Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 9



.......


.......


Raut khawatir terlihat jelas di wajah Jane.


Ia sudah meletakkan Aiden kembali di box bayi dan saat ini tengah duduk di atas karpet ruang tamu, sedang mengoleskan obat pada kedua tangan Felix yang terkena air panas. Jane meniupi tangan Felix sambil melirik wajah pria tersebut. Jane melihat ekspresi wajah Felix yang tak henti-hentinya meringis, dan itu membuat ia merasa sedih dan tidak tega. Jane kembali memfokuskan matanya pada tangan Felix. Dalam hati ia mengutuk dan mengumpat pada dirinya sendiri yang sudah lalai padahal tahu kalau Felix sedang lelah dan tidak enak badan. Bagaimana bisa ia lupa kalau dirinya sedang memasak air dan membiarkan Felix yang mengangkatnya? Jane mencebikkan bibir dan benar-benar merasa bersalah.


Jane menempelkan plaster pada perban yang membalut kedua tangan Felix, dan kegiatan mengobati luka pada tangan pria itu pun selesai. Jane membereskan obat-obatan yang berserakan di lantai dan memasukkannya kembali dengan rapi ke dalam tas obat. Setelah itu ia kembali meniupi tangan Felix meskipun seluruh permukaan tangan pria itu telah terbalut dengan perban. Tingkah Jane ini malah membuat Felix terkekeh pelan.


Mendengar kekehan Felix, Jane menghentikan kegiatan meniupnya dan mendongakkan kepala untuk menatap Felix yang duduk di atas sofa.


“Maaf ya,” lirih Jane. Belum sempat Felix menjawab ucapan Jane, gadis itu tiba-tiba bangkit dan langsung duduk di sampingnya.


“Kalau ada yang kamu perlukan katakan saja padaku. Misalnya,” sejenak Jane tampak berpikir dengan kening yang berkerut. “Misalnya... kamu mau makan apa? Katakan saja padaku, aku akan memasakkannya untukmu.”


Tapi sedetik kemudian Jane menepuk keningnya sendiri karena menyadari bahwa kemampuan memasaknya sangat jauh di bawah Felix. Namun detik berikutnya wajah Jane kembali tersenyum cerah.


“Atau mau kupijat? Katakan padaku bagian mana yang sakit?” Jane mulai memijat-mijat pelan lengan Felix. “Disini? Atau yang ini?”


Felix yang sedari tadi hanya terdiam, atau lebih tepatnya terbengong, akhirnya tidak bisa lagi menahan tawanya melihat tingkah Jane. Pria itu kini terbahak cukup keras, membuatnya tampak tidak selesah dan sesakit beberapa waktu lalu. Giliran Jane yang terdiam sesaat, sebelum akhirnya wajahnya berubah cemberut.


“Ihh, aku serius,” ujar Jane tidak terima dirinya ditertawakan.


Felix terlihat berusaha menghentikan tawanya. Bahkan kini pria itu mulai memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. Sejenak pria itu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mulai berbicara.


“Maaf, habisnya tingkahmu lucu sekali,” ujar Felix dengan suara lembut. “Kamu tidak harus repot-repot melakukan semuanya. Aku tidak apa-apa.”


Sebuah senyum lebar pun tampak menghiasi paras tampan Felix. Rasanya sangat aneh, hanya dengan melihat senyum itu semua rasa kesal dan kekhawatiran yang bersarang di benak Jane seketika menguap entah kemana. Begitu juga dengan Felix yang merasa tak lagi lelah setelah mendapatkan perlakuan sedemikian rupa dari Jane.


Tangan Felix terangkat dan ia mengelus lembut rambut cokelat Jane. Menimbulkan senyum serta sedikit rona merah pada pipi gadis itu, tapi juga menimbulkan rasa nyeri pada tangannya yang terluka.


Setelah itu Jane bangkit dari sofa. Baru saja Felix ingin ikut berdiri, tapi Jane langsung menyentuh pelan pundak pria tersebut. “Kamu duduk saja. Pokoknya kamu jangan melakukan apa-apa dulu. Biar hari ini giliran aku yang mengurus semuanya. Aku akan coba memasak sesuatu.”


