MACKY

MACKY
10. Rahasia hati Kinanti



Pagi-pagi Kiki sudah siap untuk sekolah. Dia berjalan menuju ruang makan. Tadinya dia hendak minum sebelum berangkat karena merasa sangat haus. Namun di ruang makan keluarganya sedang sarapan.


"Ki, sarapan bareng dulu, yuk, sebelum berangkat. Kamu sudah lama sekali tidak pernah sarapan bersama di rumah sejak Mama Tanti tinggal di sini," ucap papanya.


"Tante Tanti, Pa," sahut Kiki sinis namun tetap duduk di kursi yang kosong. Memenuhi ajakan papanya.


Mama tirinya itu memasak masi goreng untuk sarapan. Dia menuangkan dua irus nasi goreng buatannya di piring Kiki. Kiki mulai bergerak menyendok nasi goreng dan akan memasukkannya ke dalam mulut. Tapi saat itu mata Kiki tidak sengaja menatap Alex yang juga menatapnya dengan tatapan nakalnya. Kiki dan Alex beradu pandang yang membuat Kiki risih dan ingin cepat-cepat menyelesaikan makannya.


"Pelan-pelan saja makannya," saran Tanti yang sama sekali tak diindahkan Kiki.


Selesai makan, Kiki mengambil tas yang sebelumnya dia letakkan di kursi yang dia duduki dan memakainya.


"Kiki berangkat, Pa," pamit Kiki.


"Ke sekolahnya diantar Alex saja, ya?" tawar Tanti.


"Nggak usah. Lagian aku nggak mau ngerepotin."


"Nggak ngerepotin, kok, lagian Alex kuliahnya agak siangan, kok."


Tak ada alasan lagi untuk Kiki menolak diantar Alex. Lagian dia juga malas berjalan ke pangkalan ojek terdekat dari rumahnya.


***


Kiki mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Kiki sama sekali tak tertarik untuk memulai perbincangan dengan Alex. Melihat wajah Alex saja rasanya Kiki sudah muak. Tapi Alex sering mencuri pandang pada Kiki.


"Nanti pulangnya lo telpon gue aja!"


"Nggak minat, makasih banyak."


"Jangan gitu, dong, gue, kan, cuma mau berbaik hati sama lo. Seenggaknya lo terima lah kebaikan gue."


"Gue nggak pernah minta lo baik sama gue. Jadi lo nggak perlu lakuin itu."


Alex meminggirkan dan menghentikan mobilnya.


"Tapi gue suka sama lo, Kin. Setidaknya kasih gue satu kesempatan, ya?" ungkap Alex sembari meraih tangan kanan Kiki. Kiki menepis pegangan tangan Alex.


"Udah, deh, kalau lo nggak niat mau nganter gue ke sekolah, mending gue turun aja di sini."


"Nggak, Kin, lo jangan turun, gue bakalan nganterin lo sampai ke sekolah."


***


Di ruang makan tinggal papa Kiki dan ibu tirinya yang masih menikmati sarapannya sambil mengobrol.


"Ma, Mama yakin meminta Alex mengantar Kiki? Setahu Papa, mereka itu nggak pernah akur. Kalau bertemu selalu saja bertengkar."


"Justru itu, Pa. Karena mereka nggak pernah akur, Mama pengin mereka menjadi lebih akur. Lagian sejak tinggal di sini Mama melihat perubahan sifat Alex. Dia sedikit demi sedikit berubah menjadi pemuda yang lebih baik dan bertanggung jawab. Mungkin itu semua disebabkan karena dia suka sama Kiki. Tapi itu, sih, dugaan Mama. Mama pernah lihat Alex menatap gadis yang dia suka dulu, sama persis dengan tatapannya terhadap Kiki. Makanya Mama berpikiran kalau Alex ada perasaan sama Kiki," jelas Tanti.


"Semoga saja dia tak menyimpan rasa terhadap Kiki," harap Papa Kiki.


"Memangnya, kenapa, Pa?"


"Mereka, kan, kakak adik sekarang, Ma."


Tanti menarik napas sembari berpikir. Perkataan suaminya tadi, ada benarnya juga. Meski sebenarnya di lubuk hati terdalam Tanti, Tanti ingin sekali menjodohkan Alex dan Kiki.


***


Alex tetap mengantar Kiki sampai ke sekolah. Meski disertai raut masam wajah Kiki yang sama sekali tak enak dipandang. Alex berusaha untuk tetap bersabar. Sesampainya di sekolah kiki turun tanpa sepatah kata pun. Dia terus berjalan menuju kelas di mana dia akan menuntut ilmu.


