
***
Lisa tersadar akan bahaya didepannya, dia mulai menggerakkan kakinya dan berlari menuju gerbang rumahnya, kini fokusnya hanya berlari dan berlari tanpa menoleh kebelakang ataupun memperhatikan sekelilingnya. Lisa berhasil melewati gerbang rumahnya, membuat dia sedikit lega, semoga saja dia bertemu dengan seseorang dijalan dan bisa meminta bantuan.
Siapa saja tolong aku!!!! Tuhan tolong selamatkan aku!!! Aku mohon...
Tiba tiba saja sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat didepannya, membuat langkah Lisa terhenti dan jantungnya kemballi berdegup kencang.
Apa mereka komplotan penjahat tadi? Apa aku akan mati hari ini?
Seseorang keluar dari dalam mobil dan menarik Lisa agar ikut masuk kedalam. Setengah syok dan pasrah Lisa memasuki mobil itu, mungkin ini memang sudah takdir Tuhan untuknya, mati secara mengenaskan, setidaknya ayah dan ibunya sudah lebih dulu pergi jadi dia tidak akan merasa kesepian di alam sana, begitu pikirnya.
"Anda tidak apa apa?" Tanya orang yang tadi menariknya kedalam mobil, dan ternyata dia hanya berdua dengan si supir sebelum Lisa ikut masuk.
"Eh iya?" Dia tadi menanyakan keadaanku kan? aku tidak salah dengar kan? tapi kenapa...?
"Apa anda terluka nona muda?" Ulang pria tadi.
"Nona muda? Saya?" Lisa masih belum yakin dengan apa yang dia dengar, beberapa kali dia melirik kearah supir, tapi hanya dirinya lah yang pantas dengan sebutan itu, tidak mungkin kan pria yang menjadi supir dihadapannya itu dipanggil nona.
"Maaf saya lupa memperkenallkan diri, nama saya Hendrik dan dia James" Sambil menunjuk kearah kemudi, "Kami adalah anak buah Tuan Robin, kakek anda"
"Ka-kakek? Aku punya kakek?" Lisa tahu bahwa ibunya berasal dari negara lain, dan semua keluarga ibunya berada disana, sedangkan ayahnya tidak pernah menceritakan tentang keluarganya, pernah sekali waktu kecil Lisa bertanya apakah dia punya kakek atau nenek dari ayahnya, tapi ayahnya hanya tersenyum dan berkata 'Keluarga kita sekarang saja sudah cukup lengkap sayang, kau tidak kekurangan kasih sayang dari Daddy dan Mommy bukan?"
Sejak saat itu Lisa sadar bahwa sepertinya ayahnya tidak mau menyebut tentang keluarganya, jadi dia tidak pernah menanyakannya lagi, tapi sekarang tiba tiba datang seseorang yang mengaku suruhan kakeknya.
"Kakek anda adalah Robin Van Derick, beliau orang yang cukup terkenal dikota ini, atau bahkan bisa dibilang hampir terkenal dipelosok negeri ini juga." Hendrik mencoba menjelaskan siapa Robin, tapi dia menghapus fakta penting yang menjelaskan kenapa kakeknya itu bisa terkenal.
"Beliau orang terkenal? Tapi kenapa aku baru mendengar namanya? Dia bukan seorang politisi atau Aktor bukan? kalau iya, aku pasti tahu hanya dengan mendengar namanya saja." Mau diingat bagaimanpun, Lisa memang baru kali ini mendengar nama Robin, tapi dia merupakan orang terkenal, bagaimana bisa?.
"Nanti anda juga akan tahu sendiri, hmmm, syukurlah sepertinya tidak ada yang terluka" Ucap Hendrik sambil mengscan tubuh Lisa dari atas kebawah untuk memastikan tidak ada satupun goresan.
"Iya saya baik baik saja, tapi ayah dan ibu saya..." Lisa kembali menitikan air matanya saat mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu dirumahnya,ibunya yang sudah tergeletak kaku, dan ayahnya yang ditikam tepat didadanya oleh kedua penjahat itu.
"Maaf kami terlambat, seharusnya saya bisa langsung menyadari siapa yang akan menjadi target mereka, tapi karena keadaan Bos dan ayah anda kurang baik, saya jadi salah memperhitungkan"
Ucapan Hendrik itu membuat air mata Lisa berhenti dan digantikan dengan rasa tidak percaya, dengan raut wajah yang mengeras Lisa menoleh ke arah Hendrik.
