MACKY

MACKY
17. Gue Cemburu?



Jam sudah menunjukkan pukul 06.40 saat Kiki sudah mengenakan seragam olahraganya. Ia berdiri sambil berputar-putar di depan cermin almarinya.


"Ceria banget, Neng?" goda Asa.


"Iya, dong," sahut Kiki.


"Kok, pakai kaos olahraga? Bukannya kamu UAS? Heran Asa.


"UAS nya selesai, dooong! Sekarang sudah class meeting," jelas Kiki riang berputar lagi.


"Maka dari itu lo senang banget hari ini, ya?"


"Yup! Seratus buat lo! Gue mau nonton Marcel beraksi. Gue mau kasih semangat buat pacar gue," celoteh Kiki.


Mendadak Kiki terdiam. Dia teringat sesuatu.


"Ups! Sorry, Asa!" Kata Kiki merasa telah mengucapkan sesuatu yang salah pada Asa saking senangnya. Dia baru ingat kalau Asa juga menyukai Marcel.


"Nggak apa-apa, kok, Ki," sahut Asa lemas.


"Gue berangkat dulu, ya!" pamit Kiki.


"Nggak sarapan, Ki?"


"Oiya, iya, sarapan kalau sempat!"


Kiki berlari menuruni tangga menuju ruang makan. Kiki langsung mengambil sehelai roti, mengolesinya dengan selai coklat dan meminum susunya.


"Pa, Kiki berangkat, ya!" pamit Kiki sembari mencium punggung tangan papanya.


"Sama Mama?" teriak papa Kiki.


"Nggak mau!" teriaknya Kiki terus berlari keluar.


Alex mengejar Kiki ke depan.


"Ki, lo buru-buru, kan? Gue antar aja, ya?" tawar Alex.


"Boleh! Cepatan!"


Alex berlari masuk ke dalam rumah mengambil kunci mobil dan secepatnya keluar menemui Kiki yang sudah menunggunya di depan garasi.


"Ayo, cepat!" desak Kiki.


"Iya, sabar!"


Alex cepat membuka garasi dan masuk ke mobil, diikuti Kiki. Kiki duduk di sebelah Alex. Tiba-tiba Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Kiki.


Deg!


Mau apa anak ini dekatin gue? Jangan-jangan dia mau.. Batin Kiki berburuk sangka.


Klik


Alex memasangkan seat belt milik Kiki. Kiki menghela napas lega. Ternyata dugaan Kiki salah.


"Lo nggak kuliah?" tanya Kiki.


"Iya, nanti. Setelah nganterin lo ke kampus," jawab Alex.


"Itu roti, mau lo makan kapan? Dipegang aja, dari tadi," kata Alex.


Kiki memakan rotinya perlahan sampai habis. Alex meliriknya, sebelum ia dengan cekatan membukakan minum untuk Kiki.


"Nih, minum!"


Kiki menerimanya dan meminumnya.


"Ki, tawaran gue tempo hari masih berlaku, loh!" ucap Alex.


"Tawaran apa? Gue sudah lupa," sahut Kiki.


"Tawaran jadi pacar gue."


"Belum gue pikirin."


***


Sesampainya di sekolah, Kiki cepat-cepat membuka seat belt nya dan hendak turun. Namun Alex segera menarik lengan Kiki dan..


Cup!


Alex mencium pipi Kiki. Kiki segera mendorong tubuh Alex keras-keras.


"Apa-apaan, sih, lo!" sergah Kiki.


"Sorry, Ki, gue kelepasan!"


Kiki langsung turun dari mobil, tak menghiraukan Alex lagi.


Kiki berlari masuk ke sekolah langsung menuju kelas tercinta.


"Hai, Guys! Kalian sudah datang!" sapa Kiki pada Ratu dan Cila.


"Ya, iya lah. Lo lama banget, sih, datangnya," sahut Ratu.


"Iya. Gue sibuk dandan tadi," jelas Kiki.


"Dandan? Gue nggak paham!" timpal Cila.


"Dandan, soalnya mau ketemu pacarnya buat kasih semangat, pinteeerr," gemas Ratu sambil mencubit dua pipi Cila dengan kedua tangannya.


"Oh, ini dandan, ya? Bentar, gue cek dulu," kata Cila seraya mengangkat muka Kiki, memutarnya ke kanan dan ke kiri.


Ratu terkekeh melihatnya.


"Huaaa jahat banget, sih, Cilaaaa!" rengek Kiki.


Ratu dan Cila pun terbahak melihat Kiki yang sudah manyun sempurna.


"Sudah, nggak usah manyun gitu, nanti cantiknya hilang," ujar Ratu menenangkan Kiki.


"Kita ke lapangan aja, yuk!" ajak Cila.


"Tumben lo pintar, La!" cibir Kiki.


"Apa? Mau manyun juga? Ya, nggak bakal gue belain," sergah Ratu yang melihat Cila ikutan manyun.


