
Saat jam istirahat, banyak siswa-siswi yang berbondong-bondong ke arah ruang guru. Ternyata bukan, mereka bukan mau ke ruang guru, tapi mereka hendak melihat pengumuman yang di tempel di mading sekolah yang menempel di tembok luar ruang guru. Merasa penasaran juga, akhirnya Kiki, Ratu dan Cila ikut bergerak ke arah mading itu. Info tentang apa, sih, yang membuat mereka seantusias ini? Emangnya penting banget? Kurang lebih seperti itu lah yang ada di pikiran tiga sahabat itu.
Dan setelah sampai di depan mading yang sudah dilapisi lapisan manusia, aksi Kiki dan kedua sahabatnya itu sia-sia. Mereka bertiga tak dapat melihat tulisan apapun di mading. Terlalu jauh jarak yang harus dijangkau mereka agar bisa membaca pengumuman dengan jelas. Alhasil, mereka menanyakan info itu dari teman yang sudah membacanya. Dari penjelasan teman mereka yang mereka tanyai sebelumnya, itu adalah informasi tentang UAS yang akan diadakan sekitar sepuluh hari lagi.
"Elaaaah kirain info apa gitu yang nyenengin. Kayak study tour, kek, liburan bersama, kek, atau apa lah yang nyenengin," keluh Cila.
"Tapi, info tentang UAS juga nggak kalah pentingnya, La," sahut Ratu.
"Tapi gue nggak suka UAS, Ra!"
"Emang ada di dunia yang fana ini siswa yang suka sama UAS? Ulangan harian aja ikut karena terpaksa, takut nilainya nggak dituntaskan guru. Jangan berlagak jadi manusia sok penting gitu deh, La," imbuh Kiki yang sudah sangat gemas dengan sahabatnya yang satu itu.
"Yang penting, kita harus belajar, nih, gimana pun caranya. Harus dicicil. Karena kalau memakai sistem SKS, bakalan percuma. Nggak akan nempel di otak. Ibarat air aja, nih, kalau dituangkan ke gelas sedikit demi sedikit dan pelan-pelan, nggak akan tumpah. Tapi kalau dituang sekaligus, pasti tumpah. Kalau pun ada yang nempel, pasti cuma sedikit," jelas Ratu yang membuat Cila melongo tidak paham.
"SKS? Apaan itu, Ra?" tanya Cila.
"Sistem Kebut Semalam. Jadi, belajarnya cuma semalam. Baca buku semua mata pelajaran yang akan diujikan besoknya dilakukan dalam semalam saja sampai semuanya terbaca. Tapi hasilnya tidak baik," timpal Kiki membantu Ratu menjelaskan pada Cila.
"Owh gitu. Ya udah. Ayo kita belajar!" ucap Cila antusias.
"Itu yang gue maksud sejak tadi, Cila sayaaaang," gemas Ratu.
"Sabar, La!" sambung Kiki.
"Gimana kalau nanti sepulang sekolah kita ke rumah lo aja, Ki. Kita belajar bareng di rumah lo," usul Ratu.
"Yakin, nggak mau pulang dulu?mending kalian pulang dulu aja, pamit sama orang tua kalian. Besok, kan, minggu, tuh, sekalian aja kalian nginep di rumah gue," sahut Kiki ikut memberi usul.
"Benar juga, tuh, Ra. Usul Kiki," sambung Cila.
"Ya sudah, nanti habis ashar aja kita ke rumah Kiki dan nginep di sana," jawab Ratu.
***
Bunyi ketukan pintu utama rumah Kiki terdengar. Bik Nah yang lebih dulu mendengar bunyi ketukan itu segera membuka pintu dan mempersilakan Ratu dan Cila masuk dan duduk di ruang tamu. Bik Nah memberitahu Kiki kalau teman-temannya sudah datang. Kiki segera bersiap turun menemui Ratu dan Cila. Tas sekolahnya yang sudah berisi buku-buku pelajaran yang hendak di pelajari dengan kedua sahabatnya sudah tersampir di lengan kanannya.
Saat melewati kamar Alex, Kiki menggerakkan kepalanya melirik ke dalam kamar Alex yang pintunya sedikit terbuka. Dan menurut prediksi Kiki, kamar Alex sedang kosong, Alex sedang tidak ada di rumah. Hati Kiki sedikit lega mengetahui Alex sedang keluar rumah.
"Haaai, sudah lama, ya?"
"Baru aja duduk, nih, Ki," kata Ratu menyahuti dikuatkan pula dengan anggukan kepala Cila.
"Gimana, nih, apa dulu yang mau kita bahas?" tanya Kiki.
"Gimana kalau bahasa inggris dulu? Gue ada yang nggak ngerti, nih, penjelasan Mr. Jack minggu lalu," usul Cila.
"Iya, gue juga, hehe. Lo ngerti, kan, Ra?" sambung Kiki.
"Owh, yang itu. Tenang, gue paham, kok," jawab Ratu mantap.
Dengan telaten Ratu memberi penjelasan pada Kiki dan Cila layaknya seorang guru bahasa inggris yang baik. Waktu telah bergulir. Detik telah berganti menit, menit pun telah berganti jam. Dari mata pelajaran satu ke mata pelajaran lain yang dibahas mereka. Sekarang sampai lah mereka pada mata pelajaran matematika yang menurut mereka sangat rumit.
"Kalau yang ini, lo ngerti kan, Ra?" tanya Cila. Ratu menggeleng.
"Ki, lo pasti ngerti bab yang ini, kan?" tanya Ratu pada Kiki.
