MACKY

MACKY
20. Angel



Di kamar Angel


Di depan cermin Angel mematutkan diri. Memutar tubuhnya ke kanan, ke kiri. Membenarkan rok mini yang sedang dia kenakan. Lalu tersenyum puas.


"Cantiknya...!"


Angel tersentak dan menoleh ke arah sumber suara.


"Makasih, Kak," sahut Angel.


"Mau ke mana, sih, cantik gitu?" tanya Gisel-kakak Angel yang duduk di bibir ranjang Angel.


"Mau ke rumah cowok Ani, dong, Kak!"


"Cowok? Lo sudah punya cowok? Sejak kapan?"


"Mm... Sejak kapan, ya?" Angel bertanya ada dirinya sendiri sambil berpikir.


"Gimana, sih, pacaran tapi lupa kapan jadiannya," ledek Gisel.


"Bentar, ya, Kak!"


Angel membuka pesan WA darinya untuk Marcel tempo hari, men-scroll ke atas. Mencari chat yang dia kirim saat menerima Marcel menjadi pacarnya.


"Nah, ini dia!" pekik Angel.


Angel memperlihatkan pesan itu di depan wajah Gisel.


"Owh, masih baru," desis Gisel dengan seringainya.


"Ya, daripada Kak Gisel, gebetannya nggak di dapat sampai sekarang," ledek Angel balik.


"Eeeh, berani banget lo, ya, ngehina Kakak!"


Gisel menarik kuping Angel.


"Aaa sakit, Kaaaak!" teriak Angel kesakitan.


"Sakit? Makanya, jangan mengejek kakakmu ini," teriak Gisel di kuping Angel yang dia jewer.


"Ampun, Kak, ampuuun!"


"Awas, ya, kalau diulangi lagi. Kak Gisel akan hukum lebih parah dari ini! Ngerti?" ancam Gisel.


Angel mengangguk. Gisel melepas jewerannya dari kuping Angel.


Angel berjalan menuju rak sepatu dan memakai sepatu botnya saat maminya menyapa.


"Mau ke mana pagi-pagi, Ni?"


"Eh, Mami. Mau pergi, Mi," sahut Angel.


"Iya, ke mana? Nggak sarapan dulu?" kata mami Angel mengingatkan.


"Dia mau ke rumah cowoknya, tuh, Mi!" sergah Gisel yang baru turun dari tangga.


"Cowok? Ani sudah punya pacar?" kaget mami Angel. Gisel mengangguk, meyakinkan maminya.


"Ani! Kamu masih kecil, nggak boleh pacaran dulu," larang mami Angel.


"Kak Gisel syirik aja, tuh, Mi," bantah Angel.


"Dih, siapa yang syirik. Kan, lo sendiri tadi yang bilang."


Angel bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Gisel.


"Dasar, ember!" bisik Angel pada Gisel.


"Sudah! Sudah! Kamu nggak mau sarapan dulu, sebelum pergi?" tanya mami Angel.


"Oiya, lupa belum sarapan, Mi," ucap Angel sambil nyengir.


"Ya sudah, kamu mau makan apa?"


"Sandwich," jawab Angel dan melempar senyum termanisnya pada maminya.


"Bentar. Mami buatkan dulu."


***


Angel menghentikan mobilnya persis di depan pagar rumah Marcel. Ia turun dan berjalan berlenggak-lenggok ke rumah Marcel.


"Assalamualaikum. Selamat pagi! Spada!" ucap Angel seraya mengetuk pintu rumah Marcel.


Tak lama kemudian, mami Marcel membuka pintu rumah.


"Waalaikumsalam. Cari siapa, ya?" tanya mami Marcel.


"Marcelnya ada, Tan?" tanya Angel to the point.


Mami Marcel memperhatikan Angel dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan ekspresi sedikit terkejut.


Apa Marcel nggak salah milih teman? Batin mami Marcel.


"Kamu, siapa?" tanya mami Marcel yang belum mengenal Angel.


"Aku Angel, Tan."


"Owh, temannya Marcel, ya?" tanya mami Marcel memastikan.


"Eits, pacar, Tan. Bukan teman!" ujar Angel sambil memainkan rambutnya yang sudah agak panjang.


"Pacar?" mami Marcel mengulangi perkataan Angel. Agar lebih yakin kalau apa yang barusan dia dengar itu tidak salah.


Angel mengangguk.


Bukannya pacar Marcel itu Kiki? Batin mami Marcel bermonolog.


"Ehhem, Tan, bisa panggilkan Marcel?"


"Owh, iya. Tante lupa. Marcel sedang tidak di rumah," jelas mami Marcel.


"Hah? Kenapa nggak bilang dari tadi, sih, Tan. Saya jadi buang-buang waktu, dong, dari tadi. Panas lagi!" protes Angel sambil mengibaskan tangannya kepanasan.


"Hah?" mami Marcel tertegun mendengar perkataan Angel barusan.


"Terus, Marcel di mana, Tan?"


"Marcel lagi di bengkel," jawab mami Marcel.


"Bengkel? Ngapain? Motornya rusak? Bengkel yang mana?"


Angel menghela berat. "Ok, makasih, Tan."


Tanpa berpamitan sebelum pergi pada mami Marcel, Angel pergi meninggalkan mami Marcel yang masih mematung di tempatnya. Masih tidak menyangka kalau Marcel berteman dengan gadis seperti itu. Apalagi dia mengaku sebagai pacar Marcel. No! Mami Marcel tudak bisa terima itu.


***


Angel memutar mobilnya menuju bengkel yang mami Marcel maksud.


