MACKY

MACKY
23. Penyamaran Asa



Sejak tadi mulut Kiki tak henti-hentinya komat-kamit memakan snack di tangannya. Kalau snack kesukaan sudah dalam genggaman, tak ada satu orang pun yang akan kebagian. Tapi bukan berarti Kiki pelit. Dia memang begitu kalau masalah yang satu itu. Dia lebih rela membelikan snack yang sama untuk orang lain jika diperlukan daripada membagi apa yang sedang dia nikmati.


Sedangkan Masha-adik tiri Kiki masih fokus nonton acara kesukaannya di TV. Sampai-sampai dia tak sadar kehadiran Widya yang sekarang sudah duduk di sampingnya.


"Nonton apa, sih, seru banget kayaknya?"


"Itu, Nek. Doraemon," jawab Masha sambil menunjuk TV.


"Besok nenek ada pengajian di masjid dekat rumah," ujar Widya.


"Terus kenapa, Nek?" tanya Kiki sambil menjilati jari telunjuk dan jempolnya yang tadi dia pakai saat makan snack.


"Ih, Kak Kiki. Cuci tangan dulu, kek, gitu!" protes Masha yang jijik melihat Kiki menjilati jarinya.


"Enak tahu!" sanggah Kiki tidak mau kalah.


"Iya, enak. Tapi jorok, ih!"


"Kok, bisa Kak Alex suka sama Kak Kiki, ya? Jorok gini," lirih Masha pada dirinya sendiri.


"Apa lo bilang?" sergah Kiki yang mendengar Masha bicara sesuatu. Masha menggeleng sambil nyengir ala Pepsodent.


"Gini, mumpung kalian lagi liburan di sini, gimana kalau kalian ikut nenek ke pengajian besok?" tawar Widya.


"Mm.. gimana, ya, pasti membosankan, kan, Nek?" tanya Kiki.


"Ya iya lah, Kak. Pasti itu," sambung Masha.


"Eeh, kata siapa? Nggak, kok. Malahan seru banget. Kalian bisa tahu sesuatu yang belum kalian ketahui sebelumnya," bantah Widya-nenek Kiki.


"Misalnya apa?" sambung Kiki.


"Ya, makanya besok kalian ikut nenek. Nanti juga kalian tahu, hal apa yang akan menambah pengetahuan kalian dan keseruan apa yang bisa kalian rasakan sebagai pengalaman buat kalian berdua," ujar Widya berusaha meyakinkan dua cucunya itu.


"Ok, kalau gitu, besok Kiki akan ikut ke pengajian," kata Kiki memutuskan.


"Masha juga akan ikut Nenek ke masjid," sambung Masha.


Widya tersenyum senang. Bujukannya berhasil.


***


Sore hari...


Kiki dan Masha belum bangun dari tidur siangnya. Suara ketukan terdengar di pintu depan rumah. Mau tidak mau, Widya yang harus membukakan pintu untuk tamu itu.


"Hai, Nek!" sapa tamu itu pada Widya.


"Alex?"


"Iya, Nek."


"Salam dulu, kek, kalau bertamu ke rumah orang!" titah Widya.


"Oiya, lupa. Assalamualaikum," ucap Alex lalu mencium punggung tangan Widya.


"Waalaikumsalam. Ayo duduk!"


Alex duduk di sofa sesuai permintaan Widya sebelumnya. Widya pun ikut duduk tak jauh dari Alex.


"Kamu mencari siapa dan ada perlu apa ke sini?" tanya Widya to the point.


"Perlunya cuma mau main, kok, Nek."


"Mau ketemu siapa?"


"Kiki ada?" tanya Alex sembari celingukan melihat ke dalam.


"Bukankah kamu kakaknya Masha, ya?"


"Oiya. Maksud aku Masha, Nek," gugup Alex nyengir.


Widya tetap memasang ekspresi datarnya. Tak terpengaruh dengan cengiran Alex yang sama sekali terlihat pura-pura.


"Tunggu sebentar. Akan saya panggilkan," ujar Widya yang bangkit lalu meninggalkan Alex di ruang tamu sendirian. Angin yang berembus terasa dingin menyelimuti tubuh Alex.


Tambah ke sini, Widya terasa lebih menyeramkan di mata Alex. Alex sampai mengedikkan bahunya. Ngeri sendiri. Padahal Widya bicaya baik-baik dengan nada biasa saja, bukan membentaknya.


Tak lama kemudian Masha dan Kiki menemui Alex sembari menguap.


"Ih, bau, Ki!" protes Alex sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.


