
Reval mencari Vera ke kelas XI IPS 1. untung masih ada sepasang siswa di kelas itu yang bisa ditanyai Reval.
"Maaf, nih, gue ganggu kalian. Gue mau nanya. Di kelas ini ada yang namanya Vera, nggak?"
"Vera? Owh, gue tahu. Dia sekarang masuk kelas XI IPS 3," terang salah satu siswi kelas XI IPS 1 itu.
"Ok, makasih, ya," ucap Reval.
Setelah mendengar jawaban anak itu, Reval segera ke kelas XI IPS 3. Di sana masih banyak siswa. Reval sampai bingung menebak yang mana si Vera itu. Reval mendekati siswa yang paling dekat dengan posisinya saat ini.
"Maaf, nih, gue mau nanya. Yang namanya Vera, yang mana, ya? Gue dengar dia masuk ke kelas ini."
"Itu Vera," jawab anak yang ditanya Reval seraya menunjuk Vera dengan telunjuk tangan kanannya.
Siswi yang bernama Vera pun menoleh ke arah Reval saat mendengar namanya disebutkan. Reval pun melangkah mendekati Vera.
"Lo Vera, kan?" tanya Reval pada Vera tanpa basa-basi.
"Iya. Lo siapa, ya? Ada perlu apa cari gue?" tanya Vera.
Kok, tanggapan Veranya kayak begini, ya? Masa Vera yang ini, yang ngirim surat itu ke gue? Sepertinya dia tidak ada rasa kagum sama sekali ke gue. Jangankan kagum, dia seperti tidak mengenal gue sama sekali. Batin Reval.
Vera menatap Reval yang mirip seperti orang linglung di hadapan Vera.
"Duduk aja dulu," suruh Vera. Akhirnya Reval duduk di bangku depan Vera.
"Gue mau nanya, sama lo," kata Reval kikuk.
"Ya. Tanya aja. Lo mau tanya apa?"
"Lo pernah ngirim sesuatu sama gue, nggak?" tanya Reval blak-blakan.
Ih, kenapa jadi beg* begitu, sih, si Reval??
"Mm... Nggak, tuh. Ngirim apa? Gue aja baru lihat lo. Nama lo aja, gue nggak tahu," ujar Vera.
"Oh iya. Gue belum ngenalin diri ke lo, ya, hehe. Kenalin, nama gue Reval. Gue dari kelas sebelah XI IPS 2," kata Reval menjulurkan tangan kanannya ke arah Vera. Vera menyambutnya.
"Gue Vera," sambung Vera seraya melepaskan genggaman tangan Reval.
"Oh, iya. Gue sudah tahu, kok," kata Reval.
"Lo nyari gue, cuma mau nanya hal tadi itu?" tanya Vera memastikan.
"Ng... Gue boleh jadi teman lo, nggak?" tanya Reval agak ragu. Khawatir Vera tidak mau menerima tawaran pertemanan dari Reval.
"Lo orangnya jahat, nggak?" tanya Vera dengan menatap Reval dengan tatapan tajam.
" Ng... Nggak, kok. Gue anak baik-baik. Serius, deh!" sahut Reval dengan tampang meyakinkan.
"Ya sudah. Lo boleh, kok, jadi teman gue. Tadi gue cuma bercanda sama lo," ujar Vera membuat Reval bernapas lega.
"Cuma jadi teman biasa?" tanya Reval melirik Vera yang mengernyitkan keningnya.
"Maksud lo?"
Vera sebenarnya paham maksud pertanyaan Reval barusan, hanya saja dia ingin mendengar sendiri jawaban Reval dari mulut Reval. Apakah Reval berani menjawab pertanyaan Vera dengan gamblang atau justru membuat Reval menjadi tambah kikuk. Dan kenyataannya benar dugaan Vera. Reval jadi kikuk menjawab pertanyaan Vera.
"Ng... Nggak, kok, hehe." Reval malah hanya bisa nyengir di depan Vera.
Satangguh-tangguhnya seorang Reval, ternyata bisa kikuk juga di hadapan seorang gadis bernama Vera.
"Gue boleh minta nomor WA lo, nggak?" tanya Reval setelah beberapa kali menelan ludah yang terasa lebih pahit dari biasanya.
"Siap! Gue janji, cuma gue yang simpan. Orang lain nggak boleh," jawab Reval lalu nyengir ke arah Vera.
