
Kiki baru saja bernapas lega, dia telah menyelesaikan latihan soal ekonomi dari bu Narsih. Namun tiba-tiba Ratu dan Cila menyergahnya dengan info yang baru mereka lihat.
"Gawat, Ki!" kata Ratu dan Cila bersahutan.
"Gawat apaan?" tanya Kiki belum mengerti.
"Mar..cel, Ki!" jawab Cila yang masih ngos-ngosan.
"Iya, Marcel kenapa, La?" gemas Kiki.
"Marcel ribut, Ki!" sahut Ratu.
"APA?" kaget Kiki sembari berdiri.
"Di mana?" imbuh Kiki.
"Di dekat kantin."
Buru-buru Kiki ke kantin. Sesampainya Kiki di tempat kejadian, perseteruan itu masih berlangsung. Kiki mencoba melerai mereka. Namun nahas, kali ini bukannya Marcel yang menerima tonjokan itu, tapi Kiki. Pukulan itu mendarat di pipi kiri Kiki saat Kiki hendak melerai. Alhasil, Kiki pingsan. Marcel segera menggendong Kiki ke UKS.
"Cel, lo dipanggil, tuh, sama bu Nur, guru BK. Lo disuruh ke ruang BK," kata Ratu menyampaikan pesan guru BK mereka.
"Ok, gue titip Kiki, ya?"
"Lo tenang aja, Cel. Nanti gue sama Cila yang jagain Kiki," sahut Ratu mantap.
"Makasih, ya, Ratu, Cila!"
"Iiih, lucu, deh, Ra, kalau nama kita digabungin, jadi Ratu Cila!" antusias Cila.
"Please, deh, La. Ini bukan saatnya untuk ngomongin itu, sahabat kita lagi kena musibah. Ngerti nggak lo?"
"Iya, maap!" sahut Cila dengan tampang sedihnya.
***
Bu guru Nur mulai menginterogasi Marcel dan lawannya tadi.
"Jadi, apa yang membuat kalian berantem?"
Semuanya diam.
"Leon duluan, Bu, saya nggak tahu salah saya apa. Tiba-tiba dia dan teman-temannya ngeroyok saya," jelas Marcel setelah beberapa menit terdiam.
"Apa itu benar, Leon?"
"Marcel yang salah, Bu. Dia sudah ngambil pacar saya," jawab Leon.
"Pacar? Siapa pacar lo? Siti? Gue nggak pacaran sama Siti, Leon," sanggah Marcel jujur.
"Halah, omong kosong! Meski lo bilang begitu, tapi Siti sekarang berubah sejak dia kenal lo," ujar Leon.
"Sudah! Sudah! Ibu pusing dengar kalian berdebat. Ternyata penyebabnya cuma masalah cewek. Karena kalian sudah membuat keributan di sekolah ini dan mengganggu ketenangan siswa lain, ibu hukum kalian membersihkan toilet sepulang sekolah. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas."
***
Tiga puluh menit telah berlalu, akhirnya Kiki sadar juga. Ratu juga telah mengompres pipi Kiki yang bengkak karena terkena pukulan lawan Marcel.
"Mm.. Au!"
"Eh, kenapa, Ki, masih terasa sakit, ya?"
"Iya."
"Kalian yang jagain gue? Marcel mana?"
"Dipanggil guru BK tadi," sahut Ratu.
Krieet
Setelah keluar dari ruang BK, Marcel kembali ke ruang UKS menemui Kiki. Rupanya Marcel masih mengkhawatirkan keadaan Kiki.
"Lo sudah sadar, Ki?"
"Naaah, ini dia orang yang ditanyain sudah datang," ujar Cila.
"Kenapa, La?"
"Nggak apa-apa, kok, Cel, tadi Kiki nanyain kamu," jelas Ratu.
"Cel, lo tadi kenapa berantem, sih, sama Leon?" tanya Cila.
"Nggak apa-apa, nggak usah dibahas. Nggak penting juga, cuma salah paham, kok."
"Cel, tapi gue juga pengen tahu penyebabnya. Cerita, ya?" bujuk Kiki.
"Ok, Leon cuma salah paham. Dia kira gue pacaran sama pacarnya, Siti."
"Tapi itu cuma salah paham, kan?" tanya Kiki memastikan.
"Cieeee yang lagi khawatir, cuit.. Cuiit..."
"Cila, bisa diem, nggak?" Sergah Ratu.
"Kan, gue sudah bilang, itu cuma salah paham," ulang Marcel.
"Terus, lo dikasih hukuman apa sama bu guru Nur?"
"Nggak, nggak dihukum, kok," dusta Marcel diikuti cengiran khasnya.
"Nanti anterin gue pulang, ya?" pinta Kiki.
"Pas pulang sekolah?" tanya Marcel memastikan.
"He'em," jawab Kiki sembari mengangguk.
"Duh, sorry banget, Ki. Bukan gue nggak mau, cuma gue ada urusan. Besok-besok aja, ya?"
"Emang ada, ya, yang lebih penting buat Marcel selain Kiki?" sambar Cila.
"Cila, please, deh, jangan ngomporin!" desah Ratu. Cila menutup mulut sambil memanyunkannya.
"Tapi gue beneran nggak bisa, La," sambung Marcel.
"Sudah, Cel, lo nggak usah mikirin perkataan Cila. Cila emang suka nggak mikir kalau ngomong. Lo nggak usah khawatir, ya, biar gue yang antar Kiki pulang," tegas Ratu.
