MACKY

MACKY
18. Kemenangan



Derai keringat Marcel setelah bertanding membasahi keningnya. Dengan terengah-engah Marcel mendekati Kiki di pinggir lapangan. Kiki segera mengelap keringat Marcel dengan handuk kecil yang dia bawa setelah memberikan botol minuman yang dia siapkan kepada Marcel. Marcel menerimanya lalu meneguk air yang terasa lebih segar dari biasanya dari botol itu. Tanpa sepengetahuan Marcel dan Kiki, sepasang mata dari kejauhan melihat mereka tidak suka.


"Makasih, Sayang," ucap Marcel.


"Sama-sama, Sayang," sahut Kiki.


Beberapa menit kemudian, Marcel telah berhasil mengatur napasnya yang terengah-engah karena pertandingan tadi. Tapi itu tidak sia-sia, Marcel dan timnya berhasil memenangkan pertandingan itu.


Marcel melihat pada Kiki. Dia ingat sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Kiki sejak semalam. Marcel menatap Kiki intens.


"Kenapa? Kok, lihatin gue kayak gitu?" tanya Kiki.


"Gue mau tanya sesuatu sama lo. Tapi, lo jawab yang jujur, ya," pinta Marcel.


"Iya. Tanya apa?"


"Kenapa tadi malam lo bohong sama gue?" tanya Marcel.


Kiki mengangkat kepala melihat Marcel.


"Bohong? Maksudnya? Gue nggak ngerti, maksud lo apa?" tanya Kiki balik, mengerutkan keningnya.


"Kenapa lo bilang kalau lo nggak masuk sekolah kemarin? Padahal kemarin lo masuk, kan?"


Kiki terdiam sejenak sebelum menjawab.


"Gue nggak bilang, kalau gue kemarin nggak masuk sekolah. Coba, deh, lo ingat-ingat, gue cuma bilang kalau gue nggak enak badan. Bukan gue nggak masuk sekolah. Kemarin gue, tuh, masuk sekolah, tapi tiba-tiba gue nggak enak badan. Makanya gue pulang," jelas Kiki.


"Benar, begitu?" tanya Marcel sedikit ragu.


Kiki mengangguk yakin.


"Kalau lo masih nggak percaya sama apa yang gue bilang, lo tanyakan saja sama Ratu dan Cila. Soalnya kemarin gue pulang diantar Ratu," saran Kiki.


"Nggak usah. Gue percaya, kok, sama lo," kata Marcel.


"Eh, kalian di sini rupanya," sergah Cila mendekati Kiki dan Marcel bersama Ratu.


"Selamat, ya, Cel, atas kemenangan lo!" ucap Cila sambil mengangkat tangan ke arah Marcel.


"Makasih, La," jawab Marcel sembari  menyalami Cila.


"Astaghfirullah! Gue sampai lupa!" pekik Kiki tiba-tiba.


"Lupa apa, Ki?" tanya Marcel.


"Dari tadi gue lupa nggak ngasih lo selamat, saking senangnya, hehe," jawab Kiki cengengesan.


"Kirain lupa apaan!" Marcel bernapas lega.


"Selamat, ya, Sayangkuuu!" ucap Kiki.


Ratu memutar bola matanya, beralih melihat ke arah lain. Malas sekali melihat adegan mesra Kiki dan Marcel.


"Iya. Makasih, ya, Sayang," sahut Marcel.


Tak lama kemudian, datang Dion, Reval dan Noval.


"Cel, lapar, nih, makan, yuk!" ajak Noval. Marcel mengangguk lalu berdiri.


"Oiya, selamat juga buat kalian bertiga. Kalian satu tim, kan, sama Marcel!" ujar Cila.


"Iya, makasih," jawab Dion.


"Kalian hebat!" puji Cila sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Hehe, bisa aja lo, La! Makasih, ya!" ucap Noval.


"Kalian, kan, menang. Nggak mau dirayain, gitu?" sindir Ratu.


"Iya. Benar juga, tuh, ide Ratu!" sambung Marcel.


"Ok, gimana kalau gue aja yang traktir kalian semua!" usul Reval.


"SETUJU!" ujar mereka semua serempak.


***


Dion menyatukan dua meja kantin, agar mereka bertujuh bisa makan bersama dalam satu meja.


Pesanan sudah datang setelah dipesan beberapa menit yang lalu. Mereka bertujuh mulai mencicipi makanan mereka masing-masing.


"Mm... Enak juga nasi goreng di sini," puji Kiki yang tidak pernah makan nasi goreng kantin. Pasalnya emak tirinya yang selalu membuatkan nasi goreng untuknya.


"Benaran, Sayang?" sahut Marcel.


