MACKY

MACKY
14. Kesedihan Kinanti



Sebelum bel tanda masuk kelas berbunyi dan sebelum Kiki datang, Marcel sudah berdiri di pintu gerbang sekolah menunggu kedatangan Kiki. Readers masih ingat, kan, kemarin Kiki janji mau ngasih uang ke Marcel untuk bayar SPP Marcel yang sudah nunggak enam bulan alias satu semester? Hatinya sudah dag dig dug menunggu kiki. Marcel harap-harap cemas, takut Kiki nggak sekolah hari ini. Mengingat kemarin Kiki jatuh sakit karena kecapaian.


Marcel memainkan kakinya untuk menenangkan hatinya yang mulai susah dikendalikan. Pasalnya hari ini kartu ujian akan dibagikan dan apabila tidak bayar hari ini, besok pagi Marcel harus datang lebih pagi dan mengantre sebelum ujian dimulai. Itu pasti sangat tidak menyenangkan, bukan? Bukankah ujian butuh ketenangan, bukan malah berdesak-desakan mengantre demi sebuah kartu ujian. Dan apabila kartu ujian Marcel tidak bisa diambil juga, Marcel tak dapat mengikuti ujian di ruangan yang sudah ditentukan, malainkan harus ujian di ruangan khusus yang memalukan bagi siapa pun yang mengerjakan soal ujian di sana. Dan Marcel tak mau menanggung malu itu. Bagi Marcel, lebih baik nggak ikut ujian atau ikut ujian susulan sendirian daripada mengerjakan soal ujian di ruangan khusus itu dengan beban malu sepanjang masa. Ah, Marcel memang lebay!


Tapi keberuntungan hari ini sedang berpihak pada Marcel. Kiki datang di waktu yang tepat, Kiki datang sebelum bel masuk berbunyi. Marcel melihat Kiki yang sudah melewatinya dan terus mengendarai motor bebek nya ke arah parkiran. Mungkin Kiki tak melihat Marcel di gerbang tadi. Marcel berlari menuju parkiran, menemui Kiki.


"Ki, akhirnya lo datang juga! Tapi tadi lo, kok, lewat gitu aja, sih, nggak berhenti saat lihat gue?"


"Emang lo ada di mana? Gue nggak lihat lo sama sekali."


"Hah? Jadi benaran nggak lihat gue? Pantes aja!"


"Hehe, sorry, gue mungkin terlalu fokus nyetir. Kenapa lo nungguin gue, Cel?"


Duuuh, Kiki pakai nanya segala lagi, gimana gue jawabnya, coba?


"Mm... Anu, Ki-"


"Owh, gue inget. Lo bukan nungguin gue, tapi lo nungguin uang SPP lo, kan?"


Marcel nyengir mendengar perkataan Kiki. Itu membuat dia tersindir.


"Udah, lo tenang aja. Gue bawain, kok, sekalian sama punya gue juga soalnya. Makanya gue inget," ujar Kiki.


Marcel lebih lega lagi mendengar itu dari mulut Kiki. Kiki memberi uang yang dia janjikan itu ke Marcel. Kemudian mereka berdua berjalan ke kelas mereka dengan bersisian.


***


Saat itu Kiki baru turun dari tangga, Tanti melihatnya. Tadinya dia memang mau ke kamar Kiki, mau mengajak Kiki untuk sarapan bersama, ini hari pertama Kiki UAS, jadi Tanti tak mau ada apa-apa terjadi pada Kiki.


"Loh, Tan, ngapain Tante di sini?"


"Sarapan dulu, yuk, Sayang! Ini, kan, hari pertama Kiki UAS. Jadi Kiki sarapan di rumah, ya. Kalau hari-hari biasanya Kiki makan di kantin sekolah atau malah mungkin Kiki nggak sempat sarapan di sana, Tante juga nggak tahu. Itu terserah Kiki, tapi selama Kiki UAS, Kiki harus sarapan di rumah, ya, Tante akan siapain setiap hari, ya?"


"Iya, Tante," jawab Kiki cepat agar ibu tiri nya cepat berhenti bicara, memaksanya untuk sarapan di rumah sebelum pergi.


