MACKY

MACKY
12. Air Matamu



Tanti menemui Kiki yang baru pulang sekolah di kamarnya, merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Matanya baru saja Kiki pejamkan. Lelah sedang menggantungi tubuhnya. Seragam sekolah belum sempat dia lepas, tapi dia sudah tak kuat untuk menggantinya.


"Kin, Tante mau minta tolong, dong!"


"Bisa nggak, sih, Tan, ketuk dulu sebelum masuk kamar Kiki?" sahut Kiki masih dengan mata terpejam.


"Ok, sorry, lain kali nggak akan Tante ulangi, ya? terus gimana, nih, mau bantuin Tante nggak, soalnya Masha pulangnya sore, dia mampir ke rumah temannya ngerjain tugas kelompok, katanya."


"Bawel banget, sih. Nggak lihat apa, Kiki masih pakai seragam gini? Kiki mau ganti baju dulu!"


"Oiya, ok. Nanti biar diantar Alex, ya?"


"Emangnya mau minta tolong apaan, sih?"


"Tante mau bikin kue, tapi ada beberapa bahan yang kurang dan lupa tante beli. Jadi mau minta tolong kamu yang beli, ya?"


"Iya. Ya udah keluar, Kiki mau ganti baju dulu." Kiki bangun, turun dari ranjang.


Ke mana-mana ditemani Alex, kapan kuliahnya, tuh, anak kalau nganterin gue terus? Atau jangan-jangan, Tante Tanti mau ngejodohin gue sama anaknya. Oh, big no! Nggak mungkin. Sebenarnya Kiki nggak pernah suka kalau ke mana-mana dianterin atau ditemani Alex.


***


Marcel sudah bersiap diri untuk mengantar Ani ke toko buku guna membeli beberapa buku untuk membantunya belajar untuk mengikuti UAS. Saat ini Marcel sudah sampai, berdiri di depan pintu utama rumah Ani saat Ani keluar dari pintu itu.


"Eh, sudah di sini rupanya!"


"Gimana, sudah siap?"


"Iya, sudah siap dari tadi malah."


"Ya sudah, yuk, kita berangkat!"


"Selain ke toko buku, kita akan ke mana lagi?" tanya Ani setelah duduk di dalam mobilnya. Marcel meninggalkan motornya di rumah Ani.


"Mungkin makan eskrim di mal, hehe, gue lagi pengin makan eskrim."


"Owh, ternyata lo suka eskrim juga?"


"Banget! Lo suka rasa apa?" tanya Marcel.


"Stroberi atau coklat. Lo?


"Cappuccino."


"Tapi gue juga suka, tuh, cappucino. Secara gue, kan, pecinta kopi juga."


"Oiya? sama, dong! Gue juga pecinta kopi. Kalau lo paling suka kopi apa?"


"Kopi apa aja, sih, tapi gue paling suka kopi hitam. Lo?"


"Eh, sama lagi! Gue paling suka kopi hitam. Lo suka niru gue, nih, samaan terus dari tadi."


"Ye, gue nggak niru ya, hehe."


Mereka berdua tertawa bersama. Sepertinya mereka berdua sangat cocok. Mereka memiliki banyak kesamaan, khususnya dalam hal kesukaan.


Beberapa menit kemudian, Ani dan Marcel sampai di sebuah toko buku depan supermarket. Marcel membukakan pintu mobil Ani dan menggandeng Ani masuk ke dalam toko buku.


***


"Ki, sudah semua, kan? Nggak ada yang ketinggalan?"


Pertanyaan Alex tak mendapat jawaban. Alex memutar kepalanya melihat Kiki. Alex terkejut mendapati


Kiki dengan linangan air matanya.


Alex tak merasa telah menyakiti hatinya. Atau Alex sendiri yang tidak sadar, dia telah menyakiti Kiki?


"Lo nangis, Ki?"


Kiki menggeleng. Buru-buru Kiki mengusap air matanya. Dia menunduk menyembunyikan mata sembabnya.


