
Hari ini guru jam pelajaran ketiga dan keempat tidak masuk, kabarnya karena sedang sakit. Tidak ada guru pengganti yang mengajar di kelas Kiki. Mungkin guru yang lain sedang sibuk juga dengan urusan mereka masing-masing.
Hanya guru piket yang datang ke kelas untuk memberi tugas. Siswa kelas XI IPS 2 diberi tugas merangkum bab satu. Dengan giat Kiki melaksanakan tugas tersebut. Kiki tampak fokus dengan apa yang sedang dia rangkum saat Vera-hantu penunggu kelas lama Kiki datang nyamperin Kiki di kelasnya.
Kiki tahu ada yang bergerak mendekatinya, maka Kiki menyudahi sejenak akivitasnya. Dia mengangkat kepala menoleh ke arah Vera.
Kiki terkejut dan langsung melihat sekeliling. Siswa di keas Kiki rupanya masih lengkap. Tidak mungkin kalau Kiki mengobrol dengan Vera secara gamblang di antara teman-temannya. Bisa-bisa ada yang memperhatikan Kiki dan langsung tahu kalau Kiki sebenarnya seorang gadis indigo.
Kiki hanya mengedikkan dagunya sedikit ke arah Vera, seakan bertanya "ada apa?". Vera yang mengerti maksud Kiki lantas berkata, "gue mau ngomong sama lo."
Kiki lantas bangkit dari duduknya meninggalkan buku dan alat tulis lainnya di meja. Kiki mengajak Vera menjauh dari keramaian. Kiki mengajak Vera ke belakang sekolah. Kelihatannya di sana sepi, tidak ada manusia lain selain dirinya. Mungkin siswa lainnya sedang ada pelajaran di kelas masing-masing. Secara ini, kan, masih jam pelajaran berlangsung. Jadi wajar saja kalau siswa-siswa masih anteng di kelas.
"Ada apa? Bukannya lo itu penunggu kelas lama gue, ya? Kok, lo bisa ada di kelas baru gue juga, sih? Sudah pindah tempat? Ada perlu apa sama gue?" tanya Kiki penasaran.
"Gue mau protes sama lo!" sahut Vera melipat tangannya di dada dengan memalingkan wajahnya ke lain arah.
"Protes? Protes apa? Emang kita ada urusan apa?" tanya Kiki yang masih bingung.
"Itu si Reval, kok, dia malah dekat sama Vera, sih? Bukannya nyariin gue?"
Kiki pura-pura tertawa ngakak. Padahal jelas sekali tidak ada yang lucu dengan ucapan Vera barusan. Itu cara Kiki saja agar terhindar dari kemarahan Vera.
"Kok, lo ketawa? Apanya yang lucu?" Vera mengernyitkan keningnya, jadi bingung melihat sikap Kiki yang agak aneh di matanya.
"Abis lo lucu, sih!"
"Lucu? Lucu apanya?" tanya Vera lagi.
"Ya lucu lah. Lo lupa, ya, lo itu, kan, hantu. Mana mungkin dia nyariin lo. Emangnya dia bisa lihat lo? Nggak, kan? Dia pasti salah paham. Dia pasti mengira, surat dari lo tempo hari itu, surat dari Vera yang itu," jelas Kiki agak ragu. Tapi dia tetap berharap Vera mau mendengarkan ucapannya.
"Terus gimana, dong? Gimana caranya biar Reval bisa tahu tentang gue?" tanya Vera.
"Gue nggak tahu, Ver," jawab Kiki sembari menggeleng.
"Gue nggak mau tahu, pokoknya lo harus bantuin gue. Reval harus tahu tentang keberadaan gue gimana pun caranya!" paksa Vera.
"Duh, gue kebelet, nih!" kata Kiki yang mau buru-buru kabur. Tapi Vera berhasil menarik kerah baju Kiki.
"Mau kabur kemana lo? hah?"
"Gue kebelet ini, Ver!" rengek Kiki pengin dikasihani.
"Janji dulu, lo bakalan bantu gue!"
Kiki terdiam. Tidak berontak lagi, sehingga Vera melepas kerah baju Kiki.
Duuuh, gara-gara nolongin hantu, nih, jadi panjang gini urusannya. Gimana caranya bilang ke Reval coba? Batin Kiki.
"Gak usah ngomong sama angin, deh! Ayo, cepat janji sama gue!" desak Vera.
"Gue bingung, Vera. Gimana caranya gue bilang sama Reval tentang lo?"
Vera menatap Kiki dengan tatajam tajam dan menyeramkan.
"Ya udah, iya. Gue bakalan coba bantu lo!" jawab Kiki pasrah, menyanggupi permintaan Vera.
"Ya sudah. Lo boleh kembali ke kelas lo!" ucap Vera.