"Sebenarnya gue, tuh, emang pintar dari dulu, cuma kalian berdua aja yang nggak pernah menghargai kepintaran gue, kalian cuma sibuk menghina gue," ceramah Cila yang sama sekali tidak berfaedah.


"Iya, iya, serah lo, deh, ya, gue mau ke lapangan aja. Gue mau nonton pacar gue tanding," ucap Kiki sambil melambaikan tangan meninggalkan Cila di kelas.


"Ih, tega banget, sih! Tungguin dooong!" teriak Cila berlari mengejar Kiki dan Ratu.


***


Sampai di lapangan Kiki mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, mencari keberadaan Marcel. Rupanya Marcel sudah di lapangan. Tidak lama lagi, Marcel akan beraksi.


Priiit!!!


Peluit telah dibunyikan, menandakan  pertandingan dimulai. Semua siswa yang berdiri di setiap sisi lapangan berteriak menyorakkan nama pemain andalan mereka. Begitu juga dengan Ratu, Cila dan Kiki yang berteriak menyebut nama Marcel. Memberi semangat buat Marcel.


Namun mulut Kiki mendadak bungkam saat kedua telinganya menangkap suara lain yang meneriaki nama Marcel selain kedua sahabatnya. Kiki mengedarkan pandangan mencari arah sumber suara itu. Akhirnya Kiki menemukan siapa pemilik suara itu. Dia adalah Angel yang juga memberi semangat buat Marcel. Kiki jadi hilang semangat, karena melihat Marcel malah melihat Angel saat dia sempat daripada melihat ke arahnya.


Kiki mundur dari kerumunan itu, menjauh meninggalkan lapangan basket. Kiki berlari menuju kelasnya dengan kedua matanya yang mulai terasa panas. Kiki menenggelamkan kepala di lipatan kedua lengannya.


Gue kenapa? Sejak kapan gue selemah ini? Batin Kiki.


Kiki benar-benar bingung terhadap apa yang terjadi pada dirinya belakangan ini.


Ratu yang baru menyadari suara teriakan Kiki sudah tidak ia dengar, membuat Ratu melihat sekeliling, mencari keberadaan Kiki yang sudah tidak ada di sampingnya. Dimana anak itu? Batin Ratu.


"Cila, Kiki mana?" tanya Ratu.


"Apa?" Cila tidak bisa mendengar suara Ratu karena keadaan yang sangat ramai.


"Kiki mana?" ulang Ratu, kali ini dengan sedikit berteriak.


"Owh, gue nggak tahu," jawab Cila berteriak juga.


Ratu menemukan Kiki dalam keadaan kacau. Rambutnya berantakan dan air matanya berceceran di mana-mana.


"Lo kenapa, Ki? Kenapa lo nangis?" tanya Ratu bingung.


"Gue kenapa, Ra?" tanya Kiki balik.


"Gue mana tahu, justru gue bingung lihat lo begini," sahut Ratu.


"Ada apa sebenarnya, Ki?" tanya Ratu lagi.


"Gue enggak suka lihat dia ikut memberi dukungan buat Marcel. Apalagi Marcel melihat ke arahnya dan tidak melihat ke arah gue," ungkap Kiki sambil sesenggukan.


"Siapa yang lo maksud, Ki?" Ratu masih bingung.


"Angel. Kenapa setiap kali gue lihat Marcel bersama perempuan itu, hati gue terasa panas. Gue nggak suka banget dia dekat dengan Marcel. Kenapa gue begitu, Ra?"


"Itu tandanya, lo cemburu pada Angel," jelas Ratu.


Kiki menggeleng.


"Nggak, Ra. Itu nggak mungkin."


"Apanya yang nggak mungkin? Itu sudah jelas, Ki. Marcel pacar lo, makanya lo nggak suka dia dekat dengan cewek lain."


"Apa benar, gue sudah mulai jatuh cinta pada Marcel? Rasanya, itu tidak mungkin, Ra. Gue memang pacaran sama dia, tapi bukan karena gue cinta sama dia. Waktu itu, gue asal bicara aja saat nerima dia jadi pacar gue. Gue sama sekali tidak memikirkan apa pun saat itu."


"Tapi menurut gue, wajar, sih, kalau lo sudah mulai jatuh cinta pada Marcel. Lo sama Marcel, kan, bukan cuma seminggu pacaran, tapi sudah berbulan-bulan. Gue yakin, rasa cinta itu sudah mulai tumbuh dan bersemi di hati lo dan Marcel," ucap Ratu sedikit sedih saat mengatakannya.


"Mungkin lo benar, Ra. Tapi selama ini, gue yang nggak sadar akan perasaan gue sendiri terhadap Marcel," ujar Kiki membenarkan perkataan Ratu.


"Lo sekarang sudah bisa lebih tenang, kan?"


Kiki mengangguk. "Iya, Ra. Berkat lo. Makasih banyak, ya."


