
Dengan hati yang masih hancur, Kiki tetap bertahan. Tanpa ada seorang pun yang tahu kesedihannya, Kiki tetap tersenyum. Bersikap seperti tak ada apa pun yang terjadi pada dirinya. Kiki ingin, urusannya ini biar jadi rahasianya sendiri, tak perlu ada orang lain yang tahu. Meski sahabat terdekatnya sekali pun.
"Ki, baru datang, ya? Tumben lo datang jam segini?" tanya Ratu- salah satu sahabat Kiki.
"Iya. Kenapa, Ra?"
"Nggak, gue kira lo nggak masuk."
"Kalau gue nggak masuk, gue bakalan hubungin lo."
"Iya juga, sih. Ya, siapa tahu aja lo lupa atau nggak sempat hubungin gue."
"Nggak lah, Sayang, masa gue lupa sama lo."
"Sayang? Ih, jijik banget dengernya," cibir Ratu.
Kiki ngakak mendengarnya.
"Iya, bener, tuh, Kiki pasti hubungi kita kalau dia nggak masuk. Iya, kan, Ki?" sambung Cila.
"Diam lo, La!" sergah Ratu. Cila manyun mendengar sergahan Ratu.
Obrolan Ratu, Cila dan Kiki berakhir saat guru tiba di kelas.
***
Bel istirahat sudah seperti panggilan alam, tanpa dipandu lagi siswa-siswi sudah keluar kelas menuju kantin, perpustakaan atau lainnya. Dan saat ini Noval dan Marcel sudah duduk di bangku kantin.
"Val, Reval sama Dion mana? Aku, kan, ke toilet dulu tadi. Mereka nggak lo ajak ke kantin bareng?"
"Nggak, aku sendirian ke sini. Tadi ketua kelas dipanggil wali kelas. Jadi Reval ke ruang guru menemui Pak Syaiful. Sedangkan Dion nemenin Reval," jelas Noval.
"Ngapain, sih, pake minta ditemenin segala?"
"Kalau sendirian, takut diculik katanya," kekeh Noval.
"Hah? Gila! Mana ada yang mau nyulik cowok gede kekar begitu?"
"Hehe, males kalau sendirian katanya. Dion, kan, istrinya, jadi, ya, harus setia menemani, dong," kata Noval dengan nada bicara dan gaya memperagakan gaya ala-ala banci kaleng gitu.
Noval dan Marcel terbahak sambil memasukkan makanan mereka ke dalam mulut.
Beberapa menit kemudian Reval dan Dion sampai di kantin.
"Ngapain wali kelas manggil lo, Re?"
"Biasa lah, Cel, mau nanyain tentang urusan kelas."
"Owh."
"Cel, nanti pulangnya lo naik apa?"
"Nggak tahu, paling nebeng Noval. Val, lo bawa motor, nggak?" tanya Marcel pada Noval.
"Bawa, kok," sahut Noval sembari memberi anggukan mantap pada Marcel.
"Ok, nanti tungguin gue, ya?" kata Marcel yang dijawab acungan jempol oleh Noval.
***
Sebelum ke kelasnya, Marcel menyempatkan diri ke kelas Kiki. Tinggal beberapa siswa saja di kelas Kiki. Yang lainnya masih entah di mana, mungkin masih di kantin atau di tempat lain.
"Hai, lo Kiki, kan?"
"Iya, kok, lo tahu?"
"Iya tahu, dong, masa nggak tahu, sih, kan, gue sudah lama memperhatikan lo," ucap Marcel.
Kiki terdiam. Sepertinya kalimat Marcel membuat Kiki curiga. Dia menatap Marcel dari ujung kepala sampai mata kaki, eh, ujung kaki. Lumayan cakep! What? Lumayan? Ganteng banget kali, Ki!
"Terus, lo mau apa?"
"Pengen dekat aja sama lo."
"Tujuannya?"
"Ya, siapa tahu aja, kita cocok."
"Lo pengin jadi pacar gue, ya?"
