MACKY

MACKY
25. Bertemu Pujaan Hati



Selepas mandi, Kiki segera bersiap-siap. Dia akan menghadiri resepsi pernikahan Nina. Dia memakai gaun yang sangat cantik dan pas di tubuhnya. Memoleskan make up secukupnya lalu keluar kamar menemui neneknya di dapur. Neneknya sedang menata makanan untuk sarapan pagi ini saat Kiki sudah sampai di dapur.


"Eh, sudah siap, ya?" tanya Widya terkejut melihat Kiki tiba-tiba di depannya.


"Iya, Nek. Nenek sudah siap?" Kiki balik bertanya.


"Sudah, kok," sahut Widya.


"Kalian mau ke mana, sih?" tanya Masha yang penasaran sejak tadi di kamar, memperhatikan Kiki yang sibuk berdandan dan berpakaian rapi.


"Gue mau ke acara resepsi pernikahan Kak Nina. Kemarin gue diundang," sahut Kiki.


"Yaaah, kenapa gue nggak diundang juga, sih?"


Mulut Masha terus saja menggerutu karena kesal tidak diundang.


"Kemarin gue bantu-bantu di rumahnya, jadi gue bisa kenal sama Kak Nina. Lo, kan, kemarin nggak mau diajak ke sana."


Masha mengerucutkan bibirnya, menyesal telah menolak ajakan Widya kemarin. Dia tak bisa berkomentar lagi, hanya bisa diam.


"Sarapan dulu, Sayang!" ajak Widya pada Kiki.


"Kiki makan roti aja, deh, Nek. Nanti Kiki bisa makan lagi di rumah Kak Nina."


"Ya sudah, terserah kamu saja kalau begitu."


Kiki mengambil dua iris roti tawar dan memoleskan selai coklat di tengahnya. Sedangkan Masha memilih untuk memakan nasi dan ayam sebagai lauknya untuk sarapannya pagi ini.


Selesai makan, Kiki dan Widya berangkat ke rumah Nina. Pastinya mereka berdua berpamitan terlebih dahulu pada Masha dan Ina.


Sesampainya di rumah Nina, para penerima tamu menyambut kedatangan Kiki, Widya dan juga tamu lainnya yang datang bersamaan dengan Kiki dan Widya.


Hal pertama yang Kiki lakukan adalah menemui Nina untuk menyalami dan mengucapkan selamat atas pernikahannya.


"Selamat, ya, Kak. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah," ucap Kiki.


"Makasih, Kiki. Silakan dinikmati hidangannya, ya," kata Nina mempersilakan.


"Iya, makasih, Kak."


Kiki beranjak menuju tumpukan piring, hendak mengambilnya satu sebelum mengambil makanan. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menabrak bahu kanannya dengan tidak sengaja. Kiki tersentak kaget dan melihat orang yang menabraknya itu. Namun bukannya marah, Kiki malah senang melihat orang itu.


"Eh, kamu Kiki, Kan?"


"Iya. Kak Kamal diundang juga?"


"Iya. Maaf tadi aku nggak sengaja menabrakmu," ujar Kamal menyesal.


"Nggak apa-apa, kok, Kak."


"Ada yang sakit?" tanya Kamal khawatir.


Kiki cepat-cepat menggelengkan kepalanya.


"Tadi memang sakit sedikit. Tapi sekarang sudah hilang sakitnya, Kak," terang Kiki sembari tersenyum pelik.


Iya lah, nggak sakit, ketemu sama pujaan hati, hihi.


"Syukurlah, kalau begitu. Eh, ngomong-ngomong, kamu mau ambil makanan, ya?" tanya Kamal.


Kamu? Astaghfirullah, gue lupa gue sedang berbicara dengan siapa. Dia, kan, Kak Kamal, mana mungkin dia menggunakan panggilan lo / gue. Batin Kiki.


"Kok, diam?" kata Kamal. Membuat Kiki terkesiap.


"Eh? Owh, maaf, tadi Kak Kamal bilang apa, ya?"


"Kamu mau ambil makanan?" Kamal mengulangi kalimatnya tadi.


"Owh, iya, Kak. Kak Kamal juga mau ambil makanan?"


"Iya. Kita bareng aja, gimana?" tawar Kamal.


"Boleh, Kak."


"Kamu mau makan apa?"


"Aku pengin makan sate, Kak. Kak Kamal?"


"Kebetulan. Aku juga pengin makan sate. Tadi aku sempat melihatnya di sebelah sana. Kita ke sana, yuk!"


"Ayo!"


Kamal dan Kiki mengambil sate dan makanan lain yang ingin mereka makan kemudian memilih kursi untuk duduk dan memakan makanan mereka.


"Jadi, Nina itu temanku sejak kecil. Makanya aku diundang," jelas Kamal.


"Owh, gitu."


"Rumah kamu di sekitar sini, ya?"


"Rumah Nenekku, Kak. Aku cuma liburan."


"Owh, gitu. Dekat dari sini?"


"Itu, rumah di depan, Kak," kata Kiki sembari menunjuk rumah neneknya dengan jari telunjuk kanannya.


"Nanti aku temani kamu pulang, ya? Mau?"


"Mau, mau, mau banget, Kak," jawab Kiki seraya menganggukkan kepala berkali-kali.


***


Kamal menepati janjinya yaitu mengantar Kiki pulang. Saat ini Kamal sudah sampai di teras rumah nenek Kiki.


"Masuk dulu, yuk, Kak!"


"Lain kali, deh. Sekarang aku pamit dulu, ya!"


"Owh. Ya sudah. Makasih sudah mengantarku, Kak."


"Iya, sama-sama."


