MACKY

MACKY
21. Cella



Di rumah Widya-Nenek Kiki.


Ali, Kiki dan Masha sampai di rumah Widya. Ali menghentikan mobilnya di pelataran rumah ibunya. Kiki yang sudah tidak sabar ingin bertemu neneknya, berlari ke arah pintu rumah neneknya.


"Assalamualaikum," ucap Kiki.


Tak lama kemudian terdengar jawaban dari dalam rumah.


"Waalaikumsalam," sahut Widya seraya membuka pintu rumahnya.


"Ya Allah! Cucu nenek!" teriak Widya senang.


Kiki berhambur ke pelukan neneknya. Neneknya lebih mengeratkan pelukannya.


"Eh, ada Masha juga! Ayo masuk, masuk. Silakan duduk," ucap Widya.


"Ina! Ina!" panggil Widya. Dan Ina pun muncul dari dalam rumah.


"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Ina.


"Tolong buatkan minuman, ya!" suruh Widya.


Ina masuk kembali ke dalam, membuat minuman di dapur sesuai permintaan Widya.


"Kok, kalian nggak ngabarin nenek dulu, sih, kalau kalian mau datang? Kalau nenek lagi keluar rumah, gimana?"


"Ini, kan, ceritanya kita ngasih kejutan, Nek. Jadi, kita nggak ngabarin Nenek kalau kita mau datang, hehe," jawab Kiki.


"Hm jadi gitu. Tapi, kalian nginep di sini, kan?"


"Pastinya, dong," sahut Kiki.


"Masha juga nginep di sini, kan?"


"Iya, Nek. Kiki sama Masha mau liburan di sini," jelas Kiki.


"Bagus kalau gitu!" ujar Widya sumringah .


Beberapa menit kemudian Ina pun muncul dengan nampan berisi minuman dan camilan di tangannya.


"Silakan diminum," ucap Widya sambil membagikan gelas-gelas berisi minuman itu.


"Camilannya juga, nih, ayo!" Widya membuka toples camilan dan menyodorkannya ke arah putra dan cucu-cucunya.


***


Di depan TV dan sebungkus snack di genggamannya, Marcel menikmati waktu istirahatnya setelah lelah bekerja seharian di bengkel.


"Mas!" seru Cella yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah mas-nya.


Marcel menolehkan kepalanya melihat adiknya.


"Kenapa, Cel?" tanya Marcel pada Cella.


"Kak Kiki, kok, lama nggak main ke sini lagi, sih, Mas? Apa Mas Marcel sudah putus sama Kak Kiki?"


"Nggak. Mas Marcel nggak putus. Memangnya kenapa? Tumben lo nanyain Kak Kiki?"


"Cella kangen banget, Mas, sama Kak Kiki," keluh Masha.


"Lo kangen sama Kak Kiki?" ucap Marcel mengulangi perkataan Cella. Cella mengangguk berkali-kali meyakinkan Marcel.


"Tadi pagi Cella kira Kak Kiki yang datang. Ternyata Kak Angel. Cella nggak suka sama dia, Mas," ungkap Cella.


"Kenapa nggak suka?"


"Tampangnya garang, Mas. Pakaiannya aneh!" jawab Cella.


"Aneh? Itu bukan aneh namanya, Dek. Tapi emang style pakaian kayak gitu yang Kak Angel suka," terang Marcel.


"Nggak aneh gimana, masa rok adiknya yang dia pakai, Mas. Kan, kekecilan."


"Itu bukan kekecilan. Itu namanya rok mini, Dek," jelas Marcel sambil tertawa.


"Apalagi sepatunya. Panjang banget. Kebalikannya roknya, ya!" ucap Cella meminta dukungan Marcel atas pendapatnya.


"Itu namanya sepatu bot. Emang kamu nggak tahu?"


Cella menggeleng.


"Pokoknya Cella nggak suka sama dia, Mas," putus Cella.


"Alasannya apa?"


"Kan, tadi sudah Cella jelaskan, Mas. Lagi pula kelihatannya dia itu galak, Mas." Duga Cella.


"Kan, Cella belum kenal Kak Angel, jadi jangan menilai segala sesuatu dari tampang luarnya aja. Kenali dulu bagian dalamnya juga," saran Marcel.


"Jadi, Cella harus suka sama Kak Angel?"


