MACKY

MACKY
22. Main Ke Rumah Camer



Asa terus memperhatikan Kiki yang terus berputar-putar di depan cermin. Tapi sampai saat ini, Asa belum tahu alasan yang menyebabkan kegembiraan sahabatnya itu.


Awalnya Asa masih sabar, tapi sekarang dia sudah tak punya kesabaran lagi untuk tidak bertanya, hal apa yang sudah berhasil membuat sahabatnya pagi-pagi sudah seperti itu.


"Lo kenapa, sih, nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba bertingkah seperti itu setelah mandi? Dapat apa di kamar mandi?" tanya Asa.


Kiki menggelengkan kepalanya, masih terus berputar-putar di hadapan Asa.


"Gue pusing, Ki, lihat lo!" sebal Asa.


"Gue bahagia hari ini," jelas kiki dengan senyum yang masih mengembang.


"Iya, gue tahu, Ki. Yang gue pengin tahu itu, alasan lo bahagia itu, apa?"


"Oooowh, bilang, dong!"


"Gue mau ke luar?" ucap Kiki.


"Keluar? Ke mana?" Asa tambah penasaran.


"Kasih tahu, nggak, ya...?" goda Kiki.


"Ki, kasih tahu, do...ng!" paksa Asa sambil menarik-narik lengan baju Kiki.


"Nggak, ah. Nanti lo malah mau ikut," tolak Kiki.


"Janji, deh, gue nggak bakalan minta ikut sama lo!"


"Janji?"


"Iya, janji!"


"Ya udah, dengarin, ya!" ucap Kiki.


Asa duduk diam, siap-siap fokus mendengarkan jawaban Kiki.


"Gue mau pergi ke rumah calon mertua gue," jawab Kiki sambil melirik Asa penuh arti.


"Calon mertua? Berarti, rumahnya Marcel, dong!" pekik Asa terkejut.


Kiki mengangguk berkali-kali.


"Iiih, curang! Kenapa nggak ajak gue, sih, Ki?"


"Nggak apa-apa."


"Ki, ajak gue, dong!"


"NGGAK! lo, kan, sudah janji, nggak akan ikut," kata Kiki mengingatkan Asa.


"Huh! Sebal! Gue ditipu!" geram Asa.


Masha yang juga masih di kamar yang sama dengan Kiki hanya terdiam melihat Kiki yang seperti bicara dengan tembok.


Pasti Kak Kiki lagi ngobrol sama Asa, deh. Kayak patung aja, deh, gue di sini! Batin Masha.


Masha menghela napasnya dalam-dalam lalu membanting tubuhnya di ranjang.


Tin... Tin...


Tak lama kemudian, suara klakson terdengar. Rupanya Marcel telah tiba di pelataran rumah nenek Kiki. Tanpa berpikir dua kali, Kiki keluar kamar menemui Marcel.


"Sudah sampai? Masuk dulu, yuk! Gue belum pamit sama Nenek," ucap Kiki sembari menarik lengan Marcel masuk ke rumah.


Marcel mengikuti Kiki masuk ke rumah neneknya dan duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Kiki terus masuk ke dapur sambil teriak-teriak memanggil Widya.


"Neeeek! Neneeeek! Nenek dimana?"


Kiki terus mencari neneknya ke pekarangan belakang rumah dan kamarnya karena di dapur tidak ada. Hingga akhirnya Kiki bertemu Ina di kamarnya.


"Ina, Nenek mana, sih, gue cariin kemana-mana nggak ada?"


"Mungkin belanja, Kak," jawab Ina.


"Ya udah, deh, nanti bilangin aja sama Nenek, ya. Gue ke rumah Marcel," pesan Kiki.


"Iya, Kak!" jawab Ina menyanggupi pesan yang merupakan amanat untuknya untuk disampaikan pada majikannya.


Kiki kembali menemui Marcel setelah menitipkan pesan untuk neneknya.


"Nenek nggak ada," kata Kiki pada Marcel.


"Terus gimana, dong? Nunggu Nenek pulang?"


"Kita berangkat sekarang aja, yuk! Gue sudah titip pesan sama Ina."


"Gue gimana, masa ditinggal sendirian di sini?" rengek Masha.


"Kenapa? Lo takut sendirian?"


"Bukan gitu, Kak. Masha bukan takut sendirian, tapi Masha takut kalau ditinggal cuma berdua bareng si Asa. Dia, kan, hantu. Masha takut, Kak!" bisik Masha pada Kiki. Kiki terbahak mendengar penuturan Masha.


"Tenang aja, ada Ina, kok, di belakang. Lo ke belakang aja, temui Ina. Ok!"


"Ok, deh," jawab Masha mengangguk.


