MACKY

MACKY
4. Maling



Setelah memberi salam Kiki masuk ke rumahnya. Di depan TV Kiki melihat seseorang yang bukan penghuni rumah. Tadinya Kiki pikir dia maling. Tapi setelah diperhatikan, masa maling asyik nonton TV? Di mana-mana maling itu langsung ngacir setelah mendapat sesuatu yang menurutnya berharga.


"Eh, lo sudah pulang?" tanya cowok itu sok akrab.


Kiki menggerakkan kepalanya melihat ke arah cowok itu.


"Lo ngomong sama gue?" ledek Kiki.


"Gue ngomong sama tembok! Ya, lo lah! Emang ada manusia lain di ruangan ini?"


"Kirain. Lo siapa, sih? Mau maling, ya?"


"Sembarangan aja lo! Gue ini sodara lo!" geram cowok itu.


"Sodara? Masa, sih, kok, nggak mirip? kok, gue nggak pernah lihat lo? Ooowh, jangan-jangan lo itu sodara gue yang dibuang Papa tapi sudah Papa pungut lagi, makanya nggak pernah ketemu sama gue," tebak Kiki asal.


"Ish... Tadi malam lo nggak datang, sih," kata cowok itu.


"Maksudnya? Acara bokap gue?"


"Iya. Dari semalam gue sudah tidur di rumah ini."


"Udah, deh, nggak usah muter-muter. Sebenarnya lo siapa, sih?"


"Kan, gue sudah jawab. Gue sodara lo. Tiri, sih."


"Tiri? Maksud lo, lo anak Tante, Tante, Tante siapa?" tanya Kiki mendadak dia lupa nama ibu tirinya.


"Tanti?"


"Iya, itu maksud gue. Lo anak Tante Tanti?"


"Yup, seratus buat kamu. Kenalin gue Alex," sahut Alex sembari berdiri dan menjulurkan tangan kanannya ke depan, hendak menyalami Kiki.


Kiki mengabaikan tangan itu tetap di udara. Kiki beranjak dari tempatnya,  melangkah menuju ke kamar tidurnya.


"Lo Kiki, kan? Cewek nakal itu? Anak macam apa lo, nggak hadir di acara penting bokap lo sendiri?" cibir Alex.


"Bukan urusan lo!" jutek Kiki.


Tadinya Kiki hendak melanjutkan langkahnya, namun niatnya terhenti karena ada suara yang memanggilnya.


"Baru datang, Nak?" sapa Tanti.


"Tante siapa?"


"Saya Tanti," jawab Tanti singkat sambil tersenyum.


"Ow jadi barusan tante lagi latihan drama jadi emak tiri yang baik hati dan tidak sombong, gitu?" tuding Kiki.


"Nggak mempan, Tante. Nggak usah susah-susah berdrama sok baik sama Kiki. Itu nggak akan ada gunanya," imbuh Kiki. Kiki melanjutkan langkahnya ke kamar.


Langkahnya terhenti lagi saat Alex menghalangi jalan Kiki.


"Eh, maling, lo ngapain ngehalangi jalan gue, hah?"


"Di lantai dua ini, nggak cuma ada kamar lo, tapi juga ada kamar gue. Sebelahan sama kamar lo. Gue ngehalangi lo karena gue pengin lo minta maaf sama Mama gue," ujar Alex.


"NGGAK AKAN!" pekik Kiki lantang.


"Dasar cewek nakal! Oya, satu lagi. Gue bukan maling!"


"Terus apa namanya kalau bukan maling? Nyokap lo itu nikahin Papa gue pasti karena ngincer harta Papa gue. Dan lo sebagai anaknya, pasti ikut kebagian duit haram itu, kan? Jadi, minggir, jangan halangi lagi, gue mau ke kamar."


"Suruh siapa mereka menikah? Papa lo yang ngajak Mama gue nikah," elak Alex.


Kiki sudah melangkah tiga langkah melewati Alex lalu berhenti dan membalikkan badannya saat mendengar ocehan Alex barusan.


