
.......
Felix menyandarkan punggungnya pasrah pada sandaran kursi kayu yang dia duduki. Segera setelah menjelaskan siapa dua perempuan cantik yang mendadak muncul di apartemennya pagi-pagi kepada Jane, Felix langsung menyeret kakak dan adik kandungnya itu ke sebuah kafe yang ada tidak jauh dari apartemen untuk berbicara dengan mereka.
Berbanding terbalik dengan Felix yang terlihat malas dan kesal, Helen Setiawan terlihat santai sambil menyesap espresso paginya perlahan dan dengan gestur yang elegan. Sedangkan si bungsu, Kaylee Setiawan, terlihat tengah menikmati sepotong cake tiramisu tanpa bersuara.
“Jadi kamu benar-benar menikah dengan putri tunggal dari CEO Chandra Corporation?” akhirnya Helen yang terlebih dahulu memulai percakapan setelah metelakkan cangkirnya kembali ke atas meja.
“Iya,” jawab Felix singkat sambil menegakkan punggungnya, berganti meraih cangkir latte miliknya.
Putri tertua keluarga Setiawan itu tertawa pelan sambil memandang Felix dengan tatapan tidak percaya. “Wah, aku tidak menyangka kalau kamu mewarisi sifat Papa,” ujarnya yang lantas membuat tangan Felix yang baru saja akan mendekatkan cangkir ke bibirnya terhenti dan menggantung di udara. Seketika wajah pemuda itu mengeras.
“Aku berbeda dari dia. Jangan pernah samakan aku dengan Papa," ujar Felix dengan nada suara yang terdengar dingin.
“Hmm, oke, oke. Kamu tidak sama dengan Papa. Hanya saja aku jadi teringat padanya saat aku melihatmu sekarang. Maksudku, coba lihat diriku. Karena Papa aku menikahi seorang CEO berkepribadian dingin seperti Jonathan. Tadinya kupikir kamu akan berbeda. Aku kira jalan pikiranmu tidak akan sama dengan Papa, dan kamu akan menikah dengan gadis biasa atau mungkin mencari kekasihmu yang–” kata-kata Helen tidak sempat diteruskan karena Kaylee langsung menyikut lengannya kuat.
Helen mengernyitkan keningnya dan menoleh ke arah Kaylee. Begitu ia melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh adik kecilnya itu, Helen langsung mengerti. “Ah, maaf. Aku tidak akan membahasnya lagi. Aku hanya merasa heran karena kamu malah menikah dengan putri satu-satunya pemilik perusahaan besar seperti Chandra Corporation.”
Felix menyesap latte-nya dan meletakkan cangkirnya kembali. Dia kemudian beralih menatap Helen tajam. “Dengar, aku menikahi Jane bukan karena alasan itu.”
“Benarkah? Lalu apa alasannya?” tanya Helen sambil membalas tatapan tajam Felix. “Dan juga, siapa bayi di foto yang terpajang di apartemenmu? Kamu memberitahuku kabar pernikahanmu sekitar tiga bulan yang lalu, tapi kamu sudah memiliki bayi? Apa kamu menikah dengan Jane karena dia sudah hamil duluan?” cecar Helen.
“Jadi kakak sudah tahu kalau kak Felix akan menikah sejak awal?!” Kaylee yang sedari tadi hanya diam mendengarkan kini memekik kaget. Dirinya baru diberitahu kalau kakak laki-lakinya itu sudah menikah beberapa hari yang lalu sebelum ia dan Helen terbang dari Melbourne ke Jakarta.
“Iya, sebenarnya aku sudah tahu sejak awal. Felix mengirimiku e-mail lengkap dengan undangannya tapi dia memintaku untuk tidak membiarkan kamu tahu.” Jawab Helen.
“Hah? Kenapa?” Kaylee langsung menoleh pada Felix. “Kenapa aku tidak boleh tahu?!” Kaylee mulai merengek pada Felix yang masih memasang ekspresi datar.
“Kaylee, simpan dulu semua pertanyaanmu itu. Kedua kakakmu ini sedang berbicara serius,” tegur Helen, membuat Kaylee mengerucutkan bibirnya kecewa dan memilih untuk mengunci mulutnya sambil kembali menikmati tiramisu-nya.
