MACKY

MACKY
26. Kangen Aku?



Semua orang penghuni rumah Widya saat ini sedang mengelilingi meja makan. Sibuk dengan kegiatan mereka pagi ini. Sarapan. Widya memperhatikan Kiki yang terlihat sangat tergesa-gesa saat makan. Sampai bunyi sendok dan garpu yang Kiki pakai berbenturan agak keras dengan piring hingga menimbulkan bunyi bising.


Widya menelan makanan yang sudah halus dia kunyah sebelum berbicara.


"Pelan-pelan, dong, Ki. Sampai bunyi kayak gitu. Buru-buru mau ke mana emangnya?" tanya Widya yang sangat heran melihat tingkah Kiki yang tidak sabaran.


"Kan, mau pulang, Nek," jawab Kiki sebelum melanjutkan makan lagi.


"Oiya? Kok, mendadak gini, nggak bilang-bilang sama nenek?"


"Kiki lupa, Nek," jawab Kiki lagi.


"Masha juga lupa, nggak cerita ke nenek," timpal Masha.


"Emangnya siapa yang akan jemput? Papa, ya?" tebak Widya yang dibalas gelengan kepala oleh Kiki.


"Alex yang mau jemput," jelas Kiki.


"Katanya, Kak Alex sudah kangen banget sama Kak Kiki, Nek," kata Masha menimpali sambil cengengesan.


"Oya? Tahu dari mana kamu?"


"Masha nguping, Nek, hehe."


"Hm, dasar, anak nakal!" kata Widya sembari melempar senyum pada Masha.


Kiki cepat-cepat menyelesaikan sarapannya lalu kembali ke kamar melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda yaitu membereskan pakaian dan barang-barang lainnya. Masha mengikuti tindakan Kiki.


Kiki duduk di kursi saat pekerjaannya selesai dia lakukan. Dia mengatur napasnya yang ngos-ngosan sejak tadi karena lelah. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Kiki berjalan mendekati nakas di samping tempat tidur. Ponselnya tergeletak di sana. Tombol hijau itu pun Kiki geser.


"Ya, kenapa?"


"Sorry, Ki. Gue nggak bisa jemput lo," tutur Alex.


"Yaaah, kenapa? Gue sudah siap ini!"


"Gue ada urusan, nih!"


"Terus gue sama Masha siapa yang jemput?"


"Kamu tenang aja, nggak usah khawatir, nanti kamu sama Masha Papa yang akan jemput," terang Alex.


"Ya sudah, kalau gitu."


Kiki menutup ponselnya. Masha jadi sangat penasaran melihat Kiki yang tiba-tiba cemberut, kayak bebek.


"Kenapa, Kak?" tanya Masha.


"Alex nggak bisa jemput," jawab Kiki kembali duduk di kursi dengan kesal.


"Kak Alex gimana, sih! Udah siap gini. Sok-sok an mau jemput, sih. Padahal nggak bisa diandalkan!" gerutu Masha ikut kesal pada Alex.


"Terus kita siapa yang jemput, Kak? Masha nggak mau naik angkot, panas, banyak debu juga."


"Lo tenang aja. Mungkin nanti Papa yang jemput. Kata Alex, sih, Papa."


Setelah mendengar penjelasan dari Kiki, kini Masha bisa kembali tenang.


***


Mendengar derum mobil dari kejauhan, Kiki sudah bisa menebak kalau itu pasti derum mobil Papanya. Dan benar sekali dugaan Kiki, itu Papanya yang datang. Ali-Papa Kiki sudah tiba di pelataran rumah ibunya. Kiki dan Masha buru-buru turun menemui Papanya, memberi sambutan untuk Papa.


"Papa!" teriak Masha sembari berlari dan berhamburan ke pelukan Papa tirinya itu.


Kiki hanya bisa melihat adegan yang terjadi di hadapannya itu. Karena Kiki memang kurang dekat dengan papanya, sehingga kerap kali Kiki merasa canggung terhadap papanya itu.


"Ayo, Pa! Kita masuk dulu, nanti Masha panggilkan Nenek," ucap Masha sumringah.


Masha menarik Ali masuk dan meninggalkannya di ruang tamu. Sedangkan dirinya masuk mencari nenek Widya di dapur. Ali duduk di sofa ruang tamu. Begitu pun Kiki, ikut duduk tidak jauh dari papanya, meski tidak berkata apa pun.


"Bagaimana liburannya? Menyenangkan?" tanya Ali membuka percakapan dengan putrinya.


"Apa mau nambah liburannya?" tanya Ali menggoda Kiki. Kiki tersenyum simpul, menyadari bahwa papanya sedang menggodanya saja.


