Mona*Lisa

Mona*Lisa
SEBUAH PENJELASAN



"Kau sudah mengerti tugas mu, nona Erika?" Tanya Armand.


"IYA SAYA!" Erika langsung menyaut setengah berteriak mendengar namanya dipanggil.


Mampus...Erika tersadar bahwa dia sama sekali tidak menyimak apa yang sudah dibicarakan Armand, dia sibuk dengan pikirannya sendiri mencoba menebak nebak apa yang tengah terjadi dalam kehidupan pernikahan sahabatnya, Lisa.


"Maaf bisa anda ulangi lagi Pak?" Sambil menyunggingkan senyum polos, berharap atasannya itu tidak marah.


Raut wajah kesal langsung terukir diwajah tampan Armand, dia melirik Dean kemudian berkata, "Kau jelaskan lagi semuanya padanya" Sambil menujuk Erika dengan matanya.


"Saya Pak?" Ucap Dean tidak percaya, bisa bisanya dia mendapat tugas tambahan lagi, padahal dia sendiri sudah kelelahan.


"Iya kau siapa lagi?" Armand berdiri dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya "Setelah selesai, kau boleh libur hari ini" Ucap Armand tanpa menoleh ke arah Dean.


Mendengar kata libur membuat wajah Dean yang tadi tertekuk kembali sumringah, dengan sigap dia langsung merubah posisi duduknya menghadap Erika hendak mengulang apa yang tadi disampaikan oleh Armand, "Nona Erika, biar saya jelaskan lagi, tug.."


"STOP!" Potong Armand, "Teruskan diluar, terserah mau dimana yang penting kalian pergi dari ruanganku , aku tidak bisa fokus bekerja kalau kalian ngerumpi disana" Ucap Armand sambil menyalakan laptop diatas mejanya.


What?? Ngerumpi?? Batin Dean dan Erika kompak, bisa bisanya mereka dibilang sedang ngerumpi, jelas jelas dia yang menyuruh Dean menjelaskan ulang tugas Erika.


Beginilah nasib bawahan, mereka hanya bisa menurut, dan mereka pun segera berdiri kemudian pergi dari ruangan itu.


Di dalam lift hanya ada Erika dan Dean, mereka berdiri bersebelahan dalam diam, tanpa mengucapkan sepetah kata, sampai tiba tiba ponsel Dean berbunyi memecah keheningan.


Dean melihat nama 'BOS' tertera dilayar ponselnya, dan tanpa berlama lama lagi Dean langsung mengangkatnya "Ada apa Pak?"


"Kau jelaskan semua tugasnya dirumahku saja, sekalian minta Jeremi untuk menunjukkan ruangannya agar dia bisa langsung beristirahat sebelum Lisa sampai disana" Ucap Armand dari balik telepon.


Dia masih punya hati juga rupanya, tadi menyuruhku libur sekarang menyuruh Erika istirahat. Batin Dean


Meskipun Armand terkesan selalu memaksakan kehendaknya pada bawahannya, terutama Dean, tapi dia tidak pernah lupa untuk selalu memberi timbal balik yang sesuai dengan apa yang mereka berikan, baik itu berupa bayaran ataupun liburan.


"Baik Pak, laksanakan" Jawab Dean bersemangat.


Mari selesaikan dengan cepat, hari ini aku hanya akan bermalas malasan dan tidur sepuasnya dirumah, *mari l*upakan sejenak dunia yang kejam ini. Batin Dean sambil mengepalkan tangannya didada, tanda bahwa dia bersungguh sungguh dengan niatnya.


"Hari ini kau boleh libur tapi ingat, jangan menghilang!, ponselmu harus selalu aktif dan jangan pernah mengabaikan panggilanku kalau kau masih mau bekerja disini" . Armand langsung menutup panggilannya tanpa menunggu lagi jawaban dari lawan bicaranya.


Baru juga Dean berniat untuk bebas dengan mengucilkan diri dirumahnya, tapi sepertinya atasannya itu sudah bisa menebak jalan pikirannya, tidak akan ada istilah memanjakan diri dan melupakan masalah duniawi kalau begitu, dia masih harus tetap standby jika ada panggilan dari bosnya.


"Dari Pak Armand ya? Apa katanya?" Tanya Erika.


"Lagipula kenapa tadi kau tidak fokus? Kalau kau mendengarkan dengan baik aku jadi tidak perlu repot repot mengulang semuanya kan". Lanjut Dean dengan nada sedikit kesal.


