
Felix menatap Jane yang tampak sangat menikmati spaghetti di hadapannya. Dia kemudian berdeham pelan.
“Jane, ada yang ingin kutanyakan.”
“Hm?” sahut Jane setelah memasukkan gulungan spaghetti terakhir ke dalam mulutnya.
“Waktu kita berbelanja beberapa hari yang lalu, kamu pernah menyebutkan panti asuhan....”
Benar-benar timing yang tidak tepat. Jane yang sedang menelan makanannya langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Felix, beruntung ia tidak memuntahkan kembali spaghetti yang sedang menuruni kerongkongannya itu. Namun Felix sepertinya tidak peduli, ia tetap meneruskan kalimatnya.
“Apa itu artinya–”
“Sebentar,” Jane langsung menyela ucapan pria di hadapannya ini. Ia telah berhasil menelan makanannya. Tangannya meletakkan garpu dan sendoknya di atas piring, lalu ia menatap lurus pada Felix. “Karena kita sudah menikah, maka aku tidak akan membohongimu lagi.”
Kening pria itu berkerut, “Membohongi?”
Jane menghela napas perlahan sebelum kemudian menjawab. “Sebenarnya, Aiden itu bukan anakku. Aku mengadopsinya dari panti asuhan.”
Jane tahu memang sangat jahat tidak memberitahukan fakta yang sebenarnya kepada Felix sedari awal. Tapi, beginilah cara Jane. Bukankah ia sudah pernah bilang bahwa ia ingin mendapatkan pria yang juga menyayangi anaknya?
Tapi, apakah Felix akan kecewa? Jane berusaha membaca ekspresi wajah Felix, namun tidak berhasil karena wajah pria itu tetap terlihat datar dan tenang.
“Kenapa kamu mengadopsi anak?” tanya Felix setelah terdiam cukup lama. Mata Jane membulat sejurus dengan pertanyaan yang Felix layangkan. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Felix akan menanyakan hal tersebut.
Felix masih setia menatapnya, seolah menuntut gadis itu untuk segera memberikannya jawaban. Jane mengetuk meja dan terlihat berpikir.
“Selain karena aku suka pada anak kecil, karena menurutku anak kecil memiliki energi yang membuat aku merasa lebih hidup, sebenarnya... awalnya aku berniat untuk tidak menikah. Aku berpikir pasti pria-pria yang Papa jodohkan padaku tidak akan mau menerimaku kalau tahu aku sudah mempunyai anak. Maka karena itu aku mengadopsi Aiden," Jane menjawab dengan perlahan.
Felix mengangguk pelan menanggapi jawaban Jane. Dirinya juga tahu pasti kalau Jane datang ke pertemuan yang telah direncakana oleh papanya, dan kalau bukan karena tidak ingin menikah mana mungkin Jane mau datang ke acara perjodohan seperti itu. Gadis secantik Jane tentu mudah mendapatkan pacar jika ia mau.
“Ehm, aku harap kamu tidak kecewa. Walaupun aku awalnya tidak ingin menikah, dan pernikahan kita adalah hasil dari perjodohan, tapi aku tidak merasa menyesal atau apa pun, kok. Aku serius,” lanjut Jane lagi, terlihat raut khawatir di wajahnya karena Felix tidak mengatakan apa pun setelah ia menjelasakan alasannya tadi.
Felix menggeleng pelan dan tersenyum tipis. “Tidak, jangan khawatir. Aku tidak kecewa kok. Aiden adalah bayi yang sangat lucu, aku senang bisa menjadi papanya.”
Jane terdengar menghela napas lega dan ia ikut tersenyum.
“Ngomong-ngomong, sebentar lagi kamu akan mulai bekerja, kan?” ujar Jane kini mengganti topik pembicaraan. Setelah meneguk air putih di dalam gelasnya, Felix mengangguk singkat.
“Aku rasa kita harus mencari baby sitter, atau mungkin menitipkan Aiden ke daycare.”
“Hmm, sepertinya memang harus begitu.”
...***...
