MACKY

MACKY
8. Si Slebor



Cila sibuk memakan snack yang tadi sempat dia beli di kantin. Mulutnya sibuk seperti mbah dukun yang sedang komat kamit membaca mantra. Sama dengan Ratu yang melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Cila. Beda lagi dengan Kiki yang sedang mengemut lolipop di mulutnya. Tadinya mereka bertiga fokus dengan makanan mereka sebelum Cila akhirnya bersuara saat hidung kecilnya itu mencium aroma yang kurang sedap.


"Guys, bentar, deh! Hidung kalian cium bau-bau tidak sedap gitu,  nggak?"


Ratu mengendus sekeliling. "Iya, La. Kayak bau kaos kaki, deh," timpal Ratu.


Mendengar komentar Ratu membuat Kiki nyengir kuda. "Hehe, itu bau kaos kaki gue, guys!"


"APA?" teriak Ratu dan Cila saling bersahutan. Kiki melirik kedua sahabatnya dengan cengirannya.


"Kok bisa sebau itu, sih, Ki?" tanya Ratu.


"Ini kaos kaki terakhir dipakai hari kamis minggu lalu. Gue memakainya sejak hari seninnya. Terus gue lupa nggak mencuci kaos kaki ini pada minggu kemarin. Parahnya lagi, gue nggak ada cadangan kaos kaki putih yang lain."


"Ampun, deh, Ki. Kebiasaan lo, tuh, ya, kapan sembuhnya, sih?" ujar Cila sembari teriak-teriak sambil jingkrak-jingkrak di hadapan Kiki.


"Ya sorry, kan, gue lupa," ujar Kiki beralasan.


"Lo, tuh, mau lupa, atau nggak lupa sekali pun emang jorok," sambung Ratu gemas dengan satu sahabatnya itu.


"Ya, maaf kawan-kawan," jawab Kiki dengan raut sedihnya.


"Ya sudah. Gimana kalau kita pulangnya mampir dulu di mini market buat beli kaos kaki kamu, Ki?"


"Boleh, tapi gue ijin ke Marcel dulu, ya?"


"Cie.. baru juga pacaran, udah main ijin-ijinan segala," goda Cila.


"Nggak gitu juga, La. Semalam, tuh, gue sama Marcel janjian. Katanya dia mau nganterin gue pulang. Jadi gue harus bilang dia, kalau gue mau pulang sama kalian berdua."


"Owh, gitu," sahut Cila.


"Ya, udah sana, lo bilang ke Marcel," ujar Ratu.


Sesampainya Kiki di kelas X IPS 1, Kiki tidak melihat batang hidung Marcel. Entah anak itu ada di mana. Kiki hanya bertemu dengan ketiga sahabat Marcel.


"Guys, Marcel mana?"


"Hah? Lo nggak tahu kalau Marcel nggak masuk hari ini?" jawab sekaligus tanya Dion. Kiki cepat menggeleng.


"Emang Marcel kenapa nggak masuk hari ini?"


"Marcel lagi sakit, Kin," sahut Reval.


"Kita saja mau ke rumahnya nanti sepulang sekolah. Lo mau bareng kita, nggak?" tambah Noval.


Kiki menggeleng. "Nggak, deh, Val. Gue ke sana bareng teman-teman gue aja nanti," tolak Kiki.


"Oke lah, kalau gitu."


Kiki kembali ke kelasnya menemui kedua sahabatnya yang masih menunggu kabar dari Kiki.


"Guys, Marcel sakit! Nanti setelah ke mini market mampir ke rumah Marcel, ya, jengukin dia. Sekalian nanti ingetin gue buat beliin sesuatu buat Marcel, ya?"


"Cie.. Perhatiannya! Iya, deh, Ki. Nanti kita ingetin. Ya nggak, Ra?" goda Cila. Ratu mengangguk.


***


Di mini market..


Di sebuah mini market Kiki berkeliling di dalamnya mencari makanan dan minuman apa saja yang pantas dia bawa untuk Marcel. Sedangkan sahabatnya-Ratu dan Cila sibuk memilah dan memilih kaos kaki yang cocok untuk Kiki.


"Ki, kalau ini gimana, lo suka nggak?" Ratu memperlihatkan kaos kaki yang dia pilihkan sebelumnya untuk Kiki.


Baru ingin menjawabnya, Kiki sudah menabrak rak makanan saat dia mendekati Ratu sehingga beberapa makanan di rak itu berjatuhan.


"Ampun, deh, Ki! Pelan-pelan, doong!" kata Cila.


"Makanya, jalan, tuh, pakai mata! Dasar, slebor!" cibir Berlin-musuh bebuyutan Kiki di sekolah- tiba-tiba saat melihat Kiki menabrak rak. Itu menjadi kesempatan buatnya untuk meledek Kiki. Tapi tetap saja Kiki and the gang yang selalu menang setiap mereka berseteru.


