
...- ...
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore saat Kaylee turun dari lantai dua, diikuti oleh Jane sambil menggendong Aiden di belakangnya. Daniel yang sedang duduk mengobrol bersama Felix di ruang keluarga langsung menolehkan wajahnya ke arah kedua gadis tersebut.
“Main-mainnya sudah selesai? Mau balik sekarang?” tanya Daniel pada Kaylee, yang dibalas dengan anggukan oleh gadis tersebut.
Keylee menoleh dan memeluk Jane yang kini sudah berdiri di sebelahnya. "Kak Jane, aku pulang dulu ya.” Lalu Kaylee beralih pada Aiden yang berada di gendongan Jane dan menciumi kedua belah pipinya. “Bye bye, Aiden. Kapan-kapan Auntie akan datang lagi kesini dan bermain bersama Aiden, ya.”
Kaylee berbalik dan baru saja akan memeluk Felix, namun langsung dicegah oleh pemuda itu dengan meletakkan telapak tangan kanannya di kening Kaylee, membuat adik perempuannya itu menatapnya dengan wajah cemberut.
"Kan sudah kubilang jangan suka sembarangan memelukku," ujar Felix, lalu ia mengusap puncak kepala Kaylee sambil tersenyum tipis. Felix menoleh pada Daniel “Kamu akan mengantarnya, kan?”
“Iya, aku akan mengantarnya kembali ke hotel,” tanggap Daniel. Daniel kemudian menoleh pada Aiden, ia mencubit pipi tembam bayi laki-laki itu pelan dan melambaikan tangannya, "Bye, Aiden."
Daniel lalu menganggukkan kepalanya sopan pada Jane. “Aku permisi dulu, Jane.”
“Iya, kalian berdua hati-hati di jalan, ya.” jawab Jane sambil tersenyum.
Jane dan Felix mengantar keduanya keluar. Mereka berdiri di ambang pintu seraya melambaikan tangan pada Daniel dan Kaylee yang melangkah menuju lift. Saat kedua tamu mereka itu sudah menghilang dari pandangan, Felix dan Jane pun saling tatap dengan canggung. Jane yang duluan mengalihkan tatapannya kembali ke arah Daniel dan Kaylee menghilang barusan.
“Kamu tidak perlu khawatir, Jane, Daniel dan Kaylee sudah saling kenal sejak lama, mereka berdua hanya teman sekarang. Daniel tidak mungkin berselingkuh dari Seena dengan adikku,” Felix memberanikan diri buka suara, mencoba untuk mencairkan suasana.
Jane kembali menatap Felix dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat datar. Ia kemudian membalasnya sambil lalu. “Memangnya aku tanya?”
Felix merapatkan bibirnya mendengar ucapan Jane. Ia memerhatikan istrinya yang berjalan masuk dan langsung menaiki tangga menuju lantai dua. Felix menutup pintu luar dan menyandarkan punggungnya di dinding.
‘Ternyata dia masih marah,’ batin Felix sambil kembali meremas rambut hitamnya dengan frustrasi. Felix tidak menyangka ternyata susah juga membujuk Jane yang lagi ngambek.
...***...
Kaylee melempar pandangannya ke luar jendela mobil. Alunan lagu ‘Paris’ milik Taylor Swift mengisi keheningan yang menyelimuti perjalan mereka menuju Hotel Shangri-La, tempat Kaylee menginap selama di Jakarta.
Sesekali ia menoleh pada Daniel yang tampak serius di balik kemudinya. Sebenarnya ada yang ingin Kaylee tanyakan pada Daniel sejak mereka meninggalkan mall tadi siang, tapi ia merasa canggung untuk menanyakannya. Kaylee sempat melihat saat wanita yang dikejar oleh Daniel di mall tadi siang menghempaskan tangan pemuda itu sebelum berbalik pergi. Kaylee penasaran, apakah tadi mereka bertengkar? Siapa wanita itu?
‘Apakah dia pacar kak Daniel?' batin Kaylee. Detik berikutnya, Kaylee menegakkan tubuh dan menutup mulut dengan tangan kanannya. ‘Apakah wanita itu salah paham mengira kak Daniel dan aku sedang berkencan?’
“Kaylee, ada apa?” Daniel yang menyadari gerakan tiba-tiba Kaylee itu lantas menoleh padanya dengan tatapan bertanya.
