
Di kamar Marcel sepulang sekolah.
Dion dan Reval sedang asyik main game, sedangkan Noval sibuk dengan ponselnya dan Marcel sibuk dengan buku di tangannya di depan meja belajarnya. Marcel memang suka membaca buku apa saja. Pantas jika dia sampai membeli rak khusus menyimpan buku-buku koleksinya.
Tut!
Tiba-tiba suara notifikasi pesan masuk terdengar. Marcel masih fokus dengan bukunya. Tak menggubris sedikit pun pesan itu.
Noval menatap ke arah Marcel.
"Pesan dari siapa, Cel?" tanya Noval.
"Nggak tahu," sahut Marcel tak melihat Noval.
"Belum dilihat?" tanya Noval lagi. Sepertinya Noval penasaran sekali pada pesan itu.
"Belum," jawab Marcel lalu mengambil ponselnya di atas meja belajar di sampingnya dan membuka pesan itu.
Ekspresi wajah Marcel berubah. Kedua matanya terbuka lebar. Terkejut.
"Kenapa, Cel? Ada berita penting?" tanya Noval lagi.
Marcel memutar kepala melihat Noval lalu menyerahkan ponselnya pada Noval. Noval membaca pesan itu. Dan pastinya Noval pun ikut terkejut.
085231xxxxxx
Selamat, ya, Cel. Atas kemenangan lo! 😘
#💋
Sepertinya, siapa pun yang membaca itu akan terkejut juga.
"Kira-kira, dari siapa ya, Val. Lo kenal nomor itu, nggak?" tanya Marcel pada Noval. Noval menggeleng.
"Yes! Gue menang!" pekik Reval yang baru saja memenangkan game.
"Ck! Kalah lagi gue!" desah Dion.
Reval mendekat pada Noval.
"Eh, apaan, sih, Val?" tanya Reval pada Noval.
"Nih, lo lihat sendiri. Marcel dapat pesan misterius," sahut Noval sembari menyerahkan ponsel Marcel pada Reval.
Reval membacanya. Dion pun ikut mengintip ponsel Marcel.
"Itu, sih, pasti dari penggemar rahasianya Marcel," celetuk Dion tiba-tiba, mengagetkan Reval.
"Pelan-pelan ngomongnya, Nyet!" protes Reval.
"Lo mau bikin gue jantungan? Huh?" imbuh Reval.
"Hehe, sorry, ya," sahut Dion menyesal.
"Kalah, sih, kalah, tapi jangan nyerang jantung gue, dong!" omel Reval, masih kesal pada Dion yang mengagetkannya.
"Iya. Tadi, kan, gue sudah bilang "sorry" sama lo."
"Sudah, sudah! Jangan berantem dulu. Yang harus kita pikirkan, kira-kira siapa yang punya nomor ini?" lerai Noval.
"Kan, tadi gue sudah bilang, itu dari penggemar rahasianya Marcel," ulang Dion.
Noval memberi kode pada Marcel. Marcel menggeleng.
"Nggak tahu gue," kata Marcel.
"Coba kalian cek kontak hp kalian. Siapa tahu ada nomor ini di hp kalian!" suruh Noval.
Dion, Reval dan Noval juga mengecek ponsel mereka masing-masing.
"Nggak ada, Val," kata Reval.
"Di hp lo, ada, nggak, Yon?" tanya Reval pada Dion.
"Nggak ada juga," jawab Dion seraya menggeleng.
"Sama. Di ponsel gue juga nggak ada. Kira-kira siapa, sih, nih, orang? Ngerepotin aja!" gerutu Noval, mulai frustasi.
"Sudah. Jangan dipikirin! Lagian itu nggak penting juga," sergah Marcel.
"Ya udah, deh, gue pulang dulu, ya, Cel. PS gue ditinggal di sini aja," pamit Reval.
"Gue juga pamit pulang," timpal Noval.
"Gue juga," sambung Dion.
"Ya sudah, deh, kalian hati-hati, ya," pesan Marcel.
***
Asa memperhatikan Kiki yang terlihat sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper.
"Ngapain, Ki?" tanya Asa akhirnya karena penasaran.
"Main kelereng," jawab Kiki seenaknya.
"Hah?"
Asa kaget mendengar jawaban Kiki, tapi tidak lama karena beberapa detik kemudian Asa sadar.
"Serius napa! Lo kayak orang mau pindahan," kata Asa.
"Emang," sahut Kiki masih sibuk dengan apa yang dia kerjakan.
Apa lagi, ya? Batin kiki sambil berpikir.
"Oiya! Peralatan mandi. Hampir aja lupa," pekik Kiki tiba-tiba mengagetkan Asa.
Kiki ngacir ke kamar mandi. Dan tak lama sudah kembali ke kamarnya.
"Mau ke mana, Kak?" tanya Masha yang baru masuk ke kamar.
"Gue mau pergi," sahut Kiki.
"Pergi? Ke mana?"
"Ke rumah Nenek."
"Kak Kiki mau pindah ke sana, tinggal sama neneknya Kak Kiki?"
"Buat selamanya?" tanya Masha lagi memastikan. Asa masih memperhatikan mereka berdua.
Kiki menggeleng. "Nggak. Selama liburan aja."
"Owh."
Kiki menarik resleting koper, menutup rapat koper kecilnya.