Kiki merasa sangat sedih saat Kamal pamit pulang dengan cepat. Padahal dia kira Kamal bisa lebih lama di sana.


"Jangan sedih gitu, dong, Ki. Aku janji kapan-kapan aku main ke rumahmu."


Mendengar perkataan Kamal, suasana hati Kiki berubah drastis seratus delapan puluh derajat. Kiki sontak mengangkat wajahnya menatap lekat Kamal.


"Iya. Janji."


"Tapi, Kak Kamal, kan, belum tahu rumahku di mana."


"Maka dari itu, aku mau minta nomor WA kamu."


"Oiya, benar banget. Ini nomor WAku, Kak."


Dengan hati yang berbunga-bunga Kiki memberi tahu Kamal nomor WA nya. Setelah bertukar nomor WA dengan Kiki Kamal berpamitan. Namun Kamal berpapasan dengan Widya di pintu gerbang rumah Widya.


"Eh, kamu Kamal, Kan?"


"I, iya, Bu."


Kamal mencium punggung tangan Widya.


"Sudah mau pulang?"


"Iya, Bu," sahut Kamal singkat.


"Duuh, kok, sudah mau pulang, sih. Masuk dulu, yuk! Minimal nge-teh gitu," tawar Widya tulus.


"Maaf, Bu. Saya buru-buru sekali. Saya ada janji sama Ummi soalnya."


"Yaaah, sayang sekali. Padahal kamu sudah di sini. Tapi, ya sudah, deh, nggak apa-apa. Lain kali saja, ya?"


"Insyaallah, Bu. Saya pamit, ya. Assalamu'alaikum," pamit Kamal setelah mencium pinggung tangan Widya lagi.


"Wa'alaikumsalam," sahut Widya. Widya terus memperhatikan Kamal sampai Kamal tak terlihat lagi.


Widya melangkahkan kakinya mendekati Kiki yang masih mematung di tempatnya. Kiki masih di teras rumah. Masih tidak menyangka kalau saat ini dirinya bisa sedekat ini dengan Kamal. Apalagi sampai bertukar nomor WA. Kiki masih syok.


"Kayaknya, ada yang sedang berbunga-bunga, nih, setelah bertemu dengan Kamal," kata Widya menggoda cucunya.


"Nenek apaan, sih?" bantah Kiki dengan pipinya yang sudah memerah karena malu pada Widya.


"Eh, gimana caranya, kok, kamu bisa diantar pulang sama si ganteng itu?" goda Widya lagi.


"Neneeeek!" rengek Kiki, membuat neneknya tertawa.


"Ya sudah, masuk aja, yuk!"


Widya dan Kiki masuk ke dalam rumah. Widya langsung berjalan menuju dapur, sedangkan Kiki ke kamar menemui Masha yang saat ini sedang rebahan di atas tempat tidur di kamar.


"Kak Kiki sudah datang?"


"Ya, seperti yang kamu lihat sekarang."


"Terus, kenapa Kak Kiki senyum-senyum terus dari tadi?"


"Biasanya, orang yang senyum-senyum itu, kenapa?" tanya Kiki balik menatap Masha.


"Karena senang atau bahagia?"


"Nah, itu kamu tahu," jawab Kiki lalu tersenyum lagi.


"Kak Kiki aneh!"


"Kok, aneh, sih, Sha? Orang lagi senang."


"Abisnya, Kak Kiki nggak mau cerita, sih, sama Masha!" protes Masha.


"Siapa yang nggak mau cerita? Emang kamu nanya?"


"Au' ah! Serah Kak Kiki aja, deh!" geram Masha.


"Hehe. Maaf, Sha. Kak Kiki cuma bercanda, kok. Tapi, lo benaran mau tahu kenapa Kak Kiki senang banget?"


"Ho'oh! Buruan cerita!" paksa Masha.


"Dengar baik-baik, ya! Tadi Kak Kiki ketemu sama Kak Kamal."


"Kakak ketemu Kak Kamal? Kok, bisa?"


"Apa, sih, yang nggak bisa kalau Allah sudah berkehendak?"


"Iya, sih. Tapi Kak Kiki ketemu di mana sama Kak Kamal?"


"Di rumahnya Kak Nina itu."


"Owh, kok, nggak diajak ke sini?"


"Dia nganterin gue pulang, tapi diajak mampir dia nggak mau. Gue cuma diantar sampai teras depan, tuh. Tapi gue sudah punya nomor WA nya, Sha."


"Wow! Hebat itu! Itu selangkah lebih dekat, Kak!" pekik Masha takjub pada Kiki.


"Yo'i, Sha!"


"Eh, Asa mana?" tanya Kiki sambil celingukan mencari Asa.


"Kak Kiki nggak salah, tanya sama aku?"


"Oiya, gue lupa. Lo, kan, nggak bisa lihat Asa, ya? Hehe," kata Kiki cengengesan.


"Kenapa nyariin Asa, Kak?"


"Kalau sampai dia tahu, kalau gue suka sama Kak Kamal, dia bisa marah besar sama gue."


"Kok, bisa?"


"Karena dia bakalan nggak terima kalau gue nggak setia sama Marcel."


"Apa hubungannya Asa sama Kak Marcel, Kak?" tanya Masha tambah bingung.


"Asa suka sama Marcel. Dia juga sudah nitipin Marcel ke gue. Berpesan agar gue nggak nyakitin Marcel gitu."


"Apa? Jadi Kak Kiki saingan sama hantu?" pekik Masha kaget.


"Nggak, sih, sebenarnya. Gue nggak tahu awalnya kalau Asa suka sama Marcel."


"Sudah, ah, capek gue," kata Kiki menyudahi percakapannya dengan Masha.


Kiki merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia memejamkan kedua matanya. Tidur.


Bersambung...