“Hah? Oh, tidak apa-apa. Tadi aku ingin bersin, tapi tidak jadi,” jawab Kaylee sambil menampilkan cengiran lebar di wajahnya. Daniel mengangguk pelan dan kembali fokus pada jalanan di hadapannya.
Kaylee kembali teringat sifat belum dewasanya saat itu yang tidak tahan berhubungan jarak jauh dengan Daniel sehingga memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka sebelum berangkat ke New Zealand. Kaylee juga ingat bagaimana Helen selalu mengeluh bosan mendengarkan curhatannya yang tak jarang juga dihiasi dengan mewek-mewek jelek saat mengatakan betapa ia merindukan asisten Felix ini.
Kaylee menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum geli mengingat semua itu. Sejujurnya, dirinya sempat merasa ragu dan takut jika bertemu lagi dengan Daniel lagi saat kembali ke Jakarta. Ia takut kalau-kalau rasa cinta yang sudah mati-matian ia coba lupakan selama dua tahun belakangan ini akan kembali tumbuh begitu melihat wajah tampan pemuda ini. Tapi Kaylee tidak menyangka kalau nyatanya ia tidak merasakan apa pun saat melihat Daniel lagi, dan sepertinya pemuda itu juga merasakan hal yang sama.
Jadi kata yang cocok untuk menggambarkan hubungan mereka saat ini adalah teman. Atau kakak adik?
“Kak Daniel.” Panggil Jane.
“Hm?” respon Daniel singkat.
“Aku penasaran, siapa wanita yang tadi siang kakak kejar di mall?” Kaylee akhirnya memutuskan untuk bertanya saja. Dirinya harus tahu, bagaimana kalau ternyata wanita tadi memang pacar Daniel dan salah paham karena dirinya.
Daniel melirik Kaylee sekilas, lalu kembali menatap ke depan dan menjawab, “Dia salah satu rekan kerjaku. Kenapa kamu bertanya?”
“Hmm,” Kaylee menyandarkan sikut kirinya di kaca jendela dan menopangkan kepalanya sambil menatap ke arah Daniel. “Sepertinya tadi dia kelihatan... kesal? Jangan-jangan dia pacar kakak ya?”
Sontak Daniel terbatuk pelan mendengar ucapan Kaylee. “Bu-bukan, Kay. Dia bukan pacarku.”
“Benarkah? Tapi kenapa tadi dia terlihat seperti pacar yang sedang kesal dan marah ke kakak? Eii, kakak pasti bohong, kan? Dia pacar kakak kan? Apa tadi dia salah paham dan mengira kita berdua sedang berkencan di mall? Apa kalian berdua bertengkar gara-gara aku?” tanya Kaylee dengan heboh.
Daniel tertawa pelan mendengar ucapan Kaylee. “Dia bukan pacarku, dan dia tidak salah paham atau pun marah. Kamu tidak perlu khawatir,” bohong Daniel sambil menatap Kaylee dan tersenyum.
Kaylee mengangguk-angguk mengerti. Suasana pun kembali hening sesaat. Masih dengan posisinya yang berpangku tangan di tepian jendela, Kaylee kembali berbicara. “Ngomong-ngomong, lusa aku akan kembali ke New Zealand.”
“Secepat itu? Jam berapa pesawatmu berangkat?” jawab Daniel tidak terlalu fokus. Tanpa Kaylee sadari, sejak tadi Daniel mengenakan airpods di telinga sebelah kirinya. Raut kesal beberapa kali tergambar di wajahnya kala mendengar suara operator menyahuti panggilannya, bukannya suara gadis yang sedari tadi mengusik pikirannya. Daniel kembali menyentuh layar ponselnya, melakukan kembali panggilan ke nomor kontak bernamakan Seena.
“Jam tiga sore. Kenapa? Kakak mau mengantarku ke bandara?” tanya Kaylee.
Daniel nyaris memukul kemudinya kesal karena lagi-lagi yang terdengar adalah suara operator. Apa Seena sudah memblokir nomornya? Daniel pun melepaskan airpods yang bertengger di telinganya dan mengambil alih kemudi, membelokkan mobilnya memasuki lobby sebuah hotel berbintang.
“Hmm, iya. Aku akan mengantarmu ke bandara lusa nanti.” Jawab Daniel.
...----------------...
...- Aiden - ...