Felix menghela napas pelan. “Aiden bukan anakku.”
“Oh, jadi namannya Aiden? Nama yang bagus.” Helen tersenyum, kemudian ia memajukan badannya dan melipat kedua tangannya di atas meja. “Kalau Aiden bukan anakmu, apa itu artinya Jane–”
“Dia bukan anak Jane juga.” sela Felix.
Helen tampak mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”
“Kami mengadopsi anak.” jawab Felix sambil menatap Helen datar.
“Kenapa?” kerutan di kening Helen terlihat semakin jelas.
“Tidak ada alasan khusus. Kami hanya ingin mengdopsi anak saja.” jawab Felix masih dengan ekspresi datar yang sama di wajahnya.
Tiba-tiba Helen memperlihatkan raut wajah kaget sambil memundurkan badannya sedikit. “Apa jangan-jangan Jane tidak bisa–”
“Tidak, kak. Jangan berasumsi yang aneh-aneh. Tidak ada yang salah pada Jane, dan pernikahanku dengan dia juga baik-baik saja.” potong Felix sambil menatap kakak perempuannya itu kesal.
“Hmm begitu ya. Tapi, kenapa kamu menikahinya?” tanya Helen lagi. Felix memegangi kepalanya dengan frustrasi sejenak, merutuki nasibnya memiliki kakak perempuan secerewet Helen.
“Aku hanya merasa tidak ada lagi yang harus kupikirkan. Aku sudah memenuhi mimpiku, jadi yang tersisa tinggal mencari istri dan membangun keluarga. Lagi pula aku sendirian di sini, kamu di Melbourne dan Kaylee di New Zealand. Dengan menikah, aku tidak sendirian lagi, kan.” jawab Felix panjang lebar.
“Kamu mencintainya?” tanya Helen sambil menatap Felix lekat-lekat. Kaylee yang sedari tadi hanya menunduk dan fokus pada makanannya kini ikutan menatap Felix, menunggu jawabannya.
Sontak saja benak Felix melayang pada kejadian semalam, saat ia mengatakan kata cinta pada Jane untuk pertama kalinya. “Tentu saja, dia kan istriku.” Dan tanpa sadar Felix tersenyum mengingatnya.
“Wah,” Helen mencampakkan punggungnya ke sandaran kursi. “Kaylee, kamu lihat barusan? Dia baru saja tersenyum. Wah, aku jadi iri pada istrimu.”
Felix tertawa pelan mendengar pujian dari adik perempuannya itu. Dia merasa lega, kelihatannya kakak dan adiknya itu menyukai Jane. Dan dia merasa sedikit bersalah juga karena telah menyembunyikan pernikahannya ini dari Kaylee.
Melihat adik laki-lakinya yang tak biasanya tertawa dan tersenyum lepas membuat Helen ikut merasa senang, dirinya tidak bisa menyembunyikan senyumannya sendiri. “Baguslah kalau kamu bahagia dengan pilihanmu sendiri. Selama ini hidupmu selalu diatur dan ditekan oleh Papa, aku senang melihatmu bisa bebas seperti sekarang. Tapi, aku benar-benar penasaran, apa kamu tidak akan menyesal tidak mencari gadis itu lebih dulu?”
Serta-merta senyum di wajah Felix sirna, dan Kaylee kembali menyikut lengan Helen.
“Aku memang bilang tidak akan membahasnya lagi, tapi aku benar-benar penasaran kamu sudah melupakan dia atau be–”
“Aku sudah melupakannya,” potong Felix dengan tegas. “Apa yang terjadi antara dia dan aku sudah berakhir, kak. Dia telah menjadi pelajaran dalam hidupku. Mulai sekarang aku hanya akan menjaga apa yang sudah menjadi milikku sebaik-baiknya, dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.”
Kaylee dan Helen menatap Felix lekat-lekat, kemudian senyum simpul terpatri di paras keduanya. Mereka merasa senang mengetahui Felix bahagia dengan hidipnya, mengingat apa yang telah dilalui satu-satunya saudara laki-laki mereka selama ini sangatlah berat. Helen hanya berharap Felix tidak memaksakan diri hingga menyesali keputusannya suatu saat nanti. Dan di saat bersamaan, Helen juga berharap kalau Jane memang orang yang tepat bagi Felix. Helen benar-benar berharap mereka dapat hidup bersama selamanya dan hanya maut yang bisa memisahkan, bukan orang lain.