"Kok, lo tahu?" tanya Marcel.
"Kan, tadi lo yang bilang, be**!"
Marcel bingung, tangannya mulai menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gimana? Lo beneran mau pacaran sama gue?"
"I, iya, Ki," jawab Marcel tiba-tiba gagu.
"Ok, lo diterima!" kata Kiki memberi keputusan.
"Apa?"
Demi soto ibu kantin beserta lontong-lontongnya yang enak banget, Marcel kaget sekali mendengar jawaban Kiki yang langsung menerimanya jadi pacar. Ini di luar dugaan. Marcel kira akan susah dekati Kiki, ternyata gampang pakai "banget"!
"Kenapa? Lo budeg, ya?"
"Lo langsung nerima gue jadi pacar lo?" tanya Marcel yang masih tidak percaya dengan semua kejadian ini.
"Iya. Emang kenapa? Lo nggak senang?"
"Lo nggak mau mikir-mikir dulu gitu?"
"Lo, tuh, ribet, ya! Ngapain pakai mikir-mikir segala? Kelamaan! Mending sekarang lo temenin aku makan!"
Deg!
Gleg!
Gawat, tuh, si Marcel. Belum apa-apa sudah mau diporotin sama Kiki. Pasti uang buat makanannya, Marcel yang diminta bayar.
"Ye, malah bengong, nih, anak! Mau nemenin, nggak?"
Terpaksa Marcel mengangguk cepat. Daripada nantinya Kiki berubah pikiran. Bisa gagal misi Marcel untuk jadi pacar Kiki.
***
Marcel menghentikan langkahnya saat dia melihat Kiki yang masih terus berjalan melewati kantin. Mau ke mana, tuh, anak?
"Ki, lo mau ke mana? Ini, kan, kantinnya?"
"Yang bilang ini rumah nanasnya spongebob, siapa?"
"Terus, lo mau ke mana? Katanya tadi lo mau makan?"
"Iya, tapi nggak di kantin sekolah. Lagian, kan, gue nggak bilang makan di sini," jawab Kiki dari tempatnya berdiri.
"Terus makan di mana?"
"Di kolong jembatan! Ya, di restoran lah!" geram Kiki.
"Maksud lo, kita bolos gitu?"
"Iya," sahut Kiki singkat.
"Gila! Lo berani bolos? Yakin?"
"Elaaaah, sekali doang! Kenapa? Lo takut? Cemen!" cibir Kiki.
"Nggak, gue nggak takut!"
Sumpah! seumur hidupnya, Marcel nggak pernah kepikiran bakalan berurusan dengan cewek model kayak begini. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur - eh, mungkin lebih tepatnya lebih encer dari bubur - Marcel sudah terlanjur jadian sama Kiki.
Kiki yang menunjukkan arah menuju letak restoran yang dia mau. Dalam hati Marcel terus berdo'a, semoga Kiki tak memilih restoran mahal. Uang Marcel, kan, pas-pasan. Boro-boro makan di restoran, jajan di kantin saja jarang. Biasanya kawan-kawannya yang mentraktir dia.
Marcel dan Kiki sudah sampai di parkiran restoran. Tapi bukannya masuk ke restoran, Kiki malah diam mematung. Kenapa lagi anak itu?
"Kok, diem?"
Ok, kali ini Marcel pikir Kiki ada benarnya. Kan, memang seharusnya dia yang membukakan helm yang dipakai Kiki. Biar so sweet gitu! Kan, baru aja jadian.
Saat masuk restoran, Kiki meminta Marcel memesankan makanan untuknya. Ini gue dijadiin pacar apa babu, sih? Batin Marcel.
"Eh, pesenin gue soto, ya?"
"Soto? Kalau lo cuma mau makan soto, di kantin sekolah kita, soto Bu Susi (ibu kantin) juga enak, kan, kenapa harus ke sini, sih?"
"Ih, ribet banget, sih, lo! Gue, tuh, bosan masakannya Bu Susi! Lagian gue juga pengin bolos aja!"
