MACKY

MACKY
7. Jangan Maruk, Cel!



Marcel, Dion, Reval dan Noval tengah duduk di salah satu cafe di mal. Mereka menghabiskan hari minggu mereka dengan jalan-jalan berempat.


Dan ketika mereka asyik mengobrol-entah ngobrolin tentang apa- Dion melihat dua orang cewek cantik yang datang dan duduk tidak jauh dari mereka.


"Eh, guys! Cewek cantik, tuh!" kata Dion.


"Mana, mana?" sahut Reval.


Reval, Noval dan Marcel mengikuti arah mata Dion memandang.


"Wow, iya, cantik! Gue deketin, ah!" antusias Marcel.


"Jangan maruk, dong, Cel. Kiki udah lo renggut dari Dion, sekarang cewek-cewek itu," kata Reval.


"Kan gue cuma mau satu."


"Yang setia jadi cowok!" sambung Noval gemas melihat tingkah Marcel.


"Iya, nggak." bohong Marcel.


"Teman-teman, gue ke toilet dulu, ya," izin Marcel.


Sebelumnya Marcel sudah melihat salah satu cewek cantik yang Marcel incer tadi berjalan ke arah toilet. Marcel sengaja ke toilet untuk menemui cewek itu. Marcel menunggu cewek itu di depan toilet cewek.


"Hai!" sapa Marcel.


"Hallo!"


"Boleh kenalan? Gue Marcel." Marcel memberikan tangannya ke arah Angel. Dan Angel menyambutnya.


"Gue Angel. Tapi lo boleh panggil gue Ani saja."


"Boleh minta nomor WA, biar kita bisa lebih akrab," ujar Marcel.


"Boleh, kok, bentar!" Ani mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu memberi nomor WAnya pada Marcel.


"Ok, thanks. Nanti malam gue chat, ya?"


"Ok. Bye."


Marcel melambaikan tangan pada Ani sebelum dia kembali ke mejanya, berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Di depan sahabat-sahabatnya Marcel berlagak nggak kenal pada Ani. Emang dasar, tuh, si Marcel. Pintar sekali!


"Guys, nanti malam jadi karaokeannya?" tanya Dion.


"Jadi, dooong!" sahut Noval.


"Lo ikut juga, kan, Cel? Kok, diem aja dari tadi?"


"Ng, kayaknya gue nggak ikut, deh, teman-teman. Besok, kan, senin, gue mau belajar," jawab Marcel beralasan.


Padahal dia mau chattingan sama Ani, bukan mau belajar. Sahabat-sahabatnya tidak menaruh curiga, karena pasalnya, Marcel memang anak yang rajin belajar. Tapi kali ini, kebiasaan baiknya itu telah dia jadikan alasan mengibuli para sahabatnya. Perbuatannya itu cukup keji, bukan?


***


Seperti yang sudah dijanjikan bersama Ani, Marcel akan chatting dengan Ani malam ini. Marcel mengambil ponsel yang dia letakkan di atas nakas. Jemarinya mulai mencari kontak Ani. Marcel mulai mengetik nama Ani, tapi tak ada kontak dengan nama itu. "Loh, kok, nggak ada?" Marcel membatin.


Dan hatinya mulai gelisah. Marcel tak lantas menyerah, dia men-scroll kontak ke atas. Didapatinya nama Angel di sana. Kini hati Marcel lega, ia mengulum senyum manisnya. Tadinya Marcel lupa, dia telah menyimpan kontak Ani dengan nama Angel-nama asli Ani.


Marcel:


Hai, Ani!


Send


Pesan itu berhasil terkirim. Tapi beberapa detik kemudian pesan itu pun tak kunjung dibaca Ani. Marcel menghela napas berat. Banyak pertanyaan yang bergiliran datang di benak Marcel.


Apakah Ani sudah tak mau berbicara padanya?


Atau Ani sedang sibuk?


Atau bunyi pesan masuk tidak terdengar oleh Ani? dan masih banyak lagi pertanyaannya namun tak satu orang pun yang bisa menjawab pertanyaannya.


Angel:


Hallo, Marcel!


Lima menit kemudian pesan itu pun dibalas. Marcel mulai tersenyum lebar. Akhirnya pesannya pun terbalas. Marcel berpikir, daripada chatting, sepertinya lebih seru kalau langsung mengobrol saja. Marcel lantas menekan tombol call.


Tuuut.. Tuuut..


"Hallo?"


"Lagi apa, kok, tadi lama balasnya?"


"Maaf, ya, gue tadi shalat isya'."


"Owh, maaf, ya, gue ganggu lo!"


