MACKY

MACKY
28. Surat Dari Vera



Perasaan Kiki campur aduk saat ini. Sedih bercampur senang. Senang karena punya kelas baru dan bisa sekelas dengan Marcel, sang pujaan hati. Pacar kesayangan, hehe. Sedih juga karena tidak bisa sekelas lagi dengan salah satu sahabat karibnya yaitu Ratu.


Kiki memandang ke seluruh penjuru kelas. Teman-teman sekelasnya terlihat bahagia. Kiki jadi menarik salah satu ujung bibirnya. Sedikit terhibur melihat kekocakan teman-teman barunya itu.


"Kenapa, Ki? Lo masih sedih, Ratu nggak bareng kita lagi?" tanya Cila mengambil perhatian Kiki.


Kiki mengangguk melihat Cila.


"Jangan sedih, Ki. Kita, kan, masih bisa main kalau sudah jam istirahat," hibur Cila.


Kiki terdiam. Dia merasa tidak yakin. Kiki yakin, Ratu akan punya sahabat baru di kelasnya. Dan dia pasti akan melupakan dirinya dan Cila seiring berjalannya waktu karena dia pasti sibuk dengan sahabat barunya.


Cila melambaikan tangannya di depan wajah Kiki, membuyarkan lamunannya.


"Ngelamun aja lo, Ki."


"Semoga aja, ya, La," harap Kiki.


"Semoga apa?" tanya Cila yang tulalitnya kumat.


"Kata-kata lo tadi, La."


"Yang mana?"


Kiki menghela napas kuat-kuat. Berusaha mengumpulkan kesabarannya menghadapi sahabatnya yang satu ini. Kiki bisa saja marah pada Cila, tapi Kiki nggak pernah tega marah padanya. Kiki sangat menyayangi kedua sahabatnya itu. Jadi dia lebih memilih sabar daripada menyakiti hati sahabatnya.


"Tadi lo, kan, bilang, Kita masih bisa main kalau sudah jam istirahat sama Ratu," kata Kiki mengulangi perkataan Cila.


"Owh, yang itu. Iya, Ki. Jadi, lo nggak usah khawatir, ya?"


Kiki mengangguk. Lo nggak pernah tahu apa yang gue takutkan, La. Batin Kiki.


"Marcel!" panggil Angel dari pintu kelas.


Marcel yang dipanggil pun menoleh ke arah Angel. Marcel lantas ingat kalau di kelas ini juga ada Kiki. Kiki hanya melirik Angel tak peduli. Masa bodo lah dengan Angel. Hati Kiki masih sedih saat ini, tidak mau membesarkan masalah kecil.


Marcel cepat-cepat menarik Angel menjauh dari kelas.


"Duuh, lo ngapain, sih, nyariin gue ke kelas? Gue, kan, sudah bilang sama lo, jangan samperin gue ke kelas. Kabarin dulu lewat WA kalau mau ketemu gue. Ngerti?" omel Marcel pada Angel.


"Gue pengin es krim, Cel!" rengek Angel seperti anak TK.


"Apa? Jam segini? Ini masih pagi, Ani!"


"Namanya juga lagi pengin," kekeh Angel.


"Lo kayak orang ngidam tahu, nggak?"


Perkataan terakhir Marcel berhasil membuat Angel tertegun.


"Ya sudah, nanti jam istirahat. Dan satu lagi, jangan pernah samperin gue lagi ke kelas. Awas kalau ngeyel!"


"Emang kenapa, sih, biasanya juga begitu, kan?"


"Nggak. Mulai saat ini nggak boleh." tegas Marcel.


"Iya, iya," sahut Angel akhirnya mengalah. Meski dengan manyun dan memutar bola matanya.


"Sana, ke kelasmu saja!" titah Marcel pada Angel.


Angel menuruti perintah Marcel begitu saja. Daripada tidak dibelikan es krim, kan, mending pasrah saja.


Setelah Angel berbalik arah pergi ke kelasnya, Marcel masuk kembali ke dalam kelas. Marcel melirik Kiki yang terlihat masih anteng saja di tempatnya.


Tak lama kemudian, wali kelas mereka datang ke kelas. Waktunya membuat struktur kelas yang baru. Ada beberapa anak yang dipilih menjadi kandidat ketua kelas. Ada Marcel, Kiki dan seorang siswa cowok lain.


