
Hari ini jadwal ujian pelajaran Matematika. Pelajaran yang sangat dibenci Kiki sejak dia mengenal pelajaran itu. Bikin pusing, katanya.
Pepatah yang mengatakan "tak kenal maka tak sayang" itu tidak berlaku untuk Kiki. Pasalnya meski sudah lama mengenal pelajaran yang satu itu, Kiki tetap tak bisa sayang. Minimal ada rasa suka saja, tidak pernah Kiki rasakan.
Saat ini, di hadapan Kiki sudah tergeletak lembar soal Matematika yang sama sekali tidak mudah Kiki kerjakan. Padahal Kiki sudah belajar. Tapi entah kenapa, rasanya semua materi yang sudah pernah Kiki pahami menguap dan sirna dari kepala Kiki.
Kiki menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang. Sepertinya tak ada yang bisa membantunya. Semuanya menunduk memelototi soal ujian itu.
Cila juga terlihat fokus sekali, membuat Kiki merindukan Ratu. Andai saja di ruangan ini ada Ratu, setidaknya dia pasti bisa kasih gue contekan yang benar, batin Kiki.
Kiki mencoba berkali-kali memahami soal-soal itu, namun nihil. Semua soal itu terasa asing baginya. Hanya ada dua soal mudah yang bisa Kiki kerjakan. Setidaknya nilaiku bukan nol! Kiki melanjutkan mengerjakan soal berikutnya. Lagi-lagi susah, Kiki menghitung kancing bajunya sambil membaca soal. Saat soal selesai dibaca, jari Kiki pun berhenti bergerak. Kancing terakhir yang dihitung adalah kancing ketiga, itu artinya C. Kiki menyilang huruf C di kertas jawaban sembari mengucapkan basmalah. Begitu terus cara itu Kiki lakukan sampai soal habis.
Tiba-tiba datang kepala sekolah ke ruangan Kiki. Melihat keadaan ruangan ke seluruh penjuru kelas.
"Temannya nggak usah dikasih nyontek, Mal!" seru kepala sekolah sambil tertawa kecil.
Mal? Kamal? Ini seperti de javu. Kejadian ini seperti pernah terjadi sekitar enam bulan yang lalu, saat UAS semester lalu. Kiki mengikuti arah pandang kepala sekolah. Ingin memastikan dugaannya. Ternyata dugaan Kiki salah, itu Kemal, bukan Kamal, cowok yang dia taksir. Kiki jadi teringat saat semester lalu, saat dia satu ruangan dengan Kamal. Itu juga saat pertama kalinya Kiki mengetahui kalau di sekolah tempat dia belajar, ada seorang siswa yang tampan, pintar, sopan dan masih banyak lagi sifat baiknya. Sejak saat itu juga Kiki naksir padanya. Kak kamal! Desah Kiki.
Waktu pun terus bergulir habis. Waktunya Kiki harus mengumpulkan kertas jawabannya ke meja guru. Kiki tetap mengumpulkannya meski dia sama sekali tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
"Ki, ke kantin, yuk!" ajak Cila.
Kiki mengangguk lalu berdiri hendak ikut Cila ke kantin. Langkahnya gontai, terlihat seperti patung berjalan saja. Tanpa ekspresi. Kiki tak melihat ke mana arah dia berjalan. Dia belum sadar saat Cila berbelok ke arah yang berlawanan dengan arah ke kantin. Dan Kiki menghentikan langkahnya saat dia baru sadar, arah jalannya keliru.
"Cila, kita mau ke mana? Bukankah tadi kita mau ke kantin, ya?" tanya Kiki.
"Emang. Terus kenapa?"
"Ini kita salah jalan, kan?"
"Siapa bilang? Kita ketemu Ratu dulu. Baru ke kantin," jelas Cila.
"Oiya, gue lupa," sahut Kiki.
"Lo kenapa, sih, Ki? Nggak enak badan, ya?" tanya Cila khawatir sembari memeriksa panas di kening Kiki.
"Lo panas, Ki. Lo sakit? Kita ke UKS, yuk! Atau lo mau pulang?" tawar Cila.
Kiki menggeleng.
"Gue nggak sakit, La. Gue nggak mau pulang. Kan, masih ada ujian satu mata pelajaran lagi," tolak Kiki.
"Gue nggak apa-apa. Lo nggak usah khawatir, ya. Kita lanjut ketemu Ratu aja, yuk!" ajak Kiki.
"Eh, itu Ratu, baru keluar dari ruangannya," sergah Cila.
"Ratu!" seru Cila. Ratu yang mendengarnya pun menoleh dan mendekat ke arah Cila dan Kiki.
"Mau ke kantin?" tanya Ratu saat sudah di hadapan Cila dan Kiki.
"Yo'i. Yuk barangkat!" ajak Cila.
***
Di depan ruang ujian Kiki, Kiki, Ratu dan Cila memakan makanan yang mereka pegang. Dari kejauhan, Kiki melihat Marcel, Angel dan tiga teman Angel berjalan sambil bergurau ke arah kantin.