"Iya, Sayang. Enak banget! Seriusan, deh!" kata Kiki lebay.


"Lebih enak mana sama buatan nyokap lo?"


"Mm.." Kiki mulai mikir.


"Nggak tahu lah, sama enaknya. Gue nggak bisa milih. Mending, lo cobain aja, deh," saran Kiki.


Kiki mengambil sesendok nasi goreng dan akan menyuapkannya pada Marcel.


"Ayo, buka mulutnya! Aaa'," suruh Kiki. Marcel mengikuti keinginan Kiki, membuka mulut.


"Gimana? Enak, kan?" tanya Kiki.


"Iih, Sayang. Kok, gitu, sih, jawabnya!" protes Kiki yang tak setuju dengan penilaian Marcel.


Marcel cuma nyengir menatap Kiki yang sudah manyun sempurna, ngambek, berhenti makan.


Noval tersenyum sambil geleng-geleng melihat kelakuan dua sahabatnya itu.


"Emang, sih, ada yang bilang, kalau orang sedang kasmaran itu, dunia berasa milik berdua. Kita ini cuma numpang, Guys!" celetuk Dion berkelakar.


"Tapi mereka itu, lagi berantem, Bambaaaang!" timpal Ratu.


"Ya, itu, sih, biasa dalam hubungan, tahuuu!" sanggah Dion.


"Bambang? siapa, Ra?" tanya Noval polos.


"Noh, bapaknya Dion!"


"Loh, bapak lo udah ganti nama, Yon? Kok, gue baru tahu, ya!" ucap Cila.


"Au' ah!" respon Dion tak acuh.


"Ayo, lanjut makannya!" suruh Marcel pada Kiki yang masih manyun.


"Re, gue pesan lagi, ya!" kata Kiki pada Reval.


"Hah? Nambah lagi? Enak aja! Minta, noh, sama pacar lo!"


Kiki melirik Marcel lalu membuang muka.


"Nggak. Gue nggak mau. Gue minta sama lo aja, ya, Re," rengek Kiki sembari menarik-narik lengan jaket Reval.


Ih, apaan, sih, manja sama cowok lain di depan cowoknya sendiri. Ya, meskipun dia sahabat cowoknya sendiri, sih, tapi itu nggak asik! batin Marcel.


"Yang itu aja, belum lo habisin, Ki. Emang muat itu perut?"


"Muat, kok, pasti. Lo tenang aja," jawab Kiki.


"Ya sudah, lo boleh pesan lagi. Tapi yang itu dihabisin dulu, ya," suruh Reval sambil menunjuk piring Kiki dengan dagunya.


"Ok, siap, Bos! Pasti gue habisin. Makasih, Revaaaal!"


"Kalian kalau mau nambah juga nggak apa-apa, pesan aja," suruh Reval.


"Nggak usah, Re. Sudah kenyang banget, nih, perut gue," sahut Ratu.


"Iya. Gue juga, sudah kenyang," sambung Cila.


"Kalian gimana, mau nambah, nggak?" tanya Reval pada Marcel, Noval dan Dion.


Marcel dan Noval menggeleng bersamaan.


"Gue tambah minum aja, ya?" kata Dion.


"Pesan, gih!" suruh Reval.


***


*Di dalam mobil Reval dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah Marcel.


"Re, seharusnya lo nggak usah kayak gitu tadi," kata Marcel pada Reval tiba-tiba.


"Maksud lo?" Reval tak paham maksud ucapan Marcel.


"Tadi itu, loh. Traktir Kiki sampai dua porsi."


Reval terbahak.


"Kenapa? Lo cemburu?" goda Reval.


"Bukan. Gue nggak suka aja, dia ngerepotin lo!"


"Nggak. Gue nggak ngerasa direpotin, kok," sanggah Reval, masih fokus pada jalanan.


"Jangan bilang, kalau lo nggak suka cewek lo itu, manja ke Reval," timpal Dion yang duduk di belakang.


"Gue nggak suka aja, Kiki jadi kebiasaan nanti," sahut Marcel.


"Lo nggak usah khawatir. Itu nggak akan terjadi lagi," tegas Reval agar Marcek tenang.


"Lagian, tadi, kan, sudah gue suruh dia minta ke lo, Cel, tapi dianya yang nggak mau," tambah Reval.


Gue yakin, dia nggak mau karena dia tahu, gue nggak punya duit, Re, batin Marcel.


"Dan lo juga nggak perlu cemburu sama gue. Gue cuma menganggap dia adik gue, kok," jelas Reval.


Bersambung...


Jangan lupa!


Like


Komen


Vote


Favorit


Makasih😊