"Maaf, otak saya tidak bisa disinkronkan tadi, jadi saya tidak bisa fokus, hehe" Jawab Erika sambil nyengir kuda.


"Apa maksudmu tidak bisa sinkron?" Tanya Dean yang tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Erika.


"Maksud saya, saya sedang memikirkan hal lain, jadi saya tidak mendengar apa yang diucapkan Pak Armand" Erika mencoba menjelaskan sesimpel mungkin agar Dean mengerti.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Bisa bisanya kau melamun saat sedang berhadapan dengan Pak Armand, ckckck" Dean berdecak tidak percaya dengan kelakuan Erika, untung bos nya itu masih tergolong baik hati.


"Maaf, tapi bolehkah saya bertanya?" Bagaimanapun juga Erika masih penasaran, setidaknya dia ingin tahu meskipun hanya sedikit mengenai situasi yang akan dihadapinya.


Ting..Pintu lift terbuka di area basement.


"Tanya saja" Jawab Dean sambil melangkahkan kakinya keluar dari lift disusul Erika.


"Bagaimana aku bertanya ya?" Erika memikirkan kata yang tepat untuk bertanya, "Kenapa nona Lisa butuh asisten pribadi? Emm atau mungkin, kenapa Pak Armand ingin seseorang mengawasi istrinya?"


"Kau tidak perlu tahu detail nya, yang perlu kau lakukan hanyalah melaporkan gerak gerik nona Lisa yang menurutmu mencurigakan, dan melindunginya jika ada seseorang yang mencoba mencelakainya". Jawaban Dean benar benar tidak membantu Erika.


"Tapi setidaknya saya harus mengerti sikap mencurigakn macam apa yang perlu saya laporkan, dan siapa memangnya yang mencoba mencelakai nona?" Tanya Erika yang sudah mulai frustasi.


"Kau cukup dekat dengan nona Lisa bukan?, seharusnya kau sudah mengenalnya dengan baik apa saja yang biasa dia lakukan dan apa yang tidak, kau cukup melaporkan apa yang tidak biasanya dia lakukan" Dean menjeda perkataanya dan membukakan pintu mobil untuk Erika.


"Dan untuk orang yang ingin mencelakai nona aku masih belum yakin seratus persen siapa orangnya, tapi yang jelas ada seseorang yang sepertinya sedang mengincar nona, jadi kalau bisa kau jangan membiarkan nona keluar rumah jika tidak ada hal yang mendesak". Lanjut Dean yang sudah duduk dibelakang kemudi dengan Erika disampingnya.


Erika tertegun, dia mencoba mencerna apa yang disampaikan Dean, dia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya, mengawasi gerak gerik, menjaga keselamatan, semuanya terdengar seolah olah Erika sedang disuruh menjadi seorang agen sekaligus bodyguard, dan yang jadi pertanyaannya adalah, kenapa harus dia yang diberi tugas sepenting ini.


"Kenapa saya?"


"Apa?" Dean sudah menyalakan mesin mobilnya, dan sudah mulai melajukannya sehingga suara Erika tidak begitu terdengar.


"Kenapa anda memberikan tugas ini pada saya?, sebelumnya anda hanya bilang bahwa nona Lisa butuh seorang asisten untuk menemaninya, jika ini menyangkut keselamatannya juga seharusnya anda mempekerjakan orang yang lebih profesional" Tanya Erika yang merasa sudah dibohongi oleh Dean.


"Aku tidak bohong, nona Lisa memang butuh seseorang untuk menemaninya, dan untuk tugas detailnya tentulah harus Pak Armand yang menjelaskan, karena ini menyangkut kehidupan pribadi beliau, dan Pak Armand juga tidak mau asisten nona Lisa merupakan seorang pria, jadi kami memutuskan orang yang menjadi asisten nona haruslah orang yang dekat dengannya, bisa menjaganya, juga yang penting harus perempuan, maka dari itu terpilihlah anda nona Erika".


Dean menjelaskan panjang lebar, berharap Erika bisa mengerti maksud dirinya dipekerjakan tanpa harus mencari tahu lebih detail mengenai pokok masalahnya, akan sangat merepotkan kalau dia harus menceritakan dari awal mula pertemuan dua sejoli itu, dan yang lebih penting Dean mencoba menjaga perasaan Erika, yang tentunya akan ikut bersedih jika mengetahui latar belakang kenapa sahabatnya bisa menikahi atasannya.