"Gue salah apa, Ki?" Kiki menggeleng lagi.


"Ngomong dong, Ki. Gue jadi bingung kalau lo nggak bilang."


Kiki masih tetap saja diam.


"Ya sudah, terserah lo, deh. Sekarang kita pulang saja."


***


Kiki sedang asyik menonton TV di ruang keluarga. Tiba-tiba Alex datang duduk di dekat Kiki dan mengubah channel TV nya. Kebiasaan buruk Alex yang selalu buat Kiki kesal. Tapi itu dilakukan Alex supaya Kiki marah sama dia, setidaknya bicara lah sama Alex. Karena setiap Alex melakukan itu, Kiki pasti marah-marah sama Alex. Dan menurut Alex, Kiki terlihat lebih cantik dari biasanya saat Kiki marah.


Tapi kali ini berbeda dari biasanya. Kiki diam saja. Malahan dia beranjak hendak meninggalkan Alex di depan TV. Tapi tangan kiri Alex meraih lengan Kiki. Menahannya untuk tetap tinggal. Kiki duduk kembali ke tempat semula tanpa melakukan apa-apa. Kiki hanya tertunduk. Alex mengubah kembali channel TV sebelumnya, yang tadi ditonton Kiki.


"Gue cuma pengen lo bicara sama gue. Meski dengan marah-marah sekali pun. Jadi tolong, jangan tinggalin gue," mohon Alex.


Kiki menyandarkan punggungnya menatap TV. Terdengar helaan napasnya yang berat di telinga Alex.


"Apa yang membuat lo tadi nangis, Ki?"


"Lupakan saja apa yang sudah lo lihat tadi, ya, sekarang gue capek banget. Gue mau istirahat di kamar," jawab Kiki dengan nada lebih lembut dari biasanya.


Kiki meninggalkan Alex begitu saja dan Alex membiarkan Kiki pergi.


********************************


Kiki, Ratu dan Cila saat ini sudah duduk di bangku kantin. Tak lupa Kiki mengajak Marcel bersamanya juga.


Semua pesanan sudah tersaji di hadapan mereka. Tinggal perlakuan terakhir yang belum. Menyantapnya.


Sejak tadi Kiki memperhatikan Marcel yang terlihat agak murung, berbeda dengan biasanya. Rupanya ada masalah yang sedang ia hadapi.


"Ada apa, Cel?" tanya Kiki.


"Nggak apa-apa."


"Jangan bohong! Lo nggak pernah seperti ini di depan gue. Ayo cerita!" paksa Kiki.


"Benaran nggak apa-apa, kok, Ki."


"Ya udah, kalau lo nggak mau cerita."


Mendengar Marcel yang enggan terbuka padanya, akhirnya Kiki melanjutkan memakan batagor pesanannya yang sudah beberapa detik tak disentuh olehnya.


Kiki memasukkan potongan batagor itu ke dalam mulutnya sembari melihat Marcel di hadapannya. Itu membuat Marcel menjadi canggung.


"Lo ngapain, sih, liatin gue kayak gitu?"


"Ih, siapa coba yang liatin lo. Orang gue lagi makan," kilah Kiki.


"Iya, mulut lo emang lagi makan, tapi mata lo, tuh, ngeliatin gue terus dari tadi."


"Tahu dari mana lo, kalau gue ngeliatin lo?"


"Berasa, kok!"


"Terus kenapa kalau gue ngeliatin lo terus, nggak boleh gue lihatin pacar gue. Yang lain aja bisa sampai pegangan segala, tuh!"


Mendengar perkataan Kiki membuat Marcel sedikit tersindir. Tapi dia mencoba untuk tetap bersikap biasa saja. Berusaha tidak terpengaruh dengan perkataan Kiki.


"Ki, ada acara apa, nih, lo, kok, tumben-tumbenan traktir kita semua gini?" Tanya Ratu.


"Nggak apa-apa, gue lagi pengin traktir kalian aja, gue kangen. Kenapa? Kalian nggak suka gue traktir?"