Jane langsung berjalan ke arah dapur, namun langkahnya terhenti ketika ponselnya yang tergeletak di atas meja TV di ruang tamu berdering. Dengan cepat gadis itu berbalik dan mengamit ponselnya itu dari permukaan meja TV.


“Halo.”


“Jane! Kamu di mana? Meeting akan dimulai setengah jam lagi, dan kamu masih belum muncul di kantor,” suara nyaring papanya langsung menyapa pendengaran Jane begitu ia mengangkat panggilan tersebut.


Sejenak Jane terdiam. Ia kemudian bersunggut pelan setelah melirik ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu. “Ah, hari ini aku tidak bisa ke kantor, Pa.”


“Apa?” seruan lainnya terpaksa harus didengar oleh indera pendengaran Jane. Kalau bukan karena ada Felix yang tengah memperhatikannya, Jane pasti sudah melayangkan protes pada papanya. Tapi tampaknya hari ini ia harus lebih sabar.


“Maaf, Pa. Aku lupa mengabari Papa. Tapi aku tidak bisa ke kantor hari ini karena suami dan anakku sedang sakit.”


Felix yang kebetulan sedang meneguk air dari mugnya langsung tersedak. Beruntung Jane sedang sibuk dengan panggilan dari papanya sehingga tidak menyadari reaksi suaminya itu atas perkataannya barusan.


“Apa? Felix sa–”


Klik!


Jane langsung mengakhir panggilan tersebut sebelum papanya kembali mengoceh. Ia menghela napas pelan. Dirinya memang tidak bisa melayangkan protes tapi setidaknya ia bisa menutup telepon dari papanya, meski itu sebenarnya tidak sopan. Apa yang harus dihadapi Jane di rumah saja sudah membuatnya cukup pusing, apalagi kalau ditambah dengan harus menjelaskan panjang lebar pada papanya.


‘Lagipula, bagaimana bisa aku melupakan meeting hari ini?’ batin Jane sembari meremas rambutnya kesal.


“A-Ada apa dengan Papa?” tanya Felix akhirnya.


Jane langsung melihat ke arah Felix. Sejenak ia lupa kalau Felix ada bersamanya di sini. Sontak Jane langsung mengusir jauh-jauh rasa kesalnya. Ia langsung menjawab Felix sambil menyengir lebar. “Tidak, tidak apa-apa kok. Hanya urusan kecil di kantor, tidak akan ada masalah.”


Felix hanya mengangguk menanggapinya, kemudian dia menguap pelan. Melihat itu, Jane jadi menyadari sesuatu. Gadis itu langsung kembali berjalan ke arah Felix dan menarik lengannya perlahan. “Felix, sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar.”


Kali ini Felix tidak menolak. Dia akhirnya membiarkan Jane merangkulnya menuju kamar tidur utama, atau lebih tepatnya memeluk pinggangnya karena postur tubuh Jane yang jauh lebih mungil dari Felix. Jane membantu Felix untuk berbaring di kasur dan tak lupa pula Jane menyelimuti tubuh pria itu.


“Isitirahatlah. Aku ada di dapur kalau kamu butuh sesuatu,” ujar Jane sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar.


Felix tersenyum tipis. Setelah Jane keluar, Felix perlahan merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Setelah berbicara beberapa saat di telepon, Felix meletakkan ponselnya di atas meja nakas dan memejamkan matanya.


...***...


Sudah dua puluh menit Jane habiskan hanya dengan berjalan mondar-mandir di dapur. Tangannya terlipat di depan dada dan keningnya tampak berkerut.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Jane setelah lama berpikir dan merenung. Ya, gadis ini sedang bingung memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini. Setelah Felix naik dan beristirahat, Jane malah bingung memikirkan hal mana yang harus lebih dulu ia lakukan.


Memasak?


Oh, Jane langsung merutuki dirinya yang hanya bisa memasak mie instant. Tapi setelah dipikir-pikir, ada satu masakan lain yang bisa Jane buat. Nasi goreng. Tapi dirinya sudah lama tidak memasak makanan itu dan lagipula ia juga tidak mungkin tega membuat Felix sakit perut setelah memakan masakannya di saat seperti ini.