"Pengen bolos aja, dia bilang? Apa ini hobi, nih, cewek? Jangan-jangan gue salah pilih cewek, nih!
Marcel benar-benar nggak paham jalan pikiran cewek satu ini. Marcel cuma bisa geleng-geleng sambil berjalan mendekati kasir, memesan makanan buat Kiki. Catet! Cuma buat Kiki. Marcel takut uangnya nggak cukup bayarin makanannya Kiki, makanya dia tidak memesan makanan untuk dirinya sendiri. Rela, deh, kelaparan, daripada malu uangnya nggak cukup. Gengsi, dong, di depan pacar!
Setelah memesan makanan, Marcel duduk di hadapan Kiki.
"Lo pesenin gue apaan?" tanya Kiki.
"Lo mau soto, kan?" kata Marcel balik bertanya.
"Makanan buat kamu?"
Marcel menggeleng.
"Terus minumnya apa?"
"Aku lupa!"
"Mana ada nama minuman aku lupa!" protes Kiki bermaksud menyindir Marcel. Marcel hanya mendengus kesal tanpa menjawab apa pun.
"Ternyata kamu, tuh, beneran be**, ya! Tadinya gue, tuh, cuma asal, ngatain lo be**, ternyata malah benar. Percuma, ya, gue minta lo yang pesenin. Ujung-ujungnya, gue juga yang turun tangan," kata Kiki bersungut-sungut.
Setelah puas memarahi Marcel, Kiki memberi kode pada waiter agar mendekat.
"Mas, pesan soto satu lagi, sama es teh dua, ya."
"Haduuuu, ngapain, sih, dia pakai pesan makanan buat gue juga? Uang gue nggak akan cukup," batin Marcel.
Diam-diam Marcel menghitung sisa uang jajannya.
"Eh, lo kenapa, sih, kayak cemas gitu?"
"Ng... Nggak apa-apa," jawab Marcel sembari geleng-geleng.
"Lo nggak usah khawatir, gue, kan, sudah bilang tadi, gue minta lo nemenin gue makan, jadi gue yang bayarin," tukas Kiki.
"Dan masa iya, lo ikut gue cuma ngelihatin gue makan? Gue nggak setega itu juga, kali! Lagian gue nggak suka kalau dilihatin pas gue lagi makan," imbuh Kiki.
Marcel nggak menyangka Kiki akan berkata begitu. Tapi syukur lah, Marcel lega mendengarnya.
"Eh, nama lo siapa?"
Gila! Sudah sejak tadi diterima jadi pacar, baru tanya nama sekarang?
"Marcel!"
"Ok, Cel, gue pengen lo janji sama gue."
"Janji? Janji apa?"
"Janji lo nggak bakalan ninggalin gue, bagaimana pun keadaannya."
"Iya, gue janji," sahut Marcel tanpa berpikir dua kali.
"Janjinya yang benar, dooong! Yang lengkap gitu!"
"Iya, gue janji, gue nggak bakalan ninggalin lo, bagaimana pun keadaannya," ulang Marcel.
"Ok, gue percaya sama lo!"
"Mm... Ngomong-ngomong, lo kenapa mau jadi pacar gue?" tanya Kiki.
Deg!
Pertanyaan Kiki kena banget. Marcel mau pacaran sama Kiki, kan, cuma karena Marcel punya misi rahasia. Sebenarnya dia sama sekali nggak naksir sama Kiki. Bingung, deh, tuh, si Marcel! Syukurin! Makanya, anak orang jangan dijadikan mainan!"
"Kok, diem?"
"Mm... Anu, a, aku suka sama kamu," jawab Marcel terbata-bata.
"Gitu doang?"
"Terus, apa lagi?"
"Ya, alasan apa, kek, gitu, yang bisa bikin kamu yakin sama aku?"
"Karena kamu cantik!" dusta Marcel. Dan bodohnya, Kiki langsung percaya jawaban Marcel.