"Wiiisss, selow girl, bukannya gitu, kita tanya aja. Kirain gue lo ada hajatan apa, gitu!" timpal Cila.


"Nggak, kok, emang lagi pengin ngumpul kayak gini aja. Udah lama, kan, kita nggak begini?"


"Iya juga, sih. Benar juga, sih, kata lo, Ki," sambung Ratu.


"Tuh, mereka sudah pada pergi. Sekarang, ayo cerita sama gue, apa penyebab lo murung hari ini?"


Marcel masih tetap diam. Dia merasa tak enak hati untuk menceritakan masalahnya pada Kiki. Karena bagaimana pun ini masalah pribadi Marcel dan Marcel merasa Kiki tak perlu tahu masalahnya yang satu ini. Karena ini juga menyangkut harga dirinya sebagai laki-laki. Itu, sih menurut Marcel.


"Apa gue perlu tanya penyebab lo kayak gini ke tiga sahabat-sahabat lo itu, hah?" paksa Kiki.


Marcel tersentak mendengar ucapan Kiki barusan. Dan kalau sampai dia tanyakan itu ke sahabat-sahabatnya, pasti lah sahabat-sahabatnya itu dengan gamblang menceritakan semuanya pada Kiki. Rasanya percuma juga Marcel menyembunyikan ini dari Kiki. Akhirnya Marcel pasrah, dan menceritakan masalahnya pada Kiki.


Marcel menghela napas berat.


"Udah, ayo cerita, nggak usah lama-lama, deh!"


"Iya, gue bakalan cerita!"


"Ya udah, cepat!" paksa Kiki.


"Jadi, gue, tuh, punya masalah-"


"Apaan?" Kiki menyela kalimat Marcel.


"SPP!" jawab Marcel spontan karena terkejut mendengar Kiki.


"SPP? Maksud lo, lo belum bayar SPP? Lo nggak punya duit?"


Marcel menaik turunkan kepalanya mengangguk sambil berkata, "Iya. Gue nggak punya duit."


"Terus kenapa lo nggak cerita ke gue, sih?"


"Gue.." jawaban Marcel menggantung.


"Lo malu pasti, ya?" tebak Kiki.


Marcel mengangguk berkali-kali.


"Makanya gue nggak bisa ambil kartu ujian dari wali kelas."


"Ya udah, lo tenang aja. Nunggak berapa?"


"Enam bulan."


Kiki tersentak kaget.


"APA? lo nunggak enam bulan? Jadi, lo sama sekali nggak bayar SPP selama satu semester ini?"


"Iya. Gue jadi tulang punggung keluarga sejak Papi meninggalkan kita semua karena wanita murahan itu. Sejak itu, gue kerja part time, gue pengin bantu keuangan keluarga gue. Tapi sejak adik gue masuk sekolah SMP, keuangan gue sudah nggak bisa terkontrol lagi. Lalu Mami mulai bekerja juga sabagai buruh cuci. Mungkin Mami tidak tega melihat gue banting tulang sendirian.


Penghasilan gue dari kerja part time itu nggak bisa mencukupi kebutuhan gue. Sebagian besar dari gaji gue, gue berikan pada Mami. Awalnya Mami menolak, tapi gue paksa Mami menerimanya. Sisanya gue  tabung, makanya gue jarang jajan di sekolah.


Uang saku yang diberi Mami juga gue tabung, tapi tetap saja tidak cukup.


Setiap kali Mami tanya, gue sudah bayar SPP apa belum, gue selalu bilang sudah. Padahal belum. Uang gue nggak cukup dan gue nggak tega yang mau minta uang SPP ke Mami. Makanya nunggak sampai sebesar ini."


 


"Ya udah, ya udah, nggak usah melow gitu, deh. Besok gue bawain buat lo."


"Lo tenang aja ya, Ki, gue bakalan ganti duit lo suatu saat. Gue janji."


"Udah, nggak usah lo pikirin. Yang penting lo bisa ikut ujian," ujar Kiki.


