
Suara riuh di rumah Kiki membuatnya tak bisa tidur tenang. Alhasil dia membuka mata dan melirik jam yang memeluk dinding mesra. Sontak Kiki menjerit karena kaget. Jam itu menunjukkan pukul 06:45. Alamat Kiki akan telat sampai di sekolah. Bukankah Kiki seharusnya ngacir ke kamar mandi, tapi sekarang Kiki malah diam mematung di kamar? Ternyata Kiki sedang memikirkan alasan mengapa rumahnya seriuh ini, padahal isi rumahnya hanya ada Kiki, papanya, pembantunya dan kakaknya-Zea. Oiya, satu lagi, Asa-makhluk astral penghuni kamarnya. Suara cekikikan Asa tidak seriuh ini, kok. Makanya Kiki bingung.
"Asa, ada siapa, sih, di luar, kok, rame banget? Aku sampek kebangun," tanya Kiki
"Ada banyak orang di luar," jawab Asa yang membuat Kiki sangat gemas padanya.
"Iya, gue tahu, Asa cantiiiik. Maksud gue itu, siapa aja yang di luar?"
"Ooow, beberapa tetangga-tetangga lo. Yang lain gue nggak kenal," jelas Asa yakin.
"Owh," respon Kiki sambil manggut-manggut.
"Eh, lo nggak sekolah, kok, jam segini belum berangkat?"
"Lo nggak tahu apa, gue kesiangan. Lo ke mana aja, sih, kok, nggak bangunin gue?" protes Kiki.
"Sorry, tadi gue sibuk ngehayal," jawab Asa asal.
"Ngehayal? Apa?"
"Cowok yang gue suka."
"Lo suka sama cowok? Hantu juga apa manusia?"
"Manusia. Tapi cowok yang gue suka itu sudah punya pacar sekarang. Parahnya lagi, dia pacaran sama sahabat gue," jelas Asa sok serius.
"Oiya? Siapa? Lo punya sahabat selain gue? Lo selingkuh dari gue?" cecar Kiki karena penasaran.
"Lo!"
Satu kata itu sukses membuat mata Kiki melotot karena terkejut.
"Hah? Gue? Maksud lo, Marcel cowok yang lo suka?" Asa mengangguk dengan wajah sedihnya.
"Dari mana lo tahu kalau gue pacaran sama Marcel? Gue, kan, nggak cerita."
"Teman gue ngirim pesan WA ke gue," sahut Asa seenak jidat.
"Hantu bisa WA-an juga? Keren!" takjub Kiki.
"Pala lo peang? Nggak lah! Gue lihat sendiri lo bareng dia," ujar Asa jujur.
"Lo buntutin gue sampai ke sekolah?"
"Nggak, sih, tadinya gue mau ngebuntutin Marcel. Eh, nggak tahunya, dia suka sama lo. Patah hati, deh, Barbie," jawab Asa jujur.
"Cih, Barbie! Nggak pantes lo jadi Barbie!" cibir Kiki. Asa bukannya marah, malah tertawa.
"Orang yang lagi patah hati, mah, bebas," kata Asa.
"Bebas apa?"
"Bebas jadi Barbie," jawab Asa membuat keduanya terbahak.
Beberapa detik berikutnya, wajah Kiki berubah jadi serius.
"Sorry, Sa. Gue nggak tahu kalau lo suka sama Marcel," kata Kiki dengan nada menyesalnya.
"Nggak apa-apa, kok, Ki. Gue seneng dia pacaran sama lo. Seenggaknya, dia nggak pacaran sama cewek lain. Gue titip Marcel, ya, jagain dia, lagian, kan, gue hantu, gue nggak bisa bersatu sama dia," ujar Asa memasang raut sedihnya.
"Hm lo kira gue babysitternya Marcel, disuruh jagain dia?"
"Please, Ki, demi gue!" mohon Asa.
"Iya, gue jagain Marcel lo itu."
"Jangan bikin dia patah hati, ya, awas lo kalau sampai nyakitin dia!"
"Ih, cerewet!" sungut Kiki.
"Ya udah, cepat sana lo mandi!" suruh Asa.
"Astaghfirullah, gue sampai lupa. Lo, sih, ngajak gue ngobrol!" sungut Kiki.
"Nggak kebalik, ya?"
Tanpa berpikir lagi Kiki ngacir ke kamar mandi, tanpa menghiraukan sekeliling.