"Kenapa, Jeng, kok, wajahnya sudah masam gitu pagi-pagi?" goda Cila pada Kiki. Kiki tetap diam walau dia mendengar ocehan Cila. Dia tak tertarik untuk menanggapinya.


"Kenapa, La?" tanya Ratu.


Ratu melihat Kiki. Lalu duduk di sebelahnya.


"Kalau lo mau cerita, kita siap, kok, jadi pendengar setia buat lo," kata Ratu meyakinkan Kiki.


"Nggak ada yang mau gue ceritain ke kalian berdua. Bukan masalah yang penting, kok."


"Kok, gue nggak yakin, ya? Rasa-rasanya, itu penting banget, deh. Karena kalau nggak penting dan nggak berpengaruh buat lo, itu nggak akan bisa membuat lo semurung ini pagi-pagi," timpal Cila.


"Lo bener banget, La. Tapi nggak sekarang, ya, gue malas sekali membahas ini sekarang," jelas Kiki seraya menjatuhkan tubuhnya di meja.


"Kapan pun lo mau cerita, kita siap, ya," ujar Ratu seraya mengelus punggung Kiki.


Bel pun berdering dan tak lama kemudian guru mata pelajaran pertama tiba di kelas.


***


Setelah membeli makanan dari kantin sekolah, Kiki, Ratu dan Cila duduk di depan kelas sambil memakan makanan yang sudah mereka beli tadi sembari melihat siswa-siswi lainnya yang berlalu lalang. Tiba-tiba Kiki terdiam menatap sesuatu. Membuat kedua sahabatnya penasaran.


"Sstt, Kiki kenapa?" bisik Cila pada Ratu.


"Nggak tahu."


Ratu dan Cila mengikuti arah pandang Kiki. Akhirnya mereka berdua tahu jawaban dari apa yang membuat mereka penasaran.


"Owh, jadi Kiki melihat cowok itu!" sontak Cila berucap.


"Dia siapa?" sahut Ratu.


"Dia yang namanya Kamal. Cowok pinter plus paling ganteng sekelas dua belas."


"Owh, jadi dia cowok yang sering dibicarakan gadis-gadis di kantin tempo hari? Yang pakai tas ransel hitam itu, kan?"


"Iya, yang itu. Lo tahu sendiri, kan, kalau Kiki itu sukanya sama cowok yang pintar. Jangan-jangan, dia cowok yang diam-diam Kiki suka.


Oh iya, gue baru inget! Kiki, kan, pernah cerita ke gue waktu class meeting semester lalu, kalau cowok itu tidak cuma pintar dalam hal akademik, dia juga jago dalam hal olahraga.  Kiki pernah menonton cowok itu saat class meeting dan kelompok cowok itu yang memenangkan lomba vollynya. Tidak cuma itu, saat lomba debat bahasa inggris pun dia dan kelompoknya yang memenangkan lomba itu. Gue yakin, itu yang menambah rasa suka Kiki padanya. Tapi Kiki tak pernah mau cerita ke kita. Entah kenapa. Tapi gue yakin sekali Kamal orangnya," jelas Cila panjang lebar.


Jadi, bukan Marcel cowok yang dia suka. Alhamdulillah, batin Ratu.


"Ye, kok, malah diem, sih, lo, Ra?"


Ratu tersentak kaget, "Eh, nggak, kok, gue dengar, kok, lo ngomong apa."


"Lihat, tuh, Kiki sampai sekarang masih melototin cowok itu."


"Sudah, ah, nanti Kiki dengar kita ngomongin dia sejak tadi," bisik Ratu.


"Gue sudah dengar dari tadi kali, Ra. Kalian pasti ngomongin gue, kan?"


"Abisnya lo, sih, nggak pernah cerita ke kita tentang cowok yang lo suka," protes Cila.


"Gue cuma nggak mau banyak orang yang tahu tentang itu. Cukup gue dan tuhan gue yang tahu tentang hati gue," jelas Kiki.


"Tapi kita, kan, sahabat lo, Ki. Lo juga kita bagi rahasia kita. Ya, nggak, La?"


"Iya, bener, tuh, kata Ratu. Kita, kan, sahabat. Harus saling berbagi," sambung Cila menguatkan argumen Ratu.


"Tapi, kalian janji, ya, kalian nggak akan nyebarin berita ini?"


"Iya, kita janji," jawab Ratu dan Cila saling bersahutan.


-Bersambung-