Jane menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Sejenak gadis itu meregangkan kedua tangannya. Otot-otot pundaknya terasa kaku karena seharian berkutat dengan dokumen-dokumen. Terlebih gadis itu juga kurang tidur karena mengobrol dengan Felix sampai larut malam, dan harus kembali lagi ke kantor pukul sembilan pagi. Semua kesibukannya ini turut menyita waktunya bersama Aiden, dan itu membuat Jane merasa sedikit kesal.
Ah, Jane sangat merindukan Aiden. Haruskah ia menelepon Felix? Tapi kan Aiden belum bisa mengoceh, jadi tidak ada gunanya juga ia menelepon. Sepertinya Jane harus menunda keinginannya yang satu ini sampai Aiden sudah bisa bicara nanti.
Ketukan di pintu menginterupsi pemikiran Jane. Setelah Jane mempersilahkan masuk, tampak seorang gadis berpostur tinggi memasuki ruang kerja Jane.
Gadis berparas cantik itu menyerahkan sejumlah map ke hadapan Jane. “Ini dokumen yang harus Anda tandatangani dan diserahkan kembali ke Presdir sore ini, Nona Jane.”
“Ah, iya,” Jane menegakkan kembali tubuhnya. Ia meraih dokumen yang tergeletak di mejanya dan memperhatikan sekilas isi dokumen tersebut.
“Apa ada lagi yang Anda butuhkan?”
“Tidak. Kamu bisa pergi, terimakasih.”
Gadis bersurai hitam itu membungkuk pelan kemudian berbalik. Saat gadis itu sudah sampai di ambang pintu, Jane memanggilnya kembali.
“Oh iya, Seena,” panggil Jane.
Gadis bernama Seena itu berhenti dan membalikkan badannya. “Iya, Nona?”
“Bisakah kamu carikan aku seorang baby sitter atau daycare untuk menitipkan bayi?” tanya Jane. Sejenak Seena tampak mengernyitkan keningnya, tapi akhirnya dia mengangguk pelan.
Jane mengucapkan terimakasih sekali lagi dan mempersilahkan Seena untuk pergi. Ia kembali menyandarkan punggungnya, bahkan kini melepaskan blazer cokelatnya. Ia berusaha untuk merilekskan pikirannya ketika ia mendengar samar-samar suara Seena berbicara dari balik pintu kantornya.
“Selamat siang, Presdir.”
Disusul dengan suara pintu yang terbuka. Seorang pria paruh baya dengan postur tinggi tegap muncul dari balik pintu, membuat Jane sontak bangkit dari tempat duduknya.
“Papa.”
Papa Jane berjalan masuk dan tersenyum miring menyadari penampilan Jane yang tampak kusut dan kelelahan.
“Kamu mulai kewalahan mengurus anak, hah?”
Jane bungkam. Ia sudah kenyang dengan segala kata-kata sarkastis yang dilayangkan Papa padanya. Terlebih Jane juga sedang tidak dalam mood untuk membalas perkataan papanya itu. Jadi lah ia hanya kembali duduk dan tak mengacuhkan papanya. Papa mencibir karena Jane tak menanggapinya. Padahal biasanya putrinya itu selalu kritis dan tak mau mengalah.
“Datanglah ke rumah. Sebegitu sibuk kah kalian sampai belum mengunjungi kami setelah datang hanya untuk menitipkan Aiden waktu itu?” ujarnya mengutarakan tujuan utamanya mengunjungi ruang kerja Jane.
Perkataan Papa membuat Jane kembali menghela napas panjang. “Baik, Pa.”
...***...
“Aiden, Mama pulang!”
Suara cempreng Jane mengudara sedetik setelah ia memasuki apartemennya. Dengan tidak sabar Jane melepas heels berwarna putihnya dan bergegas masuk ke dalam.
“Kamu pulang lebih awal hari ini,” suara Felix yang tengah sibuk di balik pantry menyambut kedatangan Jane.
Jane tertawa kecil, “Iya, hari ini tidak tertalu banyak kerjaan di kantor. Lagipula aku juga sangat merindukan Ainden ku.”