"Gue kangen-,"


"Hah? Lo kangen sama gue?" pekik Kiki memotong kalimat Alex.


"Gue kangen sama Masha lah, bukan sama lho!" dusta Alex yang gengsi mengakui kalau dirinya juga merindukan Kiki.


"Owh, kirain. Syukur lah, kalau gitu," ucap Kiki.


Kiki celingukan melihat ke arah dalam rumah.


"Cari apa, Ki?" tanya Alex.


"Cari Nenek. Nenek mana, ya, dari tadi nggak kelihatan. Lo lihat Nenek gue, nggak?" jawab sekaligus tanya Kiki pada Alex.


"Loh, bukannya tadi lo dibangunin nenek lo?" bingung Alex.


A'o! Jangan-jangan, tadi Asa nyamar jadi Nenek di depan Alex, batin Kiki bermonolog.


Aduuuh, Asa. Gue harus bilang apa ini? Tambahnya lagi.


"Assalamualaikum, eh, ada Alex. Sudah lama?" sapa Widya yang baru datang.


"Nggak juga, Nek. Nenek dari mana? Kapan lewatnya? Apa lewat belakang, ya?"


"Nggak, nenek lewat sini tadi, bukan lewat belakang rumah. Kenapa? Tadi nenek dari rumah tetangga depan," jelas Widya.


"Terus tadi siapa yang bangunin Kiki sama Masha?" tanya Alex tambah penasaran.


"Nenek nggak tahu," jawab Widya singkat.


"Itu Masha kenapa tidur di sofa?" tanya Widya yang baru saja melihat Masha tertidur di sofa.


"Pantas ini anak nggak ada suaranya sejak tadi. Ternyata lanjut molor di sini, dasar bocah!" ujar Kiki.


"Nenek masuk dulu, ya," pamit Widya yang lantas masuk ke dalam.


"Ki, gue pulang dulu, ya," pamit Alex.


"Ok. Makasih sudah datang," balas Kiki.


Terus tadi yang bangunin Kiki sama Masha siapa, dong! Jangan-jangan.. pantas saja tadi ekspresi wajahnya datar banget, pucat dan hawa ruangan jadi dingin banget. Itu sudah pasti bukan manusia, batin Alex bergidik sambil jalan keluar pekarangan rumah Widya.


"Sha, bangun. Pindah ke kamar aja, yuk!" ucap Kiki membangunkan Masha. Masha bangun dan berjalan menuju kamar dengan mata belum terbuka sempurna. Kiki menjaganya hingga sampai di kamar dengan aman agar Masha tidak menabrak apa pun.


Sesampainya di kamar, Kiki bertemu Asa.


"Sa, mending lo sekarang jujur, deh, sama gue. Tadi lo, kan, yang nyamar jadi Nenek gue?"


Asa nyengir, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam legam.


"Gigi lo jelek. Cepat ganti!" suruh Kiki.


Asa lantas mengubah tampilan giginya berwarna putih bersih.


"Gini, Ki. Tadi pas Alex ngetuk pintu, Nenek lo nggak ada. Sedangkan lo dan Masha masih enak-enakan molor. Jadi mau nggak mau gue yang bukain pintunya. Makanya gue nyamar jadi nenek Widya. Nyamar jadi lo atau Masha nggak mungkin, kan?" jelas Asa.


"Tapi penyamaran gue tadi lumayan, kan? Nggak ketahuan Alex?" tanya Asa memastikan.


"Tadinya, sih, aman-aman aja. Meskipun hampir gue yang bocorin rahasia lo itu, tidak sengaja. Lo nggak bilang ke gue, sih. Harusnya lo bilang, biar gue tahu duluan. Tapi kemudian Nenek datang. Terbongkar rahasia lo. Abisnya Alex tanya macam-macam gitu, mungkin dia jadi super kepo gitu, gara-gara agak aneh kejadiannya."


"Terus?"


"Terus dia pamit. Mirip orang yang sedang ketakutan gitu. Tapi nggak sampai pipis di celana, sih," jawab Kiki sambil nyengir.


"Kayaknya dia sudah bisa menyimpulkan, deh, kalau Nenek Widya yang dia temui itu bukan manusia," lanjut Kiki.


"Syukur lah."


"Syukur lah apanya? Kan, sudah ketahuan kalau itu bukan Nenek."


"Ya, syukur Alex sudah pulang. Daripada dia pingsan lama-lama di sini."


"Owh, itu."


Asa dan Kiki terbahak.


Bersambung...