"Maksud Mas itu, Cella jangan langsung tidak suka sama Kak Angel. Setelah Cella tahu, sifat Kak Angel aslinya seperti apa, baru Cella boleh putuskan, mau suka atau nggak suka sama Kak Angel. Ngerti?"


Cella mengangguk. "Cella ngerti, Mas."


Marcel meletakkan snack-nya di atas meja. Dia menyandarkan punggungnya di sofa sebelum terdiam. Cella bingung melihat mas-nya yang tiba-tiba terdiam, berhenti makan snack-nya.


"Mas kenapa?" tanya Cella.


"Mas ingat Kak Kiki. Mas jadi kangen juga sama dia," ujar Marcel jujur.


"Tuh, kan! Makanya, suruh dia main ke sini, dong, Mas!"


"Dia sedang apa, ya, saat ini?" tanya Marcel pada Cella.


"Ya, mana Cella tahu, Mas? Mending sekarang Mas telfon Kak Kiki, dong!" saran Cella.


"Lo benar, Dek!"


Marcel merogoh ponsel yang dia selipkan di kantong celana yang dia kenakan. Namun bukan lantas menelfon Kiki, justru dia terdiam.


"Kok, Mas diam aja? Nggak jadi nelfon Kak Kiki?" tanya Cella.


"Apa saat ini dia belum tidur? Mas takut dia sudah tidur."


Marcel malah jadi khawatir.


"Kalau nggak dicoba, kita bisa tahu dari mana?"


"Nanti Mas malah ganggu waktu istirahatnya." ragu Marcel.


"Coba aja satu kali. Kalau nggak diangkat, itu tandanya Kak Kiki sudah tidur," kata Cella.


"Ok, deh. Mas coba aja, biar nggak penasaran." putus Marcel.


Ddrrtt..ddrrtt..


Ponsel Kiki diatur mode silent. Untung saja lampu ponselnya menyala. Saat itu Kiki masih bersiap-siap hendak tidur.


Eh, ada telfon? Dari siapa malam-malam begini? Batin Kiki.


Kiki meraih ponselnya yang dia letakkan di atas nakas. Dibacanya nama yang muncul di layar ponselnya sebelum kedua matanya itu terbuka sempurna. Kiki senang sekali melihat nama itu. Secepat kilat Kiki menerima panggilan itu.


"Assalamualaikum," ucap Kiki lembut.


"Waalaikumsalam," sahut dari seberang saluran telepon.


Benar, kok. Tapi, kok, suaranya perempuan? Batin Kiki tidak bersuudzon lebih dulu.


"Ini dengan siapa? Dan ada perlu apa, ya?" tanya Kiki dengan sopan.


"Ada yang lagi kangen, Kak," sahut dari seberang lagi.


"Kangen? Siapa?" tanya Kiki yang sama sekali belum paham apa-apa.


"Aku dan kakakku."


"Kamu siapa?"


"Tebak, dong!"


"Setahu saya, yang punya nomor hp ini laki-laki, bukan perempuan."


"Laki-laki itu, siapanya Kakak?"


"Maaf, ya, ini sudah malam. Tolong jangan iseng. Saya mau istirahat. Saya tutup dulu."


Kiki hendak menutup panggilan itu sebelum Kiki mendengar teriakan dari seberang saluran telepon.


"JANGAN TUTUP DULU, KAK. INI AKU CELLA," aku Cella.


Kiki menahan jarinya untuk menutup telepon dan mendekatkan kembali ponselnya ke kupingnya.


"Cella? Adiknya Marcel?" tebak Kiki.


"Yups! Seratus lima puluh buat Kak Kiki. Kak Kiki memang pintar!" puji Cella.


Kiki tertawa kecil mendengar celoteh Cella.


"Ada apa, Sayang?" tanya Kiki pada Cella.


"Kak Kiki tanya aku apa tanya Mas Marcel?" tanya Calla memastikan.


"Tanya kamu lah," jawab Kiki.


"Kan, tadi sudah aku jawab. Aku dan kakakku lagi kangen sama Kak Kiki," ulang Cella.


"Kak Kiki juga kangen banget sama Cella."


"Bohong!" tuduh Cella.


"Kok, bohong, sih? Kak Kiki nggak bohong, kok. Kak Kiki jujur," bantah Kiki.


"Buktinya, Kak Kiki nggak pernah main lagi ke sini. Kalau benar kangen, pasti main, kan?"