Felix yang sedang memasukkan buah-buahan yang baru saja ia cuci ke dalam kulkas hanya meng-oh-kan jawaban Jane. Dia kemudian menutup kulkas dan membalikkan badannya. “Kamu sudah makan?”
Jane yang sedang melepas blazernya menoleh ke arah Felix dan membatin, ‘Kenapa pria ini selalu menanyakan kalau aku sudah makan apa belum, sih?’
“Belum,” jawab Jane singkat.
“Kamu ingin makan ap–”
“Di mana Aiden?” potong Jane sebelum Felix sempat menyelesaikan kalimatnya. Daritadi dirinya memang sudah tidak sabar untuk bertemu Aiden.
“Aiden ada di kamarnya.”
Sejurus dengan jawaban Felix, Jane langsung berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Felix agak sedikit khawatir melihatnya, tapi sedetik kemudian malah sebuah senyum yang muncul di bibirnya. Terkadang Jane bersikap seperti anak kecil, dan itu sangat lucu menurut Felix.
Jane langsung meraih kenop pintu kamar Aiden dan melangkah mendekati box bayi yang terletak di sudut kamar. Jane tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya saat mendapati Aiden yang sudah terbangun dan tengah memainkan tangan mungilnya.
“Hai Aiden, anak Mama.”
Jane mengangkat tubuh mungil Aiden dan mendekapnya. “Mama kangen banget sama kamu seharian ini, Sayang.” Jane mengelus puncak kepala Aiden dan mendekapnya lebih erat namun penuh kehati-hatian. Ia kembali mengangkat tubuh Aiden dan menciumi pipi gembulnya. Bibir mungil Aiden melengkung seolah tertawa pada Jane. Jane mengayunkan pelan tubuh Aiden di dalam gendongannya, membuat bayi itu kembali melengkungkan bibirnya senang.
“Aiden kangen sama Mama juga tidak?” tanya Jane. Seakan mengerti, Aiden balas menatap mata Jane sambil tersenyum. Semua rasa lelah Jane menguap entah kemana begitu ia menatap mata jernih milik Aiden. Sunggung menentramkan hati.
Jane mendudukkan diri di atas single bed dengan Aiden yang berada di pangkuannya. Matanya menangkap botol susu yang telah terisi penuh berada di atas meja nakas. “Aiden, apa kamu haus?”
Aiden mengedipkan matanya seolah menjawab pertanyaan mamanya.
“Baiklah, Aiden minum susu dengan Mama, ya.”
“Wah, anak Mama sudah kenyang ya?”
Sejenak Aiden terdiam di pelukan Jane. Bibir mungilnya terbuka dan bayi mungil itu menguap. Tampaknya Aiden mengantuk sekarang. Tapi yang selanjutnya terjadi benar-benar di luar perkiraan Jane. Cairan putih keluar dari mulut Aiden. Aiden memuntahkan kembali susu yang diminumnya barusan.
Sontak saja Jane panik. Seluruh cairan putih itu telah mengotor kemeja putihnya dan seprai single bednya. Tapi bukan itu yang membuat Jane panik, melainkan fakta bahwa Aiden baru saja muntah.
“Felix!” gadis itu mulai memanggil nama Felix dengan panik.
“Felix!”
Tak lama kemudian terdengar suara derap kaki yang terburu-buru menaiki tangga dan berakhir dengan kepala Felix yang menyembul dari balik pintu.
“Ada apa?”
“Aiden muntah!”
Dengan sigap Felix langsung masuk dan mengambil lap bayi dari dalam lemari. Dia mulai memberihkan sisa muntahan pada pipi dan leher Aiden. Setelah itu Jane dengan tanggap segera mengganti pakaian Aiden yang telah kotor. Sedangkan Felix mengganti seprai yang terkotori dengan seprai baru. Tapi nampaknya noda itu telah menembus lapisan bed-nya sehingga meninggalkan bau tidak sedap. Sepertinya mereka harus menjemurnya di bawah matahari untuk menghilangkan aromanya.