"Apa lo bilang? Nyokap lo bisa nolak dinikahi bokap gue, kan? Tapi kenyataannya, apa? dia malah memanfaatkan kesempatan emas ini untuk menguras harta Papa. Menjijikkan!" pekik Kiki lebih keras.


Kiki membuka pintu kamar. Betapa terkejutnya Kiki saat melihat seorang gadis yang sedang berbaring di atas ranjang tercintanya.


"PAPAAAAAAA!!!"


"Siapa lagi dia, Pa?" tanya Kiki saat papanya sudah tiba di kamar Kiki.


"Dia Masha, adiknya Alex. Adik kamu juga," jawab papanya.


"APA? JADI PAPA NIKAH SAMA JANDA ANAK DUA? Kalau beli induk kambing gratis dua anaknya, sih, enak. Ini manusia, Pa! Ok, lupakan soal itu. Sekarang Kiki mau nanya, Masha ini ngapain tidur di ranjang Kiki?"


"Masha nggak mau tidur sendirian, dia maunya tidur sama kamu. Lagian nggak ada lagi kamar kosong. Yang ada cuma gudang."


"Kenapa nggak tidur di gudang aja, sih?"


"Hus! Nggak mungkin, dong, dia di gudang."


"Masha nggak mau, Kak, di gudang," rengek Masha.


"DIAM!" bentak Kiki pada Masha.


"Nggak mungkin gimana, Pa, tinggal dibersihkan aja, kan?"


"Kenapa nggak kamu aja?"


"Enak aja. Itu kamar Kiki, Pa. Papa baru nikah tadi malam aja, sudah sejahat itu sama Kiki?"


"Lagian apa susahnya, sih, cuma berbagi kamar sama Masha?"


"Asa boleh!"


"Asa, kan, nggak tidur sama Kiki, Pa."


"Ya, sama aja, kamu berbagi kamar sama dia."


"Ya, beda lah, Pa."


"Ya sudah, gini aja. Kalau Masha mau di kamar ini, Papa harus belikan ranjang satu lagi. Kiki nggak mau seranjang sama Masha," usul Kiki setelah berpikir beberapa saat. Setelah itu dia tersenyum licik. Sepertinya dia punya rencana baru buat Masha.


*********************************


Pagi-pagi Cila sudah heboh sendiri di kelas dengan rasa penasaran yang sepertinya sudah dia tahan-tahan sejak kemarin. Ratu juga baru saja sampai, dia duduk di kursinya, di samping Kiki.


"Gimana, Ki, lo diomelin nggak sama bokap lo karena nggak pulang kemarin dan nggak datang ke acara bokap lo? terus apa emak tiri lo itu jahat, apa baik? terus apa dia punya anak juga? Terus ada berapa sodara tiri lo?"


"Ish, Cila, berisik banget, sih!" desah Ratu sudah tak tahan mendengar ocehan Cila-salah satu sahabatnya yang super ceriwis dan kadang-kadang lola (baca: loading lama).


"Lo sarapan petasan, ya?" imbuh Ratu.


"Satu-satu, dong, La. Gue harus jawab yang mana dulu?"


"Ok, satu, bokap lo marah apa nggak karena lo nggak pulang kemarin dan nggak datang ke acara bokap lo?" ulang Cila.


"Nggak. Bahkan Papa nggak nanyain gue, kenapa gue nggak pulang dan nggak datang ke acaranya. Mungkin karena dia sudah tahu kalau gue tidak setuju dia nikah lagi," sahut Kiki.


"Dua, apa emak tiri lo itu jahat apa baik?" tanya Cila yang kedua kalinya.


"Gue belum tahu. Tapi sampai saat ini, dia bersikap sok baik, sok manis, dan sok perhatian sama gue. Mungkin juga karena ada Papa di rumah. Tapi kalau Papa tidak di rumah, entah lah!" jawab Kiki dengan raut wajah berubah sedih.


