MACKY

MACKY
27. Kita Sekelas!



Di depan cermin yang menempel pada lemari, Kiki melihat bayangan dirinya sambil tersenyum. Baru saja dia sudah memberikan sentuhan bedak padat di wajah dan lip balm di bibirnya. Rambutnya juga sudah dia sisir rapi. Dia sudah memakai seragam abu-abunya. Itu tandanya Kiki siap berangkat ke sekolah. Namun sebelum keluar dari kamar, hidungnya mencium aroma sedap yang sepertinya berasal dari dapur menyusup masuk lewat pintu kamar Kiki yang sedikit terbuka. Aroma yang menggugah selera.


"Wiiih, sudah cantik aja pagi-pagi!" seru Asa.


"Mau ke sekolah, Ki? Liburannya sudah kelar, ya?" tambahnya.


"Iya sudah," sahut Kiki sembari menganggukkan kepalanya.


"Eh, Sa. Itu aroma apa, ya? Enak banget kayaknya," tanya Kiki.


"Nggak tahu. Kayaknya aroma masakan emak tiri lo, tuh," jawab Asa sembari mengedikkan dagunya.


"Gue jadi lapar, nih. Gue ke dapur dulu, ya."


Kiki lantas melangkahkan kakinya keluar kamar dan turun menuju dapur. Benar perkataan Asa. Masakan Tanti yang tercium Kiki tadi. Ternyata Masha sudah di meja makan. Siap sarapan nasi goreng di hadapannya.


"Enak lo, ya. Nggak ngajak gue sarapan! Sarapan sendiri," tegur Kiki geram.


"Abisnya Kak Kiki lama, sih, mandinya, Masha sudah lapar banget ini, Kak,"


"Sudah, nggak usah berantem. Sini, duduk!" suruh Ali pada Kiki.


Kiki nurut saja duduk di sebeah Masha. Tanti mengambilkan Kiki nasi goreng dan meletakkannya di hadapan Kiki. Tentu Kiki memakannya, itu makanan favoritnya.


***


Di depan gerbang sekolah, Ali menghentikan mobilnya. Kiki turun setelah salim pada papanya.


"Daaah, Kak Kiki!" Masha melambaikan tangan kanannya.


"Daaah!" Kiki menyahuti Masha dengan malas.


Kiki masuk ke halaman sekolah, berjalan ke arah ruang guru. Dari kejauhan Cila melihat Kiki, dia memanggilnya. Kiki menghentikan jalannya dan menoleh ke arah sumber suara.


"Eh, lo."


"Mau ke ruang guru, ya?" tanya Cila.


"Iya. Mau lihat pengumuman pembagian kelas," timpal Kiki.


"Nak, itu dia yang mau gue ceritain ke lo, Ki," ujar Cila.


"Maksud lo?" Kiki mengernyitkan keningnya. Masih bingung dengan naksud ucapan Cila.


"Gue mau bilang sama lo kalau kita sekelas lagi. Nama kita ada di kelas XI IPS 2," jelas Cila.


"Lalu Ratu?"


"Ratu masuk di kelas XI IPS 1, dia nggak sekelas sama kita lagi. Itu yng bikin gue sedih banget, Ki."


"Iya. Gue juga sedih kalau kita bertiga nggak sekelas lagi. Apa nggak bisa diubah lagi, ya?" tanya Kiki yang mengandung harapan di dalamnya. 


"Kayaknya nggak bisa, deh. Tadi gue lihat ada yang coba protes gitu, tapi nggak didengarin," jelas Cila.


"Terus teman sekelas kita siapa aja?" tanya Kiki lagi.


"Gue nggak hafal, Ki. Gue udah sedih duluan, sih, tadi. Lihat Ratu nggak sekelas sama kita."


"Ya udah. Kita lihat lagi, yuk!" ajak Kiki.


Kiki dan Cila pun ke ruang guru, melihat mading yang tertempel di dinding dekat ruang guru. Kiki sudah penasaran sekali, siapa saja yang akan menjadi teman belajarnya satu tahun ajaran ke depan.


***


Mata Kiki beredar menyapu seluruh sudut sekolah. Akhirnya dia menemukam siapa yang dia cari. Ia mendekati target, Cila masih menemaninya meski belum mengerti arah tujuannya kemana.


"Sayang, gue punya info bagus buat kita berdua!" sambar Kiki pada Marcel. Dion, Reval dan Noval hanya diam memperhatikan Kiki. Kejadian Kiki tiba-tiba nongol seperti ini sudah biasa bagi mereka semua.


"Lo dari mana, kok, baru kelihatan? Ngagetin lagi."


"Dari mading, lihat kelas," jawab Kiki.


"Dan hasilnya?" tanya Marcel lagi.


"Hasilnya adalaaaaaah kita sekelas, Sayaaang!" pekik Kiki kegirangan.


"Sekelas?" Marcel terkejut setengah mati.


"Mati gue!" gumamnya keceplosan.