"Oiya, satu lagi. Kalau Nenek sudah pulang dan nanyain Kak Kiki, tolong bilangin kalau Kak Kiki pergi ke rumah Marcel, ya!" pesan Kiki pada Masha.


"Kan, kalau nanya. Kalau nggak nanya?"


"Serah lo, deh!" serah Kiki.


"Kita berangkat dulu, ya," pamit Kiki.


Asa melambaikan tangannya ke arah Kiki. "Dadaaah!"


Kiki membalasnya dengan senyuman manisnya.


"Iya. Hati-hati, Kak," pesan Masha.


***


"Cel, sebelum kita ke rumah lo, kita ke pasar dulu, yuk!" ajak Kiki saat sudah di boncengan Marcel.


"Ke pasar? Ngapain?" tanya Marcel yang belum paham.


"Gue mau beli bahan-bahan rujak. Cella pasti suka rujak, kan?" Kiki memastikan.


"Owh, iya. Dia suka banget kalau rujak. Teman-teman sekolahnya sering main ke rumah, rujak bareng," jelas Marcel.


"Bagus kalau gitu," ujar Kiki sembari tersenyum mengetahui dugaannya benar.


Marcel lebih semangat melajukan motornya ke arah menuju pasar tradisional. Tidak lama kemudian, Marcel sudah sampai di pasar dan parkir motornya di parkiran pasar.


"Yuk! Kita ke mana dulu, nih?" tanya Marcel.


"Ke penjual buah, Cel."


Dengan hati yang berbunga-bunga, Kiki berjalan bersisian dengan Marcel ke tempat penjual buah-buahan.


Kiki melihat-lihat buah-buahan yang digelar di depan sang penjual buah. Kiki tak melihat salah satu buah yang sedang dia incar.


"Bu, ada mangga muda, tidak?" tanya Kiki pada penjual buah itu.


"Tidak ada, Neng! Yang ada mangga matang, gimana?"


Raut wajah Kiki berubah murung. Marcel sangat merasakan perubahannya itu.


"Sudah, beli yang ada saja," saran Marcel.


"Ya sudah, deh. Tapi pepaya setengah matang ada, kan, Bu?"


"Ada, Neng. Mau berapa?"


"Banyak banget, Ki. Kalau kebanyakan gimana?"


"Nggak apa-apa, biar puas," jawab Kiki yang sudah bete gara-gara tidak mendapatkan mangga muda. Sedangkan dia malas sekali kalau harus berkeliling pasar hanya untuk mencari mangga muda. Itu bisa menghabiskan banyak tenaga.


Kiki terdiam melihat tiga kilo buah di hadapannya. Bingung bagaimana bawanya karena itu pasti sangat berat jika dia bawa sendiri semuanya. Marcel tersenyum kecil melihat kekasihnya itu. Mengerti jalan pikirannya.


"Sudah, biar gue aja yang bawa semuanya," putus Marcel.


"Makasih, Cel," ucap Kiki dengan senyumnya yang mulai mengembang.


"Kemana lagi, kita?"


"Tinggal beli petis," jawab Kiki.


Petis yang diinginkan sudah di tangan, waktunya melanjutkan perjalanan menuju rumah Marcel.


***


"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai dengan selamat di rumah lo," kata Kiki


"Yuk, masuk!" ajak Marcel.


"Assalamualaikum, Mami! Cella!"


Itu suara Mas Marcel. Pasti Mas Marcel datang sama Kak Kiki, batin Cella.


Cella segera turun dari ranjang dan berlari ke ruang tamu.


"Kak Kiki....!" teriak Cella dari dalam rumah.


Cella berhamburan ke pelukan Kiki. Kiki membalas pelukan sayang Cella.


"Akhirnya Kak Kiki datang juga," ucap Cella kegirangan melihat Kiki.


"Lihat! Apa yang Kak Kiki bawa!" ujar Marcel memperlihatkan kantong-kantong plastik berisi buah-buahan.


"Buah-buahan muda?"


"Ada petisnya juga!" sambung Marcel.


"Rujak! Yeeeaaai horeee! Bentar, ya, Kak, Cella ambil perlengkapannya dulu," ujar Cella sebelum ngacir ke dapur. Kiki geleng-geleng seraya tersenyum melihat tingkah Cella yang menggemaskan itu.


"Hati-hati, ya!" teriak Kiki mengingatkan Cella.


"Duduk dulu, Ki," suruh Marcel. Kiki mengangguk dan duduk di sofa.


Tak lama kemudian Cella keluar dengan baskom berisi air, pisau dan bahan-bahan tambahan lainnya untuk membuat rujak.


"Baik banget, sih, Cel!" puji Kiki.


"Makasih," sahut Marcel dengan PD nya.


"Bukan lo, tapi Cella," jelas Kiki.


"Hah?" pekik Marcel kaget.


