
Sejak berkunjung ke rumah Marcel, akhirnya Kiki tahu lebih banyak tentang Marcel. Terutama tentang keadaan keluarga Marcel. Kiki tahu tentang mami Marcel yang bekerja sebagai buruh cuci. Bagaimana pun mami Marcel tak mau kalau posisi atau tugas sebagai tulang punggung keluarga dilimpahkan kepada Marcel saja. Marcel bekerja part time. Sepulang sekolah Marcel bekerja di sebuah bengkel yang tak jauh dari rumahnya, meski pada awalnya maminya melarangnya bekerja. Hingga akhirnya Marcel berhasil membujuk maminya agar mengizinkan Marcel bekerja. Marcel tak mau kalau harus bergantung pada maminya terus. Ada adiknya yang lebih membutuhkan uang maminya dibandingkan Marcel. Kiki juga sudah mengetahui papi Marcel yang pergi meninggalkan keluarga karena seorang pelakor. Sungguh sangat menyedihkan! Tapi yang selalu teman-temannya lihat, selalu Marcel yang tanpa masalah. Itu karena Marcel tak suka dikasihani orang lain. Dia sendiri pun enggan mengasihani dirinya sendiri.
Maka dari itu, Kiki semakin perhatian pada Marcel.
"Cel, sudah bel istirahat. Lo nggak mau makan?" tanya Kiki menghampiri Marcel di kelasnya. Marcel menggeleng.
"Kenapa? Setidaknya, lo temani gue makan. Gue sudah lapar banget," bujuk Kiki agar Marcel mau ikut menemaninya.
Akhirnya Marcel menemani Kiki ke kantin untuk makan. Sejujurnya Marcel pun merasa perutnya sudah lapar. Namun dia tak punya uang sepeser pun. Tapi Kiki sangat mengerti hal itu.
"Bu Susi, pesan soto dua, ya, sama es teh dua," pesan Kiki.
Kiki kembali ke meja kantin yang sudah ada Marcel yang menunggunya. Tak lama kemudian bu Susi mengantar pesanan Kiki, membuat Marcel melebarkan kedua matanya terkejut.
"Lo memesan dua porsi? Perut lo kuat juga, ya!" takjub Marcel.
"Nggak lah, mana mungkin gue kuat makan sebanyak itu tapi perut masih langsing begini. Porsi yang satunya untuk lo," jelas Kiki.
"Buat gue? Lo traktir gue?"
"Iya lah, mana mungkin lo cuma ngelihatin gue makan tanpa melakukan apa-apa. Lagi pula gue nggak suka kalau ada yang ngelihatin gue makan. Lo sudah tahu itu, kan?"
Sebenarnya itu hanya lah alasan Kiki. Kiki yakin, Marcel tidak punya uang, makanya dia menolak makan siang tadi. Kiki prihatin dan ingin membantunya tanpa melukai ego Marcel sedikit pun. Kalau Marcel tahu yang sebenarnya, dia tak akan mau menerima pemberian Kiki. Saat ini Marcel tak menyadari hal itu. Dia kira jawaban Kiki sebelumnya memang benar adanya.
"Ayo makan! Kalau dingin nggak enak!"
***
Bel pulang berdering nyaring. Kiki melangkah menuju parkiran. Tapi sebelum sampai di parkiran, kaki Kiki terhenti. Dia menatap sebuah kelas. Kelas kakak kelasnya, kelas XII IPA 3. Ada seseorang yang dia tunggu keluar dari kelasnya. Dan mata Kiki berbinar saat melihat dia keluar. Kiki menyukai cowok itu sejak Kiki tahu kalau dia anak yang pintar. Dan Kiki sangat suka cowok yang pintar. Sejak saat itu setiap hari Kiki memperhatikan gerak-gerik cowok itu tanpa berani berbuat apa-apa selain hanya menyapa dan Kiki hanya bisa menjadi pengagum rahasianya. Cowok itu sering disebut teman-temannya KAMAL. Kamal cowok yang tampan, sopan dan santun, pintar dan bisa diandalkan orang tua dan guru.
Sungguh beruntung orang tuanya. Banyak siswi di sekolah itu yang menyukai Kamal. Tapi Kamal bukan tipe cowok yang suka pacaran. Dia hanya menganggap penggemarnya sebagai teman biasa. Sudah lama Kiki memperhatikan dia tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali dia dan tuhannya.