Helen menjulurkan tangannya dan menepuk pelan tangan Felix yang ada di atas meja. “Baguslah. Memang itu jawaban yang kuharapkan darimu. Kamu harus menjalani hidupmu dengan baik, Felix.”
Felix tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Helen kemudian melirik jam tangannya. “Aku rasa aku dan Kaylee harus kembali ke hotel sekarang. Ah tapi, apakah tidak masalah kamu membawa kami pergi dan meninggalkan istrimu begitu saja di rumah? Aku dan dia bahkan belum mengobrol.” Tanya Helen mengingat Felix langsung menarik dirinya dan Kaylee keluar setelah memperkenalkan mereka secara singkat pada Jane.
Felix menyesap latte-nya dan menjawab ringan. “Aku belum pernah menceritakan apa pun tentang kalian pada Jane. Nanti jika ada waktu kita makan malam bersama saja, jangan lupa ajak Jonathan juga.”
Helen mengangguk pelan. “Baiklah. Ngomong-ngomong, istrimu suka warna apa?”
Felix mengernyit, berusaha memutar otak dan mengingat-ingat warna apa yang sering Jane gunakan. “Hmm, sepertinya lilac atau peach,” jawabnya agak ragu. “Memangnya kenapa?”
“Tidak, aku hanya ingin mengirim hadiah pernikahan padanya.” Helen meneguk espresso-nya yang tinggal seperempat hingga habis, lalu tersenyum puas.
Felix yang memperhatikannya menunjukkan ekspresi tidak suka. “Kurangi minum kopi terlalu banyak, kak. Jaga kesehatanmu.”
Helen mengabaikan ungkapan khawatir Felix dan mengibaskan tangannya di depan wajah. “Tenang saja, aku memang sedang menjaga kesehatanku dengan baik. Besok pun aku sudah buat janji untuk bertemu dengan Mark.”
Sontak Felix mengernyitkan keningnya. “Mark? Kakak sakit lagi?”
“Tidak, hanya check-up biasa. Operasi yang kujalani tahun lalu berhasil dengan baik, tapi aku tetap harus melakukan pemeriksaan setiap tahun, hanya untuk jaga-jaga.” Jawab Helen.
“Aku sangat berharap kak Helen akan mendatangi dokter kandungan, bukannya dokter kanker terus. Aku kan juga ingin punya keponakan,” celoteh Kaylee.
“Kan ada Aiden. Aiden itu keponakanmu, Kaylee,” timpal Felix.
“Oh, iya benar juga. Kalau begitu aku boleh main ke apartemenmu? Aku ingin bertemu dengan keponakanku,” ucap Kaylee dengan mata berbinar. Mereka memang tidak bertemu Aiden secara langsung tadi karena bayi mungil itu masih berada di rumah orangtua Jane.
“Tentu saja boleh. Tapi kamu harus meneleponku dulu sebelum datang,” jawab Felix.
“Oke!” seru Kaylee riang sambil memberi gestus hormat pada Felix.
“Kaylee, ayo, kita harus kembali ke hotel sekarang,” ajak Helen seraya mengamit pouch silver-nya dan bangkit berdiri. Kaylee juga berdiri dari kursi bersamaan dengan Felix.
Baru saja Felix akan meninggalkan meja, tiba-tiba Helen menarik tangannya. Lantas wanita cantik itu memeluk adik laki-laki yang lebih muda lima tahun darinya itu. Felix sedikit tersentak dengan perlakuan Helen yang tiba-tiba itu. Baru saja dia ingin membuka suara, terdengar Helen berbisik padanya.
“Felix, aku tahu kamu kecewa pada Papa dan Mama, tapi bukan berarti kamu bisa menikah begitu saja tanpa memberitahu mereka, kan?”
Sontak Felix mematung mendengar ucapan yang keluar dari mulut Helen itu.
...----------------...
...- Kaylee, Felix, Helen -...