"Bagus! Yuk, sarapan, Tante sudah buatin nasi goreng kesukaan Kiki."


Biasanya Kiki selalu enggan diajak sarapan Tanti. Tapi hari ini, rasanya Kiki nggak tega untuk menolak ajakan Tanti. Ajakan nya terdengar dan terasa tulus banget. Akhirnya Kiki mengikuti langkah Tanti ke ruang makan. Di sana sudah ada papanya dan Alex.


"Kiki biar aku aja, ya, Ma, yang nganterin? Biar lebih cepat!"


"Nggak perlu, malah lebih cepat kalau pakai sepeda motor daripada mobil," tolak Kiki beserta alasannya.


"Ya udah, gue antar pakai sepeda motor aja."


"Nggak usah, gue masih sanggup, kok, bawa motor ke sekolah. Lo nggak kuliah apa?"


"Duuuh, sayang nya gue perhatian banget, sih, sama gue!" ucap Alex berkelakar.


"Cih, cuma nanya, ya!" sanggah Kiki.


"Gue cuma dua kali dalam seminggu, kok, ke kampusnya. Jadi lo nggak usah khawatir," jelas Alex agar Kiki bisa tenang.


"Yang bilang gue khawatir siapa? Gue, kan, tadi sudah bilang, gue cuma nanya, nggak usah GR gitu, deh! Nggak ada manfaatnya!"


"Sudah, sudah, ayo sarapan dulu, berantemnya lanjutin habis sarapan aja, ya? Mau ujian, kan?"


"Anak Tante, tuh, bikin mood Kiki pagi-pagi sudah lenyap," sungut Kiki.


"Iya, maafin Alex, ya. Maafin anak Tante, dia emang suka banget bercanda."


"Tapi candaannya itu garing!" cibir Kiki.


"Sudah, Ki. Ayo sarapan, ngoceh aja dari tadi," sahut papanya.


Kiki hanya diam, tak berani melawan.


***


Bel pulang alias bel tanda batas waktu ujian terakhir berakhir terdengar di seluruh telinga siswa sekolah itu. Sebelum pulang, Kiki mengantar Marcel pulang ke rumah. Kebetulan jalan ke rumah Marcel masih dilewati kalau Kiki mau pulang, tinggal belok dan masuk gang sedikit. Tidak terlalu jauh juga dari sekolah.


"Lo nggak mau mampir dulu?" tanya Marcel.


"Nggak sekarang, deh, mungkin lain waktu. Gue mau langsung pulang saja, ya?"


"Ok, kalau itu mau lo. Lo jaga kesehatan, ya. Jangan sampai lo sakit dan nggak bisa ikut UAS. Masih kurang tujuh hari lagi dan lo harus bertahan."


"Apaan, sih, kok, jadi lebay gitu?"


"Hehe, gue lebay, ya?" tanya Marcel tak sadar.


"Iya. Banget malah!"


"Hehe, maaf, deh! Ya sudah, deh, lo pulang, hati-hati, ya, Sayang!"


Hah? Sayang? Apa gara-gara ujian kuping gue jadi konslet mendadak? Tadi Marcel manggil gue "sayang", ya? Ah, halu gue aja, deh, kayaknya.


Kiki terdiam. Dia bergeming di tempatnya. Kiki tak percaya dengan apa yang dia dengar sebelumnya. Sejak kapan Marcel memanggilnya dengan sebutan itu?


"Iya, hati-hati. Waalaikumsalam. Sampai jumpa besoook, jangan sampai telat," jawab Marcel dengan sedikit berteriak sembari melambaikan tangan kanannya pada Kiki.


***


Kiki memarkir sepeda motornya di garasi rumah. Padahal Kiki pulang lebih awal dari biasanya, namun hari ini terasa lebih lelah. Mungkin juga karena berpikir menggunakan otak itu lebih menguras tenaga.


Kiki terkejut saat memasuki rumah ternyata papanya sudah menunggunya di ruang tamu.


"Sudah pulang?" sapa papanya.


"Iya."


"Kok, nggak pakai salam?"