Jane kembali berjalan mondar-mandir. Ia harus melakukan sesuatu. Bukankah ia sendiri yang bilang akan mengurus semuanya hari ini? Seorang istri dan ibu yang baik harus bisa merawat suami dan anaknya saat sedang sakit. Jane akhirnya mengangguk mantap dan beranjak menuju kulkas dua pintu miliknya. Ia membuka kulkas dan mencoba mencari bahan makanan apa yang bisa dimasaknya saat ini. Saat dirinya sedang sibuk menghitung jumlah kentang dan sedang menimbang-nimbang apa sebaiknya ia mencoba untuk memasak kare saja, terdengar suara bel berbunyi nyaring.


Jane langsung membalikkan badannya dan alisnya terangkat.


‘Siapa yang datang?’ batin Jane. Ia pun segera berlari kecil menuju pintu depan, penasaran siapa yang datang ke apartemennya siang-siang begini. Pintu terbuka, menampilkan sosok seorang pria.


“Feli–” pria itu tidak melanjutkan kalimatnya. Jane menatap pria di hadapannya ini dengan tatapan bertanya.


“Anda siapa?”


...***...


Jane dan Henry sedang duduk di ruang utama sambil menyesap teh chamomile yang Jane seduhkan. Beruntung tadi Henry datang sebelum Jane membuat bahan makanan yang ada di dalam kulkasnya terbuang percuma. Henry datang dengan membawa masakan dari istrinya, ada tumis jamur dan sop ayam. Henry juga tadi membantu Jane memandikan Aiden.


“Maaf ya malah jadi merepotkan kamu,” Jane meletakkan cangkirnya dan tersenyum sedikit sungkan kepada Henry.


Pria itu meletakkan cangkirnya dan mengibas-ngibaskan kedua tangannya sambil tersenyum lebar. “Tidak apa, tidak masalah kok.”


Sifat Henry yang sangat akrab membuat Jane merasa mudah dan nyambung mengobrol dengan pria ini meski ini adalah kali pertama mereka bertemu. Felix belum pernah menceritakan tentang teman-temannya pada Jane, dan Henry adalah satu-satunya teman Felix yang Jane tahu saat ini.


“Sebenarnya aku sudah beberapa kali datang ke sini, saat aku datang kamu sedang bekerja dan tidak ada di rumah,” ujar Henry sambil mencubit gemas pipi gembul Aiden yang tengah bermain di dalam kereta bayinya. Aiden tersenyum senang dan menggoyangkan mainan berbentuk singa di tangannya.


Jane yang melihatnya ikut tersenyum. Terutama saat ia melihat Aiden yang sudah kembali ceria seperti biasanya. Jika Henry pernah beberapa kali ke sini, apakah dia juga pernah membantu Felix merawat Aiden?


Henry mengalihkan pandangannya dari Aiden dan menggeleng pelan. “Tidak selalu, hanya sekali saja saat Felix pertama kali akan memandikan Aiden. Selebihnya paling aku cuma memberitahu ini dan itu, kebanyakan aku datang karena memang ingin bertemu dengan Felix saja.”


“Bagaimana saat pertama kali Felix memandikan Aiden? Apa dia kesulitan?” tanya Jane antusias, dan Henry pun mulai menceritakannya pada Jane. Beberapa kali Jane tertawa mendengar cerita Henry.


“Kupikir selama ini Felix benar-benar mempelajari semua hal sendirian, ternyata kamu banyak membantunya. Terimakasih banyak loh.” Kata Jane sambil tersenyum.


Henry mengibaskan tangannya. “Tidak masalah. Lagipula aku senang bisa membantu Felix mengurus bayi selucu Aiden,” lagi-lagi Henry mencubit pelan pipi gembul Aiden. Tak lama kemudian pria itu melirik jam tangan yang melingkar di tangannya dan berbicara, “Sepertinya aku harus kembali sekarang. Istriku pasti kewalahan mengurus anak sendirian.”


Jane turut bangkit dan mengantarkan Henry sampai ambang pintu. “Salam untuk istrimu ya. Lain kali kita semua harus makan bersama.”


“Itu ide yang bagus,” kata Henry sambil tersenyum ramah. “Titipkan salamku untuk Felix. Semoga dia cepat sembuh.”