"Kok, mati, Sayang? Harusnya itu alhamdulillah," timpal Kiki.


"Oh iya. Alhamdulillah, ya, hehe," ucap Marcel sambil cengengesan di depan Kiki.


Marcel terlihat seperti orang yang kebingungan. Noval sangat mengerti itu. Pasti sekelas dengan Kiki akan membuat Marcel sedikit terkekang atau tidak bebas. Sewaktu-waktu Angel bisa saja main ke kelas mereka untuk mencari Marcel. Dan kalau sampai Marcel dan Kiki sekelas, bisa saja akan terjadi keributan nantinya antara Kiki dan Angel. Itu yang membuat Marcel bingung seperti itu. Pasalnya Noval sudah mengetahui kalau Marcel pacaran sama Kiki dan Angel.


"Iya, Ki. Lo benar," jawab Noval disusul dengan anggukan Dion dan Reval.


"Kalau gitu, kita lihat kelas kita, yuk!" ajak Kiki pada semuanya.


Semuanya berjalan ke kelas XI IPS 2, kelas baru mereka semua.


Kiki memilih duduk di depan bersama Cila. Sedangkan Marcel di sebelahnya dengan Noval. Reval dan Dion di belakangnya.


***


Malam hari...


Kiki terlentang di atas kasur kesayangannya. Masha juga melakukan hal yang sama di sampingnya. Mereka berdua menatap langit-langit kamar yang bercat biru langit. Sengaja Kiki meminta langit-langit kamarnya dicat warna itu. Tujuannya agar terasa seperti terlentang di bawah langit gitu.


"Kak!" panggil Masha.


"Hm?" sahut Kiki.


"Kak Kamal cakep, ya!" ucap Masha. Membuat Kiki sedikit terkejut dan menoleh padanya.


"Kenapa lo tiba-tiba ingat Kak Kamal?" tanya Kiki penasaran.


"Nggak apa-apa. Tiba-tiba saja ingat saat ketemu Kak Kamal di depan masjid waktu itu," jelas Masha.


"Owh, iya. Dia emang cakep. Nggak cuma wajahnya yang cakep. Akhlaknya juga nggak kalah cakep dari wajahnya," jawab Kiki sembari kembali menatap langit-langit kamar.


 


"Kak Kiki suka?" tanya Masha.


"Cewek mana, sih, yang nggak akan suka tipe cowok seperti Kak Kamal itu. Nyaris sempurna. Tapi manusia, kan, tidak ada yang sempurna," jelas Kiki.


"Iya. Kalau Kak Alex, gimana menurut Kak Kiki?" tanya Masha lagi.


"Maksudmu?"


"Menurut Kak Kiki, Kak Alex cakep, nggak?"


"Cakep," jawab Kiki singkat.


"Akhlaknya cakep juga?"


"Gue enggak tahu, Sha. Gue kurang memperhatikan Kakakmu itu," jawab Kiki.


"Kak Kiki suka, nggak, sama Kak Alex?"


"Biasa aja. Kenapa?" Kiki balik bertanya meski matanya sudah mulai mengantuk.


"Masha lihat-lihat, sepertinya Kak Alex suka sama Kak Kiki," tutur Masha.


"Biarkan saja!" sahut Kiki menampakkan ekspresi biasa saja.


Masha menoleh pada Kiki. Dia agak heran kenapa Kiki setenang itu merespon perkataan Masha.


Masha belum tahu saja kalau Alex sudah pernah menyatakan perasaannya pada Kiki, namun Kiki tidak menggubrisnya.


"Kok, gitu, Kak?"


"Lalu mau bagaimana lagi. Gue, kan, sudah ada Marcel. Masa iya, gue pacaran juga sama Kakak lo itu?"


"Iya juga, sih, Kak," ucap Masha membenarkan perkataan Kiki.


"Tapi, kenapa lo mengira Kakak lo suka sama gue, Sha?"


"Masha sering melihat Kak Alex mencuri-curi pandang sama Kak Kiki tanpa sepengetahuan dari Kak Kiki," jelas Masha.


"Kapan?"


"Saat ada kesempatan pokoknya. Misalnya, saat sarapan, saat kumpul nonton TV, atau di setiap ada kesempatan lainnya pokoknya, Kak."


"Mungkin perasaanmu saja, Sha."


Kiki berusaha mematahkan dugaan Masha karena dia tidak ingin Masha menjodoh-jodohkan dirinya dengan Alex lagi lain waktu. Apalgi kalau sampai Tanti-ibu tirinya mendengar perkataan Masha. Bisa bahaya. Karena Tanti sempat menunjukkan sikap seperti mau menjodohkan Kiki dengan Alex.


"Nggak, kok, Kak. Masha yakin banget malah," sahut Masha dengan sangat yakin.


"Ya sudah, tidur aja sekarang, yuk!" ajak Kiki.


Masha ikut merapatkan kedua matanya saat dia melihat Kiki sudah menutup matanya terlebih dulu.


Bersambung...