"Sudah tadi dari luar. Papa aja yang nggak dengar."


"Mau ke mana?" tanya papanya saat Kiki mulai melangkahkan kakinya.


"Ke kamar lah, Pa. Kiki capek!"


"Ayo duduk dulu. Ada yang mau Papa bicarakan sama kamu."


Kiki duduk, menuruti perintah papanya.


"Tadi malam-malam sekali kamu keluar, kan? Jam berapa itu?"


"Sebelas malam," jawab Kiki sambil menunduk.


"Jam sebelas malam keluar rumah, mau ke mana?"


"Ke ATM aja."


"Nggak bisa ngambil uang paginya saja?"


"Takut nggak keburu, Pa."


"Ngambil uang buat apa? Mau beli apa kamu?"


"Bukan beli-beli, Pa."


Sebelah alis papanya terangkat mendengar jawaban putrinya itu.


"Terus ngapain ambil uang kalau bukan buat beli-beli?"


"Pa, jangan keras-keras, ya, ngomongnya sama Kiki," sela Tanti.


Suaminya tak menjawab, cuma mengangguk untuk menjawab ucapan istrinya.


"Buat bayar SPP."


"SPP? Bukannya kamu sudah bayar tiap bulan, ya? Seharusnya, kan, tinggal bayar SPP bulan yang terakhir saja. Tapi, kok, kamu ngambil uangnya bayak banget?"


Kiki diam.


"Jawab Kinanti!" titah papanya.


"Pa!" seru Tanti memperingatkan Ali.


"Jujur sama Papa Kinanti! Hari ini kamu mulai UAS, kan, jangan-jangan uang itu kamu gunakan untuk menyogok teman-temanmu untuk memberimu kunci jawaban, ya?"


"Pa!" Tanti terus berusaha menahan emosi suaminya.


"Kenapa? Kamu sudah tak bisa menggunakan otakmu sendiri, ya?" bentak papanya.


"Atau juga uang itu buat nyogok cowok biar mau jadi pacarmu? Hah? Jawab Kinanti!"


"Pa, sudah, Pa. Cukup!"


"Apa, sih, Ma? Dia ini emang harus dibilangin!"


"Tapi nggak dengan begini caranya, Pa! Papa bisa, kan, bicara baik-baik dengan tenang dan dengan kepala dingin sama Kiki?"


"Sudah lah, Tante! Nggak usah pura-pura baik sama Kiki. Kiki tahu, Tante senang, kan, kalau Kiki dimarahi Papa. Emang ini, kan, yang Tante pengin? Sok baik di depan Papa. Puas, Tante?" Ucap Kiki yang sangat menyakiti hati Tanti lalu berlari ke kamar.


"Kinanti! Tunggu! Papa belum selesai bicara! Kinanti!" panggil papanya dengan berteriak. Namun Kiki tak mau mendengar apa pun. Dia tetap terus berlari ke kamar. Dan mengunci kabarnya dari dalam.


"Sudah, Pa. Sudah! Cukup untuk hari ini!" ucap Tanti.


"Ma, seharusnya Mama nggak bela dia, Ma! Dia tambah kurang ajar sama Mama."


"Sudah, Pa. Mama nggak apa-apa, kok. Mama nggak mau dengar lagi Papa berantem sama Kiki."


Kiki menangis sejadi-jadinya di dalam kamar tanpa suara. Ingin rasanya dia teriak, namun tak bisa. Ingin juga dia pergi ke rumah neneknya saja dan tinggal bersama neneknya di sana. Tapi ada tujuh hari lagi yang membuat dia harus bisa menahan diri. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya lah tiga hal, yaitu menangis, menangis dan menangis. Asa tak tega melihat sahabatnya menangis sesendu itu meski dia tak tahu pokok permasalahan yang sebenarnya apa. Yang dia lihat di wajah sahabatnya itu hanya lah kesedihan yang teramat sangat. Untuk menghibur pun dia tak berani. Asa takut salah bicara lagi seperti yang dia lakukan tempo hari. Jadi, Asa cuma bisa melihat sahabatnya itu menangis dan ikut sedih karenanya.


Bersambung...