"Alhamdulillah kalau lo sudah merasa lebih baik. Terus, lo sekarang mau ke mana? Masih mau di sini, apa mau ke lapangan basket lagi?" tanya Ratu.


"Gue mau pulang saja, Ra. Rasanya gue nggak enak badan. Lo bisa antar gue pulang?"


"Tentu!" jawab Ratu mengangguk mantap.


***


Tut!


Satu pesan WhatsApp mendarat di ponsel Kiki. Kiki lantas meraih ponselnya yang dia letakkan di atas nakas samping ranjangnya dan membukanya.


Marcel:


Sayang? Lo nggak ke sekolah, ya, tadi?


Gue nggak lihat lo di lapangan basket.


Lo nggak apa-apa, kan?


"Iya lah, mana mungkin lo lihat gue. Lo cuma lihat Angel tadi," gumam Kiki.


Kiki hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Itu membuat Marcel menjadi khawatir terhadapnya.


Tok.. Tok.. Tok...


Beberapa menit kemudian, terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Kiki. Pintu kamar Kiki terbuka dan menampakkan sosok bik Nah.


"Non, di bawah ada temannya," kata bik Nah.


"Siapa? Cila?" tebak Kiki. Bik Nah menggeleng.


"Ratu?" tebak Kiki lagi. Bik Nah pun menggeleng lagi.


"Terus siapa, dong!" kata Kiki menyerah, sudah tidak bisa lagi menebak.


"Aduuuh, Bik Nah lupa nanya, Non," jawab bik Nah menyesal.


"Ya sudah. Makasih, ya, Bik," kata Kiki lalu turun dari ranjang menemui tamunya.


"Marcel?" kaget Kiki saat sampai di ruang tamu.


"Sayang, pesan gue, kok, nggak dibalas, sih, bikin khawatir, tahu, nggak?"


"Sorry. Gue nggak sempat balas pesan dari lo."


"Ya sudah, sekarang jawab pertanyaan gue. Kenapa tadi lo nggak ke sekolah? Padahal gue berharap lo datang tadi. Gue, kan, tadi tanding. Lo tahu itu, kan? Gue berharap lo ada kasih gue dukungan, tapi lo nggak ada. Tadi gue menang, loh. Besok final," kata Marcel dengan lembut.


"Maaf, ya, Sayang. Gue nggak enak badan tadi," jawab Kiki.


"Lo sakit?"


"Cuma nggak enak badan, kok," ucap Kiki, agar Marcel tidak khawatir.


Marcel mengecek kening Kiki.


"Iya. Lo panas, Sayang. Sudah minum obat? Mau ke rumah sakit?"


Kenapa lo perhatian seperti ini sama gue, sih, Cel? Ini membuat gue tambah sayang sama lo, batin Kiki.


"Lah, malah diem."


Kiki menggeleng sambil menghapus setitik air mata yang memaksa keluar.


"Nggak usah. Gue sudah minum obat, kok, tadi," jawab Kiki.


"Lo nangis, Ki? Kenapa? Gue ngelakuin kesalahan, ya, sama lo?"


Kiki menggeleng.


"Mana ada gue nangis. Nih, lihat mata gue," ucap Kiki memperlihatkan matanya pada Marcel.


"Ya udah, lo istirahat, ya, besok nggak usah ke sekolah kalau masih sakit, ya?"


"Tapi gue mau lihat lo tanding," paksa Kiki.


"Iya, boleh. Tapi kalau lo besok sembuh, ya. Kalau lo masih sakit, gue nggak apa-apa, kok. Gue minta doa lo aja, semoga menang," kata Marcel.


"Pasti, Sayang. Pasti gue doain lo," sahut Kiki.


"Ya udah, lo istirahat, ya, gue pamit pulang dulu, assalamualaikum," pamit Marcel.


"Waalaikumsalam," jawab Kiki. Kiki masih menatap punggung Marcel hingga lenyap di balik pintu rumahnya.


Sesampainya di kamar, Marcel meraih ponselnya dari dalam kantong celananya. Dia terlihat sedang mencari kontak seseorang.


"Hallo.. La, lo, kok, nggak bilang, sih, sama gue, kalau Kiki tadi nggak ke sekolah. Lo juga nggak bilang kalau dia sakit, padahal tadi lo, kan, ketemu gue di lapangan basket," protes Marcel pada Cila.


"Siapa bilang Kiki nggak ke sekolah. Dia ada, kok, tadi. Bahkan nyemangatin lo!" ujar Cila jujur.


"Lo jangan bohong. Gue dari rumah Kiki barusan."


"Gue nggak bohong, Cel."


"Serius, lo nggak boong?"


"Iya. Kalau lo nggak percaya, lo tanya Ratu sana," suruh Cila.


Kenapa Kiki bohong sama gue, ya? Batin Marcel.


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Favorit


Jangan lupa, Guys!


Makasih, maaf merepotkan 😁