"Lo kenapa, sih, dari tadi kayak orang bingung gitu. Biasa aja, kali!" ujar Vera yang membuat Reval terkesiap.
"Hah? Oh, iya. Nggak apa-apa, kok. Gue.. Gue.."
"Lo gugup di depan gue, kan?" tebak Vera.
"I, iya. Lo benar banget. Gue gugup di depan lo," sahut Reval jujur.
Duuuh, kok, lo bod*h, sih, Val! Batin Reval merutuki dirinya sendiri. Reval merasa geram pada dirinya sendiri yang tidak bisa bersikap biasa saja di hadapan Vera. Sampai-sampai Vera bisa membaca gelagat tubuhnya yang gugup sejak tadi.
"Biasa aja kali, nggak usah segugup itu," saran Vera.
"Gue maunya juga gitu, sih. Tapi susah juga di hadapan cewek cantik kayak lo," kata Reval.
"Lo gambal lagi, gue nggak mau lagi jadi teman lo!" ancam Vera.
"Nggak, kok. Gue nggak gombal. Gue jujur ini," ucap Reval sambil manggut-manggut berusaha meyakinkan Vera agar dia tidak marah pada Reval.
"Nih, nomor WA gue. Cepat catat!" titah Vera menyerahkan ponselnya yang menampilkan dua belas digit nomor WA nya.
Cepat-cepat Reval menyalinnya ke ponsel miliknya sebelum dia kembalikan pada Vera.
"Makasih, ya, Ver. Ternyata lo orangnya baik juga. Gue nggak menyesal nyariin lo. Gue senang banget katemu dan kenal sama lo," ujar Reval jujur.
"Iya. Gue juga senang, kok, bertemu dan kenal sama lo," sahut Vera sembari tersenyum pada Reval.
Reval langsung mengirim pesan WA ke nomor WA Vera, lalu Vera menyimpan juga nomor WA Reval.
***
Marcel dan Angel di kantin membeli es krim sesuai dengan janji Marcel tadi pagi. Angel sudah beraksi di depan box es krim. Tangannya sudah lincah memilih dan mengambil es krim yang ingin dia makan. Sampai-sampai Marcel melotot melihatnya karena kaget.
"Lo, tuh, pengin makan es krim, apa lo mau ngerampok, sih?" pekik Marcel seraya bertolak pinggang di depan Angel yang nyengir merangkul bermacam-macam es krim di tangannya.
"Kan gue sudah bilang, gue pengin makan es krim," sahut Angel memasang puppy eyes agar Marcel kasihan dan tidak memarahinya. Dan Marcel mau membelikan Angel semua es krim pilihannya itu.
"Ya sudah, cepat bungkus semua itu!" suruh Marcel dengan kesal.
Dengan cepat Angel memasukkan es krim-es krim itu ke dalam plastik. Dan membawanya ke kasir. Tapi saat Marcel hendak membayar es krim, Angel tiba-tiba mematung, tertegun melihat sesuatu.
"Kenapa lo? Kok, diam aja?" tegur Marcel. Namun Angel tetap bergeming, tak beralih memandang sesuatu yang dia pandang sejak tadi.
Marcel yang penasaran akhirnya mengikuti arah pandang Angel. Ternyata sejak tadi Angel melihat rujak buah di kaca etalase kantin.
Tampaknya Angel sangat menginginkan rujak, buktinya sejak tadi dia terlihat berkali-kali menelan salivanya, tapi dia juga takut minta dibelikan pada Marcel karena dia sudah minta es krim dalam jumlah banyak. Angel khawatir Marcel akan tambah marah padanya. Sedangkan dirinya tidak memegang uang sama sekali karena dompetnya ketinggalan di rumah. Jadi dia tidak bisa membelinya dengan uangnya sendiri.
"Lo mau rujak buah itu, ya?" tanya Marcel akhirnya.
Angel terkesiap mendengar pertanyaan Marcel. Angel langsung menoleh menatap Marcel dan mengangguk berkali-kali, berharap Marcel mau membelikan rujak buah untuknya.
"Nggak. Nggak ada!" ketus Marcel.
"Makan aja, tuh, es krim-es krim lo!" tolak Marcel mentah-mentah.
Wajah Angel berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sedih sekaligus kesal. Angel mengambil plastik berisi es krim pilihannya itu lalu pergi meninggalkan Marcel di kantin.
Bersambung...