
Sabtu sore menjadi salah satu waktu yang ditunggu-tunggu kaum muda-mudi. Pasalnya ini adalah waktu buat mereka bebas main hingga malam mingguan bersama sahabat atau pun kekasih. Begitu juga dengan Kiki dan kedua sahabatnya-Ratu dan Cila. Saat ini mereka sudah duduk melingkari sebuah meja di sebuah cafe favorite mereka.
"Ki, mm, sebenarnya sudah lama gue pengin nanya sama lo. Tapi nggak sempat, nggak pernah ada waktu yang pas buat nanyain ini," tutur Ratu.
"Lo mau nanya apa, sih?" sahut Kiki.
"Gini, entah ini gue yang nggak tahu atau memang begini keadaannya."
"Lo mau nanya apa, sih, Ra? Muter-muter gini." Cila menginterupsi karena sudah tak sabar dengan pertanyaan yang akan ditanyakan Ratu.
"Gini, gue nggak pernah lihat Kiki PDKT an sama Marcel, tapi, kok, sudah pacaran gitu? Kapan jadiannya?"
"Oooow, jadi itu yang pengin lo tanyakan. Iya, emang kita nggak PDKT an. Kita langsung jadian, hehe," jelas Kiki sambil cengengesan.
"Gue aja baru tahu kalau kalian pacaran, ketika Marcel berantem sama Leon itu. Waktu itu ada yang minta gue sama Cila ngasih tahu lo kalau Marcel berantem. Katanya lo pacarnya Marcel. Gue, sih, kurang ngegubris tentang itunya, yang ada di otak gue waktu itu cuma "gue harus ngasih tahu lo". Setelah beberapa waktu kemudian gue baru sadar tentang hubungan kalian. Tapi, yang gue nggak habis pikir, kok, lo nggak cerita, sih, sama kita berdua kalau kalian sudah jadian?"
"Hehe, sorry sebelumnya. Bukan gue mau merahasiakan itu dari kalian berdua atau nggak nganggep kalian. Tapi menurut gue, hal itu bukan hal yang penting banget yang perlu gue ceritain. Toh, kalian tahu juga akhirnya."
"Iya, tapi masa kita tahunya dari orang lain?"
"Iya, maaf, ya. Lagian, gue jadian sama Marcel itu, dadakan banget. Waktu itu gue lagi stres gara-gara Papa mau nikah lagi. Terus Marcel tiba-tiba deketin gue. Ya udah, gitu, deh. Serba tiba-tiba gitu pokoknya."
"Ow gitu. Emangnya lo suka sama Marcel?" tanya Ratu.
Kiki menggeleng. "Gue aja nggak kenal dia sama sekali sebelumnya."
"Kalau masalah sayang, lo sayang nggak, sama Marcel," celetuk Cila.
"Mm... kayaknya belum, deh. Gue belum merasa seperti itu sama dia."
"Kalau nggak sayang, mending kasih aja sama Ratu!" gumam Cila keceplosan. Ratu langsung membungkam mulut Cila yang super ember.
"Lo ngomong apa, sih, La? Ember banget, sih, lo!" bisik Ratu.
"Sorry, gue keceplosan!"
"La, lo ngomong apa, sih, gue kurang jelas dengarnya. Ratu, ya? Emang kenapa Ratu?"
"Nggak, kok, Ki. Nggak ada apa-apa. Biasa, si Cila suka ngawur kalau ngomong," elak Ratu.
"Nggak penting, ya, Ra?"
"Iya, nggak penting."
"Ya sudah, lanjut makan eskrimnya, gih!" ucap Cila.
***
Pasar malam terlihat mulai ramai. Banyak pengunjung bersama pasangan yang datang. Pemandangan itu membuat tiga sahabat itu saling pandang. Karena cuma mereka yang tidak membawa pasangan mereka. Terlebih lagi Ratu dan Cila masih jomblo. Mau ngajak siapa, coba? Kasihan!
"Guys, kita beli jagung bakar, yuk!" ajak Ratu.
"Boleh, tuh, udah lama gue nggak makan jagung bakar," sahut Kiki antusias.
"Iya, iya, bener banget! Abis itu, kita naik komedi putar, ya?" sumringah Cila. Ratu dan Kiki saling pandang lalu memandang Cila.
"Kenapa, sih, kalian lihat gue kayak gitu?"
"Komedi putar? Itu, kan, mainan anak-anak, La!" ucap Kiki.
"Tapi gue, kan, udah lama nggak naik itu," sanggah Cila membela diri.
"Ya udah, ya udah, gini aja, kalau lo pengin naik komedi putar, lo boleh, kok, naik. Tapi gue sama Kiki nggak naik, ya?" ujar Ratu menengahi.
"Yaaah nggak seru, dong!"
"Gue malu dilihatin orang, La!"
