MACKY

MACKY
24. Berjodoh? Mungkinkah?



Di meja makan, Kiki, Masha, Widya dan Ina berkumpul saat ini. Waktunya sarapan. Makanan kesukaan Kiki sudah disiapkan. Apa itu? Yup! Nasi goreng.


"Nasi goreng Nenek emang jempolan, deh! Nggak ada yang bisa ngalahin. Endes!" sorak Kiki sambil memberi kedua jempolnya.


"Bisa aja kamu, Ki. Kalau Masha gimana, suka nasi goreng juga?"


"Suka, kok, Nek," jawab Masha mengangguk.


"Alhamdulillah, kalau gitu. Ya sudah, kalian lanjutkan makannya," suruh Widya.


"Meski Masha yang tadinya nggak suka nasi goreng, tapi dia akan suka kalau sudah nyobain nasi goreng buatan Nenek," ucap Kiki membuat Widya senyum-senyum sendiri.


"Habis makan nanti, ikut nenek, yuk!"


"Ikut kemana, Nek? Bukannya nanti sore ke masjidnya?" tanya Kiki.


"Bantu-bantu di rumah tetangga depan rumah. Nina mau nikahan besok. Jadi, kita harus bantu-bantu di sana. Gimana, mau ikut?"


"Gimana, Kak?" tanya Masha meminta pendapat Kiki.


"Mm, ya udah, deh. Kiki ikut, Nek!"


"Kalau Masha, gimana?" tanya Widya.


"Masha di rumah aja, Nek. Sama Kak Ina jaga rumah," jawab Masha memberi keputusan.


"Ya sudah, lanjutkan makannya," suruh Widya pada Kiki dan Masha.


***


Di rumah Nina...


Banyak tetangga sekitar rumah dan keluarga Nina yang sudah sampai lebih dulu di rumah Nina. Mereka semua menatap kedatangan Widya dan Kiki. Mungkin karena merasa asing malihat Kiki. Secara Kiki bukan penduduk asli di daerah itu.


"Bu Widya, cucunya, ya?" seru tetangga 1.


"Iya. Perkenalkan, ini cucu saya, namanya Kiki," ujar Widya.


"Kayaknya Bu Widya bakalan nyusul, nih!" canda tetangga 2.


"Nggak lah, cucu saya ini masih SMA. Masih panjang perjalanannya," kata Widya menyahuti.


Di hadapan Kiki sudah banyak sekali bawang merah, bawang putih dan teman-temannya. Tetangga-tetangga lain yang seumuran Kiki sudah sigap mulai mengupas bawang-bawang itu.


Pantas tadi Nenek ngingetin gue buat bawa pisau. Jadi kayak gini kerjaannya, batin Kiki.


Tangan kiri Kiki mulai mengambil satu siung bawang putih dan mulai mengupasnya. Tiba-tiba seorang gadis cantik datang dan duduk di sebelah Kiki. Ia membantu mengupas bawang juga.


"Hai, kamu anak baru, ya, di sini?" tanya gadis cantik itu pada Kiki.


"Iya. Kakak siapa?"


"Aku Nina. Pantas saja aku tidak pernah lihat kamu sebelumnya di sekitar sini. Ya, meskipun aku jarang di rumah, sih," tutur Nina.


"Jarang di rumah? Maksudnya? Kak Nina suka keluyuran?"


"Bukan. Aku biasanya tinggal di kosan. Tapi sekarang aku di rumah. Ya, karena acara pernikahan aku besok ini," jelas Nina.


"Owh gitu. Maaf, Kak Nina," kata Kiki menyesal.


"Nggak apa-apa. Oiya, kamu baru pindah ke daerah sini, kan?"


"Eeeh! Calon pengantinnya, kok, malah ngupas bawang? Istirahat aja sana!" suruh perempuan paruh baya yang entah siapa, Kiki tidak tahu. Yang jelas, orang itu pasti tetangga neneknya juga.


"Nggak apa-apa, Bi. Aku bosan diam terus di kamar. Kayak tahanan aja," sahut Nina melihat orang itu.


"Nanti tanganmu bau bawang, loh!" kata orang yang dipanggil "Bi" tadi oleh Nina kembali mengingatkan Nina agar Nina istirahat saja, bukan malah ikutan bekerja.


"Nggak apa-apa, Bi. Nanti aku cuci tangan pakai sabun yang banyak, biar baunya hilang hehe," bantah Nina lagi, kali ini sambil cengengesan.


"Serah kamu, deh!" kata wanita itu menyerah menghadapi Nina yang keras kepala.


Setelah mendengar perkataan wanita itu, Kiki jadi mencium tangannya.


Nggak apa-apa, cuma dikit, batin Kiki.


"Sampai mana tadi pembicaraan kita?" tanya Nina.


"Oh. Iya. Aku cucunya Nenek Widya. Aku ke sini mau liburan, Kak. Bukan mau pindah ke rumah Nenek Widya," jelas Kiki.


"Ow gitu."


"Kak, apakah Kak Nina bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Kiki mulai kepo.


"Kenapa kamu tanya itu? Emangnya aku kelihatan seperti orang yang dipaksa menikah?" Nina balik bertanya.


"Iya. Eh, namamu siapa? Sejak tadi kita ngobrol, tapi kamu belum menyebutkan namamu," kata Nina.


"Aku Kinanti, Kak. Tapi Kak Nina panggil aku Kiki saja," jawab Kiki.


"Panggil "saja", boleh?" tanya Nina berkelakar.


"Kak Nina bisa aja." Kiki tersenyum.


"Iya, Ki. Kamu benar. Aku memang tidak semangat sama sekali menghadapi pernikahan ini. Mungkin karena aku dijodohkan dengan laki-laki yang tidak pernah aku kenal sebelumnya," uangkap Nina.


