MACKY

MACKY
1. Deraian



Sesampainya di rumah, Kiki berharap dia bisa melepas penat seharian dengan kegiatan sekolah. Seluruh tubuhnya sudah terasa lelah. Ingin rasanya Kiki cepat-cepat membersihkan diri, makan siang lalu memasrahkan tubuhnya ke ranjang kesayangannya setelah dia mendirikan sholat. Tapi sepertinya itu semua tak mungkin secepat itu, karena papanya sudah menunggu kedatangannya di ruang tamu bersama neneknya juga. Kalau dilihat dari raut wajah keduanya, sepertinya ada urusan yang sangat penting yang ingin mereka sampaikan kepada Kiki.


"Assalamualaikum." sembari Kiki membuka pintu utama rumahnya.


"Waalaikum salam. Baru pulang, nak?"


"Eh, nenek, kapan datang?" Kiki mendekat dan mencium punggung tangan keriput nenek yang sangat dia sayangi.


"Baru saja. Kamu sudah makan belum? Makan dulu, yuk!"


"Belum, Nek," jawab Kiki.


"Kamu bersih-bersih dulu, sholat, terus makan, ya, nanti Nenek temenin."


"Ok, siiiap, komandan!" neneknya tertawa melihat tingkah lucu cucunya itu.


***


Nenek Kiki menunggu Kiki di ruang makan sambil menyiapkan makanan untuk Kiki di meja makan. Beberapa menit kemudian, Kiki turun dari kamar menuju ruang makan.


"Kiki seneng, deh, lihat nenek main ke sini," kata Kiki sembari menarik kursi lalu duduk di atasnya.


"Kiki mau cerita banyak sama Nenek. Nanti Nenek nginep, kan, Nek? Nginep, dong, Nek!" bujuk Kiki pada neneknya.


"Nenek juga seneng banget bisa ketemu sama Kiki. Emang Kiki mau cerita apa sama Nenek?"


"Jawab dulu, Nenek nginep, nggak?"


"Mmm.. gimana, yaaaa, nginep nggak, yaaa?" goda neneknya sambil berjalan mendekati Kiki.


"Mmm.. Nenek, bisa aja, deh, godain Kiki." Kiki memeluk neneknya.


"Iya, Nenek nginep, kok, Kiki sayang. Emang kenapa kalau Nenek nginep, hah?" nenek Kiki mengelus puncak kepala Kiki.


"Iya Kiki mau tidur sama Nenek lah, Nek. Kiki, kan, sudah bilang tadi kalau Kiki mau cerita banyak sama Nenek."


"Oiya, Nenek lupa," sahut nenek Kiki sambil terkekeh pelan.


Kiki melepas pelukannya. Tangan kanannya meraih bakul nasi kaca yang agak jauh dan agak susah dijangkau. Neneknya mendekatkan bakul itu ke tangan Kiki. Serta mengambil alih kegiatan Kiki yang hendak menuangkan nasi ke piringnya.


"Sini, biar Nenek saja yang ambilin," ujar nenek Kiki. Kiki tersenyum.


"Kiki mau lauk apa, Sayang?"


"Kiki pengen tahu, ayam sama tempe, Nek."


"Oke!" Neneknya juga membantu mengambil lauk dan sambal lalu meletakkannya di piring Kiki.


"Nenekย  nggak makan juga?"


"Nenek sudah makan tadi."


"Makan lagi, dong, Nek, dikiiit aja! temani Kiki makan," bujuk Kiki manja.


"Kalau Nenek tambah gendut gimana?" sanggah neneknya sambil terkekeh.


"Cuma dikit kok, Nek, nggak mungkin bikin tambah gendut, kok," bujuk Kiki lagi masih berusaha meyakinkan neneknya.


"Gak usah, Sayang, mending sekarang Kiki cepetan makan, Nenek temenin Kiki, kok, di sini, ya? Papa sudah menunggu Kiki, tuh!" tolak neneknya dengan halus.


Kiki mengerucutkan bibirnya, merasa sedih karena sudah gagal membujuk neneknya makan bersamanya.


***


Seusai makan siang ditemani nenek tercinta, Kiki diminta papanya ke ruang keluarga. Ada hal penting yang akan dibicarakan. Kata papanya, sih!


"Nenek ke sini, cuma main apa ada urusan lain?" tanya Kiki membuka perbincangan setelah duduk di ruang keluarga. Kiki duduk di samping neneknya dan berseberangan dengan papanya.


"Nanti Papa kamu yang akan jelaskan, ya?" jawab nenek Kiki.


"Kenapa harus Papa, Nenek nggak bisa jelasin?" Kiki jadi bingung.


"Sayaaang, gini, dengerin Nenek, ya, manusia itu, nggak bisa hidup sendirian di dunia ini. Tapi membutuhkan pendamping hidup," ujar nenek Kiki.


