
***
Sementara didalam sebuah apartemen elit, nampak seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan sedang memporak porandakan kamarnya, mood nya benar benar down hari ini, membuat emosinya naik sepuluh kali lipat.
"AARRRGGHHH!! SIALAN!! BRENGSEK!!" Teriakan Bram menggema diseluruh penjuru ruangan.
Hari ini cobaan bertubi bertubi menimpanya, putusnya hubungan kerja dan pertemanan dengan Armand, hilangnya jejak Mona, Dan ditambah lagi dia yang diseret paksa oleh polisi.
Gara gara ibu ibu yang melihat dia berlumuran jus tomat yang disangka darah sambil memukul mukul dan menendang tiang listrik, Bram disangka orang gila yang mau bunuh diri. Ibu itu berteriak ketakutan, dan orang lain yang juga menyaksikan berinisiatif memanggil polisi yang kebetulan sedang standby di pos jaga.
Diseretlah Bram memasuki mobil polisi untuk dibawa ke RSJ, dia bahkan tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan siapa dirinya sebenarnya, sampai akhirnya dia menelpon Simon untuk membantunya, setelah Simon datang dan menjelaskan siapa itu Bramasata Wiryawan barulah pak polisi percaya dan mengizinkan Bram untuk pulang.
Sungguh pengalaman paling buruk dan memalukan yang pernah dialami oleh Bram seumur hidupnya, sepertinya Bram akan menandai tanggal ini dikalendernya, melingkarinya dengan bolpen merah dan menuliskan 'Bad Day Ever' dibawah angkanya, dia bahkan berencana untuk memperingati hari bersejarah ini dengan memberi sumbangan kepanti sosial setiap tahunnya sebagai peringatan 'Hari Buang Sial'.
"Armand, berani sekali kau menolakku seperti ini, lihat saja balasan dariku" Bram yang ditolak Armand merasa selama ini dirinya sudah dipermainkan oleh sahabatnya itu, bisa bisanya dengan mudahnya dia memutuskan pertemanan mereka.
Meskipun sebenarnya Bram tahu bahwa sifat mereka memanglah bertolak belakang, meskipun terlihat cuek, sebenarnya Armand sangat memperhatikan sekitarnya, dia selalu dapat membaca situasi dan selalu dapat menghindari masalah. Berbeda dengan Bram yang benar benar tidak peduli terhadap sekitar.
Dia hanya peduli bagaimana menjadi yang teratas dari rantai pertemanan, Bram lah yang mendekati Armand terlebih dulu, karena dia tahu Armand juga berada diurutan atas, jika mereka bersama, tidak akan ada yang berani menantang mereka, tapi sekarang hubungan mereka kandas, apalah jadinya bram tanpa Armand, seperti singa tanpa taring, hanya bisa mengaum saja.
"Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan investasi dari Athena Corp, aku sudah terlanjur berkoar koar pada para orangtua itu kalau Athena ada dibelakangku, bisa bisa mereka menarik investasi mereka kalau tahu Armand tidak mau menandatangani kontrak"
Bram bermonolog sambil mencoba mencari solusi untuk masalah beratnya itu, penampakan Mona yang sempat dilihatnya tadi siang pun terlupakan sudah, masalah perusahaan jauh lebih penting sepertinya.
"Aku harus mencari tahu kelemahannya, mungkin dia terlihat sempurna tapi dia juga hanya manusia, pasti dia punya kelemahan kan? akan kujadikan kelemahannya untuk mengancam dia" Akhirnya sebuah ide jahat terbit dari otak kriminal Bram.
Bram pun meraih ponselnya, yang untungnya dia lemparkan di atas kasur sehingga masih utuh tidak kurang satu apapun, dia mengklik satu nama, kemudian sebuah panggilan suara pun tersambung.
"Halo Bos" Jawab seorang pria dari balik telepon.
"Ke apartemenku sekarang, ada tugas penting untukmu" Bram hendak menutup telepon namun dia teringat satu hal "Dan sekalian bawa dua orang cleaning service dari kantor, apartemenku perlu dibersihkan"
"Baik Bos, saya segera meluncur kesana, cleaning service nya mau yang mana Bos? Maya, Jenab, Leha, atau Siti?" Anak buah Bram yang biasa dipanggil Jay itu menyebutkan nama nama pegawai cleaning service tercantik yang ada diperusahaan mereka.