Jane mengangguk pelan, kemudian ia menutup pintu apartemennya setelah tubuh Henry menghilang di balik lorong menuju lift. Setelah itu Jane masuk dan bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Felix. Dirinya sedang sibuk menuangkan makanan ke atas piring untuk dipanaskan ketika didengarnya namanya dipanggil.


“Jane.”


Suara yang familiar itu menguar dari arah tangga. Sosok Felix yang mengenakan kaos putih dan celana panjang biru terlihat sedang menuruni tangga.


“Kamu sudah bangun?” Jane menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekati Felix.


“Kamu masak sop?” tanya pria itu. Jane langsung bertanya-tanya di dalam hati, apakah dengan sering memasak membuat hidung Felix sepeka ini? Jane bahkan belum mengeluarkan sop itu dari termos yang dibawakan oleh Henry.


“Tidak, tadi ada temanmu yang datang. Henry. Dia membawakan sop ayam dan tumis jamur yang dimasak oleh istrinya,” jelas Jane. Felix tampak mengangguk perlahan. Dia tidak merasa heran karena memang dirinya lah yang memanggil Henry untuk datang ke sini tadi sebelum tidur. Felix tentunya tidak mungkin membiarkan Jane kewalahan mengurusi semuanya sendirian. Apalagi dia tahu bahwa Jane sama sekali tidak bisa memasak. Dan dirinya pun sedang terluka dan sama sekali tidak bisa membantu.


Jane dan Felix berjalan memasuki dapur. Felix langsung mendudukkan dirinya di meja makan, sementara Jane kembali sibuk menuang makanan ke atas piring dan mangkuk serta memasukkannya ke dalam microwave untuk dipanaskan. Setelah selesai dipanaskan, Jane menata semua makanan itu di atas meja makan.


“Kamu mau makan sekarang? Kamu kan tadi belum makan siang,” tanya Jane.


“Tidak, aku mau mandi dulu,” jawab Felix pelan.


“Ah, oke. Kamu mandi saja dulu, baru setelah itu kita makan malam,” jawab Jane sambil sibuk meletakkan dua gelas dan satu ceret kaca berisi air putih di atas meja.


Felix langsung berdiri dan berjalan ke arah tangga menuju lantai dua. Baru sampai di anak tangga ketiga, Felix berhenti dan membalikkan badannya. “Jane...”


“Iya?” Jane menghentikan aktivitasnya sejenak dan menengadah menatap Felix.


“Aku mau keramas.”


“Hm? Lalu?” tanya Jane sambil menatap Felix dengan tatapan bingung.


Felix megangkat kedua tangannya yang terlilit perban. “Sepertinya kamu harus menolongku.”


Jane sejenak mematung. Tapi kemudian mau tidak mau Jane harus ikut naik ke lantai atas untuk membantu Felix. Jantungnya langsung berdetak tidak karuan. Kini dirinya telah berada di dalam kamar mandi dengan Felix yang juga ada di dalamnya. Jane masih berusaha mencerna situasinya saat ini ketika Felix berbalik dan bicara.


“Bisa tolong lepaskan bajuku juga?” tanya Felix. Jantung Jane yang memang sudah berdetak tidak karuan langsung menjadi lebih kacau setelah mendengar ucapan Felix itu.


Melepaskan bajunya? Oh, tidak. Tapi sepertinya Jane harus berpikir lebih rasional karena tentu perlu melepaskan baju kalau ingin keramas, kan? Karena jika tidak nanti baju Felix akan ikut basah.


“O-oke.”


Kedua tangan Felix telah diangkat ke atas, agar Jane dapat membantu melepaskan bajunya. Dengan sedikit menahan napas dan tanpa sadar malah menutup matanya juga, kedua tangan Jane meraih tepian kaos Felix. Jane sedang berusaha menarik bajunya ke atas saat terdengar suara kekehan Felix.


“Bagaimana kamu bisa bantu melepas baju kalau sambil merem begitu?” tanya Felix masih sambil terkekeh. Sontak kedua kelopak mata Jane terbuka. Posisinya yang tepat berada di hadapan Felix dengan tangan di tepian kaos yang telah terangkat setengah membuat Jane dapat melihat jelas otot-otot yang berbentuk kotak-kotak bersarang di perut Felix.


