MACKY

MACKY
31. Relakan Gue!



Dengan mengendap-endap Kiki berusaha memasukkan surat yang dia buat semalam itu ke dalam tas Reval. Yang awalnya Kiki kira sudah aman, nyatanya dugaan Kiki salah besar. Sayangnya Marcel melihat itu. Tercipta lah pikiran lain di kepala Marcel.


Setelah memasukkan surat itu, Kiki bersikap biasa saja. Seolah dia tidak melakukan apa-apa. Dia mengikuti pelajaran seperti biasa. Hingga sampai lah di waktu jam istirahat.


"Ke kantin, yuk!" ajak Marcel pada Kiki.


"Tumben, lo ngajak gue ke kantin? Sejak kita di kelas ini, baru kal ini loh, lo ngajak gue ke kantin bareng. Kemarin-kemarin lo kemana? Sama cewek lain?" tanya Kiki dengan nada menyindir Marcel.


"Kenapa? Sekarang lo sudah nggak mau ke kantin bareng gue lagi? Owh, gue tahu. Lo pasti pengin ke kantinnya bareng sama Reval, kan? Biar bisa ditraktir macem-macem sama Reval. Secara Reval banyak duit gitu!" balas Marcel yang lebih aneh daripada Kiki.


Kiki menautkan alisnya. Bingung dengan tuduhan Marcel. Kok, malah jadi Reval yang dibawa-bawa? Bukannya yang selingkuh dia, ya? Kok, jadi gue sama Reval, sih? Batin Kiki mulai bermonolog.


"Kenapa diam? Benar, kan, omongan gue barusan?"


"Nggak. Siapa yang bilang, omongan lo benar?" jawab Kiki seraya berdiri dari duduknya merasa tidak terima dituduh yang bukan-bukan oleh Marcel.


"Maksud lo apa, bawa-bawa Reval segala?"


Marcel menarik lengan kanan Kiki hingga keluar kelas. Kiki yang merasakan lengannya sudah sakit, berusaha melepaskan genggaman Marcel dengan paksa. Namun gagal. Genggaman Marcel begitu kuat.


"Cel! apaan, sih, sakit lengan gue!" rintih Kiki yang diabaikan Marcel. Marcel masih terus menarik Kiki ke arah menuju kantin tanpa mempedulikan berpasang-pasang mata yang memperhatikan mereka.


"Cel, lepas! Sakit, Cel!" ucap Kiki lagi. Akhirnya Marcel menghentikan langkahnya dan melepas genggaman tangannya di lengan Kiki.


"Sakit? Hah? Lebih sakit hati gue, Ki. Sakit lihat cewek gue nyelipin surat ke dalam tas cowok lain. Dan lebih parahnya lagi, cowok itu sahabat gue sendiri!" pekik Marcel di depan wajah Kiki.


"Apa? Surat? Jadi, lo lihat tadi pagi gue masukin surat ke dalam tasnya Reval?"


"Owh, bagus! Sekarang lo sudah berani ngaku, ya, kalau lo selingkuh dari gue?"


"Jangan sembarangan, ya, kalau ngomong! Itu surat bukan dari gue. Gue cuma bantuin teman ngirim itu," jelas Kiki yang sama sekali tidak didengarkan Marcel.


"Oh, iya? Lalu itu surat dari siapa?"


Pertanyaan Marcel kali ini berhasil membuat Kiki bingung untuk menjawabnya. Dia mamaksa otaknya untuk berpikir keras.


"Nggak bisa jawab, kan, lo? Makanya nggak usah bohong sama gue. Ngaku aja! Gue juga sadar diri, kok, Reval lebih segalanya dari gue. Dia lebih cakep, lebih kaya, lebih bisa bikin lo bahagia," ucap Marcel dengan berteriak seperti orang yang tidak waras.


Marcel tak pernah sadar lalau ucapannya barusan sudah melukai hati Kiki.


"Terserah lo mau bilang apa. Gue nggak peduli!" teriak Kiki sebelum pergi meninggalkan Marcel.


Harusnya lo tahu dan sadar, Cel. Gue nggak pernah mikirin dan peduli apa yang lo ucapin barusan itu. Gue terima lo apa adanya. Batin Kiki. Air matanya sudah tumpah tanpa permisi.


Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa Kiki berjalan ke sembarang arah tanpa ada tujuan pasti. Yang penting bagi Kiki pergi menjauh dari Marcel. Hingga tanpa sengaja dia menabrak seseorang. Tubuh Kiki terpelanting jatuh ke tanah. Orang itu menjulurkan tangannya hendak menolong Kiki. Kiki meraih uluran tangan itu. Rupanya Kiki bertabrakan dengan seorang wanita. Dari penampilannya terlihat dia bukan siswi sekolah ini. Dia lebih terlihat seperti mahasiswi. Cantik, tinggi dan putih.


"Maaf, gue tidak sengaja menabrakmu," ucap Wanita itu menyesal.


"Gue yang seharusnya minta maaf. Gue jalan seenaknya saja tadi. Tidak lihat kanan dan kiri," sahut Kiki ikut merasa menyesal.


Kiki membersihkan roknya yang kotor terkena debu karena jatuh barusan. Juga air mata yang membekas di pipinya.


"Maaf, kalau boleh gue tanya. Lo kenal Marcel, tidak?"


"Marcel?" tanya Kiki mengulangi nama yang disebut wanita itu.


Siapa wanita itu? Ada perlu apa dia mencari Marcel? Itu yang ada di dalam pikiran Kiki.


"Iya, Marcel," ulang wanita itu.


"Maaf, kalau boleh tahu. anda siapanya Marcel?" tanya Kiki yang sudah penasaran sekali pada wanita yang satu ini.


"Oiya, perkenalkan, saya Anggi, pacarnya Marcel," kata wanita itu menjulurkan tangannya ke arah Kiki.


Hati Kiki seakan ditampar dengan keras, Jantungnya berhenti berdetak, darah Kiki berhenti mengalir dan paru-parunya berhenti bernapas. Untuk sepersekian detik. Tangan itu dibiarkannya mengudara. Kiki tidak sempat menyambutnya. Anggi menariknya kembali karena terlalu lama menunggu reaksi Kiki yang sudah terdiam bagai patung di tengah halaman sekolahnya. Kiki menunjuk satu arah pada wanita itu. Arah kantin. Maksudnya adalah Marcel ada di arah menuju kantin itu. Dari arah itu juga terlihat Marcel yang berjalan mendekati Kiki.


"Ki, gue-" kalimat Marcel tertahan saat kedua matanya bertemu dengan sepasang mata Anggi.


"Marcel!" seru Anggi.


"Anggi!" seru Marcel terkejut melihat Anggi di sekolahnya.


"Kalian selesaikan masalah kalian," ucap Kiki lalu pergi meninggalkan Marcel dan Anggi.


"Tapi, Ki!" usaha Marcel untuk mencegah Kiki agar tidak pergi gagal begitu saja. Kiki tetap pergi jauh dan cepat.


"Cel.. Gue-"


"Ngapain lo bilang? Hah? Ya nyariin lo lah, Cel. Gue kangen sama lo. Dan lo susah banget dihubungi. Susah diajak ketemuan. Gue kangen banget sama lo! Lo lupa, ya, kita sudah lama banget nggak ketemu. Apalagi saat gue dengar kalau lo punya cewek lain di sekolah lo. Gue jadi pengin ketemu juga sama pacar baru lo itu. Siapa itu namanya? Owh, gue ingat! Kiki. Mana itu cewek yang namanya Kiki, pengin gue beri pelajaran dia," kata Anggi dengan bersungut-sungut.


"Gi, kita ini, kan, sudah putus! Ngapain lo nyariin gue lagi?"


"Siapa yang bilang kita putus? Gue, kan, nggak pernah menyetujui keputusan sepihak lo itu. Jadi, bagi gue lo masih pacar gue lah," kata Anggi seenak jidat.


"Gi, tolong. Gue sudah nggak cinta lagi sama lo!" ucap Marcel lirih.


"Kenapa? Karena sudah ada Kiki itu, lo jadi nggak cinta lagi sama gue? Iya?"


"Gi, umur kita terpaut jauh. Gue ngerasa nggak cocok sama lo, Gi. Tolong lo ngertiin gue sekarang, ya, Gi."