"Ngapain aja di rumah nenek?"


"Banyak, Pa. Ke pengajian di masjid, belajar masak sama Nenek, tidur bareng Nenek, sampai bantuin tetangga juga," celoteh Kiki.


"Oh, ya? Berarti kamu sudah kenal sama tetangga-tetangga di sini, dong?"


"Nggak. Siapa bilang? Orang cuma kenal keluarganya Kak Nina. Soalnya Kak Nina mau nikah, Kiki bantu-bantu di rumahnya," jelas Kiki.


"Ow, gitu. Kalau Kiki kapan nikahnya?" tanya Ali menggoda Kiki lagi.


"Ih, Papa. Apaan, sih?"


Rasanya sudah lama sekali, sejak terakhir kali Ali bercanda seperti ini dengan putrinya ini. Sejak Mama Kiki tiada, Kiki menjadi semakin jauh dengan papanya. Kiki berubah jadi pemurung, dia tidak terima dengan keadaan yang menimpa dirinya. Kiki merasa ini tidak adil. Anak lain bisa hidup bahagia dengan kedua orang tuanya. Sedangkan Kiki sebaliknya. Ditambah lagi papanya yang menikah lagi. Itu lebih memukul batin Kiki.


"Eh, sudah datang!" seru Widya melihat putranya sudah berada di ruang tamu saja.


Ali mencium punggung tangan kanan ibunya yang akhirnya ikut duduk di sofa ruang tamu.


"Kiki sama Masha sudah siap pulang?" tanya Ali.


"Loh, mau langsung pulang, ya? Nggak mau main dulu?" tanya Widya pada Ali.


"Iya, Nek, kita mau pulang," timpal Masha.


"Iya. Kiki juga sudah siap pulang," tambah Kiki.


"Huu, ya sudah, deh. Kalau begitu mau kalian," keluh Widya. Kecewa mengetahui putra dan cucu-cucunya yang mau segera pulang.


"Tapi, kalian harus main lagi kapan-kapan, ya!" titah Widya.


"Iya, Nek. Siiiiap, komandan!" sahut Kiki sembari memberi hormat pada neneknya.


"Ya sudah, yuk, kalau sudah siap, kalian salim dulu sebelum pulang sama nenek," suruh Ali.


Masha berebut salim duluan pada nenek. Disusul Kiki yang agak sebal melihat tingkah Masha yang kekanak-kanakan. Ali pun melakukan hal yang sama pada ibunya.


"Kita pulang dulu, ya, assalamu'alaikum," kata Ali kepada ibunya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Widya.


Ali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di rumah. Ali membuka bagasi mobil, mengeluarkan koper dan membawanya ke dalam rumah.


Masha sudah lebih dulu masuk ke rumah, sedangkan Kiki membantu Ali membawa koper ke rumah.


Sampai di ruang tamu, Kiki terkejut melihat seorang gadis yang saat itu sedang duduk di sofa ruang tamu. Lebih terkejut lagi saat Kiki tahu kalau gadis itu adalah tamu Alex. Mungkin gadis itu teman kampus Alex karena Kiki tak mengenalnya sebelumnya.


Owh, jadi itu yang dibilang Alex "ada urusan"? Katanya kangen sama gue, tapi malah sibuk sama cewek itu. Lebih mentingin cewek itu. Dasar cowok tukang gombal! Awas, ya! Gerutu Kiki dalam hati yang dongkol.


Alex baru saja keluar kamar saat Kiki juga keluar kamar. Kamar Alex di sebelah kamar Kiki di lantai dua.


"Owh, jadi itu yang dibilang "ada urusan"? Emang cantik, siiih!" sindir Kiki kepada Alex.


"Ki, sorry, tadi Gisel tiba-tiba datang dan minta bantuan gue. Data-data bahan presentasi Gisel untuk besok mendadak hilang dan dia panik banget. Jadi gue bantuin dia tadi. Kasihan banget, kan, kalau nggak gue bantuin?"


"Iya. Ka.si.han ba.nget," sindir Kiki lagi.


Bukankah dia nggak mau, ya, sama gue? Kok, omongannya kayak orang cemburu begitu? Pikir Alex.


"Lo cemburu?" tanya Alex langsung tanpa basa-basi.


"Gue, cemburu?" respon Kiki dengan nada mengejek dan berjalan melewati Alex.


"Dia bukan kekasihku," aku Alex seakan mengerti kegelisahan Kiki. Kalimat itu berhasil membuat Kiki menghentikan langkahnya dan tersenyum diam-diam.


Bersambung...