"Terus apa lagi?"
"Mm... Apa, ya?" Marcel mencari-cari alasan lain. Untungnya, waiter datang mengantarkan pesanan mereka. Kali ini Marcel selamat!
***
Jalanan dipadati kendaraan dengan segala jenis, bentuk dan ukuran. Mulai dari mobil-mobil pribadi bos-bos kantoran, angkot, ojek, bis, becak, taksi, bahkan pedagang kaki lima yang siap berjualan nanti malam sudah berangkat ke tempat mangkalnya ikut serta memadati jalanan. Marcel masih pada rencana awalnya. Yaitu nebeng ke Noval. Sekarang dia sudah berada di boncengan Noval yang menyetir. Dan sekarang, mereka terjebak macet.
"Cel, lo yakin bisa pacaran sama, tuh, cewek?"
"Kenapa, sih, lo, khawatir banget gue nggak bisa?"
"Nggak apa-apa, cuma dia itu nampik orangnya," sahut Noval agak ragu.
"Katanya, kan, dia suka cowok ganteng. Emangnya gue masih kurang ganteng? Apa masih belum bisa dibilang ganteng?"
"Lo, sih, ganteng. Tapi.." kalimat Noval menggantung.
"Val, maksud lo, dia matrek?" tebak Marcel.
"Nah, itu dia yang gue takutin. Gue, sih, sempet dengar dulu kalau dia juga matrek."
"Gue juga sempat dengar hal itu, tapi nggak, kok, tadi gue dibayarin makan sama dia. Mana ada cewek matrek bayarin cowoknya makan. Iya, kan?"
"Bayarin cowoknya? Lo sudah jadian sama dia? Kapan?" tanya Noval antusias sekaligus penasaran.
"Tadi setelah dari kantin, gue ke kelasnya dia, niatnya mau pe de ka te sama dia. Eh, malah jadi jadian. Parahnya lagi, tadi dia ngajak gue bolos. Dia ngajak gue makan soto di restoran di luar sekolah. Makanya tadi jam pelajaran setelah istirahat gue nggak bisa masuk kelas. Gila banget, kan, tuh cewek? Untung aja dia mau gue bujuk balik lagi ke sekolah, makanya gue bisa ikut jam pelajaran terakhir."
"Pantesan tadi lo sempat nggak ada. Gue kira lo ke mana. Nggak tahunya bolos. Untung saja tadi setelah istirahat nggak ada gurunya. Kalau nggak, itu si Nency (sekretaris kelas) sudah siap dengan buku absennya."
Jalanan sudah mulai kembali normal, Noval melanjutkan menyetir mengantarkan Marcel pulang.
***
Ciiitt
Sepeda motor Noval telah sampai di pelataran rumah Marcel. Mami Marcel sedang duduk di teras depan rumahnya sedang merajut. Marcel mendekat dan mencium punggung tangan maminya setelah mengucapkan salam. Sebuah pemandangan yang sangat jarang terlihat retina Noval. Seorang Marcel yang garang di sekolah, ternyata bisa sesopan dan santun itu dengan maminya.
"Baru datang, Nak?"
"Iya, Mi."
"Val, nggak mampir dulu?"
"Lain kali ya, Mi. Sekarang aku lagi buru-buru," tolak Noval.
"Ow, iya, deh. Kalau ada waktu, main ya?"
"Iya, Mi, insyaallah. Noval pulang dulu, ya, Mi. Assalamualaikum," sahut Noval sebelum pulang.
"Iya. Waalaikumsalam," sambung mami Marcel.
Noval adalah sahabat Marcel sejak mereka kecil. Mami Marcel sudah dianggapnya ibu sendiri. Begitu pula sebaliknya. Marcel adalah anak sulung dari dua bersaudara. Adik ceweknya masih kelas satu SMP. Sejak papinya meninggalkan mereka karena seorang wanita pelakor, Marcel menjadi tulang punggung keluarganya.
- Bersambung -