Cella senyum-senyum jahil melihat mas-nya yang malu.


Di pojok ruang tamu rumah Marcel, di balik sofa, Kiki seperti melihat ada sesuatu yang bergerak-gerak. Kiki memfokuskan tatapannya pada benda itu. Benar saja dugaannya. Itu Asa yang serang mengintip di balik sofa.


Dua alis Kiki hampir menyatu sempurna dan kedua matanya melotot melihat Asa. Asa yang dipelototi hanya bisa nyengir terciduk membuntuti Kiki sampai ke rumah Marcel.


Awas nanti lo, ya! Batin Kiki.


"Mami mana, Dek?" tanya Marcel.


"Belum pulang, Mas. Masih dirumah tetangga, nyuci," jawab Cella.


Tiba-tiba ponsel Marcel berdering. Sebelum ponsel di atas meja itu diambil Marcel, mata Kiki sempat menangkap huruf A besar di layar ponsel itu.


Angel? Iya, pasti dia! Duga Kiki dalam hati.


Marcel me-riject panggilan itu dan meletakkannya kembali di atas meja.


"Siapa? Angel, ya?" tanya Kiki tanpa basa-basi.


"Iya," jawab Marcel tidak ingin membohongi Kiki.


"Kenapa diriject?"


"Nggak apa-apa. Nggak penting juga."


Lagi-lagi ponsel Marcel berbunyi. Kali ini bukan panggilan, tapi suara notifikasi pesan masuk.


"Mungkin itu pesan dari Angel karena tadi panggilannya lo riject. Baca aja!" ujar Kiki.


Marcel meraih ponselnya dan membaca pesan itu. Mata Marcel yang tadinya biasa-biasa aja, berubah jadi terbelalak.


085231xxxxxx


Apa kabar, Cel? Gue harap lo baik-baik aja. Baru beberapa hari liburan, tapi gue sudah kangen banget sama lo. Pengin banget rasanya cepat-cepat masuk sekolah ketemu lo.


#💋


"Kenapa kaget gitu? Pesan dari Angel, kan?" tanya Kiki.


Cella hanya memperhatikan Marcel dan Kiki bergantian.


"Bukan," jawab Marcel singkat sebelum memberikan ponselnya pada Kiki.


Kiki ikut terkejut membaca pesan itu. Tapi yang aneh adalah Kiki seperti mengenal gaya bicara dalam pesan itu. Tapi Kiki lupa itu siapa dan Kiki belum bisa memastikan jawabannya saat ini.


"Ki, lo kenal nomor itu?" tanya Marcel. Kiki menggeleng.


"Nggak. Gue nggak tahu. Gue cuma merasa kayak kenal sama gaya bicaranya itu, loh. Tapi gue lupa siapa orangnya.  Nggak asing aja rasanya," jelas Kiki.


"Orang ini sering banget ngirim pesan ke gue. Hampir tiap hari," jelas Marcel.


"Lo pernah mengalami kejadian aneh, nggak? Misalnya ada cewek yang tiba-tiba datang nyamperin lo. Mau dekat sama lo. Mungkin itu pesan darinya," tanya Kiki.


Marcel menjawabnya dengan gelengan kepala.


***


Hari telah petang. Mami Marcel pun akhirnya pulang ke rumah.


"Mi, kok, baru pulang? Emang nyuci lagi?" tanya Cella.


Mami Marcel menggeleng.


"Bukan, Nak. Mami tadi lanjut nyetrika di rumah Bu Siti dan Bu Ana. Cucian yang kemarin itu, loh, belum Mami setrika," jelas Mami Marcel.


"Owh, gitu. Tadi Kak Kiki ke sini, loh, Mi! Tapi Mami ketinggalan. Kak Kiki sudah keburu pulang. Abisnya nunggu Mami lama banget, sih. Nggak pulang-pulang," celoteh Cella.


"Yaaah, Mami ketinggalan, dong! Padahal sayang banget, ya? Kapan lagi Kak Kiki main ke sini?"


"Nggak tahu, Mi. Tadi itu, kan, kejadian langka, jadi nggak bisa diprediksi, Mi," ujar Cella.


"Iya juga, ya. Tadi ada kerjaan dadakan, sih, jadi Mami ketinggalan, deh. Mami keasyikan kerja, jadi lupa kalau Kak Kiki mau main," ujar mami Marcel menyesal.


"Oiya, Mi. Tadi Kak Angel telfon Mas Marcel, loh," tutur Cella.


"Terus, Mas Marcel berantem sama Kak Kiki?"


Cella menggeleng.


"Nggak, Mi. Mas Marcel riject panggilan dari Kak Angel," jelas Cella.


"Alhamdulillah kalau Mas-mu nggak berantem sama Kak Kiki," ujar mami Marcel lega.


Bersambung...