Mona*Lisa

Mona*Lisa
KOMPUTER



Suasana pagi yang cerah menjadi pengantar awal baru kehidupan Armand dan Lisa, dan seperti hari hari sebelumnya Lisa melakukan jogging dihalaman belakang rumah, tapi kali ini dia ditemani sang suami.


"Satu putaran lagi" Armand memberi kode dengan mengacungkan jari telunjuknya sambil berlari.


"Oke" Lisa ikut berlari dibelakang Armand dengan keringat yang sudah mulai membanjiri badannya.


Setelah satu putaran terakhir, mereka beristirahat dikursi taman yang terletak disudut halaman dibawah pohon rindang.


"Mau minum?!" Armand menyodorkan botol minuman kearah Lisa.


"Makasih honey" Sambil mengambil botol minuman dari tangan Armand.


"Apa apa? ulang lagi kamu manggil aku apa?" Armand pura pura tidak mendengar panggilan sayang Lisa.


"Madu, honey itu artinya madu kan, ah aku jadi pengen minum perasan lemon ditambah madu, pakai es seger kayanya" Lisa sengaja tidak menggubris pertanyaan Armand, haruskah dia menjelaskan panggilan sayangnya? tentu tidak, karena itu rasanya memalukan bagi Lisa.


"Ets mau kemana" Sambil menarik tangan Lisa yang hendak berdiri dari duduknya, "Aku juga jadi kepengen madu"


Armand menarik tubuh Lisa kedalam pelukannya, dan dilumatnya bibir merah sang istri yang memang semanis madu.


"Udah Ar, malu ini diluar, kalau ada yang lewat gimana, lagian badan aku lengket keringatan gini" Ucap Lisa disaat Armand mulai melepaskan pautan bibir mereka.


"Emang kenapa kalau ada yang lihat? siapa tuan rumah disini?" Armand masih memeluk tubuh Lisa, "Kalau kamu ga mau ada yang lihat, ayo kita lanjutkan sambil mandi, badanku juga lengket" Sambil berbisik ditelinga Lisa dan menyusuri leher jenjang Lisa dengan bibirnya.


"Ahaha, geli tau" Semburat merah dipipi Lisa mulai tampak, "Udah ah ayo kita masuk kerumah" Sambil melepas pelukan Armand dan kemudian mereka berjalan bergandengan menuju pintu masuk.


Setelah menikah, Lisa tidur dikamar Armand, semua pakaiannya sudah dipindahkan ke walkin closset yang juga terdapat didalam kamar, dan ukurannya dua kali lebih lebar dari yang ada dikamar Lisa sebelumnya.


Lisa masuk kedalam kamar mandi dan menyalakan shower, mengalirkan air hangat dari rambut sampai ke ujung kaki nya, sebuah tangan tampak mengusapkan spon sabun dipunggung Lisa, dan tangan satunya tampak bergriliya kebagian tubuh Lisa yang lain, tangan siapa lagi kalau bukan milik suaminya, dia menikmati setiap inci dari tubuh mulus istrinya.


"Udah gantian ah, geli tau digerayangin" Protes Lisa sambil hendak meraih spon dari tangan Armand.


Armand memindahkan spon ketangan yang satunya agar tidak direbut Lisa, "Masa geli sih, bukannya kamu malah keenakan?"


"Iy makanya nanti aku malah kepingin, udahan acara mandiinnya ya, kamu kan bentar lagi mesti berangkat kerja" Lisa memasang wajah imutnya agar Armand mau mengabulkan permintannya, tapi apa daya, wajah imut itu justru malah membangkitkan hasrat yang memang sudah daritadi ingin Armand lepaskan.


Tanpa ba bi bu lagi Armand memboyong tubuh Lisa dan menurunkannya di bath tub.


"Kita selesaikan dulu, atau aku ga akan bisa fokus kerja"


Belum sempat protes, bibir Lisa sudah mulai dilumat lagi oleh Armand, dan acara mandi barengnya sekarang berubah menjadi mandi keringat.


.


.


.


.


.


"Ar aku boleh ya ikut kerja, diem dirumah aja bosen tau" Ucap Lisa sambil memasangkan dasi dileher Armand, setelah menikah perintah Armand semakin bertambah, bahkan memakai dasi pun harus Lisa yang memasangkan.


"Di perusahaan lagi ga buka lowongan kerja, kamu ikut mama aja, hari ini jadwalnya arisan mama"


"Aku udah biasa kerja Ar, lagian aku ga mau gaul sama ibu ibu" Sambil membantu Armand memakai jasnya.