Dari pernyataan neneknya barusan, perasaan Kiki jadi tidak enak. Kiki curiga, pasti ada maksud lain dari pernyataan naneknya itu dan itu pasti tentang papanya.


"Gini, Papa mau bilang. Papa mau minta izin sama Kiki, Papa mau nikah lagi," ucap Ali- papa Kiki.


"Apa?" sontak Kiki terkejut dan berdiri dari duduknya.


"Apa-apaan, sih, Pa? Aku nggak akan pernah setuju kalau Papa nikah lagi."


Kiki tak bisa menahan diri lalu pergi meninggalkan ruang keluarga.


Ekspresi Kiki ini sudah papanya perkirakan. Makanya dia meminta ibunya datang ke rumah. Takut-takut anak bunsunya itu melakukan hal-hal yang nekat. Papanya paham sekali kalau Kiki anak yang berani melakukan sesuatu diluar dugaan orang lain.


***


Tok.. Tokk.. Tok..


"Sayang, nenek boleh masuk, nggak?"


Tak ada jawaban. Yang ada hanya sunyi senyap di dalam kamar Kiki.


"Ki, Nenek masuk, ya?" neneknya masuk tanpa menunggu jawaban Kiki. Dan duduk di samping Kiki yang sedang duduk di bibir ranjang dengan wajah geramnya.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu nggak suka, ya, kalau Papa nikah lagi?" neneknya bertanya sembari mengelus pucuk kepala Kiki.


"Kiki nggak mau, Nek, Papa nikah lagi," tegas Kiki .


"Memangnya kenapa?"


"Ibu tiri pasti jahat, Nek!"


"Kata siapa?" tanya neneknya lagi.


"Kata teman-teman Kiki yang punya ibu tiri," sahut Kiki polos.


"Memangnya Kiki sudah tahu kalau calon Ibu tiri Kiki sifatnya sama dengan ibu tiri teman-temannya Kiki?"


Kiki menggeleng.


"Tapi pasti sama saja sifatnya, Nek. Sekali ibu tiri, pasti ibu tiri. Pasti jahat!" vonis Kiki.


"Nggak, Sayang, nggak semua ibu tiri itu jahat. Ada juga, kok, yang baik. Kak Zea aja setuju, Papa nikah lagi. Lagian, Kiki, kan, belum pernah ketemu sama tante Tanti. Siapa tahu, dia orangnya baik. Iya, kan?"


"Kiki nggak mau tahu, Nek. Kiki juga nggak mau kenal. Yang jelas, Kiki nggak akan pernah restuin Papa nikah lagi."


"Bagaimana kalau Kiki ketemu dulu sama tante Tanti, sekali saja?" bujuk nenek Kiki.


"Ya sudah. Papa kamu cuma ingin anak-anaknya tahu tentang hal ini. Jadi kesannya, Papa nggak menyembunyikan ini dari anak-anaknya. Ya sudah, Nenek keluar, ya?"


Kiki menangis sejadi-jadinya di kamar. Tak lama kemudian teman astralnya yang sering dia panggil Asa datang menghampiri. Kiki memiliki kemampuan melihat makhluk halus sejak kecil. Dan yang tahu soal itu hanya keluarganya. Asa adalah makhluk astral penghuni kamar Kiki sejak Kiki masih kecil.


"Ki, kamu kenapa?" Asa melayang turun dari atas almari mendekati Kiki.


Air mata yang berusaha Kiki bendung akhirnya tumpah juga tanpa permisi. Kiki masih sesenggukan saat Asa terus berusaha menenangkannya, namun agak susah.


"A.. ku..nggak ma..u Pap..pa ni..kah..la..gi, hiks."


"Sabar, Ki. Siapa tahu aja, di balik ini semua ada hikmahnya."


"Huaaaaaaaaa!"


Bukannya tambah diam, malah tambah nyaring saja tangisan Kiki. Asa, kamu gagal! Ok?


***


Taman di halaman belakang rumah menjadi tempat yang selalu dipilih Kiki saat dia merasa sedih. Taman itu dibuat sendiri oleh Kiki dengan bantuan kedua sahabatnya itu tentunya-Ratu dan Cila.


Dan sekarang pun Kiki duduk di bangku taman buatannya itu. Diam membisu menatap bunga-bunga yang sempat dia dan sahabat-sahabatnya tanam sejak awal taman itu dibuat tumbuh berkembang cantik di sana seperti tersenyum menghibur Kiki setiap kali Kiki bersedih.


Dari pintu belakang rumah, Zea-kakaknya sangat tidak tega melihat Kiki sesedih itu. Dia berjalan mendekati Kiki lalu duduk di sampingnya. Zea awalnya ikut diam. Tadinya, sih, mau nunggu Kiki yang bersuara duluan, tapi nihil, Kiki malah terlihat lebih menyedihkan dengan derai air mata yang terus menerus mengalir. Jarang sekali adegan itu terjadi pada Kiki. Kiki gadis yang kuat. Setidaknya itu penilaian Zea pada adik bungsunya itu. Zea nyaris tak pernah lihat Kiki dengan kondisi seperti ini.