"Sama. Gue juga!" sambung Kiki.
***
Sekarang tiba lah kegiatan rutin tiap bulan tiga sahabat ini yaitu tidur bareng di rumah salah satu dari ketiganya. Mereka memiliki rutinitas tidur bareng tiap awal bulan (malam minggu pertama). Dan sekarang giliran mereka menginap di rumah Ratu.
Tiga sahabat ini tidur terlentang di ranjang Ratu menatap langit-langit kamar yang dihias bak langit di malam hari yang ditemani ratu malam alias sang bulan dan taburan bintang-bintang sebagai dayang-dayangnya.
"Guys, gue baru sadar, deh, kalau Kinanti nggak pernah cerita siapa cowok yang dia suka. Curang lo, Ki!"
Kinanti, nama asli Kiki. Kiki adalah nama kecil Kinanti. Dan dia lebih suka dipanggil Kiki daripada Kinan. Cuma beberapa orang saja seperti guru dan papanya yang kadang memanggil Kiki dengan sebutan Kinan atau Kinanti.
"Lo juga sama, nggak pernah cerita, lo suka sama siapa?" jawab Kiki.
"Kalau Ratu, sih, gue tahu dia suka sama sia..!" Ratu membungkam lagi mulut Cila.
"Oya? Kok, lo nggak cerita ke gue juga, Ra?"
"Mm... Iya gue nggak sempat cerita ke lo. Tapi gue sekarang udah nggak suka cowok itu, kok, dia sudah punya cewek sekarang."
"Ow gitu."
"Ki, makasih, ya, meskipun lo sekarang udah punya cowok, lo masih menyisakan waktu berharga lo buat kita sahabat-sahabat lo," ujar Cila.
"Tumben omongan lo bener, La?" tukas Ratu.
"Hehe, iya, sama-sama teman-teman. Lagian kalian lebih dulu yang aku prioritaskan sebelum aku punya pacar. Masa aku melupakan sahabat-sahabat aku demi seorang cowok, sih. Aku nggak sejahat itu juga kali!"
"Cieeee Kinanti so sweet, deh, hehe," timpal Ratu.
Hp Kiki berdering di sela percakapan tiga sahabat itu. Setelah melihat layar ponselnya, dahi Kiki mengerut. Membuat kedua sahabatnya bingung.
"Siapa, Ki?" tanya Ratu.
"Nggak tahu."
"Ya sudah, lo angkat aja!"
"Hallo... Siapa, nih?"
"Ini aku, Kak, Masha!" kata Masha sambil teriak-teriak, membuat Kiki sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Nggak usah teriak juga kali! Kenapa, sih, telfon gue?"
"Gue takut, Kaaaak, Kakak di mana? Cepetan pulang!"
"Apaan, sih, Lo? Gue di rumah Ratu. Ada apa, sih?"
"Ada hantu, Kak, di kamar, serem bangeeet gue takuuut! Kakak pulang, ya?"
"Gue mau nginep di sini. Kalau lo takut, pindah kamar aja. Tidur sama emak lo, tuh!"
"Tapi Kak, ak..."
Tut! Kiki menutup ponselnya tanpa permisi.
"Siapa, Ki?" tanya Cila.
"Masha."
"Siapa lagi, tuh?" timpal Ratu.
"Sodara tiri gue. Anaknya Tante Tanti."
"Lo sama adik tiri lo itu sudah akrab, ya?"
"Nggak lah! Dia takut katanya. Ada hantu serem di kamar. Palingan juga Asa berulah."
"Asa? Siapa Asa?" tanya Cila lupa.
"Gue, kan, sudah pernah cerita saat tragedi Asa dianiaya Sarah tempo hari," ucap Kiki mengingatkan.
"Penunggu kamar lo itu, ya?" Ratu memastikan.
"Iya, penunggu kamar gue. Pasti dia lagi ngusilin Masha, biar dia nggak betah di kamar gue."
"Ada-ada aja si Asa," kata Ratu.
"Hehe, biasa lah dia. Ya udah, yuk, kita tidur aja!"
"Tapi, apa nggak apa-apa Ki, kalau lo nggak nolongin dia?" tanya Cila.
"Paling juga nggak apa-apa."
"Kok, lo yakin?" timpal Ratu.
"Kan, ada banyak orang di rumah. Ada Papa, Emaknya dia, Kakaknya dia, ada Bik Nah juga. Lagian, dia, kan, bisa teriak kenceng banget kayak tadi di kuping gue. Untung gue nggak budeg."
"Kalau dia pingsan gara-gara ketakutan gimana?" tanya Cila.
"Bodo amat!"
Ratu dan Cila terbahak. Akhirnya mereka juga memejamkan kedua mata mereka seperti yang dilakukan Kiki sejak tadi.
-Bersambung-