Setelah pembentukan struktur kelas lainnya, wali kelas meminta sekretaris menulis jadwal pelajaran di papan tulis. Semuanya lantas mencatat tanpa dikomando lagi.


***


Jam istirahat...


Beberapa siswa sudah keluar kelas lebih dulu. Mungkin ke kantin. Kiki hanya melihat teman-temannya yang berlalu lalang di depannya. Tiba-tiba terdengar suara perut yang keroncongan. Kiki dan Cila saling berpandangan. Cila nyengir karena sadar perutnya yang berbunyi.


"Lo lapar, La?" tanya Kiki pada Cila.


Cila mengangguk. "Iya. Gue lapar banget, Ki. Lo nggak mau ke kantin, Ki?" tanya Cila.


"Gue malas ke kantin. La," ucap Kiki dengan lemas.


"Ya sudah, kalau begitu titip ke gue aja. Lo mau makan apa?" tawar Cila.


"Benar, gue boleh titip?" tanya Kiki memastikan.


"Iya. Ayo sebutkan buruan!" desak Cila.


"Ya sudah, gue titip batagor aja, ya. Ini uangnya," ucap Kiki seraya menyerahkan uang lima ribuan pada Cila.


Cila menerima uang itu lalu pergi ke kantin.


"Ini apa?" tanya Reval agak nyaring terkejut menemukan lembaran putih di dalam tas ranselnya. Lalu membacanya.


Kiki yang mendengar teriak Reval, menoleh ke arah Reval yang sedang membaca surat itu. Kiki membulatkan matanya sempurna. Kiki lantas teringat surat yang dia selipkan ke dalam tas Reval tempo hari. Surat yang berisi pesan dari Vera, hantu penunggu kelas Kiki yang lama. Ternyata surat itu baru Reval temukan.


"Apa, Re?" tanya Noval ikut penasaran melihat kertas itu.


"Surat," jawab Reval singkat.


"Surat dari siapa?" Sambung Dion.


"Di sini, sih, ditulis dari Vera. Emang seangkatan kita, ada yang namanya Vera, ya?" jawab sekaligus tanya Reval.


"Owh, gue ingat!" pekik Dion mengagetkan Reval, Noval dan Kiki yang masih menguping percakapan Reval dan teman-temannya.


"Nggak pakai teriak juga kali, Nyet! Ngagetin aja lo!" ujar Reval.


"Ya sudah, cepat ayo cerita sekarang!" suruh Noval pada Dion.


"Gue ingat, di kelas X IPS 2 dulu ada yang namanya Vera. Mungkin surat itu dari Vera yang itu. Secara di sekolah kita, kan, nggak ada yang namanya Vera selain dia," jelas Dion.


"Bisa jadi, sih. Tapi gue belum tahu yang mana anaknya," ujar Reval.


"Kira-kira, sekarang Vera masuk ke kelas apa, ya?" sambung Noval.


"Gue juga nggak tahu," timpal Dion sembari menggelengkan kepalanya.


"Apalagi gue," tambah Reval.


"Ya sudah, kalau begitu. Gue mau cari si Vera ini ke kelas lain. Pasti ketemu, kan. Kalau bukan di kelas XI IPS 1, pasti kelas XI IPS 3," ujar Reval melihat ke arah Noval dan Dion bergantian. Kedua sahabatnya itu kompak mengangguk mengiyakan ucapan Reval.


"Ya sudah, kalau lo mau cari si Vera itu, kita ke kantin aja nyusul si Marcel," ujar Dion yang diiyakan Noval.


Kiki tadi sempat melihat Marcel buru-buru keluar kelas saat jam istrirahat berdering kencang tanpa mengajaknya. Kiki yakin Marcel pasti ke kantin mengajak Angel atau cewek lain. Dasar Marcel!


Maka dari itu, mood Kiki tambah rusak. Tambah tidak semangat ke kantin. Paling nanti dia hanya akan melihat Marcel dengan cewek lain. Ujung-ujungnya kalau ditanya, pasti dijawab "hanya teman". Maka dari itu, Kiki lebih baik di kelas saja, dari pada sakit hati, kan. Kasihan Kiki!


Bersambung...