MACKY

MACKY
15. Bumerang



Kiki melajukan sepeda motor bebeknya ke sekolah. Tapi sebelum itu, dia berhenti di ujung gang rumah Marcel karena Marcel sudah berdiri menantinya di seberang jalan di ujung gang rumahnya.


"Hei, pagi!" sapa Marcel. Kiki hanya tersenyum padanya.


"Sudah lama, ya, nunggunya?"


"Baru, kok."


Kiki turun dari sepeda, menggantikan posisinya pada Marcel.


"Sudah siap?"


"Iya, gue sudah siap!"


Marcel menyetir sepeda motor Kiki dengan hati-hati. Sebenarnya saat ini dia ingin menanyakan sesuatu pada Kiki, tapi Marcel takut pertanyaannya tambah melukai perasaan Kiki. Marcel memutar otak menyusun kalimatnya untuk bertanya tanpa menyinggung perasaan Kiki.


"Kok, diam saja, Sayang?"


Ini yang ke dua kalinya Marcel memanggilnya dengan sebutan "sayang". Itu membuat Kiki menjadi gugup.


"Ng... Nggak apa-apa."


"Gue boleh nanya sesuatu, nggak?" ucap Marcel agak ragu.


"Boleh, tanya aja."


"Mm... mata lo sembab, lo habis nangis, ya?" tanya Marcel memberanikan diri sambil memejamkan matanya sesaat. Takut mendengar reaksi Kiki.


Ini semua gara-gara lo, tahu!


Kiki diam saja. Enggan menjawab pertanyaan Marcel.


"Apa?" Tanya Marcel seakan mendengar kata hati Kiki.


"Nggak, gue nggak ngomong apa-apa, kok."


"Kirain!"


"Gimana ujian kemarin, lancar?" Marcel mengalihkan pembicaraan, karena sepertinya Kiki nggak menjawab pertanyaannya tadi.


"Iya. Lo?"


"Iya. Sama."


"Bisa, nggak, ngerjain soalnya?"


"Gampang, kok, soalnya!" sombong Kiki.


"Soalnya, sih, gampang-gampang, jawabannya yang susah."


Marcel dan Kiki terbahak.


Beberapa menit kemudian, Marcel dan Kiki sampai di sekolah. Marcel parkir motor Kiki di parkiran sekolah khusus siswa.


"Lo sudah sarapan?" tanya Marcel pada Kiki seraya berjalan bersisian.


"Sudah, tadi emak tiri gue ngoceh-ngoceh maksa gue sarapan sebelum berangkat," ucap Kiki kurang ajar.


Marcel ngakak mendengar celoteh Kiki.


"Emak tiri? Lo punya emak tiri?"


"Iya, bokap gue menikahi janda dua anak. Gue, sih, nggak setuju, tapi Papa tidak menghiraukan protes gue."


Marcel terbahak lagi.


"Lo, kok, ketawa, sih, apanya yang lucu?"


"Cerita lo yang lucu," sahut Marcel masih ngakak.


"Aneh, lo!"


Marcel berbelok ke arah kantin. Kiki menjadi heran.


"Cel, mau ke mana, kok, belok? Mau ke kantin?" tanya Kiki menghentikan langkahnya.


Marcel ikut berhenti, lalu melihat jam yang melingkar di lengan kirinya.


"Iya, gue lapar. Masih ada waktu, kok. Lo temani gue, ya, sarapan?"


"Ok," sahut Kiki menyetujui ajakan Marcel.


Marcel lantas duduk di salah satu bangku sesampainya dia di kantin.


"Ki, tolong pesankan makanan, dong," pinta Marcel.


"Gue lapar banget," imbuhnya.


"Mau makan apa?" tawar Kiki. Persis waiter.


"Apa, ya?" tanya Marcel balik karena bingung mau sarapan apa.


"Ya, lo mau sarapan apa?"


Kiki ikut duduk di seberang Marcel, menunggu mulut Marcel menyebutkan satu menu yang ingin dia pesan.


"Lo tadi sarapan apa?" tanya Marcel.


"Nasi goreng. Kenapa?" tanya Kiki balik.


"Samain aja, deh, sama kamu," putus Marcel.


"Tapi, kan, tadi gue sarapan di rumah," sanggah Kiki.


"Emang kenapa, kalau makan nasi goreng di kantin ini?"


"Kan, beda rasanya dengan nasi goreng buatan emak tiri gue," jelas Kiki.


"Elaaah, gue kira kenapa. Ya, sama aja lah, sama-sama nasi goreng. Masa gue harus numpang sarapan di rumah lo dulu tadi? Yang benar aja, dong!"


Kiki terbahak mendengar cicit Marcel.


"Ok, ok, gue pesenin dulu nasi goreng rasa cinta buat lo, ya?" ujar Kiki sambil tertawa. Marcel pun juga ikut tertawa mendengarnya.


Selang beberapa menit kemudian, Marcel telah menghabiskan nasi gorengnya.


"Eeek, alhamdulillah."


"Ish, kebiasaan, deh, bersendawa sembarangan. Kalau bersendawa itu, ditutup, yang sopan gitu," protes Kiki.


 "Iya, sayangku yang cantik!" goda Marcel biar Kiki berhenti cemberut.


Ting!


Satu pesan WhatsApp mampir di ponsel Marcel. Marcel lantas membukanya.


Angel (Ani):


Marcel:


Emang sekolah lo di mana?


Send


Angel (Ani):


Masa lo nggak tahu, sih, kalo kita satu sekolahan. Gue anak X IPA 1.


Deg!