Jane tak dapat menyembunyikan rona merah yang menimbulkan rasa panas di pipinya, yang entah kenapa malah membuat Felix juga turut merasa canggung. Mereka sama-sama mematung dengan posisi seperti itu. Begini saja Jane sudah merasa malu, bagaimana dia bisa membantu pria ini untuk keramas?


Tak mungkin terus-terusan berdiam dengan posisi seperti ini, akhirnya dengan cepat Jane menarik kaos Felix sampai terlepas, meski sempat tersangkut di kepala pria jangkung itu. Felix turut menundukkan tubuhnya untuk membantu Jane.


Kini Felix sedang duduk di bangku kayu yang menghadap pada cermin di dalam kamar mandi. Jane berdiri di belakangnya bersiap untuk mengeramasi Felix. Setelah Felix membasahi rambutnya sendiri, kini Jane menuangkan sampo ke atas telapak tangannya lalu mengusapkannya pada rambut Felix. Secara perlahan, Jane mengusak pelan rambut Felix sembari memijat kepalanya. Sesekali Felix mengamati pantulan dirinya di cermin meski dia lebih banyak menunduk.


Diam-diam Jane merutuki cermin itu. Posisi ini sungguh tidak menguntungkannya karena ia dapat melihat dengan jelas pantulan Felix yang tidak memakai kaos. Sepuluh menit lamanya Jane mengeramasi Felix, hingga saat Jane hendak membilas rambutnya, Felix mencegahnya.


“Biar aku saja. Kalau ini aku bisa sendiri,” ujar Felix.


Jane menganggukkan kepalanya kikuk dan bergerak menuju wastafel untuk membilas busa-busa sampo di tangannya. Setelah itu tubuhnya berbalik dan ia menatap Felix. Pria jangkung itu mengernyit, dirinya baru saja hendak menurunkan celana panjangnya namun terhenti karena dilihatnya Jane yang masih berada di sana.


“Kenapa? Kamu mau memandikanku juga?”


“H-Hah?”


“Lalu kenapa kamu tidak keluar?”


“Aku akan keluar sekarang.”


Jane langsung melesat keluar dari kamar mandi. Setelah gadis itu menghilang di balik pintu, Felix langsung tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.


Jane langsung turun ke lantai bawah dengan jantung yang masih berdebar kencang. Sembari menunggu Felix selesai mandi, Jane duduk di atas sofa kremnya dengan Aiden di pangkuannya. Bayi mungil itu sekarang tengah meminum susunya dengan lahap. Sesekali Jane mengelus pelan punggung Aiden, berusaha menidurkannya.


Tak lama kemudian, susu yang diminum oleh Aiden pun habis. Jane melepas botol susu itu, jari telunjuknya diletakkan di depan mulut Aiden saat bayi mungil itu menguap. Mata jernih Aiden tampak mengerjap, seolah akan terpejam sebentar lagi.


“Anak Mama mengantuk ya?” ujar Jane sambil tersenyum.


Lagi-lagi Aiden mengerjapkan matanya. Sepasang mata jernihnya memantulkan bayangan mamanya yang cantik. Jane mencium pelan kening Aiden. Bayi itu menguap lagi kemudian perlahan matanya mulai terpejam. Jane mengayunkan tubuh Aiden di gendongannya secara perlahan sembari tangan satunya mengusap-usap ubun-ubun sang bayi pelan.


“Jane,” terdengar suara Felix memanggil dari lantai atas. “Bisa tolong bantu aku memakai baju?”


“Iya, sebentar,” sahut Jane. Gadis itu meletakkan Aiden yang sudah terlelap ke dalam kereta bayi. Baru saja Jane akan melangkah menuju lantai dua ketika terdengar suara bel yang nyaring. Jane mengurungkan niatnya untuk naik ke atas dan berbalik menghampiri pintu depan apartemennya.


Begitu pintu dibuka, mata Jane langsung membulat sempurna melihat dua sosok paruh baya yang berdiri di sana.


“Siapa yang datang?” tanya Felix yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Jane dengan keadaan sedang tidak memakai kaosnya. Detik itu juga mata Felix ikut membulat kaget.


“Mama? Papa?”


...----------------...