"Lo dengar sesuatu, nggak, Ra?" tanya Kiki pada Ratu.


"Nggak juga. Hantu kali!"


Berlin melengos, sok tidak peduli dengan pembalasan Kiki dan sahabat-sahabatnya.


Mereka memang sudah lama sekali menjadi musuh bebuyutan si Berlin. Sejak mereka sekolah SMP. Dan mereka bertiga selalu kompak melawan Berlin yang mulutnya memang tidak pernah disekolahin, hehe.


***


Kiki, Ratu dan Cila turun dari mobil angkutan umum. Kiki meregangkan semua bagian tubuhnya dengan menggerak-gerakkannya. Duduk di mobil tadi membuatnya pegal-pegal. Seperti nenek-nenek saja, ya? Hehe. Setelah itu, Kiki melihat sekelilingnya.


"Astaghfirullah!" teriak Kiki seketika mengagetkan Ratu dan Cila.


"Kenapa, Ki?"


"Gue belum tahu rumah Marcel yang mana dan gue juga lupa nanya teman-temannya tadi. Gue cuma inget Marcel pernah bilang sama gue alamat rumahnya, tuh, di sini. Tapi gue nggak tahu yang mana."


"Gimana, sih, lo, Ki. Rumah pacar sendiri, kok, nggak tahu?"


"Gue belum pernah diajak ke rumahnya, La, sama Marcel."


"Ya sudah. Tinggal tanya orang saja. Tuh, di sana ada orang, tanya sana!" ujar Ratu pada Cila.


"Apa? Gue yang nanya? Ogah! Bukan rumah cowok gue kali!"


"Ya udah, gue aja yang nanya," timpal Kiki.


Setelah menanyakan pada orang yang ditemuinya, Kiki, Ratu dan Cila melanjutkan perjalanannya ke rumah Marcel sesuai dengan arahan yang sudah didapat Kiki sebelumnya.


Setelah beberapa menit berjalan, langkah Kiki berhenti di depan sebuah rumah. Ratu dan Cila pun ikut berhenti.


"Yang ini, Ki, rumahnya?" tanya Ratu.


"Kalau berdasarkan penjelasan orang yang gue tanya tadi, rumah Marcel itu rumah ketiga setelah belokan sebelah kanan. Berarti ini, dong! Kan, di depannya juga nggak ada rumah. Berarti benar yang ini, dong!" yakin Kiki.


Kiki menatap setiap sisi rumah Marcel. Sama sekali dia tak menduganya. Dia pikir rumah Marcel itu besar dan megah, tapi di hadapannya saat ini hanya ada rumah kecil sederhana. Bukan karena Kiki seorang cewek yang matrek, hanya saja perkiraannya sangat meleset. Kiki kira Marcel adalah anak orang kaya raya, ternyata sama sekali salah.


"Ki, lo nggak apa-apa?" tanya Cila sembari melambaikan tangannya di depan wajah Kiki, mengagetkan Kiki.


Kiki terkesiap lalu menjawab, "nggak, kok, gue nggak apa-apa. Ayo, kita masuk!"


***


"Assalamualaikum," ucap Kiki, Ratu dan Cila nyaris bersamaan.


Seseorang membuka pintu utama rumah Marcel. Tapi itu bukan Marcel atau pun mami Marcel.


"Eh, lo, Ki. Reval dan Dion baru aja balik," jelas Noval.


"Lo sendiri, kok, belum balik? Gimana kabar Marcel? Nggak parah, kan?"


"Nggak, kok, Ki. Dia cuma demam biasa. Ayo, silakan masuk teman-teman," ajak Noval.


Noval juga mempersilakan Kiki dan kedua sahabatnya duduk di ruang tamu rumah Marcel.


"Gue panggil Marcel dan Mami dulu, ya," izin Noval. Semuanya mengangguk.


Sekarang tinggal mereka bertiga di ruang tamu rumah Marcel. Noval memberi tahu Marcel dan maminya akan kehadiran Kiki dan teman-temannya. Marcel dan maminya pun menemui tamu mereka.


"Eh, kalian. Gue jadi nggak enak, nih, sudah ngerepotin kalian."


"Nggak ngerepotin sama sekali, kok, Cel," sahut Kiki.


"Sampai dibawain makanan dan minuman segala, loh, Cel. Kurang perhatian apa, coba?" goda Cila membuat Kiki menunduk tersipu malu. Sedangkan Ratu memalingkan tatapannya ke arah lain. Enggan menatap adegan yang terjadi di hadapannya.


"Lo jangan lama-lama, ya, sakitnya. Kasihan, tuh, si Kiki khawatir sama lo," timpal Ratu yang di dalamnya mengandung sindiran tanpa disadari semua orang di sana.


Semuanya terbahak, beranggapan itu hanya candaan Ratu.


-Bersambung-