"Asep sama Udin aja" Jawab Bram sambil menutup teleponnya.
"Memangnya buat bersihin rumah harus yang cantik apa, dasar Jaelani"
.
.
.
Tak lama kemudian Jay datang bersama Asep dan Udin ke apartemen Bram, mereka nampak syok saat melihat kamar Bram yang amburadul.
Sepertinya ni kamar habis kena serangan angin ****** beliung. Batin Asep
Bram mengajak Jay keruang tamu meninggalkan Asep dan Udin yang masih terpaku, mereka mulai membahas rencana untuk menemukan titik kelemahan Armand.
"Jadi intinya Bos mau saya membuntuti Pak Armand dan mencari kelamahannya, begitu kan?" Ucap Jay mengulang apa yang sudah dibicarakan Bram padanya.
"Iya, tapi jangan sampai ketahuan, kau tanggung sendiri kalau sampai ketahuan"
"Siap Pak Bos, dedikasi saya pada anda sudah tidak perlu diragukan lagi, jika sampai ketahuan, saya akan harakiri ditempat"
(harakiri \= bunuh diri ala samurai Jepang)
"Jangan lebay, kalau sudah mulai merasa ketahuan kau langsung kabur, jangan nunggu dulu sampai ketahuan dodol"
"Ah iya benar juga, saya akan melaksanakan tugas ini dengan sebaik baiknya"
Jay menundukan sedikit kepalanya, dia hendak bangun dari duduknya dan pamit, tapi Bram menahannya.
"Bentar dulu, belum selesai, masih ada satu tugas lagi" Ucap Bram.
"Masih ada lagi Bos?" Tanya Jay bingung, banyak sekali tugas untuknya.
"Kau sudah dapat sketsa wajah Mona dari Simon?" Tanya Bram pada Jay, setelah kadar emosinya berkurang, ingatan mengenai penampakan Lisa mulai hinggap lagi di otak kecil Bram.
"Oh sketsa nona cantik, saya sudah dapat Bos, sudah saya tempelkan dikamar saya" Jawab Jay sambil mesam mesem.
"Dasar oon, ngapain kau pajang dikamar?" Bram sepertinya lupa kalau dia juga berencana memajang sketsa wajah Mona dikamar, kalau saja tidak ada insiden di cafe.
"Pakai tuh sketsa buat nyari si Mona, kau cari sekalian si Mona itu sambil membuntuti Armand, tadi siang aku melihat penampakan wanita yang mirip Mona di cafe, sepertinya dia ada dikota ini, siapa tahu dia tiba tiba muncul lagi" Lanjut Armand.
"Kalau dia tiba tiba muncul, saya apakan dulu Bos?" Tanya Jay polos.
Jay itu merupakan orang kepercayaan Bram, karena dedikasi dan loyalitasnya tentu saja, bukan karena otaknya yang cemerlang.
"Kau bawa ke hotel" Jawab Bram kesal "Ya kau bawa dia kepadaku lah, kalau memang kau ketemu Mona, lakukan segala cara agar kau bisa membawanya, tapi jangan sampai membunuhnya" Perintah Bram.
"Siap laksanakan Bos! sekarang saya sudah boleh pergi?" Tanya Jay ragu, barangkali Bosnya itu masih punya tugas khusus untuknya.
"Yasudah kau pergilah, mulai jalankan rencana dari sekarang, laporkan semua tindak tanduk Armand kepadaku setiap beberapa jam sekali!"
Jay berdiri dari duduknya, dia menundukan kembali kepalanya dan bersiap untuk pergi.
"Saya pamit undur diri Bos, saya akan menelpon anda setiap tiga jam sekali"
"Jangan lewat telepon pe'a, kirim via wasap, sama foto foto nya juga sekalian" Ucap Bram geram, Kalau saja Jay bukan temannya dari kecil, dia sudah ingin memecatnya dari dulu, tapi memang hanya dia yang paling Bram percaya diantara semua anak buahnya.