Tak sengaja sudut mata Felix menangkap botol susu yang telah kosong di atas meja nakas.
“Kamu memberi Aiden susu?”
Jane yang sudah selesai mengganti pakaian Aiden menyahut. “I-Iya.”
“Astaga Jane, Aiden baru saja minum susu.”
“Apa? Aduh m-maaf, aku tidak tahu.”
Felix menoleh ke arah Jane, lalu ia mendekat dan hendak mengambil Aiden dari tangan Jane. “Kemejamu?” ujarnnya menyadari kemeja putih Jane yang telah terkena noda muntahan Aiden.
“Jadi bagaimana ini? Apa Aiden akan baik-baik saja?” tanya Jane tanpa mempedulikan ucapan Felix barusan.
Felix menghela napas perlahan. “Tidak apa-apa. Aiden hanya kekenyangan makanya dia memuntahkan kembali susunya.”
“Benarkah?” Jane masih terlihat resah.
“Iya, jangan khawatir. Sebaiknya kamu cepat ganti pakaian dulu.” Felix mengamit Aiden dari tangan Jane.
“Ah, iya.” dengan patuh Jane segera beranjak menuju kamar mandi di kamar utama. Namun langkahnya terhenti saat melihat pemandangan single bed yang tidak berseprai.
“Felix, bagaimana dengan ranjangnya? Ranjangnya jadi kotor begini.”
“Tidak apa-apa, aromanya akan hilang kalau dijemur sebentar,” sahut Felix.
“Lalu bagaimana kamu tidur nanti?”
Felix terdiam. Dia kemudian menggaruk tengkuknya pelan, dirinya sama sekali tidak kepikiran bagaimana nasibnya nanti malam.
“Malam ini kamu tidur di kamar utama saja bersamaku,” kata Jane kemudian.
Felix menatap Jane dengan mata sedikit melebar. “A-Apa?”
...***...
Jane telah mengenakan setelan piyama berwarna biru dan Felix telah menggunakan kaos oblong berwarna putih dengan celana panjang berwarna biru dongker. Keduanya saat ini sedang berdiri canggung di tepi ranjang yang berseberangan.
Bagaimana tidak canggung? Ini adalah pertama kalinya mereka akan berbagi kamar, dan tentu saja berbagi tempat tidur yang sama juga. Ya, malam ini mereka akan tidur bertiga di ranjang yang sama. Bertiga? Benar, bertiga. Karena terdapat Aiden yang telah terlelap di tengah-tengah ranjang berukuran king size itu.
Untuk mengusir atmosfir canggung, Jane berinisiatif untuk lebih dulu naik ke kasur. Ia membaringkan tubuhnya di sisi kiri Aiden dan langsung menarik selimut. Akhirnya Felix ikut membaringkan tubuh di sisi kanan Aiden.
Ranjang king size itu masih longgar meski telah diisi oleh tiga orang. Apalagi baik Jane maupun Felix sama-sama memposisikan diri sepinggir mungkin di kedua sisi kasur tersebut, meninggalkan sosok bayi mungil yang berada di tengah kasur. Jane tidak bisa membohongi diri kalau ia benar-benar lelah. Terbukti dari begitu cepatnya gadis itu terlelap. Tak lama berselang, tubuh Jane yang terlah tertidur bergerak tanpa sadar mendekati Aiden.
Felix yang belum dapat memejamkan matanya beralih memperhatikan Jane. Tubuh gadis itu menggeliat kecil, dan Felix menyadari kalau jarak Jane semakin dekat dengan Aiden. Dia jadi khawatir kalau Aiden akan tertindih oleh Jane. Sejujurnya, Felix tidak suka posisi ini. Bagaimana kalau nanti Aiden terhimpit?
Maka karena itu dia beringsut melindungi Aiden dengan tangannya sebelum Jane mendekat lagi. Tapi fatalnya, kini wajahnya dan wajah Jane malah menjadi sangat dekat sampai Felix dapat melihat dengan jelas betapa lentiknya bulu mata gadis itu, alisnya yang tertata rapi serta bibirnya yang berbentuk seperti hati. Wajah Jane yang sedang tertidur benar-benar terlihat sangat cantik.