"Nggak, kok, nggak ganggu sama sekali malah. Bahkan gue senang sekali melihat ada pesan dari lo. Gue kira lo lupa atau tidak jadi nge-chat gue."


Ternyata Ani agak cerewet juga. pikir Marcel.


"Gue juga senang sekali bisa ngobrol sama lo. Btw, lo udah punya cowok belum?"


"Ng, belum, kok," jawab Ani setelah berpikir terlebih dahulu.


"Wah, asyik, dong! Untung lah!"


"Asyik? Untung? Maksudnya? Kamu senang gitu kalau gue masih jomblo? Jahat banget, deh!"


"Bukan gitu, Ani, kalau lo masih jomblo, kan, gue masih ada kesempatan, hehe."


"Hm dasar! Cowok!"


"Bukan gitu. Gue seriusan! Gimana, lo sudah buka pendaftaran belom?"


"Pendaftaran? Buat apa?" tanya Ani.


"Mau daftar lah gue."


"Ow, kalau itu, sih, tergantung siapa pelamarnya. Kalau cowoknya nggak oke, gue nggak buka pendaftaran. Tapu kalau cowoknya --"


"Kalau cowoknya gue, gimana? Lo mau nggak, jadi pacar gue?" tukas Marcel.


"Tapi, kan, kita baru kenal."


"Ya, nggak masalah, dong."


"Ok. Gue bakalan terus nungguin jawaban dari lo, ya?"


"Ok, --"


"Apa? Ok? Lo sudah nerima gue, nih?"


"Gue belum selesai ngomong, lo udah main potong gitu aja. Gimana, sih, lo?"


"Hehehe, iya, maaf."


"Ya, sudah dulu, ya, gue mau belajar."


"Ok, bye!"


"Bye!"


*******************************


Kelas Marcel bersebelahan dengan kelas Kiki. Bagaimana tidak, Marcel anak kelas X IPS 1, sedangkan Kiki anak kelas X IPS 2. Sekarang Marcel sudah melangkahkan kakinya menuju kelas Kiki setelah berpamitan pada ketiga sahabatnya yang dia tinggalkan di dalam kelas setelah dia mendengar kabar tidak enak tentang pacarnya -Kiki. Marcel ingin cepat-cepat menanyakan kebenarannya langsung dari mulut Kiki.


Saat itu Kiki sedang sibuk membaca novel My Belove Enemy di ponsel. Itu novel kedua setelah novel 'Kutitipkan Cintaku karangan Riyuni Alfani. Dia adalah penulis favorite Kiki. Novel 'Kutitipkan Cintaku sukses membuat Kiki meneteskan air mata karena baper saat membacanya. Maka dari itu, Kiki semangat sekali untuk membaca novel My Beloved Enemy di ponsel yang sudah ada di genggamannya. Karena Kiki yakin, novel ini pasti sebagus novel sebelumnya. Sekeras-kerasnya seorang Kiki, kalau sudah menyangkut masalah perasaan bisa meneteskan air mata juga. Secara dia juga manusia, wajar, dong, ya, kalau dia juga punya perasaan.


Kiki berhenti membaca saat telinganya seperti mendengar suara Marcel yang menjawab sapaan teman-teman Kiki yang masih berada di dalam kelas. Kiki mengangkat kepalanya menatap ke arah Marcel. Tapi bukan Marcel yang Kiki tatap, melainkan Vera-makhluk astral penghuni kelas Kiki-yang centilnya masyaallah. Centil banget, deh, pokoknya. Kiki sampai eneg setiap hari melihat Vera genit-genit sendiri menggoda cowok-cowok ganteng teman-teman sekelas Kiki. Ya, meskipun mereka tak bisa melihat Vera, tapi Kiki gemas sendiri jadinya. Dan sekarang dia malah mendekat pada Marcel lalu terus membuntuti Marcel yang mendekat pada Kiki. Mau apa, sih, si Vera itu? Jangan bilang kalau dia juga suka sama Marcel seperti Asa. Kiki membatin.


"Ki, kemarin lo pergi sama siapa?" tanya Marcel pada Kiki disertai tatapan tajam menusuk ke dalam jiwa dan raga Kiki, hehe, lebay, ya?


"Pergi? Owh, sama Ratu sama Cila lah, siapa lagi?"


"Jangan bohong! Teman gue bilang, dia lihat lo boncengan sama cowok. Siapa cowok itu? Selingkuhan kamu, ya?"