"Kau sudah tahu kalau hal mengerikan ini akan menimpa keluargaku? Bagaimana bisa? Apa salah kami?" Tanya Lisa tidak percaya.
"Anda dan keluarga anda tidak salah apa apa nona, pelaku merupakan saingan bisnis kakek anda, mereka menargetkan keluarga anda agar Bos mau menyerahkan bisnisnya pada mereka."
"Tidak semudah itu mereka bisa menyentuh Bos besar nona, jadi sebagai gantinya mereka mencari dan menggunakan kelemahan Bos besar"
"Dan keluargaku menjadi kelemahannya? selama hidupku aku belum pernah bertemu dengan orang yang kau sebut kakek ku itu, dan sepertinya ayahku pun sudah tidak pernah bertemu lagi dengannya."
Sungguh lucu sekali takdir ini,pikir Lisa. Dia dan kakek nya itu hanya terikat hubungan darah, selebihnya mereka hanyalah orang asing yang belum pernah bertemu satu sama lain, tapi keluarganya harus menjadi korban dari musuh orang asing itu.
"Nona, Bos besar selalu memperhatikan keluarga anda tanpa anda ketahui, beliau sangat menyayangi ayah anda, dan itu sudah menjadi rahasia umum dikalangan saingan bisnisnya, dan dunia ini tidak sebaik yang anda pikir, diluar sana banyak orang yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya, anda akan mengetahuinya setelah anda bertemu dengan Bos besar, dan melihat sendiri bagaimana kejamnya cara kerja dunia ini"
Hendrik menjeda ucapannya dan mengalihkan pendangannya keluar jendela mobil, "Jika bukan karena Bos besar yang pertama menyadari hal semacam ini akan terjadi, mungkin saya sekarang tidak akan ada disini untuk menyelamatkan anda"
Kepala Lisa berdenyut sakit, semua kejadian diluar nalarnya yang terjadi saat ini membuat pikiran dan badannya lelah, tiba tiba saja pandangannya menjadi kabur dan sedetik kemudian dia kehilangan kesadarannya.
***
Entah berapa lama dia tertidur, kini Lisa sudah berada disebuah kamar yang begitu luas dilengkapi furniture mewah disekelilingnya.
"Ini...Dimana?" Lisa mengedarkan pandangannya dengan badan yang masih belum bergeser dari tempat tidur, hanya matanya saja yang bergerak kesetiap penjuru ruangan, dan berhenti saat pandangan matanya bertemu dengan sosok pria paruh baya yang sedang balik menatapnya dengan tatapan lembut.
"Kau sudah bangun, cucu ku sayang?" Ucap pria baruh baya itu, dari nada suaranya jelas terpancar rasa kekhawatiran.
"Anda.... Siapa?"
"Aku ayah dari ayahmu, dengan kata lain aku ini kakekmu"
Mata Lisa membulat sempurna, ditatapnya lekat pria yang mengaku sebagai kakeknya itu. Darah memang tidak bisa bohong, dilihat dari sudut manapun, orang didepannya ini memang sangat mirip dengan ayahnya, bahkan bisa dibilang dia versi tua dari ayahnya.
"Sepertinya kau memang benar kakek ku."
Tiba tiba saja Pria itu menangis sambil menggenggam tangan Lisa,"Maafkan aku nak, aku tidak bisa melindungi William dan ibumu, sebagai gantinya ijinkan pria tua ini yang merawatmu mulai dari sekarang, aku berjanji akan membalaskan kematian orang tuamu"
"Ka-kek..." Ucap Lisa kaku, karena masih belum terbiasa menyebutkan kata itu.
"Iya nak, panggil aku kakek dari sekarang"
"Biar aku yang membalaskan kematian kedua orang tuaku.!"
Robin tersenyum mendengar apa yang diucapkan Lisa, "Tentu nak, luapkankanlah amarahmu pada mereka, alirkan kesedihanmu pada orang orang yang sudah merenggut kebahagianmu, nyawa memang harus dibalas dengan nyawa"
Perkataan Robin itulah yang menjadi pedoman hidup Lisa, dimulai pada hari itu.