"Hati-hati, dong, Dek, entar nabrak, loh!"
"Maaf Kak Zea, Kiki udah telat, nih!"
****
"Gimana, Bro? Lo berhasil nggak, deketin si Kiki?" tanya Reval penasaran.
"Pasti dia berhasil!" sambung Dion dengan yakin.
"Bukan cuma berhasil PDKT lagi, tapi gue sudah resmi jadi pacarnya."
"Serius?" kata Dion dan Reval bersamaan.
"Ih, kompak banget, deh, kayak paduan suara aja," desah Marcel.
"Keren! Gimana caranya?" sambung Reval.
"Tapi lo nggak bo'ong, kan, Cel?" sambung Dion.
"Nggak lah! Bo'ong gimana? Lo tahu sendiri, kan, kemarin gue bolos. Emang gue pernah bolos selama lo kenal gue? Gue bolos, ya, karena ide cewek gila itu," jelas Marcel.
"Wow, Kiki emang keren! Seorang Marcel yang biasanya nolak banget kalau diajak bolos, akhirnya bisa ngerasain yang namanya bolos. Dan itu berkat seorang Kiki," timpal Reval.
"Semoga aja, kemarin itu acara bolos pertama dan terakhir gue," harap Marcel.
"Oiya, gimana nih, Re, taruhan kita. Aku sudah menang, mana janji lo?" tagih Marcel pada Reval.
"Ok, besok, ya. Nanti sore aku mau ke ATM ngambil uangnya dulu," jawab Reval.
"Kenapa nggak transfer aja, sih?" usul Dion.
"Oiya, bener juga, tuh!" timpal Marcel.
"Ok, deh, mana nomer rekening lo?"
Marcel mengirim nomor rekeningnya pada Reval lewat via WA.
"Nih, gue sudah transfer," ucap Reval memperlihatkan bukti transfer di ponselnya di depan wajah Marcel.
****
Dari kejauhan Kiki seperti melihat seseorang yang tak asing lagi baginya. Tiga kali Kiki mengerjapkan mata, meyakinkan kalau orang yang dia lihat benar dengan yang dia duga. Kiki melambaikan tangan padanya. Yang menerima lambaiannya pun mendekat pada Kiki.
"Lo ngapain di sekolah gue? Pengin ketemu Marcel?"
"Hehe, kok, tempe, sih?"
"Lo, tuh, ya, sekolah ini bahaya buat lo," kata Kiki khawatir.
"Bahaya apanya?"
"Jelas bahaya lah. Di sini banyak hantu gentayangan. Ada yang centil seperti Vera, hantu penunggu kelas gue. Ada juga yang jahat seperti Sarah, hantu yang nungguin toilet. Gue cuma khawatir lo kenapa-kenapa," jelas Kiki.
"Udah, sih, tenang aja. Kan, ada lo juga di sekolah ini. Gue tinggal teriak minta tolong sama lo kalau ada yang nakal ke gue," sahut Asa dengan enteng.
"Itu dia masalahnya. Gue takut nggak bisa dengar pas lo teriak minta tolong," bantah Kiki.
"Santai aja, sih, kan, gue bisa telfon lo. Eh, nggak ding, gue nggak punya hp," sahut Asa sembari nyengir memperlihatkan barisan gigi putihnya yang rapi.
Dddrrt.. Dddrrrrtt...
Ponsel Kiki bergetar. Kiki menggeser tombol hijau setelah melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, Nek. Ada apa?"
"Waalaikumsalam. Nak, pulang sekolah langsung pulang, ya, jangan lupa nanti malam acara pernikahan Papamu," kata nenek Kiki mengingatkan.
"Apa? Nanti malam? Maaf, Nek, aku nggak mau pulang. Besok saja aku pulang ke rumah," tolak Kiki.
"Terus nanti malam kamu nginep di mana? Kamu nggak bisa nginep di rumah Nenek, Nenek ada di rumah kamu. Makanya kamu pulang, ya," bujuk neneknya.
"Aku nginep di rumah Ratu atau Cila saja," putus Kiki.
Kiki menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam tas.
"Kenapa, Ki?" tanya Asa.
"Papa mau nikah nanti malam. Gue nggak sudi hadir ke acara itu."
"Sabar, ya!" ucap Asa menguatkan Kiki.
Kiki mengangguk kecil dan memaksa dirinya sendiri menarik sedikit kedua ujung bibirnya. Memberi senyuman kecil pada Asa.
-Bersambung-