"Gue mohon, Cel. Asal kita nggak putus, gue mau, kok, lakuin apa pun buat lo!" ucap Anggi yakin.


"Gue nggak perlu itu, Gi," sahut Marcel menatap jauh ke dalam mata Anggi.


"Terus lo maunya apa, Cel? Gue sudah relakan lo menduakan gue. Kurang apa lagi, sih, Cel? Lo ngomong sama gue, biar gue tahu mau lo apa, Cel?"


"Gue mau, lo lupain gue. Ya? Lo berhak bahagia bersama orang lain yang juga tulus sayang sama lo. Tapi orang itu, bukan gue, Gi. Gue minta maaf sama lo, sudah nyakitin lo. Tapi gue mohon, relakan gue bahagia sama orang lain, ya?"


Anggi berusaha menelan salivanya meski sedikit lebih susah dari biasanya. Air matanya menetes di pipinya. Marcel dapat dengan jelas melihat itu.


"Meskipun gue nggak pernah dan nggak akan pernah rela lepasin lo ke tangan cewek lain, tapi gue akan turutin mau lo, Cel. Gue akan berusaha merelakan lo sama orang lain. Asal lo bahagia, Cel," ujar Anggi lalu menangis di pundak Marcel. Marcel membiarkan itu terjadi. Setidaknya itu untuk yang terakhir kalinya. Dan Marcel juga ingin perpisahannya dengan Anggi merupakan perpisahan yang baik.


"Sudah, ya. Maafin gue, ya, Gi," ucap Marcel sekali lagi meminta maaf pada Anggi.


"Gue pamit, ya, Cel. Maaf, gue sudah ganggu waktu lo!"


"Nggak apa-apa, kok! Makasih, ya, atas pengertian lo sama gue."


"Sama-sama, Cel. Kan, gue sudah bilang sama lo. Gue sayang banget sama lo. Tapi mungkin lo bukan jodoh gue. Gue harus berusaha relain lo, Cel. Meski pasti berat sekali nantinya bagi gue."


"Makasih banyak, Anggi."


"Gue pulang, ya, Cel," pamit Anggi.


"Hati-hati, ya!"


Marcel melihat kepergian Anggi. Setelah punggung Anggi tidak terlihat lagi, Marcel beranjak menemui Kiki di kelas.


"Ki, gue mau-" lagi-lagi kalimat Marcel Kiki potong.


"Sudah pulang, pacar lo itu?"


"Ki, dengarin gue bicara dulu bisa, nggak? Gue mau jelasin ke lo dia itu siapa."


"Gue sudah tahu, kok. Dia pacar lo, kan?"


"Jujur, dulu emang iya. Tapi sebelum gue jadian sama lo. Dan sudah gue putusin, tapi dia nggak terima gue putusin dia. Makanya dia ke sini nyariin gue. Tapi alhamdulillah akhirnya dia mau ngertiin gue. Dia mau melepas gue agar gue bahagia sama lo," jelas Marcel.


"Sama gue? Yakin, bahagia sama gue? Bukan sama cewek lain?" sindir Kiki.


"Iya. Sama lo. Makanya lo jangan kabur kayak tadi, dong. Bikin jantungan tahu, nggak?"


"Pacar lo, tuh, yang bikin gue jantungan," bantah Kiki.


"Mantan, Ki," sergah Marcel.


"Iya. Mantan."


"Jangan pernah kayak tadi lagi, ya?" ucap Marcel sambil membelai pucuk kepala Kiki.


"Abisnya lo, sih, nggak percaya sama gue. Nuduh gue macem-macem segala. Tadi, kan, gue sudah bilang, itu surat bukan surat punya gue. Tapi punya teman gue. Dan gue nggak bisa nyebutin namanya ke lo."


"Ya sudah. Gue percaya, kok, sekarang. Itu bukan surat lo. Yang penting, sekarang kita baikan ya!"


"Iya."


"Jangan berantem lagi, ya? Janji?" ucap Marcel memberikan jari kelingking tangan kanannya pada Kiki.


"Iya. Janji!" balas Kiki seraya menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Marcel sambil melempar senyum termanisnya pada Marcel.


Bersambung...