"Tiga, apa dia punya anak juga? Terus ada berapa sodara tiri lo?"


"Iya, dia punya anak juga. Bahkan dua orang. Lebih parahnya lagi, anak ceweknya itu mau sekamar sama gue. Dia ngungsi ke kamar gue. Bikin gue tambah sebel aja," sungut Kiki sambil membayangkan Masha.


"Wow, itu berarti anak yang satunya, cowok, ya? Umur berapa? Ganteng nggak, Ki? Kapan-kapan gue main ke rumah lo, ya, aku penasaran sama sodara tiri lo itu," kata Cila.


Tiba-tiba Kiki mendadak diam. Seperti ada sesuatu yang terjadi. Ternyata Kiki mendengar teriakan. Dia diam sejak tadi karena sedang menebak arah suara teriakan tersebut. Dan dari hasil analisa dia, suara itu bersumber dari toilet. Kiki jadi teringat sama Sarah-hantu penunggu toilet yang jahat.


"Itu suara Asa! Dia dalam bahaya! Aku harus ke toilet nolongin dia," sergah Kiki.


"Hah? Tapi bentar lagi guru pasti datang, Ki!" Ratu mencoba mengingatkan Kiki.


"Tapi ini lebih penting, Ra," ucap Kiki sebelum pergi.


Kiki berlari menyusuri koridor kelas menuju toilet. Dan dugaan Kiki benar. Asa sedang dianiaya Sarah saat Kiki sampai di toilet.


"SARAH, HENTIKAN!" sergah Kiki.


Sontak Sarah menghentikan aksi aniayanya terhadap Asa-hantu lugu yang hanya mencintai Marcel.


"LEPASIN ASA!" pekik Kiki.


Sarah melepaskan Asa sebelum Asa berlari ke belakang Kiki.


"Lo bisa lihat gue?" tanya Sarah heran.


"Gue pikir lo nggak bisa lihat gue sebelumnya. Bahkan lo tahu nama gue."


"Lo salah, Sarah. Gue tahu banget lo itu hantu seperti apa. Hantu jahat yang suka ngintipin siswa sini di toilet, dan lo suka nakut-nakutin siswi di sekolah ini. Dasar hantu ganjen!" cerca Kiki geram.


"Terus teman lo itu nggak ganjen? Dia ngapain ke toilet cowok?" lawan Sarah.


Kiki melihat ke arah Asa. Asa paham kalau dia harus memberi penjelasan pada Kiki.


"Anu, tadi gue ngikutin Marcel sampai ke toilet. Tapi gue nggak ngintip, kok, Ki," jelas Asa.


"Lo dengar sendiri, kan, Sarah? Dia nggak ngintip."


"Tetap aja, gue nggak suka dia ada di wilayah gue. Toilet ini wilayah gue."


"Iya, gue tahu, kok. Asa, ayo minta maaf sama Sarah!"


"Iya, Sarah, maafin gue," kata Asa tulus.


"Lain kali jangan main di toilet, ya?"


"Iya. Gue janji, nggak akan main ke toilet lagi."


Kasus selesai. Kiki menyuruh Asa pulang, sedangkan dirinya hendak masuk lagi ke kelas. Sampai di kelas, pastinya Kiki sudah terlambat. Pelajaran sudah dimulai. Gleg! Kiki menelan ludah. Dia memberanikan diri masuk ke kelas.


"Assalamualaikum. Maaf, Pak, saya terlambat," ucap Kiki menyesal.


"Dari mana kamu, Kiki?"


"Dari toilet, Pak."


"Kok, lama?"


Kiki diam. Tak ada alasan lagi yang bisa Kiki gunakan untuk menyelamatkan dirinya dari omelan pak selamet-guru sosiologi- yang galaknya masyaallah. Tapi entah kenapa hari ini dia lagi kalem. Nggak segalak seperti biasanya. Rupanya Kiki sedang beruntung.


"Ya sudah, duduk sana!"


Yeeaai, Kiki selamat dari amukan pak Selamet!


-Bersambung-