"Ya udah, makasih banyak, ya, Ra!"
"Iya, Cel, sama-sama. Sebenarnya lo nggak usah bilang makasih, Kiki, kan, sahabat kita juga," jawab Ratu.
***
Sesuai janjinya, Ratu dan Cila mengantar Kiki pulang. Di depan TV sudah ada papa, Alex dan mama tirinya yang sedang bersantai menonton TV.
"Baru datang, Ki?" tanya papa Kiki. Kiki hanya mengangguk menjawab pertanyaan papanya.
"Eh, bentar, deh!" mama tirinya berdiri dari duduknya. Mencoba melihat dengan jelas pipi Kiki.
"Kamu kenapa, Ki? Pipi kamu, kok, merah?" tanyanya sembari memegang pipi Kiki.
"Au! Sakit! Apa-apaan, sih? Jangan sok care, deh, nggak guna!"
"Ki, yang sopan, dong, Mama kamu, kan, cuma khawatir lihat pipi kamu yang merah," lerai papanya.
"Biasa lah, Ma, paling dia habis berantem. Dia, kan, berandalan!" timpal Alex.
"Hus! Nggak baik, ngatain orang berandalan!" sergah Tanti.
"Heh, Maling, diem lo! Kalau nggak tahu, nggak usah sok tahu!" bentak Kiki.
Kiki melanjutkan jalannya ke kamar. Dia tidak menggubris Tanti lagi.
Terkadang Kiki lupa, kalau ada Masha di kamarnya. Tanpa permisi, Kiki masuk ke kamar.
"Duuuuuh, Kak Kiki, ketuk dulu, kek, nggak sopan banget, deh!" omel Masha.
"Eh, kamar ini kamar gue! Kalau lo nggak suka, pindah aja ke gudang!"
Masha mendengus kesal. Lalu berkata, "ini juga kamar gue, Kak. Sejak gue pindah ke sini."
"Oiya? Sejak kapan gue ngijinin lo di sini? Harusnya, lo itu bayar kalau mau tidur di kamar gue. Lo bisa tidur di kamar tercinta gue ini, hanya karena belas kasihan gue. Ngerti lo? Dan gue yakin, lo nggak bakal betah lama-lama di kamar ini kalau lo tahu yang sebenarnya."
"Yang sebenarnya? Maksudnya?"
"Maksudnya, sudah lah, paling lo juga nggak bakal percaya sama omongan gue."
Kiki mengurungkan niatnya memberi tahu Masha yang sebenarnya.
"Nggak, Kak, gue pengin dengar maksud Kakak apa?"
"Ok, kalau lo maksa. Tapi lo janji, ya, lo nggak bakal cerita sama siapa-siapa tentang hal ini."
"Iya, gue janji, Kak!"
"Sebenarnya, di kamar ini bukan cuma ada kita berdua, tapi ada Asa juga," ujar Kiki.
"Siapa, tuh, Asa?"
"Hantu cewek penunggu kamar ini."
"Hahahahhahaha, ceritanya lucu, Kak!"
"Terserah, sih, kalau kamu tetap nggak percaya."
Kiki melirik Asa yang cekikikan di atas almari Kiki-tempat kesukaan Asa kalau nongkrong. Kiki juga tersenyum padanya.
"Yeeee malah cekikikan si Asa. Turun lo! Suka banget, sih, nongkrong di situ!"
Asa turun mendekat pada Kiki.
"Gimana, ada kabar apa hari ini?" tanya Kiki pada Asa.
Masha bergidik melihat Kiki yang bicara sendirian seperti orang gila.
"Mmm.. Adik tiri lo ini tadi buka-buka almari lo, lihat barang-barang lo gitu," jelas Asa.
"Apa dia ngambil sesuatu?"
"Nggak, sih, cuma iseng kayaknya karena nggak ada kerjaan, makanya dia lihat-lihat barang lo. Tapi kalau lo penasaran, tanya aja langsung," saran Asa.
"Masha, lo tadi ngapain buka-buka almari gue?"
"Kok, dia tahu, ya, kalau tadi aku buka-buka almarinya," gumam Masha pada dirinya sendiri.
"Yee malah ngomong sendiri. Ayo jawab! Pasti lo mau maling, kan?" tuduh Kiki sembarangan.
"Nggak, kok, Kak. Gue tadi boring aja, nggak ada kerjaan, makanya lihat-lihat barang-barang Kak Kiki. Tapi Kakak tahu dari mana? Kan, di kamar ini nggak ada CCTV nya?"
"Lo lupa kata gue tadi? Di kamar ini ada Asa. Jadi lo jangan macem-macem, deh."
"Jadi tadi itu beneran, ya? Aku pikir tadi itu cuma karangan Kak Kiki aja."
"Hm anak ini. Berani macem-macem sama gue," kata Kiki berdiri dari duduknya, menggulung lengan baju panjang yang ia kenakan.
"Nggak, Kak, ampun! Aku nggak akan macem-macem sama Kakak lagi. Kita damai aja, ya, Kak?"
"Kalau itu, sih, belum bisa gue jawab sekarang. Kapan-kapan aja gue jawabnya. Sekarang lo santai aja, nikmati kamar gue selagi lo bisa."
Kok, Kak Kiki bilangnya kayak gitu, sih? Masha membatin.
-Bersambung-