"Selesai!" pekik Kiki.
"Kenapa? Kok, kayak sedih gitu?" tanya Kiki yang duduk di samping Masha di atas ranjang.
"Gimana nggak sedih. Kalau Kak Kiki pergi, Masha sendirian, dong," ujar Masha. Sedih.
"Siapa bilang? Lo nggak sendirian. Kan, ada Asa," ucap Kiki berkelakar. Kiki tahu betul, adik tirinya itu sangat takut pada Asa. Bagaimana tidak, tempo hari Asa pernah menampakkan dirinya dengan tampang seramnya.
"Kak Kikiiii!" pekik Masha.
"Bikin takut aja, deh! Udah tahu Masha bakalan sendirian di kamar ini. Pakai bilang kayak gitu, lagi!" Gerutu Masha.
Kiki terbahak keras.
"Tenang aja. Asa nggak bakalan nakutin lo lagi, kok."
"Masa? Serius?"
"Iya. Gue jamin," kata Kiki sangat yakin.
"Kalau tahu Kak Kiki mau pergi, Masha nggak mungkin pulang ke sini. Mending Masha tetap di rumah Nenek aja. Daripada takut sendirian di kamar ini," ujar Masha.
"Oh iya. Lo kapan datang?"
"Baru saja," jawab Masha.
"Kak Kiki kapan pergi ke rumah Neneknya?" tanya Masha.
"Bentar lagi. Nunggu Papa. Gue mau minta antar Papa ke rumah Nenek," jelas Kiki.
"Papa sudah datang, kok, Kak. Kan, Papa yang jemput Masha dari rumah Nenek Masha tadi," jelas Masha.
"Oiya? Kalau gitu, sekarang aja gue berangkat."
"Emang Kak Kiki sudah libur sekolahnya?"
"Iya. Lo juga libur, kan?"
"Iya. Tapi liburan Masha bakalan percuma, dong, kalau nggak ada Kak Kiki di rumah."
"Tadinya, Masha minta jemput Papa biar bisa liburan sama Kak Kiki. Ternyata Kak Kiki mau pergi," tambah Masha.
"Ya sudah, lo ikut gue aja, liburan di rumah Nenek," usul Kiki.
"Emang boleh?" tanya Masha agak ragu. Takut tidak diizinkan pergi mamanya.
"Kenapa nggak?"
"Gue ikut lo juga, dong, Ki. Bosan di sini terus!" timpal Asa.
"Halah, lo kayak nggak pernah jalan-jalan aja. Biasanya lo sering keluyuran ke mana-mana."
"Nggak, Masha nggak sering keluyuran, Kak," sambung Masha.
"Bukan lo, tapi Asa. Noh, mau ikut juga," jelas Kiki.
"Hah, jadi makhluk itu masih ada di kamar ini?" pekik Masha kaget.
"Biasa aja kali, Sha. Lebay banget, deh! Apa tadi dia bilang, makhluk ini? Enak aja, nih, bocah!" sebal Asa.
"Ki, ajarin adik lo, tuh, sembarangan aja kalau ngomong!" imbuh Asa sambil melotot.
"Asa, lo seriusan mau ikut gue liburan di rumah Nenek?"
"Serius, dong, Ki. Boleh, kan?"
"Serah lo, sih, kalau itu." pasrah Kiki.
Kiki dan Masha turun menemui Papa dan Mamanya. Asa? Pastinya membuntuti Kiki di belakangnya persis bayangan.
"Loh, kamu mau ke mana, pakai bawa koper segala?" tanya papa Kiki.
"Oiya, mama lupa, Pa. Sebenarnya Kiki tadi sudah minta izin sama mama. Dia mau liburan di rumah Mama mertua. Tapi mama lupa bilang ke Papa tadi," sambung Tanti.
"Gimana, sih, Tante. Kok, malah lupa."
"Iya, tante minta maaf, ya. Tante lupa," ucap Tanti menyesal.
"Percuma, dong, tadi Kiki pamit sama Tante. Tahu gitu, Kiki langsung aja pamit sama Papa."
"Orang lupa, biasa kali, Ki," lerai papa Kiki. Kiki menghela berat dan memutar bola matanya ke arah lain.
Lagi-lagi belain istri mudanya, batin Kiki.
"Oiya, Masha ada perlu. Iya, kan, Sha? Ayo cepat, lo bilang!" suruh Kiki setelah menyenggol lengan Masha.
"Oiya. Masha boleh, nggak, Ma, liburan sama Kak Kiki di rumah neneknya Kak Kiki?"
"Gimana, Pa?" kata Tanti melempar pertanyaan Masha pada Ali-papa Kiki.
"Ya, kalau menurut Papa, kenapa tidak, Masha cucunya juga, kan? Neneknya Kiki, berarti nenek Masha juga. Iya, kan, Sha?"
"Iya, Pa. Lalu, gimana?" tanya Masha meminta keputusan.
"Kamu yakin, Sha, mau ikut Kakakmu?" tanya Tanti memastikan keinginan putrinya.
Masha mengangguk. "Yakin banget!"
"Ya sudah, kalau gitu, ayo kita berangkat!"
Ali mengantar Kiki dan Masha ke rumah ibunya.
Bersambung...
Makasih sudah nge-like MACKY
Tambah ke favorit ya 😊