‘Ah, apa sih yang aku pikirkan?’ batin Felix. Segera Felix mengalihkan pandangannya. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu.
Kenapa tubuh Aiden panas sekali?
Felix menyentuh pipi Aiden untuk memastikan, dan sontak pria itu langsung mengangkat tubuhnya untuk duduk. Tangannya terulur dan dia mulai mengguncang-guncangkan tubuh Jane yang tertidur. Jane yang baru sebentar terlelap membuka dan mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Gadis itu masih setengah sadar ketika Felix mulai berbicara.
“Jane, sepertinya Aiden demam.”
...***...
Keadaannya benar-benar kacau. Segera setelah menyadari Aiden demam, Felix dan Jane bergegas menuju rumah sakit. Saking paniknya, mereka bahkan masih mengenakan pakaian tidur mereka. Keadaan bertambah kacau saat Aiden tidak mau dibaringkan di tempat tidur rumah sakit. Saat dibaringkan dia terus menangis dengan kencang, membuat dokter dan para suster kewalahan untuk memeriksanya. Akhirnya Felix harus menggendong Aiden selama proses pemeriksaan berlangsung. Bahkan pria itu juga harus terduduk semalaman karena Aiden hanya bisa tertidur lelap dipelukannya.
Dokter mengatakan Aiden perlu menginap satu malam di rumah sakit. Kalau besok pagi demamnya turun, mereka akan diizinkan pulang.
Di atas ranjang rawat inap, Felix terduduk dengan Aiden yang telah dipasangi infus terlelap di pelukannya. Jane yang duduk di kursi di samping ranjang hanya bisa memandangi mereka. Jane dapat melihat dengan jelas raut kelelahan di paras pria itu.
“Felix...”
Sepertinya Felix bahkan sudah terlalu lelah untuk menyahut, dia hanya melemparkan tatapan bertanya pada Jane.
“Kamu tidak lelah?” tanya gadis itu lagi sambil bertopang dagu. “Tanganmu pasti pegal sekali,” lanjut Jane sambil mengernyitkan keningnya.
Felix mengubah sedikit posisi Aiden dengan hati-hati agar dia tidak terbangun.
“Kamu tahu... tanganku bahkan seperti sudah mati rasa.”
“Benarkah? Bagaimana ini?”
“Tidak apa-apa. Selama yang kugendong adalah Aiden, setiap hari pun aku sanggup. Justru aku senang melihatnya tertidur pulas di pelukanku seperti ini,” ujar Felix sambil tersenyum tipis. Tatapan Jane berubah murung. Tangannya terulur dan ia mengelus pelan pipi Aiden.
“Aiden, aku ini mamamu, harusnya kamu sukanya tidur di pelukanku.”
‘Mulai lagi, deh,’ batin Felix.
“Jangan menyusahkan Papa, Aiden. Papa kan sudah lelah menjagamu seharian.”
Felix terdiam mendengar ucapan Jane barusan.
“Maaf ya, Felix,” ujar Jane sambil mengangkat wajahnya menatap Felix.
“Untuk apa?”
“Karena anakku menyusahkanmu.”
‘Dia kan juga anakku, bodoh.’
Rasanya Felix ingin mengucapkan kalimat tersebut dengan keras. Tapi dia tidak enak hati untuk mengatakannya. Dirinya agak terenyuh melihat sikap Jane yang tidak seperti biasanya ini. Tanpa sadar, tangan Felix terangkat hendak mengelus surai cokelat gadis itu, namun Jane malah menarik tangannya secara tiba-tiba.
“Kenapa? Tanganmu pegal, ya? Sini kupijat,” ujar Jane cepat sambil mulai memijat-mijat tangan Felix pelan. Felix sedikit terkejut, tapi kemudian dia tersenyum kecil melihat tingkah gadis di hadapannya ini.
...----------------...