"Gue juga nggak begitu paham. Gue kira Ratu yang lebih paham. Makanya gue santai aja, soalnya gue ngandelin Ratu."
"Makanya, jangan pernah ngandelin orang lain. Kita harus bisa sendiri. Jangan sampai bergantung pada orang lain," ujar Cila sok bijak.
"Ye, lo juga sama!" protes Kiki.
Terdengar suara sepeda motor di depan rumah Kiki. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat. Orang itu melebarkan pintu rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Kiki, Ratu dan Cila saling bersahutan.
Ternyata yang datang itu adalah Tanti- mama tiri Kiki.
"Eh, kalian pasti yang namanya Ratu sama Cila, ya?"
"Iya, Tante. Saya Cila dan ini Ratu," jawab Cila sembari menunjuk Ratu. Ratu hanya tersenyum pada Tanti.
"Kalian sudah lama, ya?"
"Iya, Tante. Sejak habis ashar tadi," jawab Ratu.
"Udah malam gini, kalian nginep saja, ya, di sini? Lagian, kan, besok minggu."
"Iya, Tante. Kita juga mau nginep, kok," Sahut Cila.
"Belum."
"Ya sudah kalau gitu. Bentar lagi sudah jam tujuh malam, Tante mau nyiapin makan malam dulu, ya, sebelum Papanya Kinanti datang, anak-anak?"
"Oh, iya, Tante. Silakan!" jawab Ratu.
Tak lama kemudian, Alex masuk ke rumah setelah memarkir sepeda motornya di garasi samping rumah, melihat tiga cewek cantik yang sedang belajar di ruang tamu. Cila sampai menganga melihat wajah tampan Alex. Cila baru menutup mulutnya setelah Ratu menyenggol Cila dengan sikut tangan kanannya. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Alex, dia hanya memandang mereka bertiga dengan tatapan kosong lalu melanjutkan langkahnya ke kamar.
"Ki, itu yang namanya Alex?" tanya Cila antusia.
"Hm," deham Kiki. Kiki masih memfokuskan pikirannya pada buku catatan matematikanya. Dia masih melihat-lihat catatannya, mencoba lebih memahami pelajaran itu.
"Ah, gue nyerah, deh, kalau kayak gini ceritanya!" teriak Kiki tiba-tiba mengagetkan Ratu dan Cila.
"Kenapa, Ki?" tanya Ratu.
"Gue nyerah, Ra!"
"Duuuuh, gimana, dong?"
Mendengar keluhan cewek-cewek itu membuat Alex tertarik melihat dan berusaha memahami masalah apa yang sedang mereka hadapi dari lantai atas tanpa sepengetahuan tiga cewek itu. Setelah paham masalah apa yang sedang dihadapi, Alex turun menghampiri mereka di ruang tamu.
"Mending kalian makan malam dulu, deh, dari tadi Mama manggilin kalian tapi kalian nggak bisa dengar panggilan Mama," usul Alex.
"Tapi Kak Alex, gimana dengan pelajaran kita, minggu depan kita sudah UAS," rengek Cila yang sudah seperti anak kecil.
"Udah, kalian tenang aja. Entar gue ajarin kalian."
"Beneran, Kak?"
"Iya, tapi sebisa gue, ya?"
"Iya, Kak!"
Kebetulan Alex kuliah jurusan Pendidikan matematika, jadi ada kemungkinan Alex bisa mengajari mereka. Cila yang sangat menyukai Alex merasa sangat senang dengan tawaran Alex.
***
Alex mengajari semua bab yang telah dicatat di buku sekolah mereka hingga mereka bertiga memahaminya. Selama diajari Alex, Cila tak bosan-bosannya memandangi wajah tampan Alex, tentunya tanpa sepengetahuan Alex. Kalau sampai Alex mengetahui kalau Cila terus memperhatikan dia sejak awal, mungkin Alex akan menjadi risih dan tidak fokus saat mengajari mereka.
"Kak Alex baik, ya, Ki!" ucap Cila saat mereka bertiga sudah berbaring di atas ranjang.
"Nggak juga," sahut Kiki singkat.
"Kok, nggak juga, sih, Ki? Kalau dia nggak baik, nggak mungkin, dong, dia ngajarin kita kayak tadi."
"Mana gue tahu. Gue juga bingung kenapa dia melakukan hal itu pada kita."
"Eh, Ki. Kemarin pagi, saat lo manyun pagi-pagi itu, lo kenapa, sih? Lo masih nggak mau cerita sama kita?" tanya Ratu.
"Kalian yakin, mau dengar penyebabnya?"
"Iya, gue yakin. Kenapa?" jawab sekaligus tanya Ratu.
"Nanti malah ada yang kecewa," ragu Kiki.
"Ya, mana kita tahu kalau lo belum cerita," sambung Cila.
"Ok, jadi, waktu itu Alex bilang kalau dia suka sama gue. Dan dia minta gue ngasih dia satu kesempatan."
"APA? Ini, sih, namanya patah hati sebelum berperang!" kaget Cila.
"Kalah sebelum berperang kali, La," sambung Ratu.
"Tuh, kan, apa gue bilang, ada yang kecewa, kan, jadinya," timpal Kiki.
"Terus lo nerima dia, Ki?" tanya Ratu penasaran.
"Nggak lah, kan, gue sudah ada Marcel."
"Beneran, Ki?" tanya Cila yang tak kalah penasarannya dari Ratu tadi.
"Iya, gue nggak mungkin nyakitin lo, La!"
"Uuuuuuch makasih, Kiki sayaaang! Lo emang best friend gue," teriak Cila sambil memeluk dan mencium Kiki.
-Bersambung-