"Bahaya gue!" gumam Marcel keceplosan.


"Apanya yang bahaya, Cel?" tanya Kiki.


"Eh? Enggak apa-apa, kok," jawab Marcel sambil nyengir.


Apa? Dia satu sekolahan sama gue? Seriusan? Batin Marcel mulai bermonolog.


Marcel cepat-cepat mencari kontak Noval.


Marcel:


Val, di kelas X IPA 1 benaran ada siswa yang bernama Angel atau Ani, nggak?


Send


Satu menit, dua menit, tiga menit.. Pesan Marcel tak kunjung mendapat balasan dari Noval. Marcel mulai gusar.


"Kenapa lo, Cel?" tanya Kiki yang melihat tingkah Marcel yang mulai aneh.


"Nggak apa-apa, yuk, gue antar lo ke ruang ujian," tawar Marcel. Kiki mengangguk menyetujui lalu berdiri.


Kiki dan Marcel berjalan bersisian menuju ruang ujian Kiki, kebetulan kelas diacak saat ujian. Jadi, setiap kelas terbagi menjadi dua bagian. Setengah kelas Kiki satu ruangan dengan setelah anak kelas XI IPA 3.


Tiba-tiba Marcel berhenti berjalan dan menepuk jidatnya.


"Astaghfirullah!" pekik Marcel.


"Kenapa lagi, lo, Cel?" tanya Kiki ikut berhenti di sebelah Marcel.


"Nggak, Ki. Gue lupa sesuatu aja. Tunggu bentar, ya."


Marcel meraih ponsel yang dia selipin di kantong celananya. Dia mengetik pesan dengan cepat.


Marcel:


Ani, Maaf, ya. Gue lupa. Hari ini gue nggak bawa motor. Kapan-kapan aja, ya, gue antar lo pulang.


Send


Marcel lupa kalo tadi dia berangkat bersama Kiki. Lebih tepatnya dia nebeng ke Kiki, biar hemat bensin. Dasar, Marcel kere! Sudah kere, banyak tingkah lagi! Hehe, jadi authornya yang sebal.


"Yuk, lanjut ke ruangan lo!" ajak Marcel.


Marcel mengantar Kiki sampai di depan ruangan ujian Kiki.


"Gue ke ruangan gue, ya, yang semangat ujiannya! Semoga lancar dan lo bisa jawab soal dengan benar," ucap Marcel.


"Makasih, Cel," sahut Kiki lalu tersenyum pada Marcel.


"Gue pergi, ya. Daaa!" ucap Marcel sambil melambaikan tangan kanannya pergi meninggalkan Kiki ke ruangan ujiannya. Tentu Kiki membalas lambaian Marcel dengan senang hati.


Tak lama kemudian, ujian pun dimulai. Salah satu anak kelas XII membuat kebisingan. Itu sangat mengganggu konsentrasi Kiki. Ingin rasanya Kiki suruh dia bungkam. Tapi Kiki tak punya keberanian untuk melakukan itu. Takut dikeroyok teman-temannya. Alhasil, Kiki pasrah saja dan berusaha sekuat tenaga untuk tetap fokus mengerjakan soal ujian.


***


Akhirnya ujian mapel pertama pun selesai Kiki kerjakan. Kini, dia berjalan menuju ruang ujian Marcel.


Namun ternyata Marcel belum keluar dari ruangannya. Ternyata dia selesai ujian tapi masih sibuk dengan ponselnya.


Marcel membuka pesan WhatsApp dari Noval.


Noval:


Iya, ada. Itu yang kita ketemu waktu di mal.


Ini, sih, bumerang buat gue! batin Marcel.


Pesan Noval berhasil membuat Marcel sedikit gusar. Dia mengacak rambutnya frustasi. Dia merasa ruang geraknya akan terbatas jika dua pacarnya belajar di sekolah yang sama dengannya. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah telanjur.


Marcel keluar kelas, mencari udara segar. Kiki masih duduk di depan kelas Marcel, menunggu Marcel keluar kelas.


"Eh, lo di sini. Ki?" sapa Marcel.


"Iya. Kok, lo baru keluar, sih. Baru selesai ujiannya?"


"Sejak tadi, sih, tapi gue, kan, nggak tahu kalo ada lo di luar."


"Iya, sih."


"Ada apa? Kok, kusut gitu wajahnya?"


Tanya Marcel duduk di samping Kiki sambil membelai kekasihnya.


"Gue lagi sebal aja," jawab Kiki.


"Lo sebal sama gue, karena nunggu gue kelamaan?" tebak Marcel.


Kiki menggeleng.


"Terus, kenapa?"


"Ada kakak kelas yang bikin rame di ruang ujian gue. Gue sebal banget sama dia. Tapi nggak berani juga buat negur."


Marcel tertawa mendengar cerita kekasihnya itu.


"Kok, lo malah ketawa, sih?"


"Lucu aja, dengar cerita kamu."


"Apanya yang lucu?"


"Bukan masalahnya yang lucu, tapi lo nya yang lucu," jelas Marcel.


"Gue lucu? Maksudnya?"


"Iya. Lo sebal tapi nggak berani negur. Kan, lucu jadinya. Lo nggak bisa ngapa-ngapain. Apa lo mau, gue yang negur anak itu, biar nggak rame lagi?"


"Nggak, Cel. Nggak usah. Gue nggak mau lo berantem sama anak itu," cegah Kiki.


"Cieee, sayangnya gue, perhatian banget, sih, sama gue," goda Marcel. Menciptakan senyum kecil di bibir Kiki.


Bersambung...