MACKY

MACKY
13. Kangen



Hari sudah petang saat Kiki terjaga dari tidurnya. Kepalanya sudah terasa mendingan. Tak ada yang bisa Kiki ingat. Dia hanya mengingat Marcel yang mengantarnya pulang dari sekolah menggunakan sepeda motor Kiki. Tapi bagaimana dia sampai di atas ranjang sama sekali dia tak mengingatnya.


Kiki turun dari ranjang dan terus berjalan menuju kulkas di ruang makan depan dapur. Kerongkongannya terasa sangat kering.


"Eh, lo sudah bangun?" sapa Alex.


"Ngomong-ngomong, gue, kok, bisa tidur di ranjang kamar gue?"


"Iya, gue yang ngangkat lo ke sana."


"Marcel?"


"Hm? Owh, cowok nggak bertanggung jawab itu? Dia langsung ngacir pulang. Ngapain, sih, lo, pacaran sama cowok kayak gitu? Cowok nggak bertanggung jawab, kok, dipacarin!" celoteh Alex.


Kiki diam, tak paham dengan semua yang dikatakan Alex. Kenapa kakak tirinya sampai bilang begitu. Kiki sama sekali tak mengingat apa pun.


Setelah meneguk air dari botol yang dia ambil dari kulkas, Kiki kembali ke kamar. Kiki mengambil hp dari dalam tas sekolah miliknya. Kiki mencari kontak Marcel. Dan mencoba menghubunginya.


"Cel, tadi ada kejadian apa aja?"


"Ow tadi, lo ketiduran di punggung gue."


"Terus?"


"Terus lo di angkat ke kamar."


"Sama siapa?"


"Sama cowok, nggak tahu siapa. Dia judes banget!"


"Kenapa bukan lo, aja, sih, yang ngangkat gue ke kamar?"


"Ya, mau gimana lagi, cowok itu yang ngangkat lo. Dia juga nggak mau, tuh, kalau gue membantunya."


"Lo tahu, nggak,"


"Nggak!"


"Dengarin dulu!"


"Iya, apa?"


"Dia nge-cap lo sebagai cowok yang nggak bertanggung jawab."


"Terus kenapa? Biarin aja!"


"Biarin gimana, kalau, tuh, orang sampai cerita ke Papa gue gimana?"


"Ya, mau gimana lagi? Biarin saja lah!"


"Ampun, deh, Marcel! Emang lo mau Papa gue nge-cap lo cowok yang nggak baik juga?"


Marcel diam.


"Mau?"


"Mm... ya, nggak, sih."


"Ya makanya, gimana, nih?"


"Nggak tahu lah, gue ngantuk, mau tidur dulu."


"Ih, Marcel nyebelin banget, sih!" omel Kiki.


"Bahas besok pagi di sekolah aja, ya, sumpah gue ngantuk banget. Daaa!"


Marcel menutup teleponnya sebelum mendapat jawaban Kiki. Kiki mendengus sebal karena itu.


Kiki merasa bosan, tak ada hiburan. Kalau Kiki mengingat-ingat, Kiki sudah lama tidak bertemu dengan adik tirinya - Masha. Sudah lama rasanya Kiki tidak menggodanya. Begitu pun Asa, kemana dia itu? Sudah lama Kiki tidak bicara dengan nya. Kiki memanggil Asa. Satu Dua kali Asa tak kunjung datang. Panggilan Kiki yang tiga yang akhirnya mendatangkan Asa.


Tentu dengan cekikikan khasnya.


"Ih, bisa nggak, sih, lo, nampakin wujud lo ke gue dengan tampilan seperti biasanya saja. Serem tauk!"


Asa muncul dengan lingkar mata yang hitam, wajah pucat dan ada bekas noda darah di salah satu ujung bibirnya, menambah seram wujud dirinya.


"Lo pasti habis nakut-nakutin orang, ya?"


"Iya, gue habis nakut-nakutin orang," jawab Asa setelah mengganti wujudnya.