"Iya, makasih banyak, ya, Ki. Gue beruntung banget punya lo."


Tiba-tiba tiga sahabat Marcel tiba di kantin. Nimbrung ke meja Kiki dan Marcel.


"Ternyata lo di sini, Bro! Kita cariin tadi," kata Noval.


"Enak lo, ya, sudah kenyang!" protes Reval.


"Gratis lagi!" imbuh Dion.


"Asem lo pada! Ngapain, sih, ganggu gue?" ucap Marcel.


"Hm sombong, tuh, Val, temen lo!" ledek Reval.


"Iya, tuh, mentang-mentang sudah punya pacar, kita ditinggal teruuuus!" tambah Dion.


"Sudaaaaah, ya, nggak usah bawel, deh, kalian, sana buruan pesan kalau mau gue traktir!" ujar Kiki.


"Benaran, Ki! Yeeeeai asyiiiik!" sorak Dion.


Reval, Dion dan Noval kabur ke bu Sumi memesan soto kesukaan mereka.


"Kabur, yuk, Ki! Ayo Ki, cepatan!"


"Nggak, ah, gue nggak tega," tolak Kiki.


"Sudah, ayo!"


Marcel menarik tangan Kiki kabur dari kantin.


"Cel, lo jahat banget, sih, kasihan tahu mereka."


"Nggak apa-apa, sekali-kali mereka, tuh, harus dikasih pelajaran."


"Tapi gue benaran nggak tega sama mereka. Tadi lo nggak lihat apa, ekspresi mereka. Mereka sumringah banget, senang banget gue traktir."


Marcel terbahak sendiri. Kiki hanya melihat Marcel yang tertawa puas.


Mereka berdua berjalan menuju kelas. Tiba-tiba, Kiki menghentikan jalannya. Tangan kanannya memijat pelipis kanannya.


"Eh, Ki, lo kenapa?" tanya Marcel rada khawatir.


"Kepala gue tiba-tiba sakit."


"Kok, bisa?"


"Mungkin karena gue kurang tidur. Gue nggak bisa tidur semalam."


"Kenapa? Apa yang lo pikirin? pasti ada yang lo pikirin, kan?"


"Lo!"


"Apa? Mikirin gue?"


"Ngomong apa, sih, lo? Nggak lah, buat apa juga," pungkir Kiki.


"Owh, jadi gue salah dengar barusan. Ya sudah, ayo gue antar lo pulang aja."


"Iya, gue ambil tas dulu di kelas."


"Iya, gue juga sama."


Marcel memintakan izin pulang ke guru BK untuk Kiki dan dirinya karena dia juga akan pulang ke rumah setelah mengantar Kiki. Marcel yakin ketiga sahabatnya itu pasti mengeroyok dirinya kalau dia sampai bertemu mereka. Mereka tak mungkin menyalahkan Kiki, mereka pasti sudah yakin kalau ini semua ulah dirinya, bukan ide Kiki. Jadi, lebih baik dia kabur saja.


***


Kiki masih tertidur di punggung Marcel saat mereka sudah sampai di rumah Kiki. Untung saja Kiki tidak terjatuh dari sepeda saat dalam perjalanan.


"Ki, kita sudah sampai di rumah kamu," ucap Marcel membangunkan Kiki.


Kiki bergeming. Belum bisa dibangunkan Marcel. Marcel menggoyangkan tubuhnya untuk membangunkan Kiki, hampir saja Kiki terjatuh.


"Eh, Kiki kenapa?" tanya Alex yang baru keluar dari rumah karena mendengar deru sepeda Kiki sebelumnya. Namun Kiki tak kunjung masuk ke dalam rumah. Karena itu lah Alex keluar mencari tahu apa yang dilakukan Kiki di luar rumah.


"Tadi Kiki mengeluh sakit kepala. Sepertinya dia tertidur di punggung gue. Lebih baik lo bantuin gue, deh, nurunin Kiki dari sepeda."


Alex membantu menurunkan Kiki dari motor dan menggendongnya ke kamar Kiki.


-Bersambung-