Setelah puas menatap sang idola, Kiki pun beranjak pulang.
Saat Kiki melewati kamar Alex, Alex keluar dari kamarnya. Dia melihat Kiki yang baru sampai rumah.
"Dari mana, Cantik? Kok, baru pulang?"
"Ih, apaan, sih, lo, maling? Nggak usah godain gue, deh. Nggak level!" jutek Kiki.
"Dengar-dengar lo sudah punya pacar, ya?" tebak Alex asal.
"Jangan sok tahu, deh, lo!"
"Owh, berarti lo masih jomblo, ya? Ya udah, lo tenang aja. Kan, masih ada gue, sama gue aja, gimana?"
"Ih, apaan, sih, tambah ngacok, deh!" Kiki masuk ke kamar dengan raut marahnya.
Melihat raut wajah Kiki yang sama sekali tidak enak dipandang membuat Masha ingin bertanya.
"Kenapa, Kak?"
"Kakak lo, tuh, ngeselin banget!"
"Ya sudah, Kak, nggak usah didengerin," sahut Masha menenangkan Kiki.
"Habisnya dia tambah ngacok, sih, bikin gue tambah sebel sama dia."
"Kak Kiki kayak baru kenal aja sama Kak Alex."
"Iya juga, sih. Eh, by the way, lo masih betah di kamar ini? Nggak takut sama hantu?"
"Ya takut lah, Kak, tapi mau gimana lagi. Kan, nggak ada pilihan lain lagi selain di kamar ini."
"Ya sudah, terserah lo, deh."
"Mau ke mana, lo?" tanya Kiki.
"Masha lapar, mau ke dapur, mau minta makan sama Mama."
Masha melanjutkan langkahnya keluar kamar menuju dapur. Tinggal Kiki dan Asa berdua di dalam kamar.
"Kayaknya rencana kita gagal, deh, Ki," ucap Asa.
"Kayaknya, sih, gitu. Eh, waktu itu lo, ya, yang nakut-nakutin Masha?"
"Hehe, iya, pas dia nelpon lo itu."
"Dia pingsan, nggak?"
"Iya, pingsan setelah teriak kenceng banget. Sampai mau budeg telinga gue."
"Alah, lebay, lo!"
"Hehehe, nyaring banget, deh, Ki, sumpah!" jelas Asa berusaha meyakinkan Kiki dengan ceritanya seraya membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.
"Terus, terus, gimana kelanjutannya?"
"Ya, Papa sama Mama tiri lo datang buat nolongin dia. Dia dibawa keluar kamar. Terus disadarkan, deh, pakai minyak kayu putih gitu."
"Terus, dia tidur di mana?"
"Nggak tahu, di kamar Mamanya kali. Kayaknya, sih," jawab Asa terlihat kurang yakin.
"Terus?"
"Terus, terus aja, lo! Pas itu lo nginep di mana, sih?"
"Ya biasa, kalau nggak di rumah Ratu, ya, di rumah Cila. Emang kenapa?"
"Ya enak di lo, nggak enak di gue. Lo nggak ngerasain, sih, suara dia, tuh, cempreng banget waktu teriak, bikin kuping gue sakit. Lo, sih, enak nyantai di rumah sahabat lo," protes Asa.
"Gue juga ngerasain, kok, sakitnya kuping karena teriakan dia. Kan, dia teriak-teriak di telpon, minta gue pulang."
"Iya, tapi lo cuma bentar. Gue jaaaaauh lebih lama daripada lo," gerutu Asa.
"Iya, sorry, deh, sorry."
"Sorry.. Sorry!"
"Ya udah, deh, lupakan aja! Gue mau tidur siang, nih, ngantuk banget dari sekolah tadi."
"Ya udah. Tidur aja!"
"Lo jangan berisik, ya?"
"Adik lo, tuh, yang suaranya cempreng yang berisik!"
"Hehehe, ya udah, gue tidur dulu. Jangan ngajak gue ngobrol lagi."
"Nggak kebalik, Neng?"
"Ish, berisik!" Kiki membalikkan badannya membelakangi Asa.
"Ye malah membelakangi gue, awas lo ya!" ancam Asa tapi sama sekali tak mendapat respon Kiki. Sepertinya Kiki benar-benar merasa sangat mengantuk. Kalau tidak, mungkin dia masih menyahuti ocehan Asa. Meski ocehan Asa tak berfaedah sekali pun.
-Bersambung-