"Emang lo senang banget, ya, kalau bisa nakut-nakutin orang?"


"Bukan cuma senang, tapi bahagia. Rasanya, tuh, gue sukses jadi hantu. Dan ada manfaatnya gue jadi hantu," celoteh Asa sambil cekikikan.


"Halah, gitu aja dibanggakan! Kalau lo bisa nolong orang lain misalnya, baru lo boleh membanggakan diri lo itu."


"Lagi pula, apa juga yang bisa gue lakukan buat nolongin orang lain. Gue juga nggak bisa nyentuh apa-apa dari mereka."


"Oiya, ada apa lo manggil gue?" imbuh Asa.


"Gue bosan, nih, sendirian! Oiya, Masha mana, sih, kok, rasanya gue lama banget nggak ketemu, tuh, bocah."


"Owh, bocah itu. Nggak tahu juga gue. Kenapa, lo kangen, ya, sama dia?"


"Kayaknya iya, deh, Sa. Gue kangen sama dia, lama nggak godain dia."


Asa dan Kiki terbahak...


"Asa, gue mau cari Tante Tanti dulu, ya?" pamit Kiki.


"Kenapa? Lo kangen juga sama ibu tiri lo itu?" tebak Asa asal.


"Ih, apaan, sih, lo, Sa? Nggak lah, gue mau nanyain Masha sama Tante Tanti."


"Owh, kirain hati lo sudah luluh sama ibu tiri lo itu."


"Ngayal lo, ya? Nggak mungkin dan nggak akan mungkin terjadi dalam hidup gue. Udah, ah, gue turun dulu!" Kiki turun lalu ngacir mencari ibu tirinya ke ruang keluarga, tempat di mana biasanya semua orang berkumpul di sana.


***


Benar dugaan Kiki, ibu tirinya itu ada di depan TV bersama Papa dan Kakak tirinya-Alex.


"Tante, Kiki mau nanya sesuatu," kata Kiki to the point.


"Mau nanya apa, Sayang? Sini, duduk dulu!" jawab Tanti sembari melambaikan tangan kanannya meminta Kiki untuk mendekat. Sedangkan tangan kirinya menepuk kecil kursi di sebelahnya.


Kiki melakukan apa yang diminta Tanti. Kiki mendekat dan duduk di sebelah Tanti. Alex tersenyum kecil melihat adegan langka tersebut.


"Sudah, jangan menggoda Kinanti terus. Gimana, Sayang, Kinan mau tanya apa sama Mama?"


"Tante!" protes Kiki.


"Iya, Tante maksudnya," kata Tanti membetulkan ucapannya.


"Gini, Tante. Kiki mau nanya tentang Masha. Sudah lama sekali Kiki nggak ketemu dia, dia di mana?"


"Akhirnya Kiki merindukan adik tirinya juga. Nggak rindu kakak tirimu ini juga?" sela Alex berkelakar.


"Sudah, Lex! Diam dulu sebentar."


"Masha lagi di rumah Neneknya. Dia nginep di rumah Ibunya Tante, Sayang. Kenapa? Kiki ada perlu apa sama Masha?" lanjut Tanti melihat Kiki.


Kiki menggeleng. "Nggak ada, kok, Tan. Ya sudah, deh, Kiki mau balik ke kamar saja sekarang. Kiki mau tidur."


"Ok, Sayang. Have a nice dream, ya, Sayang!"


"Iya."


***


Kiki pun sampai ke kamarnya bertemu Asa yang sedang rebahan di ranjang Kiki, dia menunggu kabar dari Kiki.


"Gimana, Ki, Masha di mana?"


"Ternyata dia sedang menginap di rumah neneknya."


"Kok, dia nggak pamit sama lo juga, sih, tuh, bocah!"


"Tauk, deh! Ternyata nggak adanya dia di kamar ini, nggak asyik juga, ya?"


Asa mengangguk-angguk menyetujui ucapan Kiki.