Terakhir kali Zea melihat air mata Kiki, saat mama mereka meregang nyawa di salah satu kamar rumah sakit hingga meninggal. Saat itu Kiki hancur sehancur-hancurnya. Kiki menangis sejadi-jadinya.


Tak tahan akhirnya Zea bersuara.


"Kenapa, Dek?"


"Mau cerita, nggak?" imbuhnya.


"Kakak beneran sudah merestui Papa nikah lagi?"


Zea merasa tidak enak. Juga merasa tersindir. Sedikit rasa sesal tercipta di relung hatinya karena sudah melakukan itu dan dia juga menyesal sudah memulai pembicaraan dengan Kiki barusan.


"Maaf, Dek. Kakak lakuin itu karena kakak pikir Papa butuh teman hidup," jelas Zea.


"Dan Kakak nggak boleh egois," lanjutnya setelah beberapa detik terdiam.


"Terus Kakak mau bilang, kalau Kiki nggak ngerestui Papa nikah lagi, itu artinya Kiki egois? Gitu?" sindir Kiki mulai memanas.


"Nggak, Dek. Kapan Kakak bilang kayak gitu? Tadi itu Kakak sedang mengutarakan pendapat Kakak aja. Kakak nggak bilang Adek egois, kan?"


"Sama aja, Kak. Ujung-ujungnya semuanya akan nyalahin Kiki, karena Kiki nggak ngetestui pernikahan baru Papa. Iya, kan? Kakak juga akan nyalahin Kiki nantinya!"


"Kakak nggak akan ngelakuin tuduhan Adek ke Kakak itu, Dek!"


"Dek, dengar kakak!" suruh Zea seraya memegang pipi Kiki dengan kedua tangannya.


"Kakak lakuin ini, demi kebahagiaan Papa. Kakak juga nggak maksa Adek buat setuju, kan? Kakak juga nggak pernah nyalahin Adek untuk itu! Percaya sama Kakak, meskipun nantinya Ibu Tiri kita itu orang yang jahat, Kakak akan selalu ada buat Adek, buat ngelindungi Adek. Jadi Adek jangan khawatir, ya?" ujar Zea meyakinkan Kiki.


"Kakak janji, Kakak akan selalu ada buat Kiki?"


"Iya, Kakak janji, Dek!"


"Ok, Kiki pegang janji Kakak."


"Iya, Adek boleh pegang janji Kakak."


Kiki mengangguk lalu meletakkan kepalanya di bahu kanan kakaknya.


"Kak!"


"Hm?"


"Nanti malam, Kiki tidur sama Kakak, ya? Kiki nggak mau tidur sama Nenek."


"Kenapa? Nenek bilang mau tidur sama Adek?"


Kiki menggeleng.


"Tadi Adek yang minta Nenek tidur sama Kiki."


"Lah, terus? Kenapa nggak mau?"


"Kiki berubah pikiran."


"Kenapa?"


"Kiki masih sebal sama Nenek. Nenek belain Papa nikah lagi, bukan malah belain Kiki. Kiki kecewa sama Nenek," jelas Kiki.


"Yang sabar, ya! Ya udah, Adek boleh, kok, tidur di kamar Kakak sama Kakak, ya!"


"Kak!"


"Ya?"


"Papa kapan nikahnya?"


"Nggak tahu juga. Dengar-dengar, sih, katanya secepatnya. Kenapa, kamu penasaran?"


Kiki lantas menggeleng lalu berkata, "nggak, Kiki cuma tanya, kok."


"Terus Adek kenapa nggak suka kalau Papa nikah lagi?"


"Kiki takut, Kak, Ibu Tiri kita orangnya jahat. Lagian, kalau Papa nikah lagi, bagi Kiki itu sama saja Papa mengkhianati Mama," jawab Kiki.


"Emang Adek tahu dari mana kalau calon Ibu Tiri kita itu orang jahat?"


"Feeling Adek aja, sih, Kak," sahut Kiki asal.


"Halaaah main feeling segala, bilang aja, Adek, tuh, sok tahu, huu!" seru Zea.


Kiki nyengir sedangkan tangan kanan Zea mengelus puncak kepala Kiki. Mereka berdua akhirnya tertawa. Mood Kiki kembali membaik. Kesedihannya sedikit demi sedikit memudar. Selain taman itu, Zea juga sangat jago mengembalikan keceriaan Kiki selama ini.


~Bersambung~


Assalamualaikum..


Gimana, suka nggak sama ceritanya guys? Semoga suka ya..... Mohon dukungannya ya ๐Ÿ˜„


Salam manis


๐Ÿ’ MACKY ๐Ÿ’•