"Owh, Kak Kiki sibuk ujian, Sayang."


"Benar begitu?"


"Iya, benar. Masa nggak percaya sama Kak Kiki?"


"Ujiannya selesai, kan?"


"Iya, sudah."


"Ya sudah, kalau gitu besok Kak Kiki main, ya, ke sini?"


"Iya. Insyaallah, ya," janji Kiki.


"Cella tunggu lho!"


"Iya, Sayang. Sekarang mana Mas Marcelnya?"


"Cie, Kak Kiki kangen juga, ya, sama Mas Marcel?" goda Cella.


"Mas Marcel masih di situ, kan?" tanya Kiki.


"Iya. Ini mau Cella kasih ke Mas Marcel hp nya."


Cella segera menyerahkan ponsel Marcel pada Marcel.


"Hallo, Sayang. Kamu belum tidur? Kita nggak ganggu lo, kan?"


"Baru mau tidur, kok. Kapan pun lo mau hubungin gue, itu sama sekali nggak mengganggu buat gue atau membuat gue jadi merasa terganggu. Justru gue jadi senang, dapat telfon dari lo," jelas Kiki.


"Makasih, Sayang. Gue juga sangat senang ngobrol sama lo."


"By the way, gue sekarang lagi di rumah Nenek."


"Hah? Ngapain?"


"Liburan lah, Sayang."


"Owh, terus masalah janji lo sama Masha, apa lo benar-benar mau main ke sini besok?"


"Iya, dong! Mana mungkin gue ingkar janji sama Cella. Gue nggak mau buat dia kecewa sama gue."


Cella yang menguping pembicaraan Mas dan pacarnya senyum-senyum bahagia mendengar Kiki akan menepati janjinya besok dan tidak ingin mengecewakan dirinya.


"Ya udah, rumah nenek lo dimana? Mau gue jemput, kan?" tawar Marcel.


"Besok gue kirim alamat rumah Nenek gue, ya," jawab Kiki.


"Ok, Sayang. Sampai jumpa besok, ya."


"Iya, Sayang. Assalamualaikum," ucap Kiki mengakhiri percakapan dengan kekasihnya.


"Horreee! Besok Kak Kiki akan datang ke sini!" sorak Cella sambil jingkrak-jingkrak kesenangan.


"Nguping aja, nih, anak!" sambar Marcel.


Mami Marcel yang mendengar kegaduhan di ruang keluarga segera keluar dari kamar dan mencari tahu hal apa yang menyebabkan kegaduhan tersebut.


"Ada apa ini?" tanya Mami Marcel dengan ekspresi wajah kagetnya.


Dengan enteng Cella menjawab, "ada yang kangen sama pacarnya, Mi."


"Siapa? Mas-mu?" tebak Maminya.


"Siapa lagi, Mi!" sambung Cella sambil cengengesan.


"Calon adik iparnya juga lagi kangen sama calon kakak iparnya," sindir Marcel, membuat senyum Cella semakin melebar.


"Kenapa senang sekali kamu, Nak?" tanya Mami Marcel yang sekarang sudah duduk di tengah putra-putrinya pada Cella.


"Gimana Cella nggak bahagia, Mi. Kak Kiki baik banget loh, Mi. Kak Kiki bilang dia akan nepatin janjinya sama Cella besok dan itu dia lakukan hanya supaya Cella nggak kecewa sama dia. Dia baik banget, ya, Mi?" celoteh Cella di depan Maminya.


"Tuh, kan, apa kata Mami. Kiki memang lebih baik daripada Angel. Dia tulus banget anaknya. Kamu beruntung sekali mendapatkan Kiki, Nak," papar Maminya menatap Marcel.


"Iya, Mi. Marcel sangat beruntung," ucap Marcel menyetujui pendapat Maminya.


"Jangan kecewakan apalagi membuat dia sakit hati, ya, Nak. Mami nggak mau kamu melakukan itu padanya, Nak," pesan Mami Marcel.


"Iya, Mi. Nggak akan Marcel lakukan semua itu," janji Marcel yang membuat hati maminya lega sekaligus senang.


Semoga saja rahasia Marcel tidak pernah Kiki ketahui, Mi, Marcel tidak ingin kehilangan dia, batin Marcel.


Bersambung...


Like, Guys 😊