"Harusnya gue, kan, seneng dia nggak di sini. Kalau perlu, sih, selamanya, ya? Tapi gue sekarang benaran merindukan dia," jujur Kiki.


"Kenapa nggak lo telepon saja?"


"Oiya, gue telepon aja kali, ya, tapi ini, kan, sudah jam sembilan, Sa. Dia pasti sudah tidur, deh! Dia, kan, kebo banget kalau sudah tidur. Susah banget dibangunin."


"Siapa tahu dia belum tidur. Coba aja dulu."


"Oke, deh!"


Kiki mencari kontak Masha. Dia lupa kalau dia belum pernah menyimpan nomor adik tirinya itu.


"Kok, nggak ada, ya, Sa?"


Asa mengedikkan kedua bahunya.


"Tauk! Bukannya lo pernah bilang ke gue, kalau dia pernah nelpon lo waktu lo nginep di rumah teman lo?" kata Asa mengingatkan.


"Oiya, lo bener, Sa. Gue emang belom pernah nyimpen nomornya dia. Gue cari di daftar panggilan aja."


Setelah men-scroll daftar panggilan beberapa saat, akhirnya dia menemukannya. Cuma satu panggilan itu yang tidak bernama. Jadi, sudah pasti itu nomornya Masha.


Kiki memencet tombol berbentuk gagang telepon itu. Dan suara tunggu pun terdengar di sana. Tut.. Tut..


"Dia tidak mengangkatnya, Sa," ujar Kiki dengan nada sedihnya.


Sepertinya dia benar-benar sedang merindukan Masha.


"Coba lagi aja sampai berhasil," usul Asa.


Kiki mengikuti usulan Asa. Dia kembali mencoba menghubungi Masha. Dan akhirnya Masha mengangkat teleponnya.


"Hallo, siapa, nih? Lo nggak punya kerjaan, ya, malam-malam begini nelpon gue?"


"Ini gue, Sha!"


Masha mendadak melek. Dia membaca nama siapa yang tertera di layar hpnya, "Kiki Kak". Itu nomor kakak tirinya yang sangat dia sayang. Di dalam hidup Masha, tak sekali pun dia membayangkan kalau kakak tirinya itu akan menelponnya.


"Hallo! Kak? Ini lo, Kak? Kak Kiki, kan?"


"Bukan! Tetangga! Ya, ini gue, siapa lagi? Lo ke mana, sih?"


"Gue di rumah Nenek, Kak, gue kangen sama Nenek gue."


"Iya, gue tahu lo sedang di rumah nenek lo!"


"Lah, tadi Kakak yang nanya. Kalau sudah tahu ngapain nanya, Kak?"


"Maksud gue, kenapa lo nggak pamit, sih, kalau lo mau nginep di rumah Nenek lo?"


"Pamit, kok, Mama sama Papa juga sudah ngijinin."


"Maksud gue, pamit sama gue juga!"


"Owh, kalau itu, sih, gue lupa. Sorry, deh. Lagian, gue pikir lo nggak peduli dan malah senang kalau gue nggak di rumah," jawab Masha menggunakan nada sedihnya.


Nggak, gue kangen sama lo, Sha.


"Kenapa, Kak, Kakak kangen, ya, sama Masha?"


"Nggak, ya sudah. Selamat bersenang-senang, ya, di rumah nenek lo!"


"Iya, Kak, makasih, Kak," jawab Masha dengan riang lalu mematikan teleponnya.


"Dia terdengar have fun banget di sana. Dia sama sekali nggak ngangenin gue, Sa." sedih Kiki.


Asa terkekeh mendengar penuturan Kiki.


"Lo, tuh, aneh, ya, kalau ada orangnya dimusuhin. Kalau nggak ada, malah dikangenin."


"Gimana, dong? Emangnya ini mau gue apa?"


"Auk, deh! Gue ngantuk!"


"Dih, emang hantu bisa ngantuk juga?"


Asa nyengir lalu menghilang.


-Bersambung-