Kiki diam. Mencoba memutar otak, mengingat-ingat kemarin dia ngapain saja dan bersama siapa saja. Akhirnya Kiki ingat lalu dia pun bertanya, "Teman lo itu, dia lihat wajah cowok yang bonceng gue, nggak?"


Marcel menggeleng. "Dia nggak bilang, sih. Dia cuma bilang kalau lo kemarin boncengan sama cowok tapi bukan gue."


"Makanya kalau dengar info itu yang jelas dan lengkap. Kemarin itu gue dibonceng Alex," terang Kiki.


"Tuh, kan, bener!" teriak Marcel.


"Biasa aja kali, untung jantung gue nggak copot!"


"Alex itu sodara tiri gue. Kemarin gue disuruh bokap ngambil sesuatu ke rumah temannya diantar Alex," tambah Kiki.


"Sodara tiri? Dia ganteng, nggak?"


"Lo homo, ya? Nyebut, dong, Cel!"


"Enak aja! Sembarangan lo! Maksud gue, kalau dia ganteng, bisa-bisa lo jatuh cinta sama dia, kan?"


"Kamu cemburu? Ciee!"


"Ogah gue cemburu sama lo!"


"Terus tadi itu apa kalau bukan cemburu?"


"Tadi itu cuma nanya, kok. Ya sudah, deh, gue mau balik ke kelas dulu, daaa!" Marcel berlalu sembari melambaikan tangannya pada Kiki. Kiki membalasnya.


Memang ya, kalau seseorang sudah melakukan sesuatu (apalagi kesalahan), pasti punya pikiran kalau orang lain pun bisa melakukan hal yang sama. Padahal belum tentu juga. Ya, seperti Marcel tadi. Yang selingkuh dirinya sendiri. Malah nuduh Kiki yang selingkuh.


Kiki melihat Vera cekikikan sambil melihat ke Marcel dan Kiki.


"Ngapain lo cekikikan? Lo menertawakan cowok gue yang tadi salah paham sama gue, ya?"


Vera melongo. Tak disangkanya ternyata Kiki bisa melihat dirinya.


"Lo bisa lihat gue? Lo indigo, ya?"


"Ya, bisa lah! Dari dulu kali!"


"Ow jadi lo cuma pura-pura nggak lihat gue selama ini. Dari awal gue sudah curiga, sih, kalau lo bisa lihat makhluk astral, tapi karena lo pandai acting jadinya gue terkecoh."


"Lo-nya aja yang ****!" gumam Kiki.


"Apa lo bilang?"


"Nggak, nggak apa-apa."


"Ki, mumpung lo bisa lihat gue, gue mau minta tolong, dong, sama lo!"


"Minta tolong apaan?"


"Tolong sampaikan ke Reval, kalau gue suka sama dia."


"Reval? Sahabatnya Marcel?" Vera cepat-cepat mengangguk berkali-kali.


"Jangan ngaco lo. Kalau mereka semua sampai tahu kalau gue bisa lihat lo, bisa brabe nanti."


"Tolong, dong, Ki!"


"Atau gini aja, lo nulis surat cinta buat dia, entar gue bantuin lo nganterin suratnya ke dia. Gimana?"


"Lo lupa, ya? Gue ini, kan, hantu. Mana bisa gue nulis surat cinta."


"Oh, gini aja. Lo tinggal ngomong aja apa yang mau lo omongin, nanti gue yang nulisin buat lo. Gimana?"


"Berarti lo bisa tahu juga dong, isi surat cinta gue. Malu lah gue!"


"Elaaaah, hantu bisa malu juga, ya?"


"Ya, bisa lah Ki! Gimana, sih, lo?"


"Terus mau lo apa? Ribet, deh! jangan ribet, dong, gue nggak suka ribet orangnya!"


"Ya udah, deh, usul lo yang tadi aja."


"Nah, gitu, kek, dari tadi. Bentar, gue ambil kertas sama pena dulu."


Kiki mengambil pena dan sebuah buku dari dalam tasnya. Kiki membuka buku kosong itu dan mencabut bagian tengahnya. Sekarang Kiki siap menulis semua yang Vera katakan. Vera pun mulai nyerocos, mengutarakan apa yang ingin dia katakan pada Reval.


"Pelan-pelan, dong, ngomongnya. Jangan cepat-cepat!"


"Iya, maaf. Ok, gue bakalan pelan ngomongnya."


Setelah selesai menulis, Kiki lantas ke kelas Reval. Di sana sudah sepi, tinggal sepasang siswa saja yang duduk di bangku paling belakan pojok, mereka sedang pacaran. Kiki mengendap-endap dan memasukkan surat itu ke tas Reval. Dan misi SUKSES!


-Bersambung-