"Apa Kakak merasa terpaksa dan menderita dengan perjodohan ini?" tanya Kiki lagi.


Nina menggeleng.


"Nggak, kok, Ki. Mungkin pada awalnya saja aku merasa berat hati menerima perjodohan ini. Tapi sejak aku sadar, aku melakukan ini semua demi membahagiakan kedua orang tuaku, aku jadi berusaha ikhlas menerima perjodohan ini. Meski belum berhasil seratus persen, sih. Dan masalah hiasan tangan, aku memang tidak ingin menghiasinya. Itu bukan keharusan, kan?"


Nina mengangkat kepalanya menatap Kiki. Kiki mengangguk.


"Aduh!" pekik Nina.


"Kenapa, Kak?" tanya Kiki melihat jari Nina yang tergores.


"Kena pisau, Ki," jawab Nina.


"Tuh, kan! Bandel, sih. Disuruh diam saja malah ngeyel tetap kerja," omel wanita tadi sembari mengobati luka di jari Nina.


Baik sekali Kak Nina ini. Dia tetap menerima perjodohan ini hanya untuk membahagiakan kedua orang tuanya, batin Kiki.


***


Sore hari...


Kiki sudah siap dengan baju gamis dan jilbabnya yang dengan susah payah dia kenakan. Bagitu pula dengan Masha yang tidak henti-hentinya mengeluh panas sejak jilbabnya dia pakai. Widya tersenyum melihat tingkah cucu-cucunya yang lucu.


Saat berjalan menuju masjid pun Kiki dan Masha terlihat agak kesusahan karen gamis yang mereka pakai. Entah mengapa, mungkin mereka berdua belum terbiasa saja memakai gamis dan jilbab seperti itu. Tapi Widya tidak mengomentari Masha dan Kiki meski mereka berdua sibuk mengeluh sejak di rumah tadi.


"Assalamu'alaikum," ucap Widya pada jemaah yang lain.


"Wa'alaikumsalam," sahut jemaah saling bersahutan menjawab salam Widya.


"Maaf, ya, ibu-ibu, adik-adik, kami datang terlambat," kata Widya.


"Nggak apa-apa, kok, Bu Widya. Saya juga baru datang," jawab ustadzah.


Widya, Kiki dan Masha duduk sebelum ustadzah memulai ceramahnya. Kiki terus fokus mendengar ceramah ustadzah hingga selesai, beda halnya dengan Masha yang sedari tadi mengipasi wajahnya dengan tangannya. Dia merasa kepanasan, wajar karena belum dipasang AC di masjid, hanya ada beberapa kipas angin di setiap sudut masjid dan itu belum bisa membantu Masha sama sekali. Ingin rasanya ceramah ustadzah cepat selesai, pulang dan segera membuka jilbabnya.


Sabar, Sha, sabar...! Batin Masha menguatkan dirinya sendiri.


Saatnya pulang. Sekarang Widya, Kiki dan Masha sudah berada di halaman masjid dengan ustadzah dan seorang pria yang baru saja tiba di sana. Tentu saja Kiki terkejut melihat kedatangan pria itu.


"Siapa ustadzah?" tanya Widya pada ustadzah.


"Oiya, Bu Widya belum pernah bertemu, ya, dengan anak saya? Kalau gitu, perkenalkan, dia anak sulung saya, namanya Kamal," tutur ustadzah.


Kamal mencium punggung tangan Widya.


"Masyaallah!" seru Widya keceplosan.


"Kenapa, Bu Widya?"


Widya tersentak kaget mendengar pertanyaan ustadzah barusan. Namun Widya tidak menjawab, hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Selain wajahnya yang tampan, Kamal ini pria yang sholeh. Andai saja dia berjodoh dengan Kiki. Batin Widya termenung sembari menatap Kamal dengan tatapan kagum.


Walah, ternyata Kak Kamal ini putra ustadzah, pantas saja akhlaknya nyaris sempurna. Batin Kiki ikut bermonolog juga.


"Oiya, kenalin juga, ini cucu saya Kiki dan Masha," ucap Widya.


Kiki dan Masha mencium punggung tangan ustadzah bergantian. Kiki juga mengatupkan kedua tangan di depan dada, memberi salam ke arah Kamal. Kamal pun melakukan hal yang sama pada Kiki.


"Kita pamit dulu, ya, Bu Widya, Kiki, Masha," ucap ustadzah.


"Iya, ustadzah, silakan," sahut Widya.


Dalam perjalanan pulang ke rumah, Widya tak henti-hentinya memuji akhlak Kamal. Menceritakan semua hal baik tentang Kamal yang sempat dia ketahui.


"Sebenarnya nenek sudah banyak tahu tentang Kamal meskipun nenek belum pernah ketemu langsung dengan anak itu. Ibu-ibu pengajian sering membicarakan akhlak baiknya itu. Kamal yang tampan, pintar, sopan, rajin ibadah, rajin belajar, rajin sedekah, penurut dan berbakti pada orang tua. Pokoknya banyak, deh," ujar Widya.


Kiki mendengarkan cerita neneknya dengan seksama. Sedangkan Masha acuh tak acuh, dia sudah tidak tahan dengan jilbabnya.


Kiki sudah tahu, kok, Nek. Itu kenapa Kiki sangat suka sama Kak Kamal. Dan susah banget untuk Kiki dekati karena dia sepertinya memang menjaga jarak aman dengan cewek yang bukan mahramnya dan dia sepertinya agak pemalu juga. Makanya Kiki hanya bisa menjadi pengagum rahasianya. Berjodoh dengan Kak Kamal sepertinya hanya akan menjadi angan-angan Kiki. Batin Kiki, berusaha ikhlas dengan keadaan ini.


Bersambung...