"Apa aja, terserah kamu mau nempatin aku di bagian apa, aku pandai beradaptasi ko" Ucap Lisa penuh keyakinan dan kebanggaan.


"Apa aja? yakin? termasuk dibagian security system?"


Security sistem merupakan bagian khusus yang menangani software perusahaan, mereka bertugas menjaga kerahasiaan data perusahaan, dan mencegah dari pneghackeran atau kejahatan cyber yang lain.


"Aku lumayan jago komputer, tapi... bukanya disana tersimpan semua data penting perusahaan ya? apa ga masalah kalo aku ditempatin disana?" Lisa merasa jika Armand memang berencana menempatkannya disana itu berarti Armand ingin mengetes dirinya, bahwa sejauh mana dia dapat mempercainya.


Sepertinya kau memang tahu apa saja yang tersimpan disana. Batin Armand


"Emm, kayanya engga, aku lebih suka kamu diem dirumah aja, cukup layani saja suamimu ini" Armand masih ingin bermain aman, jika Lisa terus memaksa ingin bekerja diperusahaannya, itu berarti memang ada yang dia tuju.


"Ck, yasudah terserah, tapi boleh aku minta sesuatu, buat ngehibur aku dirumah biar g bosen" Ucap Lisa sambil nyengir.


"Anything, kamu mau apa?" Armand mengecup kening istrinya yang jadi terlihat begitu imut itu.


"Aku suka ngegambar"


"Kamu mau alat lukis" Terka Armand.


Lisa hanya menggelengkan kepala "Aku ga bisa gambar di kanvas"


"Terus? kamu mau gambar di dinding gitu?" Terka Armand lagi dan masih salah sasaran


"Hhahaha",Kali ini Lisa tertawa, "Ga honey, aku ga bisa lukis di media, aku bisanya bikin gambar d komputer, design graphis"


"Oohh, ok nanti aku suruh Dean beliin laptop yang paling canggih buat kamu" Akhirnya Armand mengerti apa yang diinginkan istrinya tanpa rasa curiga.


Semoga kau tidak curiga bahwa banyak hal yang bisa dilakukan komputer, bukan hanya untuk menggambar tentu saja.


"Makasih honey" Lisa memasang senyum seribu watt, dia berusaha terlihat sesenang mungkin, meskipun pada dasarnya dia memang sudah senang, tapi tetap harus terlihat semeyakinkan mungkin agar Armand tidak curiga.


"Permintaanmu itu sangat sederhana untuk pria macam suamimu ini, hanya itu saja? kau tidak mau kubelikan perhiasan berlian juga?" Sepertinya Armand memang masih belum terpikirkan bahwa hal sederhana yang dia maksud itu justru dapat menjadi akses utama bagi Lisa.


"Tidak, mas kawin darimu saja tidak kupakai semua, buat apa beli lagi" Lisa memang bukan tipe perempuam glamor, tapi justru dari tampilannya yang sederhana itulah kesan elegannya tercipta.


"Ok, kau bisa beli sendiri kalau mau, karena nanti akan ada yang menemanimu kemanapun kau mau pergi"


Hah, dia sudah mau mulai memasang cctv rupanya.


"Menemani seperti seorang asisten begitu?" Lisa mencoba meyakinkan kembali apa yang ada dipikirannya.


"Ya, anggap saja dia sebagai asistenmu, aku sudah menyuruh Dean untuk mencari orang yang tepat, jadi jangan dulu keluar sendiri sampai asistenmu ada"


Pikirannya tentang Bram masih belum bisa dia abaikan, dia masih was was jika Bram sampai berani menyentuh istrinya untuk balas dendam padanya.


"Iya suamiku, aku hanya akan tinggal dirumah sampai berakar, silahkan berangkat bekerja suamiku" Lisa berperan sebagai istri soleha yang mengantarkan kepergian suaminya untuk bekerja, meskipun dia sengaja membuatnya sedikit lebay.


"Oh ya, minggu depan kita pindah rumah, kita sudah menikah jadi masa kita harus menumpang terus dirumah orangtua"


Ucapan terakhir Armand sebelum keberangkatannya membuat Lisa tersenyum kegirangan, dia bisa bebas bergerak jika hanya tinggal berdua dengan Armand tanpa ada yang mengganggu.


Dan tanpa diketahui sepasang suami istri itu, si pengganggu menurut Lisa sedang berada didepan pintu kamar mereka, dan dia tanpak syok mendengar ucapan Armand tentang pindah rumah.


"Mama!!!"