kamar.


"Ini saya Jeremi"


"Saya hanya ingin memberitahu bahwa nona Lisa sedang dalam perjalanan kemari, sebentar lagi dia akan sampai, jadi bersiaplah untuk menyambut nona dipintu depan!" Lanjut Jeremi dibalik pintu kamar Erika, tanpa membukanya sedikitpun.


"Iya terimakasih, sebentar lagi saya keluar" Erika setengah berteriak agar Jeremi dapat mendengarnya, karena dia sendiri tidak berniat untuk mebukakan pintunya.


Tidak terdengar lagi jawaban dari Jeremi, sepertinya dia sudah pergi. Erika segera mengambil handuk dari dalam tasnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian Erika sudah terlihat rapi dengan setelan formalnya, meskipun hanya menjadi asisten rumahan, Dean tetap menyuruhnya agar tetap berpakaian formal, kemudian Erika melangkahkan kakinya keluar kamar menuju pintu utama.


Didepan pintu sudah tampak Jeremi berdiri dengan gagahnya, masih belum ada tanda tanda kedatangan Lisa.


"Halo tuan Jeremi, sepertinya nona Lisa belum sampai ya?" Erika menyapa Jeremi saat dia sudah berdiri disampingnya.


"Sebentar lagi juga sampai" Jawab Jeremi sambil melihat kearah jam tangannya.


Dan benar saja, selang tiga menit kemudian, tampak sebuah mobil sedan hitam memasuki halaman rumah dan berhenti tepat didepan mereka, sopir nya keluar duluan dan membukakan pintu belakang tempat majikannya duduk.


Lisa keluar dengan tampilan yang begitu anggun, membuat Erika yang sudah cukup lama tidak melihatnya tertegun, benarkah dia temannya yang pernah tinggal dipanti bersamanya?


"Terimakasih Pak Eman" Ucap Lisa sopan pada sopir keluarga suaminya itu


"Sama sama nona, ini sudah kewajiban saya" Balas Pak Eman lebih sopan sambil menundukkan sedikit kepalanya.


Lisa melihat kedepan kearah pintu masuk, dan dia cukup terkejut melihat wajah yang juga dia rindukan, bukan Jeremi tentu saja.


"ERI..." Lisa berteriak sambil berlari kecil menghampiri sahabatnya.


"Jangan lari nanti kau jatuh" Ucap Erika sedikit kahawatir, tapi sepersekian detik kemudian tubuh nya sudah dirangkul erat oleh Lisa.


"Kau sudah sampai rupanya" Ucap Lisa tanpa melepas pelukannya, dia sudah tahu Erika akan datang, tapi dia pikir tidak akan secepat ini mereka bertemu, baru juga semalam Armand memberitahunya.


"Tentu saja aku sudah sampai, kemarin malm tuan Dean menjemputku dan langsung menyeretku kemari" Ucap Erika yang membalas pelukan Lisa.


"Hahaha, kau tahu sendiri kalau Dean hanya menjalankan tugasnya" Lisa mulai melepaskan pelukannya dan menatap wajah Erika, "Kau sudah makan?"


"Ah iya, pantas perutku perih, aku lupa kalau aku belum makan dari semalam"


Segala ketergesaan ini membuat Erika lupa pada dirinya sendiri, begitu juga Dean, dia juga lupa menawarkan Erika makan, dia hanya ingat untuk langsung membawanya bertemu Armand, lalu bagaimna dengan Jeremi? Dia berniat menawarkan Erika makan sebenarnya, tapi melihat Erika yang langsung ambruk mengurungkan niatnya dan akhirnya lupa juga.


"Ya ampuuunn, kau tidak dikasih makan?" Lisa melirik sinis kearah Jeremi.


"Saya akan menyiapkan makanan untuk nona Erika sekarang" Mendapati tatapan tajam Lisa membuat Jeremi memilih untuk langsung berbalik arah menuju dapur.


Lisa mengehela nafas sambil menggeleng gelengkan kepalanya, "Maaf ya, aku jadi nyusahin kamu" Lisa tampak merasa bersalah, bagaimanapun dialah penyebab utama kenapa Erika diseret kemari.


"Kenapa kau minta maaf?, ini bukan salah siapa siapa, aku sendiri yang lupa, dan aku yakin kalau tuan Dean juga melupakan kebutuhan perutnya sendiri"


Benar apa yang dikatakan Erika, sepulangnya kerumah Dean langsung menuju kamar dan melompat keatas tempat tidurnya, matanya langsung terpejam tapi dia tidak bisa tidur pulas karena suara gemuruh perutnya, membuatnya dilema antara meneruskan tidur dengan perut perih, atau memaksakan tubuhnya untuk bangun dan makan telebih dulu.


Karena tidak sanggup menahan lapar, akhirnya Dean memilih opsi kedua, namun naas sesampainya didapur dia hanya bisa melongo melihat isi kulkasnya yang kosong, sungguh malang memang nasib sang sekeretaris teladan itu.