"Ra, itu siapa?" tanya Kiki.
"Hah? Owh, Marcel?" tanya Cila memastikan apa yang Kiki lihat.
"Bukan. Yang bersama Marcel," sambung Kiki.
"Itu Angel. Kenapa?" tanya Ratu.
"Lo kenal, Ra?"
"Nggak, sih. Gue cuma pernah dengar namanya, saat teman-temannya memanggilnya," jelas Ratu.
"Lo cemburu, Ki?" timpal Cila.
Kiki menggeleng.
"Nggak apa-apa," jawab Kiki singkat.
Gue emang minta lo janji buat nggak ninggalin gue, Cel. Tapi bukan berarti lo gue ijinin buat selingkuh. Apa gue juga harus minta lo untuk selalu setia sama gue, Cel? Gue tidak minta lo janji buat setia sama gue, karena gue percaya, lo nggak bakalan selingkuh dari gue, tapi gue sudah salah menilai tentang kesetiaan lo, Cel, batin Kiki bermonolog.
Cila mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Kiki, membuat Kiki sontak tersadar dari lamunannya.
"Kok, ngelamun? Ada apa, Ki?" tanya Cila yang khawatir melihat Kiki seperti punya masalah yang belum Cila ketahui.
"Gue nggak apa-apa, La," jawab Kiki.
"Makan lagi, dong, makanannya. Entar tambah dingin," suruh Cila.
Kiki memasukkan lagi satu potong kecil bakwan ke mulutnya. Sambil mengunyah makanannya, Kiki meraih ponsel di kantong rok seragam yang ia pakai.
Kiki:
Nanti jadi pulang bareng, kan?
Send
Tak butuh waktu lama untuk menunggu karena Marcel cepat membalas pesan dari Kiki.
Marcel:
Jadi, dong, Sayang. Kenapa? Lo nggak bisa pulang bareng gue?
Kiki:
Send
Marcel:
Gue nunggu di mana? Di parkiran? Apa di gerbang sekolah, atau gue susul lo ke ruang ujian lo? Atau lo yang nyamperin gue di ruang ujian gue?
Kiki:
Tunggu aja gue di gerbang sekolah.
Send
Selesai mengirim pesan itu, Kiki memasukkan kembali ponselnya ke kantong rok. Lalu memakan lagi gorengannya hingga habis.
***
"Guys, gue duluan, ya," pamit Kiki.
"Uluh, uluh, yang sudah punya pacar, pulangnya bareng pacarnya teruuus," goda Cila.
"Iya, dong. Makanya lo cepatan cari cowok," saran Kiki.
"Nggak, ah, gue takut diselingkuhin," ucap Cila, membuat Kiki mendadak bungkam. Kiki tiba-tiba mengingat pemandangan Marcel dan Angel tadi pas jam istirahat.
"Lo, sih, jadi diem, tuh, si Kiki," bisik Ratu menyenggol Cila.
"Apa, sih? Emang salah gue apa?" tanya Cila yang belum merasa ucapannya telah menyinggung perasaan sahabatnya. Dasar Cila!
"Ya udah, ya, Guys! Gue pulang duluan. Daaah!" ucap Kiki sebelum pergi.
Di halaman depan sekolah, Kiki, Ratu dan Cila berpencar. Kiki ke parkiran sepeda motor khusus siswa, sedangkan Cila dan Ratu ke pintu gerbang.
"Sudah lama, nunggunya?" tanya Kiki pada Marcel saat sudah sampai di pintu gerbang.
"Baru aja, kok."
Seperti biasa, Kiki turun dan Marcel naik menggantikan Kiki menyetir.
"Gimana tadi ujiannya?" tanya Marcel.
"Mumet," jawab Kiki malas.
"Loh, kenapa? Sudah belajar, kan?"
"Mendadak lupa semua."
"Ingetnya cuma sama gue, ya?" kata Marcel berkelakar.
Tapi Kiki tak menangkap candaan Marcel.
"Tadi lo ke kantin?"
"Iya. Kenapa?" tanya Marcel balik.
"Sama siapa?"
"Sama teman."
"Boleh tanya?"
"Tanya aja!" sahut Marcel mengizinkan.
"Angel siapa?"
Ciiit!
Marcel terkejut mendengar pertanyaan Kiki. Spontan dia menarik rem.
"Lo kenal di mana sama Ani?"
"Gue nanya Angel. Bukan Ani," sindir Kiki.
"Iya. Ani itu nama kecil Angel."
Sampai tahu nama kecilnya segala, batin Kiki.
"Ayo, jalan lagi!" ajak Kiki.
Marcel melajukan kembali motornya.
"Lo nggak usah cemburu. Ani itu cuma teman gue," dusta Marcel.
"Gue percaya, kok, kalau lo setia, Sayang," ujar Kiki, sekaligus menyindir.
Walaupun tidak secara langsung, namun perkataan Kiki sudah cukup menyinggung Marcel.
Bersambung...
Like
Vote
Komen
Jangan lupa! 😊