"Akhirnya, gue nemuin lo di sini!" sergah Angel pada Marcel.


Teman-teman Marcel melihat ke arah Angel dan pastinya Angel mengabaikan tatapan mereka semua.


"Ani? Lo di sini?"


"Bukan. Gue di Bikini bottom. Bukan di sini," jutek Angel.


"Ngapain?"


"Ngapain, lo bilang? Lo, tuh, yang ngapain di sini? Main kotor-kotoran lagi!" bentak Angel mengagetkan dua karyawan bengkel lainnya.


"Mau lo apa? Ngapain nyusul gue ke sini?" tanya Marcel.


"Kalau lo ada di rumah. Gue nggak mungkin ke sini, Cel."


"Anak sama ibunya, kok, sama. Nyebellin!" gumam Angel ada dirinya sendiri.


"Apa? Lo dari rumah? Lo tahu dari mana rumah gue?"


"Dari peta temannya Dora. Ya dari lo lah!" jawab Angel sekenanya.


"Kapan gue ngasih tahu lo?" tanya Marcel, lupa pernah memberi alamat rumahnya pada Angel.


"Lupa, ya? Dulu lo pernah ngasih alamat rumah lo ke gue. Perlu bukti?"


Marcel berusaha mengingat hal itu.


"Oh iya. Sorry, gue lupa. Terus, ada perlu apa nyari gue?"


"Ya, apa lagi, ngerayain kemenangan lo lah."


"Oh itu. Tapi, sorry, ya. Gue nggak bisa sekarang," tolak Marcel.


"Nggak bisa? Kok, gitu? Kemarin lo bisa ngerayain kemenangan lo di kantin bareng teman-teman lo itu. Nggak ngajak gue lagi!" geram Angel.


"Iya. Sorry, gue nggak inget. Lagian, itu Reval yang traktir kita semua. Bukan gue. Jadi, mana mungkin gue ajak lo," jelas Marcel menyesal.


"Ah! Gue sudah capek-capek dandan. Lo malah nolak pergi sama gue sekarang," keluh Angel.


"Iya. Lain kali, ya," bujuk Marcel.


"Nggak. Gue nggak mau. Gue pergi sendiri aja sama teman-teman gue."


Angel pergi dengan emosi yang masih menggebu-gebu. Marcel pun tak bisa menahannya. Marcel hanya bisa menatap kepergiannya.


"Cewek lo, Cel?" tanya salah satu teman Marcel.


"Ya, gitu, deh."


***


"Assalamualaikum," ucap Marcel saat masuk ke rumah.


"Waalaikumsalam. Baru pulang, Nak?" tanya mami Marcel.


"Iya, Mi. Nanti balik lagi ke bengkel setelah jam istirahat," sahut Marcel dengan lesu.


"Ya sudah, kalau gitu kamu bersih-bersih dulu, shalat terus makan siang, ya."


"Iya, Mi."


"Nanti ada yang ingin Mami bicarakan sama kamu."


"Mau bicara tentang apa, Mi?"


"Nanti saja."


Marcel meninggalkan maminya di ruang tamu. Mami Marcel bergegas ke dapur. Menyiapkan makan siang untuk putra tercintanya.


Selang beberapa menit setelah makan siang, Marcel menemui maminya yang tengah duduk di ruang keluarga menonton TV.


"Mami mau bicara apa, Mi?" tanya Marcel duduk di sebelah maminya.


"Mami jadi penasaran. Pacar kamu sebenarnya siapa, sih?"


Marcel terkejut dengan pertanyaan maminya. Tak biasanya maminya  menanyakan hal itu.


"Kiki, Mi. Kenapa, Mami nggak setuju, kalau Marcel pacaran sama Kiki?"


"Nggak. Bukan itu masalahnya," sahut mami Marcel menggeleng.


"Tapi kalau Kiki memang pacar kamu, lalu Angel itu siapa?"


Tuh, kan, benar dugaan gue. Ini pasti ada hubungannya sama Angel yang datang ke sini tadi, batin Marcel.


"Kenapa dia mengaku kalau dia pacar kamu? Kamu macarin dua anak gadis orang, Cel?"


Marcel terdiam. Bungkam seribu bahasa. Dengan bungkamnya Marcel, itu membuat maminya yakin kalau perkataannya tadi benar. Marcel pacaran sama dua gadis.


"Nak, kamu jangan mainin anak orang. Adikmu juga cewek, loh. Gimana kalau adik kamu yang ada di posisi mereka?"


Mami Marcel terdiam sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Jujur saja, Mami tidak suka dengan Angel. Dia anak yang sombong. Tidak sopan. Pakaiannya itu, loh, bikin mami merinding lihatnya. Apa-apaan dia ke sini pakai rok mini begitu. Rambut dicat merah, pula," ujar mami Marcel.


"Mami lebih suka Kiki. Sederhana, sopan, apa adanya. Pakaiannya pun lebih sopan. Ya, meskipun dia cuma pakai seragam sekolah saat ke sini. Tapi mami sudah bisa menilai, kalau Kiki itu anak yang baik," imbuhnya.


"Dia memang baik, Mi. Sering nolongin Marcel," sambung Marcel setuju dengan penilaian maminya.


"Diantara mereka berdua, siapa yang lebih kamu sayang? Pilih salah satu, Cel. Jangan pacaran sama dua-duanya," saran mami Marcel.


Marcel hanya bisa terdiam. Masih memikirkan perkataan maminya barusan.


Bersambung...


Like dan Vote, ya.. Manteman!


Maaf merepotkan 😁