Kiki hendak pergi ke kelas seperti yang dikatakan Vera tadi. Tapi lagi-lagi kerah baju Kiki kembali ditarik Vera.
"Iiih, kok, lo narik kerah baju gue lagi, sih?"
"Gue mau ngingetin lo," kata Vera masih memegang erat kerah baju Kiki.
"Apaan lagi, sih? Buruan, deh!" kata Kiki.
"Ingat, ya. Besok Reval harus sudah tahu tentang gue!" ucap Vera.
"Ayo janji, jangan bicara sama angin terus!"
"Iya, iya. Gue janji. Tapi gue nggak jamin Reval mau dengarin kata-kata gue, ya," ujar Kiki rada khawatir.
"Loh, kok, gitu, sih?" heran Vera.
"Reval, kan, manusia bernyawa. Dia bukan boneka yang bisa gue kendalikan. Ya, terserah dia, dong, percaya atau nggak sama gue!"
Vera melepas kerah baju Kiki.
"Ok, deh. Yang penting lo sudah berusaha."
"Nah, gitu, dong! Sekarang, gue boleh balik ke kelas, kan?" tanya Kiki memastikan, takut kerah bajunya ditarik Vera lagi.
"Iya. Buruan pergi sana!"
Kiki buru-buru ngacir ke kelas meninggalkan Vera sendirian di halaman belakang sekolah. Sambil berjalan ke kelas, Kiki memikirkan bagaimana caranya memberi tahukan Reval yang sesungguhnya tentang keberadaan Vera.
Sudah lah, nanti saja gue pikirkan di rumah gimana caranya, batin Kiki setelah mumet tidak kunjung menemukan ide, sambil terus berjalan ke kelas dan melanjutkan aktivitasnya merangkum pelajaran.
***
Di dalam kamar Kiki duduk di bibir ranjang. Beberapa detik kemudian dia rebahkan tubuhnya. Beberapa detik berikutnya lagi dia bangun kembali duduk. Begitu dia lakukan berkali-kali. Masha yang melihatnya jadi heran.
"Kak Kiki kenapa, sih? Tidur, bangun, tidur lagi, bangun lagi! Masha jadi pusing lihatnya, Kak!" ujar Masha menyita perhatian Kiki.
"Gue lagi bingung, nih, Sha. Bantuin gue, dong!"
"Bingung kenapa, sih, Kak. Baru juga masuk sekolah, sudah bingung aja," timpal Masha yang duduk di kursi meja belajar.
"Gini. Lo tahu, kan, kalau gue bisa lihat hantu?"
"Iya. Terus kenapa?" tanya Masha lagi.
Masha membenarkan posisi duduknya agar bisa lebih nyaman dan lebih fokus mendengarkan cerita Kiki-kakak tirinya.
"Di kelas gue yang lama, ada hantu yang suka sama Reval, sahabatnya Marcel itu loh. Namanya Vera. Dia minta bantuan gue buat bikinin surat buat Reval. Jadi, gue bantu dia nulisin pesannya dia. Terus, gue juga yang nyelipin surat itu ke dalam tasnya Reval."
"Terus?"
"Akhirnya, surat itu Reval temukan di dalam tasnya. Terus, Reval malah mendekati Vera, salah satu siswi di sekolah gue. Jadinya hantu itu protes sama gue."
"Terus?"
"Ya, si Vera hantu itu nggak terima. Dia minta gue kasih tahu Reval tentang keberadaan dirinya. Itu dia masalahnya. Gimana caranya gue cerita ke Reval, coba? Dia, kan, hantu. Kalau gue cerita terang-terangan ke Reval, itu sama aja, gue bilang ke Reval kalau gue ini seorang gadis indigo, dong! Jadi, yang gue pikirkan sekarang itu, gimana caranya, ngasih tahu ke Reval tentang hantu itu, tapi nggak secara langsung?"
"Owh, gitu. Ya, gampang!" sahut Masha enteng.
"Gampang gimana? Hampir seharian gue mikirin gimana caranya, lo malah bilang gampang."
"Ya, gampang lah, Kak. Tinggal Kak Kiki tulis aja di dalam surat. Beres, kan?"
Kiki rasa usul Masha ada benarnya juga. Kenapa tidak, kan? Dengan begitu dia tidak perlu cerita secara langsung pada Reval.
"Benar juga lo, Sha. Saking bingungnya gue sampai nggak kepikiran hal itu."
"Ya sudah, Kak. Kak Kiki tulis aja sekarang!"
"Iya, Sha. Makasih, ya. Idemu bagus sekali. Ide yang cemerlang!" puji Kiki.
Kiki lantas turun dari ranjang, mengambil secarik kertas dan alat tulis untuk menulis surat itu. Masha lantas pindah duduk di ranjang agar Kiki bisa menggunakan kursi meja belajar untuk menulis surat.
Bersambung...